Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Anggun dan Cantik


__ADS_3

Pagi ini, Erlan dan Gilang mengendarai mobil sendiri-sendiri karena asisten pribadi yang sekaligus merupakan kakak sepupu Gilang itu hendak mengurus pendaftaran pernikahan antara Ailee dan bos GCC itu di Kantor Urusan Agama terdekat terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.


"Apa surat-surat milikmu sudah lengkap semua di dalam map ini, Ai?" tanya Erlan memastikan, sebelum pemuda tersebut masuk ke dalam mobilnya.


"Sudah, Bang." Ailee mengangguk.


Mobil Erlan kemudian segera melaju pelan, meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Gilang.


Ya, semalam setelah gagal mendapatkan restu dari papanya, Ailee akhirnya menyetujui untuk segera menikah dengan Gilang meskipun tanpa restu sang papa.


Ailee meminta agar pernikahan mereka dilaksanakan dengan sederhana saja dan tidak perlu ada pesta besar-besaran, seperti yang diinginkan oleh Nenek Amira pada awalnya.


Sang oma pun setuju serta menyerahkan semua pada Ailee dan Gilang karena memang mereka berdualah yang akan menjalani biduk rumah tangga nantinya.


"Ayo, Sayang! Kita juga harus berangkat," ajak Gilang.


"Assalamu'alaikum, Oma," pamit Ailee dengan mengucap salam pada sang oma yang ikut melepas kepergian mereka.


Sang oma tersenyum seraya melambaikan tangan, melepas kepergian Gilang dan Ailee.


Gilang kemudian segera melajukan mobil mewahnya untuk berangkat ke kantor bersama sang calon istri, yang pagi ini tidak mengenakan seragam karena Ailee memang hendak mengundurkan diri dan pamit pada teman-temannya di kantor.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, bibir Gilang selalu mengulas senyuman. Hatinya sungguh merasakan kebahagiaan sekarang, kebahagiaan yang tiada tara.


"Sayang, kamu pengin bulan madu kemana?" tanya Gilang, setelah mobilnya keluar dari kompleks perumahan elite dan melandas di jalan besar ibukota.


"Bulan madu? Pakai acara bulan madu segala, Mas? Kayak artis-artis begitu, kah, yang pergi ke tempat-tempat indah?" tanya Ailee, polos.


"Ya, begitulah," balas Gilang seraya tersenyum lebar, geli mendengar pertanyaan polos sang istri.


"Kamu mau kita pergi ke mana?" tanya Gilang kembali.


"Enggak tahu, Mas.", Ailee mengedikkan bahunya. "Ai enggak tahu tempat-tempat yang bagus," lanjutnya jujur.


Gadis belia itu memang tidak pernah tahu tempat-tempat yang indah untuk liburan karena Ailee tidak pernah pergi kemana-mana.


"Mana saja tempat wisata yang pernah kamu kunjungi? Biar nanti aku cari tempat lain yang kamu belum pernah ke sana." Gilang kembali menoleh sekilas ke arah sang calon istri.

__ADS_1


Ailee menggeleng. "Ai belum pernah kemana-mana, Mas."


Gilang mengerutkan dahi, tidak percaya begitu saja ucapan sang istri. Rasanya mustahil istrinya itu belum pernah pergi ke tempat wisata, sedangan orang tua Ailee termasuk orang yang modern dan cukup berada.


Bahkan, di dinding rumah Ailee, Gilang juga sempat melihat foto kedua kakaknya sedang berlibur dengan latar tempat wisata terkenal di Paris.


"Kalau ke Bali, sudah pernah dong?" tanya Gilang, memastikan.


Ailee kembali menggeleng. "Boro-boro ke Bali, Mas. Waktu Sekolah Dasar, teman-teman pergi ke Monas dan Taman Mini aja, Ai juga enggak bisa ikut," terang Ailee yang tiba-tiba wajahnya menjadi sendu.


"Kenapa enggak ikut?" tanya Gilang, tak mengerti.


"Enggak ada biaya, Mas," balas Ailee. "Untuk acara-acara seperti itu, papa enggak mau kasih uang. Enggak ada faedah katanya."


Ya, setiap kali ada acara karya wisata di sekolah, Ailee tidak pernah mengikutinya karena sang papa tidak mau membayarkan biaya karya wisata tersebut.


