Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Nikahi Nelly Sekarang, Mas


__ADS_3

Di rumah sakit yang berada di dekat apartemen Ringgo, Aira dan sang papa yang sudah bertemu dengan keluarga Ringgo dan juga Maya, kekasih dari pemuda yang saat ini masih tergeletak tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah akibat hantaman botol di kepalanya yang dilakukan oleh Aina, masih mencoba bernegosiasi untuk berdamai.


Mengetahui seluk beluk hubungan sang putra dengan gadis yang saat ini juga tergeletak tidak berdaya meskipun Aina sudah sadarkan diri, keluarga Ringgo bersedia diajak berdamai, tetapi mereka menolak jika sang putra harus bertanggungjawab pada Aina.


Berbeda dengan keluarga Ringgo, Maya kekeuh ingin menuntut Aina karena gadis itu yang telah menyebabkan kekasihnya terluka di bagian kepala dan kondisi sang kekasih dinyatakan kritis.


"Tapi putri kami juga korban di sini, Dik!" tegas laki-laki yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.


"Itu salah putri Om sendiri, kenapa dia menggoda calon suami saya? Harusnya, dia sadar, dong, konsekuensi dari perbuatannya! Kalau mau menggugurkan kandungan, enggak perlu juga dengan menyakiti Ringgo!" geram Maya dengan tatapan penuh kebencian pada keluarga gadis yang telah menjadi selingkuhan sang kekasih.


"Baik, lantas apa mau kamu sekarang?" tanya papanya Aina, menantang balik.


"Kita harus membawa kasus ini ke meja hijau!" tegas Maya.


"Oke. Jika itu mau kamu, silakan laporkan putri saya. Saya juga bisa melaporkan Ringgo balik karena kejadian ini telah membuat putri saya kehilangan rahimnya!" Pengacara itu menatap Maya, mengintimidasi.


Ya, Aina harus menjalani operasi pengangkatan rahim karena efek dari obat peluruh yang dia minum secara berlebihan dan remasan kuat yang gadis itu lakukan ketika rasa melilit datang menyerang, mengakibatkan rahimnya terluka dan dapat membahayakan nyawa Aina jika tidak segera di angkat.


Selain itu, hubungan terlarangnya dengan Ringgo yang sering dilakukan tanpa pengaman dan di sembarang tempat yang tidak terjamin kebersihannya, membuat alat reproduksi Aina mengalami infeksi. Hal itulah yang juga memperparah kondisi rahim calon dokter tersebut.


"Nak Maya. Sudah, tidak usah kita perpanjangan masalah ini," pinta mamanya Ringgo. Wanita berpenampilan glamour tersebut rupanya juga khawatir jika nama baik keluarganya menjadi tercoreng karena masalah ini.


"Tapi, Ma ...."


"Kita akan bawa Ringgo ke Singapura, dia pasti bisa selamat," sergah papanya Ringgo, menjawab kekhawatiran Maya tentang kondisi sang calon suami yang sekarat.


"Baiklah, Om." Maya hanya bisa pasrah saja. Yang dia mau Ringgo dapat diselamatkan sehingga janin yang berada dalam kandungannya, memiliki ayah nantinya.

__ADS_1


Setelah pembicaraan yang cukup alot tersebut, Aira dan sang papa kemudian segera kembali ke ruang IGD di mana Aina masih menunggu untuk diambil tindakan.


Ayah dan anak sulung tersebut terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit tanpa ada yang bersuara. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.


Aira dengan sejuta rencananya jika Aina membuka mulut tentang kejadian semalam. Sementara sang papa dengan penyesalan, kenapa bisa sampai dia kecolongan dan sang putri kesayangan sampai terjebak dalam kasus rumit seperti ini.


Setibanya di depan ruang IGD, Aira menghentikan langkah. Kakak sulung Aina itu merasa belum siap jika harus bertemu dengan sang adik dalam kondisi sadar. Wanita yang merupakan dosen di salah satu universitas ternama itu kemudian mencari alasan untuk menghindar bertemu dengan sang adik.


"Pa, Aira mau telepon Mas Sindu dulu, ya," pamit Aira yang kemudian duduk di salah satu bangku di ruang tunggu IGD.


"Baiklah, kalau sudah selesai segera masuk ke dalam," pinta sang papa dan Aira mengangguk, mengiyakan.


