Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Menyeret Nelly ke Meja Hijau


__ADS_3

Setelah Gilang menandatangani surat perjanjian kerjasama yang akan dibawa Erlan untuk menemui rekan bisnis, bos GCC itu kemudian segera beranjak. Dia hendak menemani sang istri yang sudah menantinya untuk mengunjungi papa dan kakak Ailee di rumah sakit. Melihat sang suami sudah selesai dengan pekerjaannya, Ailee pun ikut beranjak dari tempatnya duduk.


"Oh ya, Bang. Tadi, Bang Er bilang apa? Bentar lagi, undangan pernikahan Abang akan ada di atas meja kerjaku?" tanya Gilang sebelum mengajak sang istri keluar dari ruangannya.


"Benar, Ge. Aku punya berita bahagia yang belum kamu ketahui karena semalam, oma melarang ku ketika aku hendak menelepon kamu. Khawatir ganggu malam indah kalian katanya," balas Erlan seraya tersenyum lebar.


"Kabar bahagia apa, Bang? Apa daddy-nya kekasih Abang sudah kasih lampu hijau buat Abang untuk menikahinya?" cecar Gilang yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar bahagia tersebut.


Erlan mengangguk. "Benar, Ge. Rencananya dalam beberapa bulan ke depan. Nunggu kekasih dari kembarannya Mai sembuh dulu karena rencana, pertunangan kami akan dibarengkan. Setelah itu, kami berdua akan segera menikah," terang Erlan dengan penuh semangat.


"Wah ... selamat ya, Bang Er. Ai ikut senang dengernya," sahut Ailee seraya mengulurkan tangan hendak memberikan ucapan selamat pada abang sepupu dari sang suami, tetapi suami posesifnya langsung menarik tangan Ailee dan kemudian menggenggamnya erat.


"Enggak perlu pakai salaman segala, Sayang! Cukup ucapkan selamat buat dia," larang Gilang yang kemudian merapatkan tubuhnya pada sang istri.


Erlan mencebik. "Aku ini kakak kamu, Ge. Masak iya sama kakak sendiri cemburu gitu!" protesnya.


Ailee tersenyum dikulum. Wanita muda tersebut sangat senang diperlakukan seperti itu oleh sang suami. Dia merasa sangat dicintai dan dijaga dengan sepenuh hati oleh sang suami.


"Nanti kalau Bang Er udah nikah sama Mai, Abang akan merasakan sendiri apa yang aku rasakan. Abang juga pasti akan merasa tidak dihargai dan tersinggung ketika istri kita dekat sama laki-laki lain apalagi disentuh oleh laki-laki itu meskipun saudara sendiri," ucap Gilang.


Ailee mengerutkan dahi. "Benarkah?" tanya Ailee dengan polosnya.


'Sebegitu berharganya, kah, aku bagi suamiku?' Ailee hampir tidak percaya, tetapi itulah kenyataannya. Dia melihat sendiri kecemburuan di mata sang suami, ketika Satria menggoda dirinya atau ada laki-laki lain di luar sana yang menatap Ailee dengan netra membola.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Apa kamu pikir rasa sayang dan cintaku kepadamu sedangkal sungai Ciliwung? Tidak, Sayang. Rasa sayang dan cintaku kepadamu bahkan bukan hanya sedalam lautan, tetapi sedalam palung Mariana yang tidak dapat terukur kedalamannya," balas Gilang, merayu.


Erlan geleng-geleng kepala. "Dan karena cinta, Ge sekarang menjadi raja gombal," cibirnya yang kemudian segera berlalu sambil menyambar berkas yang tadi di tanda tangani oleh Gilang.


Gilang tergelak. "Abang pada saatnya nanti juga akan menjadi raja gombal!" serunya yang hanya ditanggapi oleh Erlan dengan mengangkat tangan kanannya ke udara, sebelum punggungnya menghilang di balik pintu.


Gilang kemudian menoleh ke arah sang istri yang tiba-tiba saja cemberut. "Kenapa, Sayang?" tanyanya, seraya menangkap kedua pipi sang istri.


"Jadi, yang Mas ucapkan tadi cuma rayuan gombal, kan?" tuduh Ailee.


