
Ailee sudah dipindahkan ke ruang perawatan terbaik. Wanita itu masih belum sadarkan diri. Dia ditemani oleh Nenek Amira, Mama Irna dan Maida.
Sementara di luar ruangan, Gilang masih saja larut dalam penyesalan. Erlan terus mendampingi sang adik sepupu. Dia juga terus berusaha untuk menghibur Gilang.
"Ayolah, Ge. Jangan seperti ini terus," ucap Erlan setelah beberapa saat mereka sama-sama terdiam.
"Ai pasti sangat sedih, Bang. Dia sangat antusias menyambut kehamilan anak kami," gumam Gilang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Penyesalan terus menggelayuti hati dan pikirannya.
"Aku benar-benar tidak bisa menjadi suami yang baik, Bang. Aku teledor hingga membuat istriku celaka." Gilang terus saja menyalahkan dirinya.
"Aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan pada istriku, Bang. Dia pasti akan syok jika mendengar bahwa anak kami tidak selamat," lanjutnya yang kembali berurai air mata.
Sekuat apapun mencoba untuk tegar, nyatanya Gilang tak kuasa untuk tidak menangis. Melihat hal itu, Erlan pun ikut menitikkan air mata. Namun, buru-buru dia seka air matanya karena tidak mau membuat Gilang semakin bersedih.
Apa yang saat ini Gilang alami, mengingatkan Erlan ketika papanya Gilang meninggal. Adik sepupunya itu pun larut dalam kesedihan seperti sekarang ini. Kehilangan papa yang disayang, tepat disaat sang mama memilih pergi dengan laki-laki lain, membuat Gilang sangat terpuruk. Erlan kemudian menepuk pelan punggung Gilang.
"Ini semua salahku, Bang," lirih Gilang, sambil menyusut air matanya.
"Tidak, Ge. Kamu tidak boleh terus-terusan menyalahkan diri sendiri." Erlan menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayolah, Ge, bangkit! Ai juga butuh dukungan kamu," ajak Erlan yang kemudian beranjak. Mereka berdua sudah cukup lama berada di luar ruangan.
Gilang masih saja terdiam. Dia belum ingin beranjak dari tempatnya. Gilang masih belum memiliki nyali untuk bertemu dengan istrinya.
Semilir angin malam, terasa dingin menusuk tulang. Erlan bersidekap lalu menghela napas panjang. Nama Aleena kembali muncul dalam ingatan. "Aleena," gumamnya dengan menyimpan kemarahan.
__ADS_1
Keheningan kembali tercipta. Gilang masih duduk di tempatnya. Sementara Erlan masih mematung dengan sejuta rencana untuk mantan kekasihnya.
"Ge, Ai belum juga sadar. Cobalah mendekat, Ge. Barangkali jika kamu yang membangunkan, istrimu akan segera sadar," tutur sang oma yang menyusul keluar, mengurai keheningan.
"Oma, Ge ...." Gilang menggeleng-gelengkan kepala lalu meraih tangan sang oma yang duduk di sampingnya.
"Maafkan Ge, Oma. Ge tidak bisa menjaga calon cucu buyut Oma," ucap Gilang penuh penyesalan. Dia ciumi punggung tangan sang oma, seolah Gilang baru saja melakukan kesalahan fatal. Padahal apa yang terjadi, adalah di luar kehendaknya dan bukan karena kesalahan Gilang semata.
Nenek Amira lalu merangkul pundak sang cucu. "Kamu tidak salah, Ge. Kita semua sudah tahu bagaimana kejadiannya. Ayolah, Nak, jangan larut dalam penyesalan seperti ini."
Nenek Amira lalu beranjak seraya menarik tangan sang cucu. "Di luar dingin, Ge. Nanti kamu bisa sakit." Dengan paksa, sang oma mengajak Gilang masuk ke dalam ruang perawatan istrinya.
Pemuda yang saat ini wajahnya terlihat kuyu itu pasrah, mengekor langkah sang oma. Dia berjalan seperti layaknya robot. Seperti tidak ada jiwa di dalam tubuhnya.
