Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Kebakaran Jenggot


__ADS_3

Keesokan harinya, pasangan Gilang dan Erlan sibuk berkemas karena siang nanti mereka harus berangkat ke Timur Tengah. Tidak banyak pakaian yang dibawa oleh kedua pasangan tersebut karena mereka akan membelinya nanti jika sudah berada di sana. Hanya keperluan untuk ibadah yang disiapkan dari rumah, baik ibadah dalam artian yang sesungguhnya maupun ibadah dalam artian yang lebih khusus, yaitu ibadah bersama pasangan.


Dua koper berukuran sedang sudah siap di sudut kamar utama. Gilang dan sang istri lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Mereka mandi bersama untuk menghemat waktu karena jam terus berputar dan mereka harus segera berangkat.


"Mas, jangan nakal, ah!" tolak Ailee ketika tangan Gilang menjelajah kemana-mana, padahal dia cuma minta tolong agar digosokkan punggungnya.


"Enggak kemana-mana, Yang. Cuma ke area favorit." Gilang terkekeh karena sang istri mencubit lengannya yang sudah mengunci tubuh Ailee.


Pasrah, hanya itu yang akhirnya dapat dilakukan oleh Ailee. Sebab, jika dia terus berontak mandi mereka akan semakin lama karena Gilang tidak akan pernah menyerah, sebelum keinginannya tercapai. Mandi basah itu pun benar-benar basah, basah di tubuh dan basah pula di area inti.


Gilang tersenyum puas, setelah berhasil membuat sang istri mendesah sepanjang mereka berdua mandi bersama. Pemuda tampan itu lalu dengan telaten mengeringkan rambut hitam nan panjang milik Ailee, sebelum ditutup dengan hijab agar istrinya tidak masuk angin nantinya. Sementara Ailee sibuk mengoleskan krim di wajahnya agar tetap lembut dan lembab.


"Sudah siap, Ge?" tanya Mama Irna ketika sepasang suami-istri itu keluar dari kamar dengan wajah sumringah. Tentu saja wajah mereka berdua bersinar cerah karena baru saja mendapatkan asupan.


"Sudah, Ma. Bang Er dan Mau, belum turun?" balas dan tanya Gilang.


"Kami juga sudah siap, Ge," ucap Erlan yang baru saja menapaki anak tangga bersama sang istri tercinta. Wajah keduanya pun nampak berbinar penuh kebahagiaan. Tidak beda jauh dengan pasangan Ailee dan Gilang. Sebab, Erlan dan istrinya juga mengakhiri beberes pakaian dengan berbagi kehangatan di atas ranjang.


Mama Irna dan Nenek Amira tersenyum bahagia,, melihat kedua pasangan tersebut. Sementara Satria yang mengekor langkah Erlan sambil membawakan koper omnya itu, mencebik. "Kak Mai harus tepati janji. Kalau udah pulang nanti, harus ngajak Jeje untuk piknik bareng kita," bisik keponakan sulung Gilang, membuat Maida tersebut dan kemudian mengangguk.


"Kamu minta apa, Sat?" tanya sang oma.

__ADS_1


"Minta dido'ain sama Kak Mai di depan ka'bah, Ombu, agar Satria segera dapat jodoh," balas pemuda itu, asal.


Gilang dan Erlan gelang-geleng kepala. "Kuliah dulu yang bena! Umur baru dua puluh tahun, udah minta jodoh!" tegas Gilang.


"Om setuju, Sat. Laki-laki itu, lebih memesona ketika sudah hampir kepala tiga. Jadi, kamu fokus dulu aja sama kuliah, setelah itu berkarir. Pada saatnya nanti, cewek-cewek akan datang sendiri mendekati kamu," timpal Erlan.


"Hem, bener, tuh, Sat. Ibarat makanan, kamu itu makanan yang bau dan cewek-cewek itu lalatnya. Lalat 'kan suka ngedeketin makanan yang bau." Gilang terkekeh sendiri dengan perumpamaannya.


