Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Mencari Lobang Yuyu yang Sempit


__ADS_3

Puas berkeliling Taman Mini, Gilang kemudian mengajak sang istri untuk meninggalkan tempat tersebut karena hari sudah semakin sore. Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan mesra, layaknya sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Memang benar adanya, mereka berdua memang pasangan yang tengah dimabuk asmara.


"Kapan-kapan saja ya, Sayang, kita ke Monas dan Ancolnya. Udah sore ini, aku enggak mau kalau kamu sampai kecapekan," ucap Gilang ketika mereka berdua sampai di parkiran.


Ailee menganggukkan kepala. "Iya, Mas. Enggak apa-apa, kok."


Gilang kemudian segera melajukan mobilnya untuk kembali ke hotel tempat semalam mereka menginap, setelah keduanya duduk dengan nyaman di jok depan. Mobil mewah tersebut melaju, membelah jalanan ibukota yang sangat ramai di sore hari. Saling menyalip dan berebut untuk menjadi yang terdepan agar segera sampai di tempat tujuan.


Keduanya tidak ada yang bersuara. Hanya tangan Gilang yang sesekali mengelus mesra paha sang istri, sebagai bentuk perhatian. Sementara Ailee, mengusap lengan kekar sang suami yang tengah fokus mengemudi.


Mobil Gilang terus melaju dengan kencang agar segera sampai ke hotel. Pemuda itu bahkan menyalip mobil-mobil lain hingga membuat Ailee sedikit khawatir. Hal itu dapat diketahui Gilang dari cengkraman tangan sang istri di lengannya.


"Kenapa, Sayang? Apa kamu takut?" tanya Gilang yang kemudian sedikit memelankan laju mobil tersebut.


Belum sempat Ailee menjawab, Gilang mendadak mengerem mobilnya. Beruntung, laju mobil itu tidak sekencang tadi sehingga mobil berhenti tepat di hadapan orang yang menyeberang jalan sembarangan. Gilang bernapas dengan lega dan pemuda tersebut kemudian segera turun dari mobil untuk menghampiri orang yang hampir tertabrak mobilnya.


"Mbak, Mbak enggak kenapa-napa, kan?" tanya Gilang ketika melihat seorang wanita menundukkan kepala dengan dalam. "Kenapa Mbak menyeberang jalan sembarangan?" lanjutnya dengan nada protes.


"Ma-maaf. Maafkan sa-saya, Pak," jawab wanita itu, terbata. Wanita yang rambutnya terlihat acak-acakan hingga menutupi sebagian wajahnya tersebut terus menunduk, tidak berani menatap Gilang.


"Kenapa, Mas? Mbak-nya enggak kenapa-napa, kan?" Ailee menatap sang suami, nampak khawatir.


Gilang menggelengkan kepala. Sementara wanita muda yang nampak kacau tersebut segera mendongak ketika mendengar suara yang dia kenali. Wanita itu menyibakkan rambut yang menutupi matanya agar pandangannya tidak terganggu.


"Mbak Ailee."


Mendengar namanya disebut, Ailee menoleh ke arah wanita muda yang matanya terlihat sembab. "Suster? Suster Nelly kenapa ada di sini? Terus itu, baju Suster kenapa?" Cecar Ailee dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


Rupanya, wanita muda yang penampilannya berantakan tersebut adalah Nelly. Pengasuh dari putranya Aira, kakak kandung Ailee. Entah kenapa, wanita itu bisa berada di jalanan dan dalam keadaan kacau dan berantakan. Ailee mengerutkan dahi dengan dalam, melihat pemandangan di hadapan.


Baju seragam Nelly terbuka kancingnya yang bagian atas. Lengannya yang sebelah kanan, nampak ada robekan. Sementara lutut wanita muda itu, masih mengeluarkan darah segar.


"Siapa, Sayang?" bisik Gilang, bertanya.


"Pengasuh putranya Kak Aira," jawab Ailee.


"Panjang ceritanya, Mbak." Nelly kemudian terisak. "Tolong Nelly, Mbak. Mbak Aira dan Mas Sindu pasti masih mengejar saya," mohon wanita muda tersebut sambil melihat ke arah dari mana dia tadi berlari. Nelly terlihat begitu kacau dan ketakutan.


"Memangnya, kamu melakukan kesalahan apa, Sus? Kenapa Kak Aira dan Mas Sindu mengejar kamu?" tanya Ailee.


Belum sempat Nelly menjawab cercaan pertanyaan Ailee, suara klakson ramai terdengar dari mobil-mobil lain yang berada di belakang mobil Gilang. Hal itu membuat Ailee berinisiatif mengajak pengasuh keponakannya tersebut untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Mas, enggak apa-apa, ya, Ai ajak dia," ijin Ailee pada sang suami yang kemudian mendapat anggukan kepala dari Gilang.