Gilang menghela napas berat. Dada pemuda tanpan itu tiba-tiba terasa sesak, ikut merasakan kesedihan Ailee kecil yang tidak pernah mendapatkan perhatian serta kasih sayang dari papanya.


"Enggak usah bulan madu segala, lah, Mas. Kita di rumah saja," lanjut Ailee, kemudian.


Gilang berjanji dalam hati, akan membawa Ailee mengunjungi tempat-tempat yang indah. Dia akan menebus kesedihan Ailee di masa lalu yang tidak pernah bisa ikut berdarma-wisata dan bersenang-senang bersama teman-teman sekolah.


"Kalau begitu, terserah Mas saja," balas Ailee seraya tersenyum manis.


Senyum yang membuat Gilang semakin jatuh hati, lagi dan lagi pada Ailee. Gadis belia periang, yang telah berhasil mencairkan kembali kebekuan di hatinya.


Obrolan mereka mengenai rencana bulan madu terhenti, ketika mobil mewah Gilang memasuki kawasan gedung perkantoran miliknya.


Bos GCC tersebut segera memarkirkan mobilnya di area parkir khusus.


Gilang kemudian segera turun, setelah pintunya dibukakan oleh salah seorang security yang kemudian mengangguk hormat padanya.


"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa security tersebut yang sempat terkejut melihat bos-nya itu tidak mengenakan masker seperti biasanya.


"Pagi, Pak," balas Gilang seraya tersenyum tipis, membuat laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun dan berseragam khusus itu semakin terkejut mendapati perubahan Gilang pagi ini.


Gilang segera berlari kecili memutari depan mobil, untuk membukakan pintu bagi sang calon istri tanpa memperdulikan keterkejutan sang petugas keamanan di kantornya.

__ADS_1


"Ayo, Sayang. Kita masuk," ajak Gilang hendak menggandeng sang calon istri, tetapi Ailee menolak dengan halus.


"Maaf, Mas. Apa kata karyawan Mas nanti kalau kita berjalan dengan bergandengan tangan, sementara kita belum resmi menjadi suami istri." bisik Ailee.


Gilang mengangguk, mengerti. "Tapi kamu harus melangkah di sisiku dan kita ke ruanganku terlebih dahulu," pinta Gilang.


Ailee menganggukkan kepala dan bergegas melangkah bersama Gilang, memasuki lobi.


Semua mata menatap kagum, melihat sang atasan yang wajahnya pagi ini tidak tertutup masker dan terlihat full senyum.


Tatapan kekaguman itu bukan hanya tertuju pada Gilang, tetapi juga pada gadis cantik yang berjalan di samping bos GCC tersebut.


Gadis belia yang biasanya berseragam khusus karyawan bagian pesuruh, kini tampil beda dengan mengenakan dress panjang dipadukan dengan pasmina motif abstrak yang terlihat sangat anggun dan semakin cantik.


"Itu beneran Ailee, kan?" bisik salah seorang karyawan pada temannya, memastikan penglihatannya.


"Iya, dia Ailee."


"Beda banget, ya, dengan yang kemarin. Anggun dan cantik banget. Pantesan Pak Gilang suka sama dia," bisiknya, memuji Ailee dengan jujur.


"Cantik dari mananya?" sahut salah seorang teman wanita yang memang dari kemarin tidak menyukai kabar kedekatan Ailee dan Gilang.


Meskipun kemarin wanita itu sudah mendapatkan teguran keras dari Erlan, tetap saja dia berani menyuarakan ketidaksukaannya pada gadis sederhana seperti Ailee yang berhasil menggaet pemuda tampan seperti Gilang yang memiliki banyak penggemar, termasuk dirinya yang.


"Monyet kalau dipoles dan dipakein baju bagus, juga pasti bakalan kelihatan cantik," lanjutnya pedas.


"Hush jaga ucapan kamu! Belum jera juga, kemarin sudah diberi peringatan sama Pak Erlan!" tegur teman laki-lakinya.


"Halah, kalau kalian tidak membocorkan ini, Pak Erlan juga tidak bakalan tahu!" balasnya, ketus.


"Lagipula, apa yang aku katakan, benar, kan? Dia kelihatan cantik karena pakai bedak tebal dan pakaiannya bagus!"


"Ehem." Suara dehaman seseorang, mengalihkan perhatian karyawan yang bergerombol di lobi dan berbisik-bisik itu.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_1


__ADS_2