Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Kita Mulai dari Awal


__ADS_3

Setelah lelah memadu kasih, Sindu dan baby sitter itu pun ketiduran di sofa. Mereka berdua tidak khawatir akan ada gangguan karena putra Sindu yang sudah diberi obat tidur oleh Nelly, pasti akan bangun ketika matahari tepat berada di atas kepala. Sementara Aira, belum pasti kapan istri pemilik rumah tersebut akan pulang dari rumah sakit.


Keduanya tertidur di sofa sempit itu dengan saling memeluk erat dan masih sama-sama tanpa busana. Mereka hanya menutup tubuh dengan kain gendongan milik putranya Sindu yang tergeletak di atas sofa.


Kelelahan karena bercinta hingga berulang kali baik di sofa maupun di kamar tadi, membuat keduanya tidak mendengar ketika pintu digedor dari luar. Suara teriakan Aira yang memanggil nama Sindu dan juga Nelly, juga tidak didengar oleh dua insan yang sedang terlelap ke alam mimpi.


"Kemana, sih, mereka?" gerutu Aira seraya menghubungi nomor sang suami.


Wanita itu terlihat sangat kesal karena panggilannya tidak juga diterima oleh sang suami, padahal Aira sudah mencoba menelepon hingga tiga kali. Aira kemudian menghubungi nomor sang baby sitter dan kekesalan ibu satu anak tersebut semakin memuncak ketika Nelly juga tidak mengangkat teleponnya.


Aira mengerutkan dahi. Tiba-tiba, pikiran buruk tentang sang suami dan baby sitter, melintas di benaknya. Ibu dosen tersebut menggeleng kuat, menepis kecurigaannya sendiri.


"Tidak-tidak! Tidak mungkin Mas Sindu selingkuh sama Nelly! Dia bukan levelku!" Aira menghela napas panjang berulang-ulang, mencoba menenangkan hatinya yang tiba-tiba menjadi resah.


Istri Sindu itu kemudian mengambil kunci cadangan dari dalam tas, kunci yang selalu dia bawa ke mana-mana. Tidak sabar, Aira segera membuka pintu tersebut dengan kunci cadangan yang dia miliki.


Untuk memastikan kecurigaannya, Aira berjalan perlahan masuk ke dalam rumah setelah menutup kembali pintu rumahnya. Ibu satu anak itu terus berjalan hingga langkahnya terhenti ketika Aira melihat sosok yang sangat dia kenali, sedang tidur dengan posisi memeluk Nelly.


Rahang Aira seketika mengeras. Napasnya memburu cepat dan tatapannya berkilat, penuh amarah. Kedua tangan istri Sindu itu mengepal sempurna. Ingin rasanya Aira meninju wajah polos sang baby sitter.


Aira hendak mengambil guci untuk dihantamkan ke kepala kedua manusia terkutuk yang masih terlelap. Namun, wanita tersebut segera menghentikan langkah ketika bayangan semalam di kamar apartemen Ringgo, melintas. Aira teringat dirinya sendiri yang sama bejatnya dengan dua orang di hadapan.


'Tidak, aku tidak mau kalau sampai kasus perselingkuhan suamiku menjadi perbincangan publik. Sebaiknya, aku manfaatkan situasi ini untuk meminta maaf pada Mas Sindu. Kami sama-sama bersalah, Mas Sindu pasti mau memaafkan aku,' bisik Aira, dalam hati.


Ibu satu anak itu mendekati dua orang yang belum memakai busana. Aira kemudian membangunkan suaminya terlebih dahulu dengan menepuk pelan pipi Sindu.


"Mas, bangun!"


Sindu perlahan membuka matanya dan netra laki-laki itu membulat sempurna begitu melihat wajah sang istri sudah berada di depan mata. Reflek, Sindu melepaskan pelukannya pada tubuh Nelly, hingga baby sitter tersebut terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Aw ... sakit, Mas!" pekik Nelly yang belum menyadari kehadiran nyonya majikannya. "Nelly masih ngantuk, Mas," rajuknya kemudian.


Nelly segera beringsut dan ketika baby sitter itu hendak kembali merebahkan diri di sofa, tatapannya tertuju pada Aira. Wanita muda itu langsung bersimpuh sambil memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai.


Aira bersidekap. Netranya menatap tajam sang suami dan juga pengasuh putranya, bergantian.


Sindu yang sudah menutupi tubuhnya dengan kain gendongan sang putra, membeku di tempatnya. Laki-laki tersebut nampak kebingungan, harus darimana menjelaskan.


"Sejak kapan, kalian berdua menjalin hubungan di belakangku?' tanya Aira yang terdengar dingin.


"Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya. I-ini, ini tidak seperti yang kamu lihat, Ma. Aku, aku dijebak." Sindu yang berbicara dengan gugup, mencoba membela diri.


"Mas ...."


"Benar, kan, Nel. Kamu tadi sengaja merayuku ketika aku minta tolong untuk dikerok? Jelaskan pada Ibu, Nel!" sergah Sindu, sebelum baby sitter itu melanjutkan ucapannya.


Air mata Nelly berderai, mendengar tuduhan untuk yang kedua kalinya dari laki-laki yang selama ini dia puja. Baru saja Sindu menawarkan manisnya madu, dalam sekejap berganti dengan pahitnya empedu.


Aira segera memberikan isyarat dengan tangannya agar Nelly tidak berbicara.


"Aku tunggu Mas di kamar! Jelaskan padaku dengan sejujurnya, apa yang terjadi!" Aira bergegas menuju ke kamar utama yang langsung diikuti oleh sang suami.


Meninggalkan Nelly yang masih bersimpuh di lantai yang dingin, sambil mendekap baju seragamnya. Air mata wanita muda itu semakin deras mengalir, mengingat tuduhan kejam sang kekasih.


\=\=\=\=\=


Di dalam kamar pribadi Sindu dan Aira. Sepasang suami-istri tersebut duduk dengan saling berhadapan. Keduanya sama-sama terdiam dengan sesekali saling pandang.


"Aku juga bermain gila dengan pria lain, tapi aku sudah mengakhirinya." Suara Aira yang terdengar penuh penyesalan, mengurai keheningan.

__ADS_1


Sindu mengerutkan dahi dengan mata menyipit menatap Aira.


Aira menghela napas panjang untuk mengatur ritme jantungnya yang masih tidak beraturan, mendapatkan kejutan istimewa dari sang suami setelah suaminya berdinas ke luar kota selama beberapa hari ini.


"Aku lakukan itu karena Mas selalu sibuk dan tidak memiliki waktu untukku. Kalaupun malam kita punya kesempatan untuk berdua, Mas pasti sudah kelelahan dan selalu keluar duluan," lanjut Aira, jujur.


Ya, Aira mulai tergoda untuk mencari tahu tentang Ringgo setelah mendengar cerita dari sang adik yang mengatakan bahwa Ringgo itu pemuda yang manis dan hangat pada pasangan. Rasa butuh akan kehangatan, membuat Aira nekat menjalin hubungan dengan kekasih Aina tersebut.


"Apa itu semua karena Mas sudah menjalin hubungan dengan Nelly?" tanya Aira kemudian, seraya menatap sang suami untuk menagih penjelasan.


Sindu menghela napas kasar dan kemudian mengangguk.


Aira tertawa sinis, menertawakan dirinya sendiri. "Jadi, aku kalah sama baby sitter itu?"


"Ma, maafkan aku," ucap Sindu, penuh penyesalan.


Suami Aira itu kemudian menceritakan dengan sejujurnya, sejak kapan dirinya bermain gila dengan Nelly. Sepanjang sang suami bercerita, Aira terus saja menggeleng-gelengkan kepala.


Aira tidak habis pikir, begitu tega suaminya berselingkuh di saat dirinya sedang mengandung. Sangat miris dan semakin miris karena alasan suaminya selingkuh adalah karena Aira tidak dapat memberikan pelayanan terbaik ketika kandungannya mulai membesar.


"Jadi, dia hamil?" tanya Aira, getir dan Sindu menganggukkan kepala dengan perasaan bersalah.


Aira memijat keningnya yang berdenyut. Pengkhianatannya pada sang suami, apapun alasannya adalah kesalahan dan kini dia mendapatkan balasan yang setimpal. Sang baby sitter yang selama ini dia percaya, ternyata adalah selingkuhan suami Aira.


Kini, pengasuh putranya itu tengah mengandung anak dari suaminya. Haruskah Aira mengalah dan kemudian mengakhiri rumah tangganya bersama Sindu? Aira menggeleng-gelengkan kepala.


"Lantas, apa maumu sekarang, Mas?" tanya Aira. "Apa Mas Sindu akan menikahi gadis itu?" Aira menatap sang suami dengan tatapan sendu.


Sindu menggeleng cepat. Laki-laki itu kemudian beringsut, mendekat ke arah sang istri.

__ADS_1


"Tolong bantu aku, Ma. Bantu aku mengakhiri hubunganku dengan Nelly. Kita bisa mulai semua dari awal. Kita sama-sama bersalah dan mari, kita sama-sama memaafkan dan melupakan," pinta Sindu seraya menggenggam tangan sang istri.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2