
Mediasi memang berjalan dengan lancar dan tidak mengalami banyak kesulitan karena pihak Sindu maupun Aira, bisa diajak bekerja sama dan menerima tuntutan Nelly. Apakah Sindu menerima keputusan tersebut dengan terpaksa atau tidak, tidak jadi soal bagi wanita muda itu. Yang terpenting bagi baby sitter tersebut saat ini, janin yang baru tumbuh di rahimnya memiliki seorang ayah.
Setelah semuanya selesai, Ailee dan Gilang pun berpamitan. "Semoga Mas Sindu dan Kak Aira memenuhi janjinya," harap Ailee, berbisik di telinga Nelly.
Baby sitter itu menganggukkan kepala seraya tersenyum pada Ailee. "Terima kasih banyak, Mbak Ailee, Pak Gilang," ucapnya, tulus.
Sebelum Ailee meninggalkan tempat tersebut, nampak Aira sedang menerima panggilan telepon dan istri belia Gilang itu menghentikan langkah ketika mendengar sang kakak menyebut nama Aina dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Aina depresi, Pa?" tanya Aira, memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Di seberang sana, sang papa terdengar menjelaskan bahwa setelah sadarkan diri pasca operasi pengangkatan rahim, Aina yang mengetahui bahwa dirinya kini bukanlah wanita yang sempurna, langsung histeris. Aina mencabut paksa jarum infus yang tertancap di tangan dan mencoba untuk mengakhiri hidup dengan menggores tangan menggunakan pisau buah ketika sang papa sedang keluar sebentar. Putri kedua yang merupakan calon dokter itu baru tenang setelah dokter memberikan obat penenang.
"Kak, Kak Aina kenapa?" tanya Ailee dengan nada pelan, setelah mendekati sang kakak.
"Ini semua gara-gara kamu, Ai! Kamu tidak mau merelakan Gilang untuk menikahi Aina hingga dia nekat mau menggugurkan kandungan!" Aira malah menyalahkan Ailee atas kesalahan yang diperbuat oleh Aina dan juga dirinya semalam di apartemen Ringgo.
"Hei, jaga bicara Anda! Anda pikir, saya barang yang bisa dipindahtangankan begitu saja! Kalaupun Ailee merelakan saya, sudah pasti saya akan menolak permintaan konyol itu!" geram Gilang seraya menatap tajam pada Aira.
"Sudahlah, Yang. Ayo, kita pulang! Jangan pedulikan lagi mereka!" Gilang mengajak sang istri untuk berlalu, tetapi Ailee menolak.
"Mas, Ailee mohon. Kita jenguk Kak Aina dulu, ya?"
Menatap netra sang istri yang begitu tulus, Gilang tidak dapat menolak keinginan istrinya. Pemuda tampan itu pun mengangguk, mengiyakan. Hal tersebut membuat Ailee sangat senang dan reflek memeluk sang suami tercinta.
"Ai janji, nanti malam Ai akan berikan servis terbaik untuk Mas," bisik Ailee, membuat hati Gilang senang bukan alang kepalang.
"Sebelum ke rumah sakit, sebaiknya kita sholat magrib dulu di sini, Yang. Udah mau adzan, nih." Gilang melihat jam mewah di pergelangan tangan kanannya dan Ailee mengangguk, setuju.
__ADS_1
Setelah mencari tahu informasi dari Aira dimana Aina dirawat, Gilang dan sang istri bergegas menuju musholla yang berada di area kantor polisi tersebut. Sementara Aira kemudian mendorong kursi roda sang suami mendekati Nelly. Istri Sindu itu berbicara dengan sang baby sitter, sebelum dia pergi ke rumah sakit.
"Bawa suamiku pulang karena tidak mungkin Mas Sindu ikut ke rumah sakit dalam kondisi seperti ini! Tapi awas saja kalau kalian berbuat macam-macam! Malam ini, mungkin aku akan tidur di sana untuk menemani Aina!" ancam Aira.
"Tenang, Ma. Papa tidak mungkin menyakiti Mama lagi," ucap Sindu mencoba meyakinkan sang istri. Laki-laki itu menggenggam tangan sang istri dan kemudian mengecup punggung tangan Aina.
"Aku pegang kata-katamu, Mas!" Aira menatap tajam sang suami dan Nelly bergantian, kemudian segera berlalu untuk menuju rumah sakit.
Sindu bernapas dengan lega. Laki-laki itu kemudian tersenyum manis pada Nelly. Tentu saja dibalas sang baby sitter dengan senyuman yang tidak kalah manis.
"Bawa aku pulang, Sayang, dan mari kita bersenang-senang tanpa adanya gangguan," pinta Sindu seraya mengerlingkan mata, memberikan kode pada sang kekasih bahwa dia butuh sentuhan hangat wanita muda itu.
Nelly seperti mendapatkan angin segar. Baby sitter itu melupakan begitu saja, apa yang dia alami barusan. Sepertinya akal sehat Nelly, telah kalah dengan kenikmatan yang diberikan oleh Sindu.