Yang lain pun ikut tertawa. Sementara Satria langsung menekuk wajah. "Ya enggak gitu juga kali, Om, perumpamaannya! Masak, nyamain cowok tampan rupawan seperti Satria kayak makanan busuk!" protesnya.


"Om enggak bilang makanan busuk, Sat. Kamu aja yang memperjelas," kilah Gilang, masih dengan tawanya.


"Sudah-sudah. Kalian jadi berangkat apa tidak?" Sang oma menyudahi perdebatan kecil tersebut.


Satria lalu duduk di bangku pengemudi. Keponakan Gilang itu sendiri yang akan mengendarai mobil untuk mengantarkan kedua omnya, beserta sang istri. Di samping Satria, duduk dengan nyaman sang oma.


Gilang duduk di bangku tengah bersama sang mama dan istrinya. Ailee berada di tengah, di antara Mama Irna yang sangat perhatian pada sang menantu bungsu, serta sang suami yang selalu nempel kayak perangko. Sementara Erlan dan sang istri, duduk di bangku belakang.


"Mama do'akan, di sana nanti buah cinta kalian segera hadir, Nak," bisik Mama Irna, ketika mobil yang dikendarai Satria telah melaju di jalanan beraspal.


"Makasih, Ma," balas Ailee yang kemudian menyandarkan kepala di bahu sang mama mertua.

__ADS_1


Reflek, Gilang menarik kepala sang istri lalu menyandarkan di bahunya. "Bersandar di sini aja, Yang. Kasihan Mama kalau kamu nyandar di bahunya." Pemuda tampan itu lalu mencium puncak kepala sang istri, penuh rasa sayang.


"Tidak apa-apa, Ge. Mama kuat, kok," tutur Mama Irna seraya tersenyum. Wanita paruh baya itu tahu, sang putra tidak bisa jauh dari istrinya.


"Suka modus memang dia, Ma," cibir Erlan yang duduk di bangku belakang.


"Aku 'kan belajar dari ahlinya," balas Gilang.


"Siapa ahlinya, Om?" sahut Satria, bertanya tanpa menoleh ke belakang. Tatapan pemuda itu fokus ke jalan raya yang ramai lalu-lalang kendaraan.


"Siapa lagi, Sat. Om Er, lah. Dia 'kan, kang modus sejak masih sekolah," balas Gilang, membuat Erlan mati kutu karena sang istri kini menatap tajam padanya.


"Jangan percaya sama bualannya si Ge, Sayang. Aku engga separah itu," kilah Erlan. "Kalaupun aku pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita, itu 'kan, di masa lalu. Masa depanku itu cuma kamu seorang, Sayangku," lanjutnya seraya menatap dalam netra indah sang istri, membuat wanita belia itu berdebar.


Ya, setiap kata manis yang diucapkan Erlan, selalu mampu membuat Maida berdebar tidak karuan. Meskipun dia sudah sering mendapatkan rayuan seperti itu dari suaminya. Kata-kata dan tatapan Erlan yang memujanya, seolah memiliki magnet yang mampu membuat Maida fokus lalu terhanyut pada pusara cinta yang Erlan tawarkan.


Erlan kemudian mendekatkan wajah. Mengikis jarak di antara keduanya. Dekat dan semakin dekat. Ketika bibirnya hampir menempel di bibir sang istri, Erlan terpental ke samping karena Satria menginjak rem mendadak.


"Ada apa, sih, Sat?" protes Gilang yang terkejut karena dia baru saja hendak memejamkan mata, menikmati keharuman rambut sang istri yang masih dapat tercium meski tertutup hijab.


"Di belakang Om Ge, ada yang mau berbuat mesum tadi," balas Satria dengan jujur, membuat Erlan terbahak di bangku belakang. Sementara Maida tersenyum, tersipu malu.

__ADS_1


"Kamu kalau nyetir, fokus saja dengan jalanan, Sat! Jangan lihatin kaca spion terus! Kebakaran jenggot, kan?" protes sang oma sambil mengelus dada karena terkejut sang cucu mengerem dengan mendadak.


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2