Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Calon Mempelai Wanita


__ADS_3

Atas perintah Gilang, Erlan bergerak cepat membereskan semua orang yang telah menghina dan menyakiti hati Ailee.


Meski mereka semua tidak sampai dikeluarkan dari perusahaan karena kemurahan hati Ailee yang memohon pada sang oma, tetapi mereka tetap diberi peringatan keras dan juga pembinaan, agar ke depan mereka tidak lagi bermulut kasar yang dapat menyakiti hati seseorang.


Erlan juga mengumpulkan semua petinggi perusahaan atas permintaan Nenek Amira, omanya Gilang tersebut, karena sore ini juga wanita tua yang jika datang ke perusahaan senantiasa mengenakan masker untuk menutupi wajahnya, sama seperti sang cucu, hendak menyampaikan pengumuman tentang pernikahan Gilang.


"Oma, semuanya sudah berkumpul di ruang rapat. Hanya ada dua manager yang tidak dapat hadir karena mereka sedang ada pertemuan dengan klien di luar," terang Erlan, ketika asisten pribadi Gilang tersebut baru masuk ke dalam ruangan sang atasan.


Ya, setelah mengetahui semua duduk persoalannya dan meminta pada Gilang serta Erlan untuk membereskan semua kekacauan yang membuat Ailee hampir saja menyerah dan pergi, wanita tua yang masih terlihat sisa kecantikannya itu mengajak Ailee untuk menunggu di ruangan Gilang.


"Baik, Er. Ayo, kita ke sana sekarang!" ajak sang oma dengan tidak sabar.


Nenek Amira ingin segera mengumumkan kabar yang membahagiakan dirinya itu, pada semua karyawan yang bekerja di perusahaan peninggalan almarhum suaminya tersebut.


Perusahaan yang kemudian dilimpahkan pada papanya Gilang, selaku satu-satunya anak laki-laki.


Perusahaan GCC kemudian jatuh ke tangan Gilang pengelolaannya karena sang papa meninggal dunia, di usia yang baru saja genap lima puluh tahun.


Sebelum Gilang selesai kuliah, perusahaan besar GCC sempat dipegang oleh mamanya Satria, sebagai putri tertua.


Barulah setelah Gilang menyelesaikan pendidikannya dan merasa telah siap untuk terjun ke dunia usaha, mamanya Satria kemudian menyusul sang suami yang berdinas di luar kota.


"Ge, minta tolong pada sekretarismu, untuk mencarikan WO terbaik di kota ini," titah sang oma, sebelum keluar dari ruangan Gilang.


"Bikin janji temu dengan mereka, sore ini juga di sini," lanjutnya yang ingin menyegerakan pernikahan sang cucu.


"Oma, apa ini tidak terlalu cepat, Oma?" tanya Gilang mengurungkan sang oma yang hendak beranjak. Pemuda tersebut tiba-tiba merasa ragu.


Dirinya dan Ailee baru saja saling mengungkapkan isi hati masing-masing meski tidak melalui banyak kata dan mereka berdua tentu butuh waktu untuk saling menyesuaikan diri, saling mengerti, dan saling memahami.


Menurut Gilang, terlalu cepat rasanya jika mereka harus menikah dalam waktu dekat.


"Ge, umurmu hampir kepala tiga. Apalagi yang kamu tunggu?" Sang oma menatap ke arah Gilang, dengan tatapan tak mengerti.

__ADS_1


"Apa kamu ragu dengan Ai? Atau, kamu menunggu sampai dia pergi dari kehidupan kamu dan setelah itu baru kamu menyadari bahwa kamu telah kehilangan Ailee?"


Gilang menggeleng cepat. "Tidak, Oma. Bukan seperti itu," balas Gilang seraya mengusap tengkuknya.


Pemuda itu kemudian menatap Ailee yang sedari tadi hanya diam dan menjadi pendengar setia.


"Apa tidak sebaiknya, Oma meminta pendapat Ai, dulu, Oma? Tanyakan padanya, apakah dia keberatan atau tidak? Tanyakan juga padanya, pernikahan seperti apa yang dia inginkan?"


Nenek Amira mengangguk, setuju. "Kamu benar, Ge. Oma hampir saja melupakan keinginan Ai, saking bahagianya oma melihatmu sudah mau membuka hati untuknya," tuturnya seraya terkekeh pelan.


"Bagaimana, Nak Ai? Kamu bersedia 'kan, menikah dengan cucu oma dalam waktu dekat?"


Sang oma memang bertanya pada Ailee, tetapi pertanyaannya adalah pertanyaan yang memaksa bagi orang yang ditanya agar menjawab iya, dan menyetujui keinginan wanita bersahaja tersebut.


Ailee tersenyum dikulum dan sedetik kemudian gadis berhijab itu mengangguk, pelan.