Ibu satu anak itu kemudian menghubungi sang suami yang seharusnya sudah sampai di rumah dan sudah menghubungi dirinya karena Aira sudah berpesan pada pengasuh putranya tadi.


"Mas Sindu kemana, sih? Kok enggak telepon juga!" gerutu Aira seraya menempelkan ponsel ke telinga, menanti panggilannya diterima oleh sang suami.


Tentu saja sang suami tidak akan menerima panggilan dari Aira karena ponsel Sindu di-mode silent agar kegiatannya untuk melepaskan rindu yang menggebu bersama sang kekasih setelah beberapa hari tidak bertemu, tidak terganggu.


Aira berjalan mondar-mandir, bingung apa yang harus dia lakukan. Ingin masuk ke dalam ruangan yang steril di mana sang adik dirawat, ibu dosen itu belum memiliki nyali jika Aina tiba-tiba menyerang Aira dengan membongkar hubungannya dengan Ringgo.


"Ra ...."


Suara sang papa yang memanggil dari ambang pintu ruangan IGD, mengurai lamunan Aira. Putri sulung pengacara itu kemudian mendekati sang papa.


"Ada apa, Pa?" tanya Aira.


"Adik kamu akan segera dioperasi. Kamu ke bagian administrasi dulu untuk mengurus semuanya. Tempatkan dia di kamar terbaik untuk pemulihannya nanti," pinta sang papa seraya menyodorkan kartu pembayaran.

__ADS_1


Dengan senang hati Aira menerima kartu tersebut dari tangan sang papa. Setidaknya, dia masih memiliki kesempatan untuk mencari alibi jika nantinya Aina buka suara.


"Baik, Pa." Aira segera berlalu untuk menuju bagian administrasi.


\=\=\=\=\=


Di kediaman Sindu. Suami Aira itu dibuat bingung sendiri dengan ucapan Nelly yang menagih janjinya.


"Hah ... bodoh! Kenapa aku harus janji-janji segala, sih, pada gadis lugu itu!" Sindu mengusap kasar wajahnya.


Sindu teringat, bagaimana dulu dia merayu gadis belia putri pemilik kantin yang terpaksa putus sekolah karena di rumah, Aira tidak dapat memenuhi keinginannya untuk melepaskan penat akibat seharian bekerja. Aira yang juga sibuk dengan pekerjaan di kampus serta kehamilan yang semakin membesar, membuat istri Sindu tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik.


"Dik, jangan takut. Aku janji, aku pasti akan menikahimu," ucap Sindu sambil menyusuri dada Neli yang besarnya pas di tangan Sindu.


Membuat gadis belia yang belum pernah mendapatkan sentuhan dari seorang pria, merinding bulu romanya. Degup jantung gadis polos itupun berdebar, seirama dengan napasnya yang mulai memburu.


"Mas. Ja-jangan ..." Nelly menolak, tetapi tubuhnya berkata lain. Tubuh Nelly menerima dengan baik, apa yang dilakukan oleh Sindu pada tubuhnya.


Pergerakan tubuh Nelly yang di mata Sindu begitu seksi, membuat pegawai perpajakan tersebut semakin bergairah untuk mencumbui gadis belia itu. Hingga suara jerit kecil kesakitan kemudian keluar dari bibir mungil Nelly ketika Sindu menghujamkan senjata tumpulnya ke dalam area pribadi gadis belia putri pemilik kantin.


Selanjutnya yang terdengar di kamar sempit di dalam kantin, adalah suara ******* manja Nelly yang keenakan dan ketagihan dengan milik Sindu. Begitupun dengan Sindu, suami Aira tersebut merasa puas dengan milik Nelly yang begitu sempit dan menggigit miliknya hingga Sindu mencapai kli*maks berkali-kali sore itu.


Kegilaan pertama yang dilakukan oleh Sindu di kantin pada sore itu ketika kantin tersebut sudah tutup dan orang tua Nelly sudah pulang ke rumah, merupakan awal dari hubungan terlarang yang mereka jalin lebih dari dua tahun ini. Lamunan Sindu buyar seketika, ketika Nelly tiba-tiba menubruknya sambil menangis.


"Mas, nikahi Nelly sekarang, Mas!"


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2