
Di kediaman Sindu dan Aira. Semalam, Sindu yang tidur hanya berdua dengan pengasuh putranya di rumah tersebut, memang tidak melakukan apa-apa karena senjata suami Aira itu masih terasa nyeri. Mereka berdua hanya bercumbu sebentar dan kemudian tidur dengan saling memeluk mesra.
Pagi ini, mereka berdua sarapan dengan saling bercanda dan saling menyuapi layaknya pasangan pengantin baru. Tidak adanya Aira dan juga putra semata wayang Sindu di rumah, membuat kedua insan yang terbuai oleh nafsu setan tersebut, merasa bebas melakukan apapun di rumah itu. Sarapan yang terlewat dan penuh kemesraan itupun usai dan Nelly segera membereskan bekas sarapannya.
"Mas, apakah masih sakit?" tanya Nelly seraya mendekati Sindu.
Sepertinya, baby sitter yang tengah mengandung putra Sindu itu sedang dalam mode pengin karena semalam Sindu berhasil membangkitkan gairah Nelly. Namun sayang, Nelly terpaksa harus meredam keinginan karena ayah sang bayi belum bisa menengok janin yang ada dalam kandungannya. Sindu, masih merasakan sakit di bagian senjata keramat miliknya.
"Udah enggak sesakit semalam, sih, Sayang. Kenapa, hem? Kamu pengin, ya?" goda Sindu, bertanya.
Wajah Nelly merona, baby sitter tersebut memiliki rasa malu juga rupanya. Perlahan, dia menganggukkan kepala. "Iya, Mas. Anak kita kangen."
Sindu tergelak mendengar jawaban sang kekasih. "Anak kita, apa mamanya yang kangen sama senjata papa?" goda Sindu semakin menjadi.
Nelly mengerucutkan bibir dan kemudian berlari, menjauh dari meja makan. Dia bukan menuju ke kamarnya sendiri di lantai atas, tetapi Nelly masuk ke dalam kamar utama, kamar Sindu dan Aira. Sindu segera menyusul sang wanita pujaan.
"Kenapa ke sini, Sayang?" tanya Sindu, setelah duduk di samping Nelly yang sudah membaringkan tubuh di ranjang besar nan empuk tersebut.
"Aku juga pengin merasakan enaknya bercinta di ranjang yang empuk seperti ini, Mas," balas Nelly yang sudah dalam posisi siap diterkam oleh Sindu. Kedua kakinya sengaja dibuka lebar, menunjukkan area pribadinya yang ternyata sudah tidak tertutup apapun.
Sindu tidak merespon jawaban Nelly, fokus ayah satu anak tersebut saat ini ada pada paha mulus sang kekasih. Laki-laki itu kemudian mengusap paha putih kekasihnya dan mulai menyusuri hingga menuju ke lembah yang sudah basah. Nelly menggigit bibir bawah, merasakan sensasi nikmat sentuhan tangan Sindu yang begitu lihai membuatnya melayang-layang.
Cukup lama Sindu bermain-main di lembah basah kesukaannya. Nelly semakin terang*sang hingga suara desa*han demi desa*han, keluar dari bibir tipisnya. Tiba-tiba Sindu menghentikan aktifitas dengan dahi berkerut dalam. Membuat baby sitter itu cemberut.
'Kenapa senjataku tidak mau berdiri, ya?' Sindu meraba senjatanya yang masih tertidur pulas. Padahal di hadapannya saat ini, ada lembah basah yang sudah sangat siap untuk menjadi tempat senjatanya terbenam dan mencari kehangatan serta kenikmatan.
__ADS_1
Biasanya, hanya dengan melihat tubuh Nelly dari kejauhan saja, senjata milik Sindu akan langsung berdiri dan siap menyerang. Apalagi jika sudah ada sentuhan-sentuhan seperti sekarang ini, sudah pasti senjata Sindu akan semakin menegang dan sudah tidak dapat lagi ditahan. Namun sekarang, kenapa senjata itu hanya terdiam? Laki-laki itu mulai menerka-nerka.
"Nel, sepertinya remasan tanganmu kemarin mempengaruhi senjataku." Sindu berkata dengan dingin, seraya menatap Nelly dengan tatapan tajam.
"Masak, sih, Mas?" tanya Nelly, khawatir.
Pengasuh putra Sindu itu langsung beringsut. Nelly kemudian duduk dan meraba senjata milik Sindu. "Biar aku coba untuk bangunkan dia, ya?"
Nelly dengan lincah segera mencoba untuk membangunkan senjata milik sang kekasih. Dalam hatinya, Nelly juga sangat takut jika senjata kekasihnya kenapa-napa. Dia pasti akan kehilangan kesenangannya selama ini jika sesuatu yang buruk terjadi pada senjata Sindu.
