Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Pre-eklamsia


__ADS_3

Di hotel tempat Gilang dan Ailee menginap, sepasang suami-istri yang baru saja menikah itu baru saja bergabung bersama saudara-saudara Gilang yang juga menginap di hotel yang berada di bawah bendera GCC. Mereka berkumpul kembali di lounge untuk menikmati sarapan bersama, sebelum kembali ke kota masing-masing. Erlan juga nampak berada di sana dan sedang asyik ngobrol bersama sang papa.


"Jadi, kapan papa dan mama bisa silaturrahim ke rumah gadismu itu, Er?" tanya sang papa, memastikan.


"Untuk waktu dekat ini, sepertinya belum, Pa. Nantilah kalau sudah pasti waktunya, Papa dan Mama Er kabari," balas Erlan.


"Ah, kelamaan! Das-des Las-les gitu, lho, Bang! Kayak aku," ledek Gilang.


"Halah, Om Ge juga harus dipanas-panasi dulu kayak mesin tua biar enggak mbrebet gitu, kok!" sahut Satria, mencibir omnya.


"Hem, betul banget, Sat. Setelah itu, Ge baru nyadar kalau ternyata dia suka sama Ailee," imbuh Erlan.


Om dan keponakan itu kemudian terkekeh bersama, mereka berdua teringat dengan rencana yang sengaja memanas-manasi Gilang agar pemuda tersebut menyadari perasaan yang sesungguhnya terhadap Ailee. Benar saja, Gilang mulai cemburu meskipun belum diungkapkan secara terang-terangan.


"Ya 'kan, aku aliran slowly but sure, Bang," sanggah Gilang, membela diri. "Setelah sah, baru tancap gas!" lanjutnya seraya terkekeh. Gilang kemudian melirik sang istri yang nampak tersipu malu.


Ya, sejak tadi malam, pengantin baru itu memang gaspol tanpa menggunakan rem. Bahkan sebelum turun untuk bergabung bersama keluarga, Gilang masih saja minta tambah jatah. Alhasil, sang istri merasa kesakitan di area pribadinya.


Beruntung, sang oma kemarin sudah memberikan salep kecil kepada Gilang. Salep andalan keluarga yang konon sangat bermanfaat untuk pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk asmara. Setelah Gilang mengoleskan salep tersebut dengan telaten di spot favoritnya, sang istri tidak lagi merasakan sakit ketika berjalan.


Para orang tua yang mendengar ucapan Gilang, geleng-geleng kepala. Sementara Erlan dan Satria, mencebik. Kukuh dan adik-adik yang lain, mengerutkan dahi karena tidak mengerti pembicaraan orang dewasa tersebut.


"Jangan lama-lama Om Er, aku sudah pengin istirahat. Kamu harus segera pulang ke Surabaya dan mengurus perusahaan kamu sendiri," ucap kakak kandung Erlan.


"Iya, Mbak. Er pasti akan pulang, tapi nanti setelah Er menikah."


"Benar, Dik. Mas juga capek karena Mbakmu selalu meminta Mas yang meng-handle. Mas jadi pusing mikirin dua perusahaan," timpal sang kakak ipar.


"Iya, Mas. Er ngerti, kok, gimana repotnya," balas Erlan seraya menatap sang kakak dan kakak iparnya, bergantian.


"Lah, kalau Bang Er pulang, Ge gimana, dong?" protes Gilang, bertanya.


"Kan ada Satria yang bisa menjadi asisten pribadimu, Ge," balas Erlan.

__ADS_1


"Bener banget, Om. Satria bisa, kok, kalau cuma ngurus perusahaan macam gitu," timpal Satria.


"Kamu, jadi asisten pribadi? Apa jadinya perusahaanku nantinya, Sat?" Gilang menggelengkan kepala.


"Yang pasti, jadi perusahaan absurd, lah, Om," sahut Kukuh yang membuat semua orang tertawa.


Ya, mereka semua tahu bagaimana cucu pertama di keluarga Gilang itu begitu konyol. Suka jahil dan jika berbicara asal buka mulut tanpa memikirkan bagaimana akibatnya nanti. Meskipun demikian, Satria adalah pemuda yang cerdas dan berpikiran maju.


"Kamu belajar saja yang benar, Sat. Nanti setelah wisuda, kamu urus perusahaan kamu sendiri," ucap. Gilang, kemudian.


"Apa, Om? Perusahaan Satria sendiri?" Dahi Satria berkerut dalam, tidak mengerti arah pembicaraan omnya.


"Dik, kok malah dibuka dari sekarang, sih?" protes kakak pertama Gilang.


"Biar saja, Gia. Putra sulungmu itu sudah mahasiswa, sudah saatnya dia tahu bahwa dia memiliki tanggungjawab untuk mengurus perusahaan nantinya. Biar dia belajar sungguh-sungguh untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin," tutur Nenek Amira dengan bijak.