Gilang menggeleng kuat. "Tidak, Sayang. Aku berkata yang sejujurnya. Aku benar-benar sayang dan cinta sama kamu. Apa iya, aku harus mengatakan belahlah dadaku agar kamu percaya? Enggak, Sayang. Aku enggak mau mati dulu karena kita baru saja menikah. Aku baru merasakan indahnya dunia dan seisinya, yaitu kamu." Gilang menatap dalam netra sang istri.


Ailee tersenyum. "Aku juga enggak mau membelah dada Mas. Aku enggak mau kehilangan suami yang tampan dan penuh kehangatan seperti Mas," balas Ailee seraya memegang kedua tangan Gilang yang masih menangkup pipinya.


"Kalau mengenai kehangatan, aku bahkan bisa lebih hangat lagi dari dua malam kemarin, Sayang. Apa kamu mau bukti? Kamar kita sudah jadi, Yang, bisa kita tempati sekarang." Gilang menunjuk ke arah ruangan pribadi miliknya, yang pintunya tersamarkan seperti rak buku tersebut.


Ailee menggeleng dan kemudian melepaskan tangan sang suami dari pipinya. "Kita 'kan mau ke rumah sakit, Mas."


Gilang tersenyum. "Oke, lain kali kita coba di sana, ya," pinta pemuda tampan tersebut seraya menunjuk pintu ruangan pribadi.


Ailee menganggukkan kepala, setuju saja dengan permintaan suaminya.


"Ayo, berangkat sekarang!" ajak Gilang sambil menggandeng tangan sang istri keluar dari ruangan presiden direktur.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Di rumah sakit. Aira dibikin pusing dengan ulah Aina yang semakin menjadi. Calon dokter itu rupanya mengalami depresi tingkat akhir atau yang sering disebut depresi mayor, Major Depressive Disorder. Aina terus saja mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan berbagai cara dan seringnya adalah dengan cara menyakiti diri.


Aira berhasil menggagalkan percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Aina, dengan cara membentur-benturkan kepala ke dinding rumah sakit yang dingin. Setelah beberapa saat tenang, kakak sulung Ailee itu kembali melihat sang adik mencekik lehernya sendiri dengan kuat. Kemudian yang terakhir Aira lihat setelah melihat kondisi sang papa di bruan ICU, Aina membekap wajahnya sendiri dengan bantal.


Lelah wara-wiri menjaga dua orang yang selama ini sangat dekat dengannya, membuat putri pertama pengacara itu akhirnya mengambil keputusan untuk mengikat tangan dan kaki sang adik. Tentu saja setelah Aira berkonsultasi dengan dokter ahli yang menangani Aina. Aira baru merasa sedikit lega setelah sang adik diikat karena setidaknya, dia tidak perlu khawatir Aina akan kembali berulah.


Sekarang, Aira bisa fokus untuk mengurus sang papa yang masih juga belum siuman dari pingsannya. Ayah tiga anak itu masih terbaring lemah di ruangan khusus. Hanya sesekali saja Aira dapat mengunjungi papanya.


Ketika tengah duduk melamun di depan ruang ICU, ponsel Aira bergetar. Buru-buru ibu satu anak itu mengangkat telepon yang berasal dari asisten di kediaman sang papa. "Halo, Bi, ada apa? Apa Deka rewel?"


"Iya, Mbak Aira. Dari semalam sebenarnya Den Deka rewel, tetapi saya coba untuk memenangkan sendiri karena Mbak Aira juga pasti repot di rumah sakit. Ini saya bawa Den Deka ke klinik terdekat dan kata dokter yang menangani, Den Deka over dosis obat tidur, Mbak." Suara bibi asisten tersebut terdengar panik.


"Sumpah, Mbak. Bukan saya yang memberi Den Deka obat tidur, Mbak," lanjutnya ketakutan.


"Kondisi Deka bagaiman, Bi?" tanya Aira, panik.


Bibi sama sopir, kan? Bibi bawa saja Deka ke rumah sakit ya, Bi. Saya tunggu sekarang juga," titah Aira sebelum bibi asisten menjelaskan bagaimana keadaan putranya.


Aira segera menutup ponsel. Rahang wanita itu mengeras dengan tangan kanan yang tidak memegang ponsel, terkepal sempurna. Sepertinya, kemarahan Aira sudah mencapai ubun-ubun.


"Dasar, ja*lang sia*lan! Bisa-bisanya dia enak-enakan menikmati burung suamiku, sementara anakku dicekoki obat tidur! Aku harus menyeret Nelly ke meja hijau!"

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2