"Alhamdulillah," ucap Gilang dengan penuh rasa syukur.


"Lantas, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan, Sayang?" bisik Gilang, bertanya.


"Katakan saja, Ai! Ge pasti akan menuruti apapun permintaan kamu, bahkan jika kamu menginginkan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan di Kutub Utara sekalipun. Bukankah seperti itu, Ge?" Erlan tersenyum menggoda pada Gilang, setelah samar-samar tadi dia mendengar Gilang memanggil sayang pada Ailee.


"Enggak gitu juga kali, Bang, konsepnya!" protes Gilang.


"Percayalah padaku, Ai. Tipe laki-laki seperti Gilang itu akan rela melakukan apapun untuk wanita yang dia cinta."


"Heleh, sok tahu, Abang!" sahut Gilang.


"Buktinya, baru beberapa menit jadian aja, udah kelihatan bucinnya. Bagaimana nanti?" ledek Erlan kemudian, seraya terkekeh senang.


"Ck! Abang apaan, sih! Kayak dukun aja," gerutu Gilang.


Sang oma tersenyum lebar, ikut merasakan kebahagiaan sang cucu. Sementara Ailee tersenyum bahagia, seraya menundukkan wajah untuk menyembunyikan senyumannya.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana, Nak Ai? Kamu mau pesta yang seperti apa? Agar kami bisa segera menyiapkannya untukmu," ulang sang oma, bertanya.


"Maaf, Oma. Pada dasarnya, Ai setuju-setuju saja dan Ai serahkan semua pada Oma. Ai nurut saja apa yang menurut Oma itu terbaik bagi kami, tapi ...." Sejenak gadis belia itu menghentikan ucapannya.


"Tapi kenapa, Sayang? Katakanlah," pinta Gilang seraya menatap sang calon istri dengan dalam.


Ailee nampak kebingungan. Gadis itu sepertinya ragu untuk menyampaikan sesuatu hal.


"Katakan saja, Nak Ai! Jangan sampai ada yang mengganjal di hati!" titah sang oma yang tidak ingin ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh gadis belia yang duduk di samping Gilang.


"Bagaimanapun, Ai masih memiliki papa meski mereka tidak pernah menganggap keberadaan Ai." Wajah cantik yang tadinya full senyum kebahagiaan tersebut, kini berubah menjadi mendung.


Sigap, Gilang memeluk pundak Ailee untuk menenangkan calon istrinya yang masih belia itu.


"Ge! Kondisikan tanganmu!" Sang Oma pun dengan sigap dan tegas senantiasa menjadi pengingat bagi Gilang, agar cucunya tersebut berjalan dan bertindak sesuai aturan.


"Maafkan saja, Oma. Gilang pasti cuma reflek saja, tadi." Erlan yang juga terkadang suka kebablasan melakukan hal yang menurut para pemuda itu kecil dan sepele, jika sedang bersama gadisnya yang masih disembunyikan dari Gilang dan yang lain, mencoba memberikan pengertian pada omanya.


"Reflek-reflek! Awalnya, reflek! Nanti lama-lama keenakan dan keterusan! Kalian jangan biasakan melakukan hal-hal terlarang seperti itu!" Sang oma memperingatkan dengan keras.


"Ini, yang membuat oma ingin mempercepat pernikahan kalian, Ge! Oma tidak mau dipersalahkan, jika sampai kamu berbuat hal yang dilarang oleh agama kita!" lanjutnya seraya menatap Gilang dan Ailee bergantian.


"Kamu juga, Er. Jika nanti Gilang sudah menikah, segera bawa orang tua kamu ke rumah gadismu itu. Kalian sudah cukup lama berpacaran. Kalau ditunda-tunda, takutnya setan yang ikut berkencan di sekitar kalian semakin banyak dan lama-lama kalian akan tergoda." Sang oma menatap Erlan dan pemuda ramah itu mengangguk, mengerti.


Hening, sejenak menyapa ruangan presiden direktur yang luas tersebut.


"Lanjutkan, apa yang ingin kamu katakan, Nak Ai?" Suara sang oma mengurai keheningan.


"Ai ingin, Om Ge meminta restu pada papa karena sebagai calon mempelai wanita, Ai butuh papa untuk menjadi wali dalam pernikahan kita nanti, bukan?"


Gilang tersenyum penuh kebahagiaan mendengar Ailee menyebutkan diri sebagai calon mempelai wanitanya dan permintaan Ailee yang mengisyaratkan bahwa gadis belia yang duduk di sampingnya tersebut, sudah benar-benar setuju untuk segera dia nikahi.


"Ya, Sayang. Nanti malam, kita akan ke rumah papa kamu untuk meminta restunya," pungkas Gilang.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕



__ADS_2