
Seperti yang dikatakan Gilang beberapa hari yang lalu. Aleena benar-benar datang ke kediaman Gilang untuk memberikan undangan grand opening butiknya kepada Erlan secara langsung. Kedatangan Aleena disambut baik oleh abang sepupu Gilang tersebut, beserta sang istri.
Tidak ada gelagat buruk yang diperlihatkan mantan kekasih Erlan. Semua mengalir begitu saja dan obrolan mereka bertiga nampak santai. Maida pun bersikap baik pada Aleena sesuai ucapannya tempo hari bahwa tidak ada salahnya jika suami dan sang mantan kembali menjalin silaturrahim.
Erlan pun bersikap biasa saja. Baginya, Aleena hanya sepenggal kisah masa lalu yang sudah dikubur dan tidak akan dibangkitkan kembali. Dia sudah menemukan belahan jiwa yang akan Erlan jaga di sisa usianya.
"Baik, Er. Aku titip juga undangan ini untuk Ge. Aku harap, kamu dan Ge bisa datang," pamit Aleena seraya beranjak.
Mendengar kalimat terakhir sang mantan kekasih, Erlan mengerutkan dahi. "Apa undangan ini tidak berlaku untuk pasangan kami?" tanya Erlan, menegaskan.
Aleena terkekeh. "Sejujurnya tidak! Tapi kalau kalian mau mengajak pasangan, silakan."
Erlan menggelengkan kepala. "Aku hanya akan datang jika istriku mau kuajak ke sana," tegasnya seraya menoleh ke arah sang istri yang nampak tersenyum masam.
Tentu saja Maida sangat kesal karena Aleena terang-terangan hanya mengundang sang suami. Istri mana coba yang rela suaminya datang ke acara penting sang mantan tanpa melibatkan istri? Meski Aleena sudah berlalu dari hidup sang suami, tetap saja Maida tidak mau mereka bertemu tanpa adanya dia di sisi Erlan.
Mengetahui jika sang istri tengah kesal, Erlan lalu memeluk pinggang sang istri yang juga sudah berdiri. "Kalau kamu keberatan aku datang, aku tidak akan datang, Sayang," ucap Erlan tanpa memelankan suara, membuat Aleena merasa kesal.
__ADS_1
"Kalian berdua harus datang. Ge juga harus datang sama istrinya. Kalian adalah tamu istimewaku," pungkas Aleena kemudian yang terpaksa berkata demikian karena tidak mau kehilangan momen istimewa untuk mendekati Erlan kembali.
Erlan menganggukkan kepala, tanda setuju setelah meminta pertimbangan sang istri. Aleena kemudian segera berlalu setelah menyalami sepasang suami-istri tersebut. Mantan kekasih Erlan itu mencoba untuk bersikap biasa saja ketika berada di hadapan istrinya sang mantan meskipun dalam hati dia sangat kesal.
Bagaimana Aleena tidak kesal jika sepanjang mereka mengobrol, Erlan terus bersikap mesra pada Maida? Sebagai mantan yang pernah menjadi wanita istimewa di hati Erlan, Aleena merasa tidak terima jika posisinya ditempati oleh wanita lain. Sebab, dia masih menyimpan rasa pada sang mantan dan berharap mereka masih bisa merajut kisah cinta yang sempat terputus.
"Hah! Ternyata istri si Erlan masih ingusan? Apa lebihnya dia, sih sampai Erlan kayak tergila-gila begitu? Nempel terus sedari tadi, bikin kesel aja!" Aleena menumpahkan kekesalannya setelah berada di dalam mobil.
Sedetik kemudian, wanita berwajah oriental khas wanita Asia itu tersenyum. Senyum yang mengandung sejuta makna. "Aku pasti bisa mendapatkan cinta sejatiku kembali!" ucap Aleena penuh keyakinan.
Pemuda tampan itu berjalan tergesa memasuki rumah, setelah tadi melihat mobil Aleena keluar dari pintu gerbang. Dia ingin tahu, apakah Aleena membuat keributan di rumahnya? Sambil memasuki rumah Gilang bukannya mengucapkan selamat salam, tetapi malah memanggil-manggil nama Erlan.
"Bang. Bang Er di mana?"
"Waalaikumsalam, Mas," sindir Ailee yang segera keluar menyambut sang suami. Istri belia Gilang itu lalu mencium tangan suaminya dengan takdzim.
"Kalau masuk rumah, tuh, ucapkan salam, Mas. Jangan teriak-teriak seperti barusan! Kayak di hutan saja," protes Ailee kemudian, setelah sang suami mencium keningnya.
__ADS_1
Gilang terkekeh kecil. "Iya, Sayang, maaf. Habisnya aku penasaran ingin segera bertanya pada Bang Er."
"Kamu pasti mau menanyakan tentang Aleena, kan?" Suara Erlan yang baru keluar dari arah meja makan, membuat Gilang dan Ailee menoleh serempak.
"Aleena? Siapa wanita itu, Mas?" tanya Ailee dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah.
Gilang menepuk jidatnya sendiri. Dia melupakan tentang pertemuannya dengan Aleena dan tidak menceritakan tentang mantan kekasih Erlan itu pada sang istri. Dia pikir ini tidak ada hubungannya dengan mereka berdua, makanya Gilang tidak cerita.
"Mereka semua cerita kalau Mas tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, tapi mengapa ada nama Nesa dan sekarang Aleena?" cecar Ailee yang hatinya telah terbakar cemburu.
Hormon kehamilan membuat Ailee sangat sensitif. Sedikit saja masalah, langsung dapat mempengaruhi mood-nya. Hal itulah yang dikhawatirkan Gilang saat ini.
"Sayang. Dia itu masa lalu ...."
Belum sempat Gilang menjelaskan, Ailee tiba-tiba rubuh. Untung saja Gilang sigap menangkap tubuh sang istri, sehingga tubuh Ailee tidak sampai terjatuh ke lantai. "Sayang. Bangun, Yang. Jangan pingsan begini, dong, Yang!" Panik, Gilang menepuk pelan pipi istrinya.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1