Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Keliling Timur Tengah


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Matahari mulai merangkak naik dan pagi pun beranjak siang. Di dapur kediaman keluarga Gilang, Ailee tengah disibukkan menyiapkan bekal untuk makan siang.


Saking sibuknya, wanita muda yang berada di dapur itu sampai tidak menyadari kehadiran Maida. Istri Erlan itu sengaja berjalan mengendap dan menghampiri Ailee, setelah sang oma memberitahukan bahwa orang yang dicari sedang berada di sana. Maida lalu menutup kedua mata Ailee dengan telapak tangannya.


"Siapa, sih? Iseng banget! Mai pasti, ya? Aku hafal sama aroma parfum kamu, Mai," tebak Ailee.


Maida terkekeh pelan sambil melepaskan tangannya yang menutup mata Ailee. "Masak apa, sih? Aromanya enak banget?" tanya Maida seraya melongok ke arah wajan dimana Ailee tengah menumis kerang tiram, request dari sang suami tadi pagi.


"Mas Gilang pengin makan siang bareng di kantor, makanya aku masak spesial," balas Ailee sambil mengangkat wajan karena masakannya sudah matang.


"Tumben kamu pulang gasik, Mai? Enggak ke kantor Bang Er?" tanya Ailee kemudian sambil menyimpan masakan ke dalam wadah kedap udara untuk dibawa ke kantor suaminya.


"Ni mau ke sana, tapi aku sengaja pulang dulu untuk jemput kamu," balas Maida, seraya tersenyum penuh arti.


"Menjemputku? Maksud kamu, aku mau diajak ke kantornya Bang Er?" Dahi Ailee berkerut dalam. "Tapi maaf, Mai, Mas Gilang menyuruhku untuk ke kantornya. Lain kali aja, ya, kita jalan bareng," tolak Ailee kemudian dengan tidak enak hati.


"Karena itu, Ai, Sayang. Bang Er pengin kita makan siang bareng, terus aku diminta agar jemput kamu dulu sebelum ke kantor. Nanti, kita langsung ketemu di kantor Mas Gilang, kok. Jadi , enggak perlu ke kantor kami dulu," terang Maida, panjang lebar.


"Oh, begitu. Ya udah, ini nasinya aku tambahin aja. Untung tadi aku masak lauknya banyak, jadi kita bisa kebagian semua," balas Ailee seraya mengambil wadah untuk nasi.


"Tadinya, sih, aku mau beli di luar. Karena kamu sudah masak, ya udah, ini aja. Lagian, pasti lebih enak masakan kamu daripada beli. Kamu 'kan, jago masak," puji Maida seraya menyomot kerang dengan tangannya.


Langsung saja Ailee mengeplak pelan tangan Maida. "Jorok, ih! Pakai sendok!"

__ADS_1


"Sama piring dan nasi sekalian ya, Ai. Sekalian aja kita makan sampai kenyang lalu tidur. Biar aja suami-suami kita nungguin sampai jamuran!" Mereka berdua lalu tertawa bersama.


Ya, sudah menjadi kebiasaan mereka jika berada di dapur. Salah satu dari mereka berdua, pasti ada yang berbuat jahil. Hingga kehadiran mereka, membuat para asisten merasa terhibur dan kemudian ikut tertawa melihat ulah kedua wanita muda tersebut.


Jika Maida yang masak, Ailee terkadang secara sengaja mencomot makanan yang sudah ditata dengan sempurna hingga membuat istri Erlan itu menjadi geram. Sebab, jerih payahnya agar sang suami melihat tampilan cantik dari masakan, dirusak oleh istri Gilang. Begitu pun sebaliknya, Ailee juga sering dibuat keki oleh istri Erlan.


Setelah menyiapkan bekal makan siang dengan bercanda ria, kedua wanita muda itu pun segera bersiap. Ailee kembali mandi karena tidak mau menemui sang suami dengan aroma asap dapur yang menempel di tubuh. Setelah rapi dan wangi, keduanya kemudian berpamitan pada sang oma dan Mama Irna.


Sementara itu di kantor Gilang, Erlan baru saja memasuki ruangan adik sepupunya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tantu saja kehadirannya membuat Gilang sangat terkejut. "Bang, Er! Ngangetin aja!" protes Gilang yang nampak tidak suka.


Pastinya Gilang tidak suka melihat kehadiran Erlan saat ini karena bos GCC itu sedang menanti kehadiran sang istri. Gilang ingin menikmati makan siang hanya berdua dengan Ailee. Sehingga melihat kehadiran Erlan, pemuda tampan itu nampak sangat keki.