"Selama ini, Om Ge dan Om Er yang meng-handle semua, Sat. Om Ge sudah menikah dan dia harus fokus dengan perusahaan dan keluarganya sendiri. Om Er sebentar lagi juga harus kembali ke kota asalnya dan mengelola perusahaannya di sana. Sekarang, kamu harus sudah mulai mempersiapkan diri agar nanti ketika saatnya tiba, kamu sudah siap untuk mengelola perusahaan milikmu sendiri," lanjut sang oma.


Satria mengangguk, mengerti. Pemuda itu menatap kedua omnya dengan netra berkaca-kaca. Dia merasa terharu, rupanya semua sudah dipersiapkan untuk masa depannya. Satria merasa bersalah karena selama ini sering meledek kedua omnya itu.


"Kalau cengeng, enggak jadi om kenalin sama keponakannya Kak Mai yang cantik, loh," timpal Erlan, mengancam seraya tersenyum.


"Jangan, dong, Om!" protes Satria.


"Lah, katanya kamu enggak mau dikenal-kenalin gitu, Bang." Sang mama menatap putra sulungnya seraya tersenyum.


"Kata Om Er keponakannya Kak Mai cantik banget, Ma. Ya, Satria pasti mau, lah," balas Satria yang kini wajahnya kembali ceria.


"Beneran kenalin ya, Om," tagih Satria kemut, seraya menatap Erlan. Pemuda dewasa yang ditatap, mengangguk setuju.


Sarapan pagi yang diwarnai obrolan dan candaan itu pun terus berlangsung. Mereka semua nampak berbahagia. Bertambah satu lagi keluarga mereka dan kehadiran Ailee menambah semarak keluarga Gilang.


Usai sarapan, semua keluarga membubarkan diri untuk kembali ke tempat masing-masing. Termasuk Gilang dan sang istri yang pagi ini berencana untuk mengunjungi makam almarhumah mamanya Ailee.

__ADS_1


Setelah saling berpamitan, Gilang dan Ailee segera meluncur menuju pemakanan. Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, mereka berdua membicarakan banyak hal.


"Dik, apa kamu pernah mendengar cerita, kenapa mama kamu meninggal saat melahirkan kamu?" tanya Gilang, setelah mereka hampir sampai ke pemakaman umum.


Ailee mengangguk. "Kata Bibi, mama mengalami pre-eklamsia saat kandungannya berusia delapan bulan dan hal itu dipicu karena mama memergoki papa bercumbu dengan sekretarisnya di kantor." Wajah cantik yang duduk di sebelah bangku pengemudi itu, kini berubah menjadi mendung.


"Ai lahir prematur dan jiwa mama tidak dapat tertolong. Untungnya, sebelum mama meninggal, mama sempat berpesan pada bibi agar bibi mengajari Ai ilmu agama. Mama bilang, mama menyesal karena tidak memberikan pendidikan agama pada Kak Aira dan Kak Aina," lanjut Ailee.


Gilang mengangguk-anggukkan kepala. "Tapi kenapa papa kamu malah menyalahkan kamu dan menganggap kamu sebagai pembawa sial?" tanya Gilang tak mengerti.


Ailee menggelengkan kepala. "Entahlah, Mas. Barangkali, itu hanya untuk menutupi kebusukan papa karena setelah mama meninggal, papa masih saja main gila dengan banyak wanita," balas Ailee.


"Maksud kamu?" Gilang menoleh sekilas ke arah sang istri.


"Sewaktu masih sekolah dulu, Ai pernah pulang lebih awal dan diam-diam masuk ke rumah utama. Pas Ai sampai di depan kamar papa, bersamaan dengan papa dan seorang wanita muda hendak keluar dari kamar. Saat itu juga, papa sangat marah dan kemudian menampar pipi Ai." Tatapan istri belia Gilang menerawang jauh, mengingat kejadian kala itu.


"Ketika Ai mengadu pada bibi karena bibi menanyakan kenapa dengan pipi Ai yang membiru, bibi mengatakan kalau hal itu sudah biasa papa lakukan di rumah ketika kak Aira dan Kak Aina sedang ke kampus. Kata bibi juga, wanitanya sering berganti-ganti," lanjut Ailee, miris.


Gilang dibuat geleng-geleng kepala dengan cerita sang istri. Obrolan mereka terhenti ketika Gilang telah memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.


"Mas, kita beli bunga dulu, ya," pinta Ailee yang langsung berjalan menuju toko bunga yang ada di sekitar area parkir.


Istri cantik Gilang itu kemudian membeli dua keranjang bunga segar, lengkap dengan dua botol air.


"Kok beli dua, Yang?" tanya Gilang, setelah Ailee membayar bunganya. Gilang kemudian mengambil satu keranjang dari tangan sang istri.


"Oh ya, Ai lupa belum menceritakan satu hal yang membuat Ai pergi dari rumah sama Mas," balas Ailee sambil melangkah menuju ke pemakaman.


"Apa itu, Yang?" Gilang segera mensejajarkan langkah dengan sang istri dan kemudian menggandeng tangan istrinya.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


Mau tahu aja, apa mau tahu banget, Best??? 🤭

__ADS_1


Kasih Bintang lima dulu, ya, buat Ailee. Baru aku lanjut 🥰🥰


__ADS_2