
Pagi yang cerah, secerah wajah Ailee yang baru saja selesai membersihkan diri. Senyuman gadis belia itu merekah indah, menyapa sang oma yang baru saja dari luar untuk jogging bersama kedua cucunya.
"Oma sudah pulang?" sambut Ailee seraya mengambil handuk kecil yang sudah basah dengan keringat dari tangan sang oma dan kemudian menyimpan di keranjang pakaian kotor.
"Iya, Nak. Sayang, ya, kamu tadi tidak ikut," sesal sang oma yang ingin mengakrabkan sang cucu dengan gadis sederhana yang baru dikenalnya itu.
Aileee memang sempat diajak tadi, tetapi gadis tersebut menolak dan lebih memilih untuk mengaji setelah sholat shubuh, untuk merampungkan tadarusnya yang hampir khatam tiga puluh juz.
Ya, Ailee setiap hari menyempatkan waktu untuk membaca Al-Quran minimal satu lembar.
Dia berharap, pahala dari bacaan ngajinya mengalir pada almarhumah sang mama karena hanya itu yang dapat dia lakukan untuk berterimakasih pada mama yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkan Ailee ke dunia.
Begitulah yang dikatakan oleh bibi pengasuh yang selama ini merawat Ailee.
Wanita tua yang telah mengabdi lama pada keluarga Ailee, memang mengajarkan ilmu agama pada gadis belia tersebut sejak dini. Dengan harapan, Ailee yang tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya itu, tumbuh menjadi gadis yang penyabar dan tidak menyimpan dendam.
"Oma mau mandi dulu, setelah ini kita sarapan bareng sebelum pulang," tutur sang oma yang kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Ailee kemudian duduk di balkon, menikmati sejuknya udara pagi sambil menanti sang oma yang sedang mandi.
Gadis belia yang saat ini mengenakan rok panjang semata kaki, dipadukan dengan kaos lengan panjang dan hijab pasmina polos, senada warnanya dengan rok yang dia kenakan itu memang terlihat sangat sederhana, tetapi tetap mempesona.
Gadis itu tidak menyadari, ada dua pasang mata yang memperhatikan dirinya dari bawah sana.
Ya, kamar Ailee yang berada di lantai lima, keberadaan gadis tersebut di balkon masih dapat terlihat dengan jelas dari taman di bawah.
"Lihatlah calon istrimu itu, Ge. Benar-benar cantik alami, kan?" Erlan menatap tak berkedip pada Ailee yang berada di atas sana.
"Biasa aja," balas Gilang, datar.
"Ck!" Erlan berdecak kesal karena adik sepupunya tersebut masih saja dengan keangkuhannya.
Gilang seolah tidak mau membuka hati barang sedikit saja, untuk melihat kecantikan alami gadis yang dijodohkan dengan dirinya.
"Ayolah, Ge. Buka hatimu! Lihat dan amati, bagaimana bersahajanya dia. Aku yakin, kamu akan bahagia jika menikah dengan gadis itu." Erlan terus saja meyakinkan Gilang.
Erlan bukannya belum menemukan pasangan yang tepat seperti yang sering dia katakan pada sang oma, hanya saja dia tidak tega jika meninggalkan Gilang sendirian tanpa pendampingan dirinya.
Pemuda tersebut sampai sengaja menunda untuk menikah karena ingin membersamai sang adik sepupu yang begitu frustasi dan terpukul, dengan kejadian yang menimpa papanya.
Meskipun Gilang hanyalah adik sepupu, tetapi bagi Erlan, Gilang baginya adalah adik kandung. Mereka berdua beranjak dewasa bersama-sama karena setelah kepergian papanya Gilang, Erlan memutuskan untuk tinggal bersama adik sepupu dan omanya.
__ADS_1
Pemuda berkulit putih bersih tersebut sangat menyayangi Gilang, bahkan Erlan menolak mengurus perusahaan sang papa dan menyerahkan pada kakak perempuannya, demi untuk membantu Gilang.
"Jangan khawatir, Bang. Bukankah aku sudah berjanji pada Oma untuk belajar menerima dia? Dan aku akan menepati janjiku," ucap Gilang.
Pemuda yang memiliki tatapan tajam itu kemudian menghela napas panjang, seraya melihat ke arah balkon kamar sang oma.
'Dia memang cantik, tapi masih terlalu muda. Dia juga konyol, sama seperti kedua keponakanku. Masak iya, aku harus menikah dengan gadis konyol seperti dia?'
"Lihat aja bagaimana nanti, apakah dia berhasil membuat hatiku terbuka atau tidak," lanjut Gilang seraya beranjak.
