
Sore harinya, Gilang dan Ailee keluar dari kantor dengan wajah bersinar bahagia. Sepasang suami-istri itu berjalan dengan bergandengan tangan mesra. Mereka berjalan melintasi lobi dengan saling bercanda, hingga membuat iri semua mata yang melihatnya.
Naomi yang mengekor langkah pasangan tersebut hanya bisa tersenyum masam. Dia iri, tetapi sekaligus turut berbahagia dengan kebahagiaan sang atasan. Meski sekretaris seksi tersebut harus menelan kesedihan karena cintanya pada Gilang bertepuk sebelah tangan.
"Omi-Omi!" Terdengar, seseorang menyerukan nama panggilan kesayangan. Sekretaris Gilang segera menoleh ke belakang. Dia tersenyum, melihat Damar berlari kecil dan mendekat.
"Mau pulang sekarang?" tanya kepala security, orang kepercayaan Gilang itu seraya menatap dalam netra Naomi.
Wanita yang senantiasa berpenampilan modis itu mengangguk. Dia segera berbalik, hendak meneruskan langkah. Namun, sigap Damar mencegah dengan memegang pundaknya, pelan.
"Apa nanti malam, aku boleh main ke kontrakan kamu?" tanya Damar, berbisik karena di sekitar mereka banyak lalu lalang para karyawan yang juga hendak pulang.
Naomi yang sebenarnya sudah tahu bahwa Damar sering memperhatikan dirinya diam-diam, tersenyum samar. "Mau ngapain? Di kontrakan aku tidak ada mainan." Sekretaris itu menahan tawa dalam hatinya.
Damar melepaskan tangannya dari bahu Naomi lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maksudku, apa nanti malam kamu bersedia makan malam denganku, Omi Sayang?" ajak Damar dengan berani.
Ya, sudah lama Damar mengincar sekretaris bosnya. Sekretaris yang memiliki body seksi dan senyuman menggoda. Namun, Naomi termasuk wanita yang dapat menjaga harga dirinya.
Naomi tidak mudah diajak berkencan dan dia membatasi pergaulan dengan pria. Meski jika dilihat dari segi penampilan, dia seperti wanita nakal di luar sana. Hal itulah yang membuat Damar berani mendekatinya.
Pelan, Naomi menganggukkan kepala. Dia setuju menjalin kedekatan dengan Damar untuk mengenal lebih jauh laki-laki yang merupakan orang kepercayaan bos, setelah Erlan dan Sindu tentunya. Naomi memang sempat menaruh hati pada Gilang, tetapi dia cukup sadar diri dengan keadaannya.
Damar nampak sangat antusias. "Yes! Terima kasih, Omi. Tunggu aku nanti malam." Damar mengusap pelan punggung Naomi, sebelum sekretaris itu kembali melanjutkan langkah dengan senyuman yang mulai mengembang.
Sebenarnya, dia ingin membersamai langkah Naomi hingga ke parkiran, tetapi Damar masih memiliki tugas lain. Ketika laki-laki itu hendak berbalik, ponselnya bergetar. Damar segera mengambil benda pipih itu dari dalam saku celana.
__ADS_1
"Tuan Gilang?" Dahi Damar berkerut dalam. Kepala security itu lalu menerima pangggilan Gilang.
"Siap, Tuan Muda. Saya langsung ke sana," balas Damar, setelah mendengarkan titah sang atasan.
Damar berjalan cepat melintasi lobi untuk menuju ke parkiran. Dia bahkan melewati Naomi tanpa sempat menyapa. Wanita seksi itu belum sampai halaman karena dia berjalan dengan perlahan.
Melihat Gilang masih menunggu di samping mobilnya, Dana segera menuju ke sana. "Siap, Tuan Muda. Tugas apa yang harus saya kerjakan, Tuan?" tanya Damar setelah berhadapan dengan Gilang.
Gilang tidak langsung menjawab. Pemuda tampan itu malah tersenyum pada seseorang yang berada di belakang Damar. Hal itu membuat Damar penasaran, tetapi tidak berani menoleh ke belakang.
"Tugas kamu, antar dia pulang sekarang," titah Gilang seraya menunjuk arah belakang Damar. Laki-laki itu baru berani menoleh ke arah yang ditunjuk sang atasan dan senyumnya merekah seketika.
"Omi?" gumam Damar, tidak percaya. Begitu pula dengan Naomi yang tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar.
Kedua orang yang sepertinya sama-sama memendam perasaan, tetapi belum memiliki kesempatan untuk mengungkapkan itu saling pandang. Keduanya lalu tersenyum, samar.
