Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Bebek Goreng Rasa Upil


__ADS_3

Malam ini, Gilang membawa sang istri, oma serta kedua keponakannya untuk makan malam di luar. Sepanjang perjalanan Kukuh dan Reno terus berdebat untuk menentukan dimana mereka akan makan malam. Sang oma sampai dibuat geleng-geleng kepala mendengar perdebatan kedua cucu buyutnya tersebut.


"Udah, jangan pada ribut! Biar om saja yang nentuin," tegur Gilang, melerai perdebatan kecil sang keponakan.


"Memangnya, om mau ajak kami makan dimana?" tanya Kukuh. "Jangan di kafe resto yang seperti biasa, ya," lanjutnya.


Gilang menggelengkan kepala. "Om akan ajak kalian makan ke kafe meong," balas Gilang seraya tersenyum menoleh ke arah sang istri. Suami Ailee itu teringat dengan kencan makan malam pertama mereka berdua, di sebuah warung angkringan yang dikenal di kalangan teman-temannya sang istri, dengan sebutan kafe meong.


"Kafe meong? Kafe baru ya, Om? Tempatnya dimana, Om? Asyik, enggak?" cecar Reno.


Gilang bukannya menjawab, tetapi pemuda itu malah tertawa. Membuat sang istri yang duduk di bangku sebelahnya, ikut tersenyum. Sementara Kukuh dan Reno yang menunggu jawaban dari Gilang, saling pandang.


"Kafe khusus orang dewasa ya, Om?" tebak Kukuh setelah memperhatikan om dan tantenya.


"Bukan, Kuh. Kafe umum, kok. Itu, tuh sebenarnya ...."


"Udah, Yang. Enggak perlu dijelasin dan enggak usah kita ajak mereka ke sana. Biar aja, itu hanya menjadi kenangan indah kita berdua," sergah Gilang, memotong perkataan sang istri.


Mobil berhenti, tepat di lampu merah dan Gilang kemudian menoleh ke arah sang istri seraya menaik-turunkan alis, sengaja menggoda istrinya. Gilang mengenang momen malam itu ketika mereka baru pulang dari kediaman orang tua Ailee untuk meminta restu. Kencan pertama yang tidak akan mungkin Gilang lupakan seumur hidupnya.


Perkataan dan sikap Gilang pada Ailee, membuat Reno dan Kukuh semakin penasaran seperti apa kafe meong yang dikatakan oleh omnya tadi. Kedua remaja tersebut sampai-sampai mencarinya di internet. Namun, setelah beberapa saat mencari, kafe yang mereka maksud tidak ditemukan.


"Ada enggak, Ren?" tanya Kukuh sambil melongok ke ponsel Reno.


"Enggak ada, Bang. Padahal, berbagai klue udah Reno masukkan. Kafe meong romantis, kafe meong khusus orang dewasa, kafe meong asyik, kafe meong seru dan kekinian." Reno menyebutkan satu persatu klue pencariannya.


"Sama, Ren," ucap Kukuh seraya menunjukkan layar ponselnya yang isinya tidak jauh beda dengan pencarian sang adik sepupu.


"Hahaha ... jadi kalian browsing di internet?" Gilang yang sudah melajukan kembali mobilnya, terkekeh setelah mendengar obrolan kedua keponakannya.


"Habisnya, kami penasaran, Om," protes Kukuh.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Biar tante kalian saja yang menentukan kita mau makan malam dimana," putus sang oma, kemudian.


"Ai, Oma?" tanya Ailee. "Tapi, Ai enggak tahu tempat-tempat yang asyik, Oma," lanjutnya yang tidak mau membuat mereka semua kecewa dengan menu sederhana pilihannya nanti.


"Tidak mengapa, Sayang. Putuskan saja, dimana? Kami semua ikut," timpal Gilang.


Kukuh dan Reno mengangguk, menyetujui. "Iya, Kak Ai. Buruan, deh, pilih tempatnya. Keburu lapar, nih!" seru Reno.


"Emm,... baiklah," balas Ailee setelah sejenak berpikir. "Kita lurus terus, Mas. Di depan nanti ada perempatan, Mas ambil yang arah ke kiri. Nah, di sana nanti ada deretan warung tenda. Tempat yang akan kita tuju, ada di sana," terang Ailee, membuat Gilang sudah dapat menebak bahwa sang istri pasti akan mengajak mereka ke warung kaki lima.


Gilang langsung mengangguk, setuju. Pemuda itu sangat senang dengan gaya hidup sang istri. Meskipun saat ini kehidupan Ailee bergelimang harta, tetapi istri kecil Gilang tersebut tetap dalam kesederhanaannya.


Sementara sang oma yang duduk di bangku belakang bersama Kukuh dan Reno, mengerutkan dahi dan kemudian tersenyum mendengar Ailee mengatakan warung tenda tadi. 'Dia tetap saja sederhana dan bersahaja. Tidak salah aku memilihkan dia untuk cucuku. Semoga kebahagiaan senantiasa menyertai rumah tangga mereka berdua.'


Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Gilang berhenti di tempat yang kosong, tepat di samping warung tenda yang akan mereka tuju. "Kita sudah sampai. Ayo, turun!" ajak Gilang pada kedua keponakannya.


"Kita mau makan di sini, Om?" tanya Kukuh yang awalnya mengira bahwa mereka akan malam di tempat-tempat nongkrong yang asyik dan kekinian.


"Iya, kenapa?" Gilang balik bertanya.


"Tuh, kamu bisa lihat sendiri, kan?" Gilang menunjuk ke arah gambar yang ada di warung tenda.


"Wah, warung Lamongan iku, rek! Ayo, Bang Kuh, kita makan bebek goreng!" seru Reno dengan logat jawanya yang kental.


Mereka kemudian segera turun dan masuk ke dalam warung tenda yang dimaksudkan oleh Ailee. Istri Gilang tersebut segera memesankan makanan dan minuman sesuai permintaan masing-masing. Sambil menunggu makanan datang, mereka bercanda ria seperti biasanya.


"Bang-Bang, foto, yuk. Entar akan aku kirim sama Bang Sat biar dia iri," ajak Reno sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka berlima. Putra kakak kedua Gilang tersebut mengambil beberapa gambar mereka dengan berbagai gaya dan kemudian mengirimkan ke nomor abang sepupunya.


"Kenapa Satria harus iri?" tanya Gilang.


"Bang Sat udah beberapa kali ngajakin Reno untuk makan di tempat kayak gini, Om, tapi belum kesampaian," balas Reno. "Kami setiap mau masuk ragu-ragu," lanjutnya.

__ADS_1


Ailee mengerutkan dahi. "Kenapa ragu?"


"Khawatir tempatnya jorok, Kak," balas Reno, berbisik. "Tetapi ternyata bersih dan asyik juga, kayak makan di rooftop langsung beratapkan langit," lanjutnya seraya mendongak, menatap ke arah langit yang bertabur bintang.


Sang oma tersenyum. "Jangan melihat segala sesuatu hanya dari tampilan luarnya, Ren. Belum tentu yang kamu lihat buruk di luar, buruk pula dalamnya. Sebaliknya, belum tentu yang dari luar terlihat baik, baik pula isinya. Kamu harus pandai-pandai mengenali segala sesuatu," nasehatnya pada sang cucu buyut.


"Sama halnya jika kalian berdua memilih teman. Jangan hanya dari tampilan fisiknya, tetapi lihatlah bagaimana kepribadiannya." Sang oma menatap Reno dan Kukuh, bergantian.


Kedua remaja itu mengangguk, mengerti. Sang oma kemudian tersenyum, senyum yang menunjukkan rasa bahagianya melihat kepatuhan kedua cucu buyutnya. Wanita tua tersebut juga sangat bersyukur karena kehadiran Ailee telah mengenalkan kesederhanaan dan kesahajaan kepada keluarganya.


Makanan yang mereka pesan telah datang. Kukuh dan Reno yang sudah lapar sedari tadi, langsung menyerbu nasi yang beraroma wangi pandan dan masih mengepulkan asap panas. Kedua remaja tersebut menyentong nasi dari dalam bakul yang terbuat dari bambu, memenuhi piring.


"Yakin, nasi sebanyak itu akan kalian habiskan?" tanya Gilang, memastikan.


"Ambil secukupnya saja, Dik. Nanti kalau kurang, gampang, kalian bisa ambil lagi. Daripada tidak habis, sayang, nasinya jadi mubadzir," timpal Ailee, mengingatkan.


"Habis, kok, Om, Kak. Santai saja," balas Kukuh yang hendak menyomot bebek goreng yang aromanya mengundang selera.


"Bang, cuci tangan dulu!" peringat Reno sambil mengeplak tangan sang abang sepupu. Remaja yang satu itu memang terkenal sangat mengutamakan kebersihan.


"Udah, kok," balas Kukuh seraya melanjutkan mengambil bebek goreng miliknya.


"Kapan?" cecar Reno yang merasa belum melihat Kukuh mencuci tangannya.


"Tadi di rumah," balas Kukuh tanpa dosa sambil mengunyah makanan yang baru saja dia suapkan ke dalam mulut.


"Haish, Abang jorok! Itu 'kan udah dari tadi, Bang. Di mobil tadi, Bang Kuh juga udah ngupil, kan? Banyak kuman, tuh, di tangan Abang! Ada upilnya!" Perkataan Reno membuat Gilang yang hendak mulai makan, mengurungkan niatnya dan kemudian tergelak.


Ailee dan sang oma ikut tertawa. Sementara Kukuh cuek aja dan tetap melanjutkan makannya. Terlihat sangat nikmat remaja itu melahap makanannya.


"Gimana bebek goreng rasa upilnya, Kuh? Asinnya pas atau jadi tambah asin?" tanya Gilang, meledek sang keponakan.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕



__ADS_2