
Gilang mengerutkan dahi, ketika Ailee yang tadi langsung beranjak untuk mengambilkan nasi bungkus yang didasarkan di atas gerobak, setelah pemilik warung menyuguhkan minuman yang mereka pesan, datang dan kemudian menyimpan dua nasi bungkus tepat di hadapannya, dan satu bungkus lagi di hadapan Ailee sendiri.
Gadis itu juga membawa sepiring gorengan yang masih panas karena baru diangkat dari penggorengan, serta mangkok yang berisi air untuk mencuci tangan.
"Sayang, ini enggak ada piringnya?' tanya Gilang yang nampak kebingungan.
"Enggak ada, Mas. Ya memang seperti ini cara makannya kalau di kafe meong," balas Ailee, seraya tersenyum tanpa dosa.
Gadis belia itu kemudian membukakan nasi bungkus milik sang calon suami, dua bungkus dia gabung menjadi satu.
"Silakan makan, Mas Gilang." Ailee tersenyum lebar.
Gadis berhijab itu pun kemudian membuka nasi bungkus miliknya sendiri. Ailee mencuci tangannya terlebih dahulu, sebelum mulai menikmati makanannya.
Sedikit nasi dengan lauk sambal teri, menjadi pilihan Ailee. Dia mulai menikmati makan malam sederhana tersebut dengan menggunakan tangan langsung.
Ailee mencampur nasi yang masih hangat tersebut dengan sambal teri dan kemudian menyuapkan ke mulutnya, langsung dengan tangan. Tidak lupa, Ailee menggigit mendoan yang masih hangat cenderung panas, sebagai teman makan.
Rasa nikmat perpaduan hangatnya nasi dan pedasnya sambal teri yang gurih dan lezat, menjalar di lidah Ailee. Membuat gadis cantik itu semakin bersemangat menikmati makan malamnya.
Dia bahkan sampai melupakan keberadaan Gilang.
Sementara Gilang yang masih belum menyentuh makanannya sama sekali karena bingung bagaimana cara menikmati makanan yang baru pertama kali dilihatnya itu, tersenyum melihat cara makan Ailee.
"Kalau cara makannya seperti itu, aku juga mau, Sayang," ucap Gilang, membuat Ailee tersadar bahwa ada seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Kamu doyan, apa lapar, Ai?" tanya Gilang, kemudian.
Ailee tersipu malu, pipi putih itu kini sudah bersemu merah bak kepiting rebus.
"Mas Gilang, belum makan?" tanya Ailee sengaja mengalihkan pembicaraan, seraya melirik nasi sambal terong yang masih utuh milik pemuda tampan di sampingnya.
"Belum. Aku enggak bisa makan dengan tangan langsung seperti kamu," terang Gilang.
Gilang memang tidak pernah makan dengan menggunakan tangan secara langsung seperti yang barusan dia lihat dilakukan oleh Ailee karena sejak dini, ketika Gilang bisa makan sendiri, orang tuanya selalu mengajarkan untuk makan dengan duduk di meja makan dan menggunakan alat makan seperti piring, sendok, pisau dan juga garpu.
"Suapi aku, ya," pinta Gilang, kemudian.
Ailee mengerutkan dahi, sedetik kemudian menggeleng. "Enggak, ah! Malu," tolaknya.
__ADS_1
"Ya udah, aku enggak mau makan!" rajuk Gilang, seperti anak kecil.
"Mas, Mas 'kan udah tua. Ngapain juga minta disuapin?" tolak Ailee, kembali.
"Bukan tua, Sayang. De-wa-sa," protes Gilang yang tidak mau dianggap tua oleh calon istrinya.
"Karena aku enggak bisa makan seperti cara kamu makan, Sayang," lanjut Gilang.
"Pakai sendok ya, Mas. Ai ambilkan." Ailee hendak beranjak, tetapi Gilang mencegah.
"Aku tetap enggak mau makan!" kekeuh Gilang.
Setelah perdebatan kecil itu, dengan menghela napas panjang Ailee akhirnya mengangguk, pasrah
Gilang tersenyum puas.
Mereka kemudian makan bergantian, dengan Ailee yang menyuapi Gilang dan kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
Sepanjang makan, tak henti Gilang mengulas senyuman. Netra elangnya juga senantiasa menatap lekat sang calon istri.
Gilang tidak perduli, meskipun semua mata tertuju ke arah mereka. Pemuda tampan itu juga cuek saja, ketika para pelanggan kafe meong tersebut berbisik, membicarakan keromantisan mereka berdua.
