
Waktu terus berlalu. Kebahagiaan terlihat jelas menyelimuti kediaman Gilang Chandra. Dua pria dewasa yang menjadi penghuninya kini telah menemukan tambatan hati dan berbahagia dengan pasangannya.
Bertambahnya tiga wanita yang menemani Nenek Amira saat ini, membuat wanita tua tersebut semakin bahagia. Beliau tidak lagi merasa kesepian jika cucu dan cucu buyutnya berangkat beraktifitas, menuntut ilmu dan bekerja. Sebab kini, sudah ada yang menemani, yaitu Ailee dan Mama Irna. Sementara Maida masih harus melanjutkan studinya.
Wanita tua dan wanita paruh baya di rumah tersebut, senantiasa memanjakan Ailee. Istri Gilang yang tengah mengandung penerus Gilang Chandra. Selain Gilang sendiri tentunya yang sangat memanjakan dan menjaga Ailee dengan siaga.
Tidak jarang, Gilang berangkat agak siangan hanya demi memenuhi keinginan istrinya. Terkadang, bos GCC itu juga pulang lebih awal karena sang istri yang meminta. Seperti hari ini, Gilang yang baru saja selesai meeting sudah bersiap untuk pulang meskipun waktu baru menunjukkan pukul tiga.
"Mas Sindu, aku pamit pulang dulu, ya," pamit Gilang pada asistennya yang baru. Kakak ipar Ailee yang saat ini menggantikan posisi Erlan karena abang sepupu Gilang itu sudah mulai disibukkan dengan persiapan pembukaan cabang baru perusahaannya.
"Dik Ailee minta apa lagi, Dik?" tanya Sindu yang sudah dapat menebak bahwa Gilang pulang lebih awal pasti karena ditelepon oleh sang istri.
"Minta dibelikan seblak, Mas, tapi aku yang harus beli," balas Gilang dan Sindu tersenyum, senyuman yang menyimpan kegetiran. Sebab, dulu dia tidak pernah ada ketika istrinya mengandung dan membutuhkan kehadirannya.
__ADS_1
"Nikmati dan syukuri saja, Dik. Semua itu tidak akan pernah terulang karena masing-masing anak memiliki bawaannya sendiri-sendiri," ucap Sindu yang kini semakin bijak dalam berpikir, setelah kejadian-kejadian pahit menimpa keluarganya.
Gilang menganggukkan kepala, setuju. Lagipula, sang istri juga tidak pernah memaksa jika Gilang sedang ada urusan yang sangat penting di kantor. Istrinya itu bisa mengerti asalkan diberitahu dengan pelan-pelan.
Gilang pun menyadari, bahwa anak yang dikandung Ailee adalah benar-benar buah hatinya sehingga meniru dirinya ketika masih dalam kandungan sang mama. Ya, baik Mama Irna maupun Nenek Amira mengatakan bahwa sewaktu sang mama mengandung Gilang, Mama Irna juga banyak permintaan seperti Ailee saat ini. "Mas Sindu benar. Harus dinikmati karena moment seperti ini belum tentu akan terulang," ucap Gilang seraya tersenyum.
Pemuda tampan itu kemudian segera berlalu, meninggalkan Sindu yang masih mematung ditempatnya. "Andai aku diberikan kesempatan kedua untuk bisa kembali memiliki anak, aku akan menjaga istri dan anakku seperti Gilang menjaga istri dan calon buah hatinya," gumam laki-laki itu seraya meraba miliknya yang belum bisa kembali sehat meskipun berbagai terapi sudah dia lakukan.
'Ya, aku harus sering-sering menjalin komunikasi yang baik dengan Aira. Seperti Gilang yang sering memberi kabar pada istrinya setiap kali dia memiliki kesempatan,' gumam Sindu, setelah mengirimkan pesan romantis tersebut. Rupanya, sikap Gilang yang selalu romantis pada sang istri, membawa dampak baik bagi Sindu.
Di dalam mobilnya, Gilang kembali menerima panggilan dari sang istri. "Iya, Sayang. Ini aku udah di jalan, mau beli seblak dulu," terang Gilang. "Ada yang lain, enggak?" lanjutnya bertanya.
"Ada, Mas," balas Ailee di seberang sana.
__ADS_1
"Mau apa, Yang? Nanti aku beliin sekalian." Gilang terdiam, menanti jawaban di seberang sana.
"GPL ya, Mas, karena Ai kangen pengin dipeluk sama Mas," balas Ailee yang kemudian terkekeh kecil hingga membuat Gilang menjadi gemas sendiri.
"Sayang, jangan menggodaku di waktu yang tidak tepat," protes Gilang dan Ailee semakin terkekeh.
"Aku matiin dulu ya, Yang. Bentar lagi sampai pusat jajanan," pungkas Gilang yang kemudian mematikan sambungan telepon karena mobil yang dikendarai sopir pribadinya, sudah berbelok ke area parkir pujasera.
Gilang segera turun untuk membeli seblak seperti yang diinginkan istrinya. Ketika dia hendak membayar, pemuda tampan itu dikejutkan dengan tepukan di bahunya oleh seseorang. "Pak Presdir, ngapain di sini?" tanya seorang wanita cantik, dengan dandanan khas wanita karir.
"Aleena?" Dahi Gilang berkerut dalam.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1