
Ailee yang sedari tadi telah menahan air mata, akhirnya jebol juga pertahanan dirinya mendengar perkataan ketus Gilang dan tuduhan bos perusahaan tersebut yang menyakiti hatinya.
Gadis itu menoleh ke arah Gilang dengan berurai air mata. "Meskipun hidup saya penuh keprihatinan dan kekurangan, tetapi saya bukanlah pencuri, Pak Gilang! Pantang bagi saya untuk mengambil apa yang bukan menjadi hak saya!"
"Silakan, Anda bisa menyuruh anak buah Anda untuk menggeledah tas saya jika saya keluar dari kantor ini!" Ailee menyeka air matanya dengan kasar.
Erlan terdiam. Pemuda bersahaja itu menatap iba pada Ailee. Kakak sepupu sekaligus asisten pribadi Gilang tersebut kemudian menatap sang atasan, dengan tatapan tak mengerti.
Sementara Gilang mengepalkan tangan dengan sempurna, begitu melihat gadis di depannya berurai air mata.
Ailee segera membalikkan badan dan kembali hendak berlalu. Lagi-lagi, suara Gilang berhasil mengurungkan langkahnya.
"Sebelum keluar dari ruangan ini, kembalikan dulu apa yang sudah kamu curi, Ailee!" ulang Gilang, tegas.
Ailee mengepalkan kedua tangan, memuncak sudah amarah gadis belia itu, kali ini. Berbagai macam hinaan dan cacian telah dia terima sadari tadi dan sekarang, sang atasan malah menuduhnya mencuri.
Ailee kembali membalikkan badan, matanya yang telah sembab berkilat penuh amarah.
"Harus berapa kali saya katakan bahwa saya tidak mencuri apapun, Pak Gilang yang terhormat! Kalau Anda tidak percaya, silakan ...."
"Kamu mencuri, Ai," sergah Gilang dengan melembutkan suara, seraya menatap Ailee dengan tatapan dalam. Pemuda itu kemudian berjalan mendekati gadis belia yang masih diliputi oleh amarah tersebut.
"Kamu telah mencuri hatiku, Ai. Kamu mencurinya, maka jika kamu memutuskan untuk pergi dan mundur dari perjodohan kita, kembalikan dulu hatiku." Gilang menggenggam tangan Ailee yang masih terkepal dan meletakkan di dadanya yang berdebar.
Erlan yang tadi sempat menahan napas melihat semuanya, kini dapat bernapas dengan lega dan senyuman kebahagiaan kembali menghiasi wajah bersahaja tersebut.
Sementara tangan Ailee yang mengepal, perlahan mengendur. Tatapannya yang berkilat marah pun, perlahan memudar dan berubah menjadi hangat.
Senyum tipis mulai terbit di sudut bibirnya, tetapi air mata masih nampak menggenang di pelupuk mata gadis cantik itu.
Setetes air mata kebahagiaan pun jatuh, membuat Gilang bergerak cepat mengusap air mata Ailee dengan lembut.
"Maaf, aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya dan aku juga tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaanku," ucap Gilang.
__ADS_1
"Meski saat ini aku juga belum yakin dengan hatiku sendiri, tetapi aku merasa telah menemukan seseorang yang tepat, dan itu kamu, Ai," lanjutnya dengan tatapan dalam.
Air mata Ailee semakin deras mengalir, mendengar kata-kata Gilang yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Gilang kembali mengusap air mata gadis belia tersebut dengan ibu jarinya.
"Ai, maukah kamu mengajariku bagaimana cara untuk mencintaimu?" tanya Gilang hampir tak terdengar oleh Ailee, meskipun jarak mereka berdua hampir terkikis.
Ailee yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar dan lihat, mencubit pipinya sendiri.
"Ai tidak sedang bermimpi, kan?"
"Kamu tidak bermimpi, Ai. Ini semua nyata," balas Gilang. "Maaf, jika aku terlambat menyadari perasaanku hingga aku hampir saja kehilangan kamu." Gilang merengkuh tubuh ramping Ailee dan kemudian membawa calon istrinya itu ke dalam pelukan.