'Rasanya, aku tak sabar ingin segera menikahimu, Ailee,' gumam Gilang, seraya menatap lekat wajah putih bersih Ailee.
"Jangan menatapku seperti itu terus, Mas," tegur Ailee yang ternyata menyadari, jika dirinya diperhatikan oleh Gilang sedari tadi.
"Kamu semakin cantik, Sayang. Rasanya, aku tidak akan pernah bosan menatap wajahmu," rayu Gilang yang mulai pandai menggombal.
"Dari dulu Ai memang cantik, Mas. Mas Gilang baru nyadar? Kemana aja, selama ini?" canda Ailee, narsis. Membuat Gilang terkekeh senang.
"Apalagi, jika kamu mau menyuapiku seperti ini setiap hari. Kecantikanmu akan bertambah berkali-kali lipat," lanjutnya yang semakin terkekeh.
"Mana bisa begitu? Ah, itu hanya modusnya Mas Gilang saja!" protes Ailee.
Makan malam yang diwarnai candaan dan keromantisan itu pun berakhir, ketika nasi sambal di hadapan Ailee telah tandas tanpa sisa.
Bahkan saking nikmatnya, Ailee tanpa sadar menjilati jarinya sendiri. Membuat Gilang menelan ludah, susah payah.
"Cukup, Sayang. Jangan menggoda imanku," bisik Gilang seraya mengedarkan pandangan. Khawatir, ada pelanggan kafe meong tersebut yang melihat ulah sang calon istri.
__ADS_1
"Siapa yang menggoda, Mas?" Ailee mengerutkan dahi.
"Itu, aku jadi pengin ikutan mengulum jarimu," balas Gilang seraya menatap jemari lentik Ailee yang telah bersih dari sisa makanan.
Ailee yang mengerti maksud Gilang, langsung mencuci tangannya dan kemudian menyembunyikan tangan dengan bersidekap.
"Udah yuk, Mas! Udah malam, nanti oma bertanya-tanya kita mampir kemana?" ajak Ailee yang langsung beranjak.
Gilang mengikuti Ailee yang mendekati pemilik warung angkringan.
"Sudah selesai Mbak Ailee, makannya?" tanya bapak pemilik kafe versi Ailee.
"Sudah, Pak. Makanannya nikmat, tapi sayang ...." balas Ailee sengaja menggantung.
"Tapi kenapa, Mbak?" tanya pemilik warung penasaran. Perasaannya tiba-tiba dilanda kekhawatiran. Khawatir jika pelanggan warungnya kecewa dengan makanan yang dia jual.
"Sayangnya, bikin perut kenyang," lanjut Ailee seraya tersenyum jahil, membuat pemilik warung sederhana tersebut tersenyum lega.
"Mbak Ailee ini ada-ada saja. Saya sempat khawatir, lho, barusan," protesnya yang kemudian terkekeh.
Gilang pun ikut tersenyum dikulum, seraya geleng-geleng kepala.
Kencan pertama dengan Ailee, benar-benar telah merubah hidup Gilang. Bukan merubah sebenarnya, hanya mengembalikan pemuda yang sempat membenci wanita tersebut, kembali ke sosoknya semula.
Ya, sebelum perpisahan kedua orang tuanya yang mengakibatkan kematian sang papa, Gilang adalah sosok pemuda yang humoris. Sedikit lebih tengil malah, jika dibandingkan dengan Erlan, sang abang sepupu.
Trauma perpisahan kedua orang tuanya karena hadirnya orang ketiga, serta tragedi meninggalnya sang papa di pangkuan Gilang, membuat pemuda tersebut berubah drastis. Berbalik seratus delapan puluh derajat.
Dia tumbuh dewasa menjadi seseorang yang dingin, ketus, dan sama sekali tidak memiliki hasrat pada seorang wanita.
Hal itu membuat sang oma sangat khawatir, hingga wanita yang telah mendampingi tumbuh kembang kedewasaan Gilang, mengupayakan segala hal untuk mencarikan pasangan bagi sang cucu.
Atas bantuan Erlan, Nenek Amira menemukan gadis yang tepat untuk Gilang, sang cucu kesayangan.
"Namanya juga orang makan, Ai. Pasti kenyang, lah." Gilang kemudian mengacak lembut puncak kepala Ailee yang tertutup hijab.
Ailee semakin mengulas senyuman lebar seraya menatap sang pangeran dari negeri antah berantahnya tersebut, dengan tatapan mesra.
Sungguh, pemandangan yang membuat iri siapa saja yang melihatnya, termasuk sepasang mata bola yang sedari tadi mengikuti mereka berdua.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