
Perasaan lega dan bahagia menyelimuti hati sepasang suami istri yang baru saja mengikrarkan janji suci. Mereka berdua berjanji, akan seiya sekata dan bersama-sama menghadapi segala halangan, rintangan, dan juga segala macam cobaan yang akan menghadang di depan.
Mereka berdua tahu pasti, tidak ada rumah tangga yang berjalan dengan mulus dan luput dari ujian. Apapun itu bentuk ujiannya, mereka pasti akan mengalaminya.
Ujian harta, tahta, keluarga, bahkan ujian wanita ataupun pria ketiga, salah satunya mungkin akan menyapa. Namun, jika pasangan suami istri dapat saling memahami, mengerti, dan menerima kelebihan ataupun kekurangan masing-masing, itu semua pasti dapat dilewati dengan mudah.
Kini, Gilang dan Ailee baru saja selesai menjalankan sholat isya' berjamaah, di dalam kamar tempat tadi Ailee dirias. Jama'ah pertama yang mereka berdua lakukan, setelah sah menjadi sepasang suami-istri.
Usai berdo'a, Ailee salim pada sang suami dan mencium punggung tangan suaminya dengan penuh ketakdziman. Gilang membalas dengan mencium kening istrinya dengan dalam dan penuh rasa sayang.
"Kamu benar, Sayang. Harusnya, tidak perlu ada resepsi segala. Jadi, kita bisa langsung on the way," ucap Gilang setelah melepaskan ciumannya.
Pemuda tampan itu rupanya menyesal karena setelah ini mereka masih harus berdiri di pelaminan, untuk menerima ucapan selamat dari para undangan. Beruntung, tamu yang diundang tidak banyak. Jadi, mungkin tidak sampai larut malam acara resepsi akan berakhir.
"On the way? Memangnya, Mas mau ngajak Ai kemana?" tanya Ailee, sambil melepaskan mukena dan kemudian melipat mukena tersebut dengan rapi.
"Ke syurga dunia, Sayang," balas Gilang seraya memeluk sang istri dari belakang, ketika Ailee sedang menyimpan mukena dan sajadah di atas sofa.
"Mas, nanti saja, ya," tolak Ailee dengan halus, ketika sang suami mulai mencumbui tengkuknya. Jantung istri belia Gilang itu berdebar kencang, menerima serangan tiba-tiba yang membuat tubuhnya menggelinjang kegelian.
"Kenapa, Sayang? Apa kamu tidak suka, aku cium seperti ini?" tanya Gilang yang kemudian membalikkan tubuh sang istri dan menatap wajah merona istrinya.
"Su-suka, kok, Mas," jawab Ailee, gugup. "Tapi jangan sekarang! Takutnya, Bu Dilla keburu datang untuk merias Ai kembali," lanjutnya memberikan pengertian pada suami dewasanya yang terlihat sedikit kecewa.
Gilang kemudian tersenyum dan mengangguk, mengerti. "Oke, nanti jangan nolak, ya," pintanya, seraya menatap sang istri dengan penuh damba.
Istri Gilang yang masih sangat muda itu, mengangguk. "Ai akan menerima apapun yang akan Mas lakukan pada Ai. Bahkan, Ai juga akan memberikan servis istimewa untuk Mas seorang," balas Ailee seraya mengerling.
Wanita muda itu, kini sudah berani menggoda suaminya. Membuat Gilang menatap penuh cinta pada istrinya, seraya tersenyum bahagia.
Ailee kemudian mengalungkan tangannya di leher suaminya. Mencium pipi Gilang kiri dan kanan, bergantian. Kemudian menyatukan kening, sambil saling menatap mesra.
Suara ketukan pintu yang diiringi panggilan dari suara seorang wanita, mengurai kemesraan mereka berdua.
"Mbak Ai, boleh saya masuk," pinta wanita paruh baya yang akan merias Ailee untuk acara resepsi malam ini.
__ADS_1
"Biar aku yang membukakan pintunya, Sayang. Kamu segera bersiap di sana." Gilang menunjuk kursi rias, sebelum kemudian bergegas untuk membukakan pintu.
"Silakan masuk, Bu," ucap Gilang, mempersilakan sang MUA.
Bu Dilla mengangguk seraya tersenyum dan kemudian segera masuk, mengikuti langkah Gilang.
"Kita mulai ya, Mbak Ai," ucap perias pengantin profesional tersebut, seraya mengeluarkan alat tempurnya.
"Sayang, aku keluar dulu, ya," pamit Gilang yang hendak memastikan pada sang asisten, bahwa acara malam ini berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan.
\=\=\=\=\=
Sepasang pengantin baru tersebut telah duduk di pelaminan, dengan saling menggenggam tangan. Senyum keduanya terus merekah indah, menunjukkan kebahagiaan yang kini mereka rasakan.
Tatapan mesra juga seringkali mereka lempar pada pasangan, untuk menunjukkan betapa besar rasa cinta dan sayang yang meski baru tumbuh, tetapi terus bertambah besar setiap harinya.