"Berjanjilah padaku, Ai. Berjanjilah bahwa kamu akan bersabar menghadapi sikapku. Berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah bosan mengajari aku, bagaimana cara mencintai dan membahagiakan kamu."
Perkataan Gilang, membuat Ailee semakin dalam menenggelamkan wajah ke dada bidang pemuda yang memiliki postur tubuh tinggi tegap tersebut. Hingga tubuh Ailee yang mungil pun seolah tenggelam, dalam dekapan Gilang yang hangat dan nyaman.
Sementara Erlan yang mendengar dan menyaksikan semuanya, tersenyum lebar. Pemuda berkulit putih bersih itu merasa sangat bahagia karena apa yang telah dia usahakan bersama Nenek Amira, omanya Gilang, akhirnya berbuah manis.
"Oma ... maaf, Oma." Ailee menunduk, malu.
"Kalian sudah berbuat di luar batas! Kalian harus menikah sekarang juga!" lanjut sang oma.
"Oma, ini tidak seperti yang Oma lihat. Percayalah pada Gilang, Oma," ucap bos GCC tersebut, mencoba memberikan pengertian pada sang oma.
"Tidak mungkin kami berbuat aneh-aneh di kantor, Oma. Apalagi, di sini juga ada Bang Er, kan?" Gilang menatap Erlan, meminta bantuan agar ikut menjelaskan pada sang oma.
"Oma, Oma silakan duduk dulu, yuk," ajak Erlan seraya menuntun wanita tua tersebut untuk menuju sofa.
Erlan kemudian menghubungi pihak operator agar segera menghadap dirinya sambil membawa bukti rekaman CCTV tadi pagi, di ruangan divisi umum dan divisi keuangan.
"Yang tadi pagi itu, ya, Mul. Sama CCTV di ruangan divisi keuangan," pinta Erlan.
__ADS_1
"Segera bawa ke ruanganku jika sudah kamu salin," pungkasnya yang kemudian menutup telepon
"Oma tunggu sebentar, ya," pinta Erlan seraya mendudukkan diri di samping wanita tua yang masih terlihat kecewa pada cucunya itu.
Nenek Amira sepertinya menduga bahwa sang cucu telah berani mengajari Ailee yang polos tersebut, hal yang tidak-tidak.
Wanita tua tersebut melupakan, bahwa cucunya juga pemuda yang polos soal wanita, meskipun usia Gilang sudah matang.
Sementara Gilang kemudian menuntun Ailee untuk duduk di sofa yang berhadapan dengan sang oma dan juga Erlan.
Selama menanti karyawan dari ruangan monitoring, Ailee terus saja menunduk, tidak berani menatap wanita bersahaja yang telah membawa Ailee pulang ke rumah keluarga Gilang dan menjodohkan dirinya dengan pemuda yang kini berdiri dengan gelisah di samping Ailee.
Terdengar pintu ruangan yang masih terbuka tersebut diketuk dan diikuti dengan masuknya seorang pemuda yang seusia dengan Erlan.
"Selamat siang, Pak Presdir, Pak Asisten," sapa Mulya dengan mengangguk sopan.
Erlan kemudian berdiri dan menyambut flashdisk yang disodorkan oleh Mulya. "Semua sudah saya simpan di sini, Pak."
Erlan mengangguk. "Terimakasih, Mul. Silakan kembali ke tempat kerja kamu."
Mulya kembali mengangguk hormat dan kemudian segera berlalu dari ruangan asisten pribadi Gilang tersebut.
Erlan kemudian mengambil laptop-nya dari atas meja kerja dan menyimpan di meja, di hadapan omanya Gilang.
"Oma lihat sendiri apa yang terjadi pagi tadi dan berjanjilah, tenangkan hati Oma dan hadapi semua dengan kepala dingin," pinta Erlan seraya menatap wanita tua yang nampak sudah tidak sabar, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Erlan kemudian mulai memutar video rekaman CCTV dan menambah volume suaranya, agar sang oma dapat mendengar dengan jelas.
Baru satu video yang diputar dan omanya Gilang tersebut sudah terlihat sangat marah.
"Dua wanita itu, lagi? Ge, kamu harus pastikan bahwa mereka berdua mau meminta maaf pada Ailee sebelum kamu mendepak mereka berdua keluar dari kantor ini!"
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1