Mama Irna yang tadi melihat kedatangan Gilang dan segera beranjak dari kursi yang berada di samping ranjang pasien, kemudian menuntun sang putra untuk duduk di sana. "Semua sudah terjadi, Ge. Jangan larut dalam penyesalan. Istrimu adalah wanita yang tulus dan ikhlas. Dia pasti bisa menerima semua dengan lapang dada," tuturnya bijak, membuat hati Gilang sedikit tenang.
"Ayo, coba bangunkan istrimu, Nak," pinta Mama Irna kemudian.
Gilang lalu menggenggam erat tangan sang istri, sambil membisikkan sesuatu. Dia mencoba untuk membangunkan istrinya. Sementara Mama Irna menyusul Nenek Amira yang sudah duduk di sofa bersama Erlan dan Maida. Mereka berempat membiarkan Gilang berbicara dengan istrinya yang masih belum sadarkan diri.
"Bang ...." Ucapan Maida menggantung di udara.
"Ada apa, hem?" bisik Erlan, bertanya. Melihat kesedihan di wajah sang istri, Erlan lalu menyandarkan kepala Maida di bahunya.
Maida tidak melanjutkan ucapannya. Tatapan istri Erlan itu kini tertuju ke arah ranjang pasien di mana dewa penyelamat rumah tangganya berada. Tanpa dapat dicegah, air mata Maida mengalir deras membasahi pipinya.
__ADS_1
Maida tidak dapat membayangkan jika rencana Aleena tadi berhasil, apa yang akan terjadi dengan rumah tangganya? Dia pasti akan kehilangan suami yang sangat dia cinta. Beruntung, Ailee mengetahui semua dan menggagalkan rencana Aleena meskipun harus kehilangan calon buah hati mereka.
"Semua sudah terjadi, Dik. Pasti ada hikmah dibalik ini semua," hibur Erlan seraya mengusap air mata sang istri.
"Benar, Nak Mai. Sudah, kalian jangan pada merasa bersalah seperti ini. Semua sudah terjadi dan Allah memang sudah menggariskannya," tutur sang oma, bijak.
"Iya, Oma."
Percakapan mereka terhenti ketika mereka mendengar suara Gilang. "Sayang. Kamu sudah bangun, Yang." Pemuda itu menciumi pipi, kening, dan seluruh wajah istrinya hingga membuat Ailee merasa bingung sendiri.
"Mas, ada apa? Aku di mana?" tanya Ailee, setelah Gilang menjauhkan wajah.
"Aku, apa aku di rumah sakit, Mas? Apa yang terjadi padaku? Bayi kita, bagaimana keadaan anak kita, Mas?" cecar Ailee sebelum Gilang sempat menjawab pertanyaannya.
"Tadi itu, dia ... Alena. Iya, Aleena mendorongku sangat kuat hingga aku jatuh, Mas. Dan perutku, setelah itu perutku terasa sangat sakit," lanjutnya sambil meraba perut.
Ailee kemudian menatap semua orang yang sudah mendekat, satu per satu. Wajah-wajah mereka terlihat sangat sendu. Istri cantik Gilang itu mulai bisa meraba apa yang telah terjadi padanya. Apalagi ketika melihat wajah sang suami yang terlihat sembab, Ailee mulai menitikkan air mata.
"Mas, apa anak kita, apa dia ... dia tidak selamat?" tanya Ailee dengan suara tercekat di tenggorokan.
Gilang tidak dapat menjawab pertanyaan istrinya. Hanya dekapan hangat yang membenamkan kepala sang istri di dada sebagai jawabannya. Dia ciumi puncak kepala sang istri, sebagai bentuk permintaan maaf karena Gilang tidak bisa menjaga buah hati mereka berdua.
Tangis Ailee pecah di sana. "Maafkan Ai, Mas. Ai tidak bisa menjaga anak kita," ucap Ailee penuh penyesalan, di sela isak tangis yang terdengar memilukan. Membuat Gilang, Erlan dan Maida, semakin merasa bersalah.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1