\=\=\=\=\=
"Maafkan kami, Nak. Maafkan papa karena selama ini sudah tidak adil sama kamu," tutur laki-laki berkumis tebal tersebut setelah melerai pelukannya.
Sepertinya, kejadian bertubi-tubi yang menimpa kedua putri kesayangan, telah menyadarkan pak pengacara. Ya, laki-laki tambun itu juga telah mengetahui kasus yang menimpa keluarga putri pertamanya. Aira memang sempat menelepon papanya tadi untuk meminta nasihat, bagaimana menghadapi kasus sang suami dan Nelly.
Atas saran papanya itulah mengapa akhirnya Aira menyetujui tuntutan Nelly. Hanya saja, pernikahan yang akan dilakukan oleh Sindu dan Nelly adalah pernikahan di bawah tangan, atau sirri. Namun, Nelly tidak mengetahui rencana tersebut dan dalam surat pernyataan yang mereka tanda tangani tadi, hanya tertulis bahwa Sindu bersedia menikahi Nelly tanpa dijelaskan pernikahan seperti apa.
"Semua ini pasti karena salah papa, Ai. Papa yang terlalu memanjakan mereka berdua dan mengabaikan kamu," sesal sang papa, sambil menatap Ailee dengan tatapan sendu.
Ailee membalas tatapan sang papa dengan tatapan yang entah. Istri Gilang itu terdiam. Dia tidak berani menyimpulkan, apakah yang barusan didengar dari mulut sang papa adalah sebuah ketulusan ataukah hanya sekadar pemanis bibir seperti yang telah lalu.
Ailee kemudian tersenyum dan mengajak sang papa untuk duduk kembali. "Duduk, yuk, Pa."
__ADS_1
Laki-laki paruh baya tersebut menyalami Gilang terlebih dahulu sebelum duduk. "Maafkan keegoisan kami waktu itu ya, Nak Gilang," pintanya yang terlihat penuh penyesalan.
Gilang hanya menganggukkan kepala dan berharap, permintaan maaf papanya Ailee itu tulus. 'Semoga, apa yang Anda sampaikan ini tulus, Pak,' batin Gilang.
Setelah sang papa duduk, putri bungsu pak pengacara tersebut kemudian duduk di samping papanya. Gilang mengikuti dengan duduk di samping sang istri. Untuk sesaat, mereka bertiga sama-sama terdiam.
Mereka tidak langsung masuk ke dalam kamar perawatan karena putri kedua pak pengacara sedang ditangani oleh psikiater yang didampingi Aira. Istri Sindu itu diminta untuk ikut masuk karena sepanjang mengamuk tadi, Aina terus saja mengutuk sang kakak. Calon dokter tersebut terlihat sangat marah pada kakak kandungnya, entah apa sebabnya belum ada yang mengetahui karena Aira masih bungkam sementara Aina belum bisa dimintai keterangan.
"Pa, memangnya separah apa kondisi rahim Kak Aina sehingga sampai harus diambil tindakan histerektomi?" tanya Ailee, mengurai keheningan.
Sang papa menghela napas panjang. "Papa juga tidak tahu, Nak. Yang jelas, kakakmu mengalami pendarahan hebat karena over dosis obat peluruh." Laki-laki berkumis tebal itu menggeleng-gelengkan kepala sendiri.
Setelah cukup lama mereka berbincang, seorang wanita cantik berseragam putih yang diikuti oleh Aira, keluar dari kamar rawat Aina. Wanita berkacamata itu kemudian menghampiri pak pengacara.
"Apa kita bisa bicara bertiga, Pak," pinta psikiater itu, seraya menoleh ke arah Aira yang berdiri tertunduk di belakangnya.
"Bicara saja di sini, Dok. Ini juga putri saya." Laki-laki paruh baya itu menoleh ke arah Ailee yang duduk di sampingnya. Pengakuan sang papa barusan, membuat istri Gilang tersebut sedikit trenyuh, tetapi dia tidak mau terbuai.
"Pa!" protes Aira yang nampak keberatan jika Ailee dan suaminya ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Sang papa menggeleng. "Dia adikmu, Ra! Ai juga harus tahu!" putusnya.
Psikiater itu kemudian ikut duduk di sana dan mulai menjelaskan apa yang membuat Aina depresi dan nampak membenci kakak kandungnya sendiri. Ternyata bukan hanya karena gadis tersebut kehilangan bagian tubuh paling berharga miliknya, tetapi juga karena semalam Aina melihat pengkhianatan sang kekasih bersama Aira, tepat di depan mata. Sehingga dia nekat menggugurkan kandungan dengan meminum obat peluruh sebanyak-banyaknya.
"Ra! Apa benar seperti itu? Pendidik macam apa kamu, Ra!" Pak pengacara nampak memegangi dada sebelah kiri. Napasnya mulai memburu dan tatapannya melotot tajam ke arah sang putri.
Aira yang tadinya berdiri tegak di samping sang papa, langsung merosot luruh ke lantai dan bersujud di kaki papanya. Bersamaan dengan itu, tubuh pak pengacara pun lemas seketika seperti tak bertenaga.
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