"Siap, Tuan Muda." Damar tentu sangat bersemangat karena mendapatkan tugas yang membuat hatinya senang. Laki-laki muda itu menatap Naomi seraya tersenyum lebar.
Sementara Naomi tersenyum, tersipu. Apalagi ketika dia menyadari tatapan sang nyonya bos yang berdiri di samping Gilang, sepertinya menggoda Naomi. Sekretaris itu teringat dengan candaan Ailee.
"Kak Omi, dapet salam dari Bang Damar, tuh," ucap Ailee suatu siang ketika Damar baru saja menemui Gilang di ruangan presiden direktur.
Kala itu, Naomi menanggapi sambil lalu. Sekarang, barulah dia mengerti bahwa Damar benar-benar serius padanya. Laki-laki yang saat ini berdiri di hadapan, bahkan mendapatkan dukungan dari sang bos untuk mendekatinya.
"Ya, sudah. Sana, jalan! Malah pada bengong!" Suara Gilang, mengurai lamunan keduanya.
__ADS_1
Damar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Laki-laki berbadan tegap itu menjadi salah tingkah. Dia lalu berjalan ke sisi Naomi untuk memberikan jalan pada mobil sang bos yang akan segera meluncur.
Di dalam mobil mewah milik Gilang, bos GCC itu tersenyum seraya menciumi punggung tangan sang istri. "Dua titahmu sudah aku jalankan, Sayang. Apalagi yang kamu inginkan, hem?"
Ailee tersenyum senang. "Enggak ada lagi, Mas. Ai hanya ingin membantu mereka karena mereka juga sudah membantu Mas Gilang selama ini," balas Ailee.
"Kalau Damar dan Naomi, iya, mereka berdua memang sudah lama bekerja di perusahaan dan sudah banyak membantuku. Aku setuju menyatukan mereka berdua yang sepertinya memang suka sama suka, tetapi untuk Nesa, kenapa kamu masih peduli pada dia yang sudah berencana untuk menjebakku, Sayang?" Gilang menatap dalam netra sang istri dengan tatapan tidak mengerti.
Ailee lalu menyandarkan kepala di bahu sang suami. "Ai hanya kasihan padanya, Mas. Keluarganya, selain Bu Kasih, sudah tidak ada lagi yang peduli pada Nesa. Bahkan Bang Topan, sepertinya juga menjaga jarak 'kan, sama dia? Lagipula, tidak ada salahnya kita membantu biaya pengobatan orang yang sedang sakit 'kan, Mas?"
Wanita muda itu lalu mendongak, menatap suaminya. Reflek, Gilang melabuhkan ciuman di bibir tipis istrinya. Ciuman sekilas, ringan, dan gemas.
Gilang lalu menganggukkan kepala. "Iya, kamu benar, Sayang. Lagipula, aku tidak begitu yakin Nesa bisa kembali pulih seperti dulu. Mengingat, perkataan dokter yang menangani Nesa kala itu."
Ya, setelah terbukti bersalah, Nesa yang harus menjalani hukuman, tiba-tiba sering histeris dan berteriak-teriak lantang. Tingkahnya seperti orang kesurupan. Terkadang, dia pun tertawa lalu menangis secara bersamaan.
Pihak lapas lalu mendatangkan psikiater. Nesa dinyatakan menderita gangguan kejiwaan dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Sejak saat itu, Bu Kasih yang membiayai perawatan anak tirinya. Mengetahui semua cerita tentang Nesa, Ailee diam-diam membantu wanita tua yang saat ini bekerja di rumah orang tuanya dengan memberikan tambahan gaji bulanan.
Gilang menciumi puncak kepala sang istri bertubi-tubi. Dia semakin mengagumi ketulusan hati Ailee. Wanita belia yang dulu dia kira akan menyusahkan jika mereka menikah dan hidup bersama, nyatanya pemikiran istrinya itu begitu dewasa.
Ailee sangat peduli dengan orang-orang di sekitar. Sikapnya juga ramah pada siapa saja, tanpa membedakan. Yang semakin membuat Gilang mabuk kepayang pada istrinya, adalah sikap manja Ailee ketika sedang ngidam.
"Yang, aku ingin dia segera hadir di sini," bisik Gilang, seraya mengelus lembut perut istrinya. Pemuda tampan itu tiba-tiba merindukan momen indah di mana kepalanya dibuat pening atas permintaan sang istri yang mengada-ada, tetapi sekaligus puas ketika melihat senyuman istrinya.
"Semoga ya, Mas. Kalau begitu, Mas Gilang harus bekerja lebih keras lagi mulai nanti malam," balas Ailee dengan tatapan menggoda, membuat Gilang tidak sabar menunggu malam tiba.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