Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Trik Membuat Anak Kembar


__ADS_3

Setelah berziarah ke makam sang mama dan bibi pengasuh Ailee, Gilang dan sang istri tidak langsung kembali ke hotel. Mengetahui cerita dari sang istri bahwa istri kecilnya itu belum pernah bertamasya ke tempat-tempat wisata terkenal di ibukota, Gilang kemudian berinisiatif mengajak Ailee untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut.


"Kamu mau kita kemana dulu, Yang. Monas, Taman Mini, atau Ancol?" tanya Gilang setelah mobilnya melandas di jalanan ibukota yang padat.


"Terserah Mas sajalah, Ai enggak tahu tempat-tempat itu seperti apa. Cari yang nyaman aja, Mas. Soalnya matahari lagi tinggi-tingginya," balas Ailee.


"Kalau gitu, kita ke Taman Mini dulu, ya. Kita nonton film di teater Keong Mas, baru setelah itu kita jalan-jalan." Gilang segera menambah kecepatan mobilnya agar bisa segera sampai di tempat tujuan.


Sepanjang perjalanan, Ailee terus mencuri-curi pandang wajah tampan suaminya. Senyumnya pun merekah, indah, mensyukuri atas segala karunia yang dia terima.


"Yang. Kalau kamu lihatin aku terus seperti itu, nanti aku enggak jadi mengajak kamu jalan-jalan, loh," ucap Gilang, tanpa menoleh ke arah sang istri.


Pipi Ailee langsung merona merah, tidak menyangka bahwa sang suami yang terlihat fokus menatap jalanan di depannya, mengetahui apa yang dia lakukan.


"Kenapa enggak jadi, Mas?" tanya Ailee seraya mengerutkan dahi.


"Lirikan matamu membuat aku ingin, Yang. Ingin membawamu ke hotel terdekat dan kita akan menghabiskan waktu di sana," balas Gilang yang kemudian menoleh ke arah sang istri sekilas, sambil tersenyum menggoda.


"Mas, semalam 'kan udah berkali-kali? Masak masih pengin terus, sih?" protes Ailee dengan bibir mengerucut.


Gilang tergelak. Suami dewasa Ailee itu kemudian mengacak lembut puncak kepala sang istri yang tertutup hijab. Ailee kembali tersenyum, mendapat perlakuan manis tersebut.


"Jangan pernah bosan, ya, jika aku sering meminta. Karena kini, aku sudah tergantung padamu, Nyonya Gilang Chandra," ucap Gilang seraya membawa tangan Ailee ke dadanya.


"Kamu belahan jiwaku, kamu hidupku. Aku akan sedih kalau kamu mengabaikan aku, walau sebentar saja," lanjutnya.


Ailee yang berdebar mendapatkan rayuan mansi tersebut dari sang suami, juga dapat merasakan debaran jantung suaminya yang berpacu sedikit lebih cepat. Istri belia Gilang itu juga dapat menangkap bahwa apa yang barusan disampaikan oleh sang suami, tulus dari dalam hati. Ailee tersenyum dan kemudian merebahkan kepala di bahu kokoh Gilang.

__ADS_1


"Ai juga akan sedih kalau Mas menjauhi Ai. Janji ya, apapun yang akan terjadi, tetaplah di sisi Ai," pinta Ailee kemudian seraya mendongak, menatap sang suami.


Tepat di lampu merah, mobil Gilang berhenti dan pemuda itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Gilang kemudian mengecup lembut bibir sang istri hingga membuat Ailee terkejut.


"Mas! Malu, ih ... kalau ada yang lihatin!" protes Ailee setelah terlepas dari pagutan sang suami.


"Enggak bakal ada yang lihat, Yang. Kacanya gelap," balas Gilang sambil mengusap bibir sang istri dari bekas salivanya.


Gilang kembali melajukan mobilnya setelah lampu traffic light menyala hijau. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, tibalah mereka berdua di tempat yang dituju.


Bos GCC tersebut memarkirkan mobil di tempat yang tersedia. Mereka berdua kemudian segera turun dan dengan langkah santai, Gilang menggandeng mesra tangan sang istri untuk menuju bangunan artistik yang menyerupai keong dan berwarna keemasan.


