
Pemuda itu mengerutkan dahi, mendengar celoteh Aleena yang dirasa seperti orang mabuk. Benar saja, dia mencium aroma alkohol yang cukup menyengat ketika wanita seksi tersebut berbicara. Pemuda berkulit putih dan bermata kebiruan itu lalu geleng-geleng kepala sendiri.
Sahabatnya yang mengekor di belakang terkekeh. "Anda benar, Nona. Dia memang pangeran tampan, tapi sayangnya tidak berkuda putih. Jadi, maaf saja, Nona. Dia tidak dapat menyelamatkan Anda."
"Udah, Bay, jangan banyak bicara! Bawa, nih, cewek! Kasihkan aja sama bapak-bapak berseragam itu!" Kevin melepas Aleena yang kemudian dibawa oleh Bayu untuk diserahkan pada pihak yang berwajib.
"Pangeran! Tolong aku, Pangeran!" seru Aleena yang diseret Bayu mendekat pada petugas.
Ya, pemuda tampan yang berhasil menangkap Aleena adalah Kevin. Abang sulung Maida yang diminta sang daddy untuk meluncur ke tempat tersebut, setelah istri Erlan menelepon daddynya. Pemuda tampan itu mengajak serta sang sahabat yang kocak, sekaligus asisten pribadinya.
Kevin lalu mendekati komandan polisi yang sedang berbincang dengan manager hotel. Pemuda itu mendengarkan dengan seksama apa yang diterangkan oleh manager muda tersebut sesuai dengan rekaman CCTV yang didapat. Komandan polisi dan Kevin mengangguk-anggukkan kepala, mengerti.
"Saya Kevin, keluarga dari Erlan dan Maida selaku target dari tersangka. Besok, kami akan membawa semua bukti, dan juga saksi-saksi untuk memberikan keterangan," ucap Kevin kemudian.
"Apakah kedua target baik-baik saja, Mas Kevin?" tanya komandan polisi.
"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja karena belum sempat meminum minuman yang telah disuguhkan. Hanya saja, saudara kami yang lain menjadi korban. Dik Ailee, istri Dik Gilang mengalami keguguran," terang Kevin membuat manager hotel tersebut, terkejut.
"Nyonya Muda Ailee keguguran?"
__ADS_1
Kevin mengangguk, membenarkan. "Wanita yang bernama Aleena itu harus mendapatkan ganjaran yang setimpal," ucapnya, geram.
Kevin yang sewaktu di jalan tadi menelepon sang adik dan menanyakan keberadaan Maida, merasa ikut prihatin atas apa yang menimpa istri dari adik sepupu Erlan. Wanita muda yang seusia dengan kedua adik kembarnya mengalami hal tersebut karena berusaha untuk menyelamatkan Maida dan Erlan. Wajar jika kemudian Kevin sangat marah pada pelaku utama, yaitu Aleena.
Seorang wanita paruh baya nampak mendekat. "Maaf, Mas. Barusan saya dengar Mas ini saudaranya Nak Erlan dan juga Nak Gilang. Apa kita bisa bicara sebentar, Mas," pintanya, penuh harap.
"Saya mamanya Aleena, Mas. Saya mohon, Mas jangan bawa masalah ini ke meja hijau. Kita selesaikan saja secara kekeluargaan ya, Mas. Saya janji, saya akan menanggung semua biaya rumah sakit dan saya juga akan memberikan uang santunan sebagai ucapan bela sungkawa karena putri saya telah bersalah dan menyebabkan istri Nak Gilang keguguran," lanjutnya panjang lebar.
Wanita yang menenteng tas tangan branded mahal seharga ratusan juta itu, menangkup kedua tangan di depan dada. Dia memohon dengan sangat agar sang putri tidak dijebloskan ke dalam penjara. Ya, meskipun sangat marah pada Aleena, sebagai orang tua dia tetap tidak tega melihat putri kesayangan mendekam di penjara.