"Ayo, kita balik ke kamar! Takutnya, oma sudah selesai dan beliau akan ngomel-ngomel jika kita belum bersiap," ajak Gilang, kemudian.
\=\=\=\=\=
Setelah sarapan bersama, Ailee kemudian ikut bersama sang oma dan kedua cucunya untuk pulang bersama mereka.
"Ai, bagaimana kalau barang-barang kamu yang ada di mess, diambil besok saja?" tawar Erlan, ketika mobil yang dia kendarai baru saja meninggalkan area parkir hotel.
Pemuda yang murah senyum tersebut menatap Ailee yang duduk di bangku belakang bersama Gilang, melalui pantulan kaca spion di depannya.
"Tapi seragam Ai ada di sana, Bang. ID card juga," balas gadis berhijab tersebut yang nampak canggung duduk bersebelahan dengan Gilang.
"Gampang, besok pagi aku antar ke mess dulu untuk berganti," paksa Erlan, kemudian.
"Jangan takut terlambat, biar besok Ge yang memintakan ijin pada atasan kamu," lanjut Erlan yeng melihat kerisauan di mata Ailee.
Apa yang disampaikan Erlan, membuat Gilang langsung menatap tajam asistennya tersebut melalui kaca spion di depan Erlan.
"Bukankah begitu, Ge?" tanya Erlan seraya mengedipkan sebelah mata.
"Iya," balas Gilang, singkat dan padat.
Erlan terkekeh pelan, melihat kekakuan Gilang.
Sementara sang oma yang duduk di bangku depan, hanya senyum-senyum saja sadari tadi.
Wanita tua itu memang sengaja memilih duduk di bangku depan, agar Gilang bisa lebih dekat dengan Ailee dan mengajak gadis belia itu untuk bercengkrama.
"Er, kita mampir ke butik langganan oma dulu, ya. Ada beberapa barang yang akan oma beli," pinta sang oma, setelah kendaraan mereka melaju di jalanan beraspal yang cukup ramai karena hari ini adalah wekend.
Erlan menuruti keinginan sang oma dan mengarahkan mobilnya menuju butik langganan keluarga mereka.
__ADS_1
Setibanya di butik, sang oma memaksa Gilang untuk mengekori langkahnya bersama Ailee.
Sementara Erlan, berkeliling sendiri untuk mencari sesuatu untuk sang kekasih hati.
Wanita tua itu terlihat mengambil beberapa pakaian untuk wanita dan menyuruh Gilang untuk membawakan pakaian tersebut.
Meski dengan wajah ditekuk, pemuda berwajah tampan tersebut menurut saja dengan keinginan sang oma.
Setelah cukup banyak pakaian yang ada di tangan Gilang, sang oma meminta pada Ailee untuk mencobanya di kamar pas.
"Oma, kenapa Ai?" tanya Ailee tak mengerti, sebab sang oma dari tadi tidak mengatakan apa-apa.
"Udah, cobain, gih. Udah capek akunya!" Gilang menyeret pelan tangan Ailee dan membawa gadis tersebut ke ruangan yang hanya cukup untuk dua orang.
Gilang kemudian menyimpan pakaian yang sudah dipilih sang oma, pada capstok yang tersedia di kamar pas tersebut.
"Kamu pakai satu-persatu dan tunjukkan pada oma," ucap Gilang yang kemudian segera berlalu keluar dari ruangan sempit tersebut.
Ailee sempat mematung, tetapi kemudian segera tersadar ketika sang oma berseru dari tempatnya duduk.
"Coba sekarang, Nak!"
Ailee mulai melepaskan pakaiannya dan mencoba salah satu gaun yang baru saja dipilih oleh sang oma.
Ailee kemudian keluar untuk memperlihatkan pada sang oma dan wanita itu mengangguk seraya tersenyum bahagia.
Gadis itu kembali masuk ke dalam kamar pas untuk berganti, begitu seterusnya sampai ketujuh gaun yang dipilih sang oma telah dia coba.
Ailee kembali keluar dari kamar pas dan ini adalah gaun terakhir.
"Bagaimana, Ge?" tanya sang oma, setiap kali Ailee mencoba gaun-gaun tersebut dan jawaban Gilang selalu sama, yaitu anggukan kepala.
'Gaun-gaun itu memang terlihat indah di tubuhnya dan semakin memancarkan pesona kecantikannya. Apalagi kalau dia memakai warna hitam, dia terlihat sangat anggun.' Gilang tersenyum tipis.
"Ge!" panggilan sang oma, membuyarkan lamunan Gilang.
"Iya, Oma. Cantik, kok," ucap Gilang.
"Bajunya, apa orangnya yang cantik, Ge?" goda Erlan yang tiba-tiba sudah berada di belakang Gilang.
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1