Tidak perlu lama mengantri, Gilang sudah mendapatkan tiket masuk. Mereka berdua kemudian menuju tangga untuk naik ke balkon karena Gilang membeli tiket VIP.


"Kita duduk di sini, Yang," ajak Gilang yang kemudian mempersilakan istrinya untuk duduk terlebih dahulu.


Film dokumenter yang menceritakan ragam budaya dan keindahan tanah air di negeri yang elok ini, mulai diputar. Ailee nampak memperhatikan layar raksasa di hadapan, dengan tanpa berkedip. Netranya berbinar, mengagumi setiap tayangan keindahan maha karya ciptaan Tuhan yang ditayangkan dalam film tersebut.


"Wow ... Indonesia itu keren ya, Mas. Indah banget," bisik Ailee.


Gilang menggeleng cepat. "Masih kalah indah sama kamu, Sayang," balasnya seraya mengecup puncak kepala sang istri yang masih bersandar di bahunya.


Wanita muda itu, tersenyum. Hanya dengan mendengarkan pujian kecil, tetapi diucapkan dengan tulus oleh sang suami, membuat hati Ailee dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran. Ailee kemudian mengeratkan pelukannya pada lengan sang suami.


"Kenapa? Takut jatuh?" canda Gilang, berbisik karena tidak ingin menggangu penonton lain.


"Tidak. Jika jatuhnya ke hati Mas Gilang, Ai malah senang," balas Ailee yang ikut-ikutan menggombal.

__ADS_1


Selanjutnya, mereka berdua tidak lagi fokus pada tontonan di depan mata karena orang yang berada di sebelah, nyatanya lebih menarik dari tayangan film dokumenter tersebut. Mereka berdua bercanda, saling cubit mesra dan saling merayu manja hingga tayangan film berakhir.


Mereka berdua segera keluar dari area gedung Teater Imax Keong Mas dan kemudian menuju Taman Legenda Keong Mas, untuk sekadar duduk santai sambil menikmati suasana.


"Kalau nanti kita punya anak, kita ajak mereka main ke sini ya, Mas. Mereka pasti seneng karena bisa bermain sambil belajar," ucap Ailee ketika melihat sebuah keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia.


Kedua anaknya bermain berkejaran sedangkan kedua orang tuanya duduk santai sambil bercengkrama dengan mesra. Sungguh, gambaran keluarga ideal yang diidam-idamkan oleh istri Gilang, tidak seperti keluarganya yang sudah tidak adil pada Ailee selama ini.


"Iya, Sayang. Kita akan ajak mereka ke sini. Ke Istana Anak-anak juga, di sebelah sana." Gilang menunjuk arah tempat wisata lain yang terdapat di area Taman Mini.


"Memangnya, kamu pengin kita memiliki anak berapa, Sayang?" lanjut Gilang bertanya, seraya memeluk pinggang sang istri dan menjatuhkan dagu di bahu istrinya.


"Dua atau tiga, cukup kali, ya," balas Ailee.


Gilang menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak! Aku maunya kita punya banyak anak agar rumah kita menjadi ramai. Tiga laki-laki dan tiga perempuan," harapnya.


"Mas, satu aja belum. Udah pengin sebanyak itu," protes Ailee.


"Kalau begitu, ayo kita balik ke hotel! Kita buat langsung dua, aku tahu bagaimana trik untuk membuat anak kembar." Netra Gilang berbinar, membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti pada sang istri.


"Memang ada caranya?" tanya Ailee, penasaran. "Bukankah, itu faktor genetik, ya?" Dahi istri belia Gilang tersebut, berkerut dalam.


Gilang menggeleng. "Ada triknya juga, Sayang. Jika beruntung, bisa langsung dapat dua. Aku enggak bisa menjelaskan dengan kata-kata, tapi kalau langsung praktik aku bisa. Ayo, kita segera mencoba, siapa tahu beruntung!" Gilang terkekeh senang.


"Itu, sih, modusnya Mas Gilang aja! Bilang aja Mas lagi pengin!"


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕

__ADS_1


__ADS_2