"Santunan? Apa Ibu pikir, nyawa bisa diganti dengan uang? Bagaimana kalau putri Ibu yang mengalami keguguran dan kehilangan anak yang sangat diharapkan?" Kevin menatap tajam pada wanita paruh baya yang seusia dengan sang mommy. Tatapannya terlihat jelas sedang mengintimidasi.
Manager hotel dan komandan polisi hanya geleng-geleng kepala mendengar permintaan mamanya Aleena. Tidak habis pikir, kenapa masih ada orang seperti wanita paruh baya itu yang menganggap bahwa segala sesuatu bisa dibeli dengan uang. Termasuk hukum yang harus dijalani oleh Aleena.
"Lagian ya, Bu. Ibu mau memberikan santunan seberapa besar untuk pemilik hotel ini?" Bayu yang sudah berdiri di samping Kevin setelah Aleena diamankan oleh petugas polisi, ikut bersuara.
"Saya bukan mau ngasih santunan pada pemilik hotel, Mas, karena masalah ini tidak ada hubungannya dengan pemilik hotel. Anak saya sewa tempat juga sudah dibayar secara tunai di muka. Saya akan memberikan santunan pada wanita muda yang didorong oleh anak saya tadi," terang wanita itu sedikit kesal karena merasa telah disepelekan oleh Bayu.
"Lah, belum tahu ternyata siapa yang dihadapi," sahut Bayu. "Terangkan, Bos, siapa adik sepupu Erlan itu," lanjutnya seraya menyenggol lengan Kevin.
__ADS_1
"Wanita muda itu istri pemilik hotel ini, Bu. Dia juga pemilik Perusahaan GCC yang terkenal itu," terang Kevin, membuat mamanya Aleena melongo tidak percaya.
"Loh, bukannya wanita muda yang berhijab itu istrinya Nak Gilang, teman lama anak saya?"
Mamanya Aleena tentu tidak percaya bahwa Gilang, teman lama Aleena yang malam ini juga diundang adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Sebab, Aleena tidak pernah menceritakan tentang Gilang. Hanya Erlan yang wanita paruh baya itu ketahui latar belakangnya, yaitu sebagai putra seorang pengusaha asal Surabaya.
"Benar, Bu. Tuan Muda Gilang, adik sepupu Tuan Erlan. Beliau pengusaha muda sukses di kota ini," sahut sang manager, menegaskan.
"Tolong, Mas. Tolong anak saya, jangan jebloskan Aleena ke penjara." Mendengar penjelasan manager hotel tersebut, wanita itu langsung bersimpuh di depan kaki Kevin.
Hanya itu yang dapat dia lakukan untuk meraih simpati dari keluarga Erlan dan Gilang. Tidak peduli meski harus merendahkan diri dan bersujud sekalipun, asalkan sang putri bisa dibebaskan. Dia tidak mau berurusan dengan orang-orang hebat seperti Gilang dan Erlan yang pastinya mereka akan menang di persidangan nanti karena memang putrinya yang bersalah.
Keempat laki-laki yang berdiri itu, saling pandang. Di lantai, mamanya Aleena mulai menangis sesenggukan. Dia mulai berdrama untuk meraih simpati orang-orang.
Lalu lalang petugas polisi yang membentangkan police line di area ballroom karena besok pagi baru akan diadakan olah TKP, tidak membuat wanita itu beranjak. Dia tetap bersimpuh sampai permintaannya dipenuhi oleh pihak keluarga Erlan dan Gilang.
"Maaf, Bu. Saya tahu Ibu sangat menyayangi putri Ibu. Tapi bukan dengan seperti ini caranya." Kevin membantu wanita itu untuk berdiri. "Jika Ibu sayang pada putri Ibu, biarkan Aleena mempertanggungjawabkan perbuatannya," lanjutnya, tetapi wanita itu menggeleng tegas.
"Baik. Jika kalian tetap akan membawa masalah ini ke meja hijau, maka jangan salahkan saya jika perusahaan kalian nantinya dibekukan oleh papanya Aleena karena dia memiliki pengaruh besar di pemerintahan pusat!"
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