"Kenapa wajah kamu ditekuk seperti itu, Ge? Kayak lihat depkoleketor aja!" Erlan terkekeh pelan dan kemudian mendudukkan diri di sofa meskipun Gilang belum mempersilakan.


Mau tidak mau, Gilang pun ikut tertawa dan kemudian berpindah tempat duduk, menemani sang abang sepupu. "Memangnya, wajah orang kalau ditagih hutang seperti itu, Bang?" tanya Gilang kemudian.


Sejenak, Gilang melupakan bahwa siang ini dia ada janji makan siang bersama sang istri tercinta. Makan siang dengan menu spesial untuk persiapan pertempuran panjang nanti malam. Pertempuran yang sudah dia rindukan, setelah cukup lama Gilang harus berpuasa karena sang istri mengalami keguguran.


"Tumben siang-siang Abang ke sini. Mai lagi sibuk kuliah, ya?" tanya Gilang setelah tawa mereka reda.


"Oh ya, Ge. Kamu 'kan, belum jadi bulan madu, ya?" Bukannya menjawab pertanyaan Gilang, Erlan malah melemparkan pertanyaan pada sang adik sepupu.


Gilang menghela napas panjang. "Begitulah, Bang. Bang Er tahu sendiri 'kan, kendalanya. Sakitnya papa mertua, pernikahan Abang, juga kehamilan istriku. Bahkan, rencana untuk baby moon belum kesampaian, Ai malah keguguran." Wajah Gilang tiba-tiba murung, membuat Erlan merasa bersalah.

__ADS_1


"Maaf," ucap Erlan dengan pelan, seraya menepuk bahu Gilang.


Gilang menoleh dan kemudian tersenyum. Senyuman yang nampak dipaksakan. "Enggak perlu minta maaf, Bang. Kita sudah berkali-kali membahasnya, bukan?"


"Aku tadi pagi sempat ngomong sama Ai, untuk mewujudkan bulan madu yang sudah pernah aku janjikan padanya dulu. InsyaAllah dalam waktu dekat, kami akan melaksanakannya," lanjutnya yang kembali tersenyum, mengingat bahwa mulai malam nanti sang istri sudah bisa dia sentuh kembali.


"Jadinya kemana? Ke destinasi yang dulu sudah kamu pesan? Atau, kalian memiliki pilihan lain?" cecar Erlan dan Gilang menggulingkan kepala.


"Belum tahu, Bang. Rencananya siang ini mau kami bahas, sekalian makan siang," balas Gilang.


"Nah, kebetulan banget, Ge. Aku kemari memang mau membahas itu sama kamu." Netra Erlan nampak berbinar, membicarakan perihal liburan. Sebab, liburannya bukan sembarang liburan, tetapi liburan yang sangat mendebarkan.


"Aku juga berencana mengajak Mai untuk berbulan madu karena sebentar lagi dia libur semester. Sewaktu Daddy mendengar rencanaku, Daddy dan Mommy malah menyarankan agar kita bisa pergi sama-sama, dan beliau memberi kita voucher bulan madu kemana pun kita mau," lanjut Erlan.


"Ai penginnya ke Makkah Madinah, Bang," sahut Maida yang baru saja masuk bersama Ailee.


"Ai pengin ziarah ke makam Rosulullah. Ai mau berdo'a di sana agar kami secepatnya kembali diberikan amanah oleh Allah. Diberikan momongan yang kuat dan dapat lahir dengan selamat," timpal Ailee, penuh harap.


Rupanya, sepanjang perjalanan tadi Maida juga telah menceritakan seperti yang dikatakan Erlan pada Gilang. Istri Erlan itu sangat setuju dengan ide Ailee dan mendukung seratus persen keinginan istri Gilang tersebut. Dia juga ingin memanjatkan doa yang sama agar bisa segera menyusul saudari kembarnya yang kini sudah mengandung.


Mendengar perkataan sang istri, Gilang mengaminkan dengan netra berkaca-kaca. Dia teringat kembali kejadian tadi pagi ketika mendapati sang istri tengah melamun di ruang ganti. Sepertinya, sang istri memang belum bisa melupakan rasa kehilangan calon buah hati.


Gilang segera beranjak lalu mendekati sang istri. Dia peluk istrinya erat. "Allah pasti mendengar do'a kamu, Sayang. InsyaAllah, Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita," bisik Gilang, penuh keyakinan dan Ailee mengaminkan dalam hati.

__ADS_1


"Kita sekalian keliling Timur Tengah ya, Bang," pinta Maida dengan manja, setelah duduk di samping suaminya.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2