"Sayang, aku bahagia sekali," bisik Gilang, di telinga sang istri di antara suara MC yang membawakan acara pada malam hari ini.
"Malam ini tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku," lanjutnya dengan tatapan penuh cinta pada istrinya.
Gilang menggeleng. "Jangan ingat-ingat lagi masa lalumu itu, Sayang! Kita mulai kehidupan yang baru, kehidupan yang penuh cinta dan sayang." Gilang kemudian mencium kening sang istri, dengan penuh rasa sayang.
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar riuh, memenuhi ballroom hotel. Tamu undangan yang sebagian besar telah hadir rupanya melihat adegan romantis dari kedua mempelai yang tengah dimabuk cinta.
Pipi sang mempelai wanita merona karena merasa malu menjadi pusat perhatian, dari seluruh undangan. "Mas malu-maluin, ih!" protes Ailee kemudian.
"Tapi kamu suka, kan?" goda Gilang.
Mereka berdua kemudian berdiri karena MC telah mempersilahkan pada para tamu undangan, untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Satu persatu tamu undangan naik ke pelaminan dan menyalami pengantin baru yang tengah berbahagia itu. Mereka semua pun tersenyum bahagia, ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar nyata di wajah mempelai berdua.
"Selamat menempuh hidup baru, Mas Gilang. Akhirnya, Mas Gilang menemukan juga tambatan hati," ucap laki-laki paruh baya, sambil tersenyum lebar. Laki-laki yang berpenampilan layaknya seorang eksekutif itu kemudian memeluk Gilang yang merupakan rekan bisnisnya.
"Suatu kehormatan besar bagi saya, Om Dev bersedia menghadiri resepsi pernikahan saya yang hanya sederhana ini," balas Gilang merendah, setelah melerai pelukan.
__ADS_1
"Mas Gilang selalu saja begitu, suka merendah," balas laki-laki itu, seraya menepuk lengan Gilang dengan hangat.
"Berarti setelah ini, apakah Mas Erlan juga akan menyusul?" tanyanya, kemudian.
"Oh, kalau itu, Om Dev tanyakan saja pada yang bersangkutan," balas Gilang seraya menunjuk Erlan yang kebetulan baru saja naik ke atas pelaminan, bersama sang kekasih.
Laki-laki yang dipanggil Om Dev oleh Gilang tersebut kemudian menoleh ke belakang dan tatapannya yang tertuju ke arah gadis yang bersama Erlan, membuatnya bertanya. "Mai, kamu dan dia?"
"Iya, Om. Mas Erlan pacar Mai," balas gadis itu, tersipu malu. Maida kemudian menyalami laki-laki tersebut dan mencium punggung tangannya dengan takdzim.
"Dik, kamu kenal sama Om Devan?" tanya Erlan seraya menatap sang kekasih dan rekan bisnisnya itu, bergantian.
"Om Dev ini, mertuanya Bang Mirza Mas," balas Maida. "Beliau juga sahabat daddy dan sudah seperti keluarga bagi kami," lanjutnya.
Ya, meskipun Erlan sudah beberapa kali berkunjung ke kediaman orang tua Maida, tetapi pemuda itu belum pernah bertemu dengan seluruh keluarga besar dari sang kekasih dan baru keluarga inti saja yang pernah dia temui.
Erlan mengangguk-angguk. "Benar rupanya kata pepatah ya, Om, kalau dunia ini hanya selebar layar ponsel," ucapnya.
"Daun kelor, Bang," ralat Gilang.
"Itu 'kan waktu jaman batu, Ge, ketika surat menyurat masih menggunakan daun kelor. Sekarang, surat-menyuratnya 'kan pakai ponsel pintar," jawab Erlan, seraya terkekeh pelan.
"Ya-ya, kamu benar Mas Erlan." Om Devan pun ikut terkekeh.
"Lantas, kapan hubungan kalian akan segera diresmikan?" tanya Om Devan, kemudian.
"Terserah Dik Mai, Om. Kapanpun dia siap, saya siap untuk melamarnya," balas Erlan, tegas.
"Sip, om dukung niat baik kamu, Mas Erlan. Lebih cepat, lebih baik. Daripada kalian menambah dosa, dengan sering berduaan seperti ini. Kalau perlu, besok om akan bantu kamu untuk bicara pada Rehan," tutur Om Devan yang membuat Erlan tersenyum senang.
Berbeda dengan Maida yang wajahnya berubah menjadi tegang. "Om, jangan besok juga, kali! Kasihan Mela, Om," tolak Maida yang rupanya merasa tidak enak hati pada saudara kembarnya, jika dia bersenang-senang. Sementara adik kembarnya tengah bersedih karena musibah yang menimpa pemuda, yang sang adik sayang.
"Jangan risau masalah itu, Mai. Om yakin, Mela pasti bisa mengerti. Meskipun kolokan sama daddy kalian, tapi pemikirannya cukup dewasa," pungkas Om Devan, membuat Maida menganggukkan kepala yang kemudian ditangkap oleh Erlan sebagai isyarat, bahwa gadis belia itu sudah siap untuk dipinang.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1