Gilang segera melajukan mobil untuk mengurai kemacetan yang sempat terjadi karena mobilnya berhenti di tengah jalan. Mobil terus melaju pelan, dengan Ailee duduk di bangku belakang bersama Nelly. Sementara wanita muda yang bekerja sebagai baby sitter putra dari Aira dan Sindu, terlihat sedikit lega.


"Terima kasih ya, Mbak Ailee. Mbak sudah bersedia membawa saya. Jujur, saya takut banget, Mbak," ucap Nelly setelah beberapa saat mobil yang dikendarai Gilang, melaju.


"Sayang, kemana tujuan kita sekarang?' tanya Gilang kepada sang istri, sebelum mobilnya terlalu jauh melaju dari tempat kejadian tadi ketika Nelly hampir saja tertabrak mobilnya. Sebab, mereka berdua tidak mungkin membawa wanita muda itu ke hotel.


"Jika Bapak tidak keberatan, tolong antar saya ke kantor polisi terdekat, Pak," pinta Nelly, menjawab pertanyaan Gilang.


"Kantor polisi? Memangnya ada apa, Sus? Apa yang telah Kak Aira dan suaminya lakukan padamu?" desak Ailee yang mulai berpikir buruk tentang sang kakak.


Istri belia Gilang itu menduga, bahwa sang kakak mungkin telah menganiaya pengasuh putranya jika dilihat dari kondisi Nelly yang acak-acakan seperti sekarang. Wajah wanita muda yang duduk di sampingnya juga bergelayut mendung, seperti ada beban berat yang dipikulnya. Mungkinkah Nelly berbuat kesalahan fatal hingga sang kakak dan kakak iparnya menganiaya baby sitter tersebut?

__ADS_1


Nelly bukannya menjawab pertanyaan Ailee, tetapi wanita muda itu malah menangis. Air matanya mengucur dengan deras, sederas air hujan yang tiba-tiba saja turun membasahi bumi. Alam seolah turut bersedih dengan apa yang dialami oleh Nelly.


Untuk beberapa saat, Ailee membiarkan saja pengasuh keponakannya itu menangis. Istri cantik Gilang tersebut bahkan mengulurkan tissue agar Nelly mengusap air matanya. Setelah cukup puas menumpahkan segala kesedihan, baby sitter itu mulai buka suara.


"Sa-saya, saya akui saya salah, Mbak. Saya, saya khilaf karena nurut saja ketika dirayu sama Mas Sindu waktu itu." Nelly terbata.


"Kamu, dirayu Mas Sindu?" Ailee menelisik, memindai wajah dan tubuh Nelly dengan tatapan tidak percaya.


'Dasar, laki-laki buaya darat! Sudah memiliki yang bening di rumah, masih saja serakah mencari lobang yuyu yang sempit ingin dicapit!' geram Ailee dalam hati.


Ya, jika dibandingkan dengan Aira, Nelly jelas tidak ada apa-apanya. Kakak kandung Ailee jauh lebih cantik dan mulus dari baby sitter tersebut. Postur tubuh dan body-nya pun, Aira lebih unggul meski sudah memiliki satu anak karena istri Sindu itu pandai merawat diri.


Baby sitter tersebut hanya menang di usia. Umur Nelly yang masih sangat muda dan sedang ranum-ranumnya, serta kepolosan wanita muda itulah yang membuat Sindu menjadi lupa daratan. Suami Aira terjebak di lembah kenikmatan milik sang baby sitter yang sempit dan hangat.


"Iya, Mbak. Hubungan kami bahkan sudah berjalan lebih dari dua tahun," jawab Nelly dengan isakan kecil yang masih terdengar. "Dan saat ini, saat ini saya hamil anak Mas Sindu, Mbak." Nelly kembali menangis.


"Astaghfirullah ...." Ailee menutup mulutnya sendiri.


Ingin rasanya, istri Gilang itu tidak mempercayai ucapan Nelly karena selama ini yang dia lihat, hubungan Aira dan Sindu baik-baik saja. Namun, melihat baby sitter tersebut dengan kondisi seperti ini, bisa jadi apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Apalagi, Nelly barusan meminta untuk diantar ke kantor polisi.


"Lalu, kenapa kamu pengin diantarkan ke kantor polisi? Apa Mas Sindu tidak mau bertanggungjawab? Dan Kak Aira, apa Kak Aira mendukung suaminya?" tebak Ailee setelah mendengar pengakuan dan melihat kondisi Nelly.


Baby sitter tersebut menganggukkan kepala. "Benar, Mbak."


"Mas, gimana ini? Kita damaikan mereka atau kita ikuti maunya Nelly?" tanya istri Gilang, seraya menatap sang suami yang menoleh ke arahnya sekilas.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2