Cukup lama Nelly berusaha. Dia bahkan mencoba berbagai cara, tetapi senjata Sindu sama sekali tidak merespon. Tetap terlelap dalam buaian hingga membuat Sindu menjadi panik.
"Ini semua gara-gara kamu, Nel!" Laki-laki itu langsung menampar Nelly dengan sekuat tenaga. Rasa marah, kecewa dan takut, bercampur menjadi satu. Sindu takut jika senjatanya benar-benar tidak dapat bangun dan berdiri tegak kembali.
Tidak ada lagi yang dapat dia banggakan sebagai laki-laki. Semua wanita pasti akan menolaknya, termasuk sang istri, begitu pikir Sindu. Laki-laki itu menatap tajam Nelly yang terisak kesakitan, seraya memegangi pipinya yang merah bekas tamparan.
Wanita itu memberanikan diri kembali mendekati Sindu. Mencoba membesarkan hati ayah dari janin yang tumbuh di rahimnya. Nelly kemudian memeluk Sindu dengan erat.
"Mas pasti akan sembuh, Mas. Kita ke dokter sekarang, ya," bujuk Nelly yang kemudian melerai pelukannya.
Sindu mengangguk, pasrah. Dia tidak yakin sebenarnya, tetapi Sindu harus mencoba. Semoga masih ada keajaiban dan Tuhan mau berbaik hati kepadanya, begitulah yang ada dalam benak ayah satu anak tersebut.
\=\=\=\=\=
Di sinilah saat ini Sindu dan Nelly berada. Di dalam ruangan yang bercat putih bersih. Di hadapan dokter spesialis andrologi.
__ADS_1
Dokter tersebut mendengarkan dengan seksama, apa yang terjadi pada Sindu hingga senjata laki-laki itu tidak dapat bangun dan berdiri. Sindu menjelaskan dengan detail, bagaimana kejadiannya. Sementara Nelly yang duduk di sampingnya, tertunduk dengan penuh rasa penyesalan.
Nelly menyesal telah melakukan itu pada sang kekasih. Sebab kini, dia sendiri yang merasa rugi akibat tindakannya pada Sindu. Dia jadi tidak bisa mendapatkan jatah dari ayah bayinya.
"Lain kali kalau berantem, dipikir-pikir dulu ya, Bu, kalau bertindak. Apa yang Ibu lakukan, bisa juga membahayakan nyawa suami Ibu," nasehat sang androlog yang percaya bahwa mereka berdua benar-benar pasangan suami-istri karena Sindu mengatakan demikian tadi.
"Kalau sudah begini, Ibu sendiri juga 'kan, yang rugi?" lanjutnya seraya tersenyum tipis.
"Kalau marah sama Bapak, boleh ngomel-ngomel sepuasnya, Bu." Dokter laki-laki itu menatap Nelly.
"Dan untuk Bapak, jangan melawan! Jangan membalas dengan ikutan ngomel! Sudah, biarkan saja Ibu ngomel sepuasnya sampai lelah. Setelah capek, dekati dan peluk si Ibunya. Nah ... kalau sudah demikian, lanjut ke adegan ranjang. Di jamin, besok pagi saat bangun, Bapak akan diperlakukan layaknya raja." Androlog tersebut tersenyum pada Sindu.
Sindu dan Nelly saling pandang. Bukan, bukan drama rumah tangga yang mereka hadapi kemarin sehingga mereka tidak dapat melakukan seperti apa yang disarankan laki-laki berkaca mata itu. Yang mereka berdua hadapi kemarin bahkan lebih ngeri dari perang dunia kedua, hingga berakibat fatal bagi senjata Sindu.
"Apakah masih bisa disembuhkan, Dok?" tanya Nelly kemudian, penuh harap. Usianya yang masih sangat muda dan libido Nelly yang cukup tinggi dan menggelora, membuat wanita muda itu khawatir jika dia tidak dapat merasakan lagi kenikmatan dunia.
"Bisa, Bu, dengan terapi rutin dan minum obat, tapi ... ada tapinya, nih. Bapak dan Ibu harus sabar karena ini tidak bisa instan. Butuh waktu ya, Bu," balas dokter tersebut.
"Berapa lama, Dok?" cecar Nelly. Sepertinya, wanita muda itu benar-benar tidak dapat berlama-lama berpuasa. Nelly seakan haus dengan kenikmatan yang sudah biasa dia dapatkan dari sang kekasih.
Sindu menatap Nelly dengan tatapan entah, mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan wanita muda itu pada sang dokter. 'Aku enggak yakin, kamu bisa bertahan di sisiku dengan kondisiku yang seperti ini, Nel,' batin Sindu, kecewa.
"Saya tidak dapat menentukan berapa lamanya, Bu, tetapi berdasarkan pengalaman beberapa pasien yang saya tangani, bisa sampai setahun lebih baru normal kembali."
"Apa, saya harus puasa satu tahun?"
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