
Malam itu juga sebelum beristirahat, Erlan menyempatkan waktu untuk menghubungi kedua orang tuanya yang berada di Surabaya dan menyampaikan kabar baik tersebut. Tentu saja papa dan mamanya sangat bahagia dan berjanji, besok akan langsung terbang ke Jakarta untuk mempersiapkan pertunangan sang putra bungsu. Setelah puas menelepon dan mengabarkan berita bahagia itu termasuk pada kakaknya, Erlan kemudian segera mengistirahatkan tubuh.
Baru saja pemuda berparas tampan dan murah senyum itu hendak memejamkan mata, pintu kamarnya diketuk dari luar. Dengan malas Erlan beranjak dan kemudian membuka pintu kamarnya. "Kamu, Ge. Ada apa? Apa Ai mengusirmu dari kamar?" tanya Erlan dengan asal, begitu melihat wajah kusut Gilang.
Gilang cemberut. Pemuda itu tidak langsung menjawab, tetapi mengisyaratkan dengan tangan agar sang abang sepupu mengikuti langkahnya. Erlan segera mengekor langkah Gilang, setelah menutup pintu kamarnya terlebih dahulu.
"Ada apa, sih?" kejar Erlan, setelah duduk di bangku, di samping Gilang. Mereka berdua saat ini berada di balkon, di lantai dua kediaman keluarga Gilang.
"Kalau Abang tunangan, itu artinya sebentar lagi Bang Er akan menikah, kan?" tanya Gilang tanpa semangat.
"Rencananya seperti itu, memangnya kenapa?" Dahi Erlan berkerut dalam. "Jangan bilang, kalau kamu keberatan karena sebentar lagi aku sudah tidak bisa membantumu di perusahaan," tebaknya, kemudian.
Gilang menganggukkan kepala. Pemuda itu menatap jauh ke depan, ke bangunan-bangunan rumah mewah lain yang berada di sekitar bangunan rumahnya. Pemuda tampan itu kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran bangku.
Erlan menghela napas panjang. "Kita sudah pernah membicarakan hal ini bareng sama keluarga, kan, Ge? Ada Satria yang akan menemanimu. Apa kamu lupa itu?" Erlan menoleh, menatap Gilang.
"Memang benar ada dia, Bang, tapi Satria 'kan masih kuliah." Gilang menggelengkan kepala.
"Aku justru penginnya Satria fokus dulu dengan kuliah agar bisa cepat selesai dan setelah itu, baru dia belajar di perusahaan," lanjutnya dan Erlan mengangguk setuju, membenarkan perkataan Gilang.
"Kenapa begitu, Om? Satria bisa, kok, kuliah sambil bekerja," sahut Satria yang tiba-tiba muncul di balkon, menyusul kedua omnya.
Rupanya, Satria melihat ketika Gilang melewati kamarnya yang berada tepat di samping tangga. Keponakan Gilang yang tidak dapat tidur karena masih kebayang-bayang dengan wajah cantik Jeje itu kemudian keluar dari kamar. Satria hendak mencari tahu, kenapa Gilang menemui Erlan.
"Belum tidur, kamu?" tanya Gilang, pada sang keponakan.
__ADS_1
"Paling enggak bisa tidur dia karena kepikiran sama si doi," tebak Erlan, tepat sasaran.
Satria tersenyum kecut, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memang benar apa yang dikatakan omnya barusan, bahwa dia memang tidak dapat tidur karena terus memikirkan sang gadis pujaan. Satria merasa malu sendiri karena seperti ABG yang tengah jatuh cinta. Padahal ini bukan kali pertama dia merasakan cinta dan dia bahkan pernah menyimpan perasaan yang lama pada Ailee, istri dari omnya sekarang.
"Udah, langsung tembak aja," saran Gilang.
"Tapi, dia 'kan masih sangat muda, Om. Apa iya, ayahnya akan memperbolehkan kami pacaran?" Satria yang sudah duduk bersama kedua omnya, menyangsikan hal itu.
"Ya pasti enggak bakal boleh, Sat. Pintar-pintar kamulah," sahut Erlan. "Yang penting nyatakan dulu perasaan kamu sama Jeje setelah kamu yakin bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap kamu. Setelah itu, pepet terus kakaknya dan ambil hati ayahnya," sarannya kemudian seperti seorang professional.
Ya, memang benar adanya, kalau masalah wanita, Erlan jagonya. Sebelum jalan sama Maida, dia sudah sering menjalin hubungan dengan makhluk Tuhan yang paling sensitif, yaitu wanita. Hanya saja, Erlan tidak pernah benar-benar serius seperti ketika pemuda ramah itu menjalin hubungan dengan calon tunangannya sekarang.
Satria mengangguk-anggukkan kepala, mendengar nasehat sang om. "Oke-oke, Satria mengerti."
"Nanti dulu, Om. Itu tadi, Om Ge kenapa enggak ngijinin Satria kuliah sambil bantu-bantu di perusahaan?" tanya Satria, mengingat perkataan Gilang tadi yang sempat dia dengar.
"Agar kamu bisa fokus, Sat. Kalau dua-duanya kamu ambil dan kamu tidak bisa fokus pada keduanya, maka yang ada apa yang telah kamu lakukan akan menjadi sia-sia belaka," balas Gilang dan Satria kembali menganggukkan kepala, mengerti perkataan omnya.
"Nikmati dulu masa mudamu, Sat. Belajar yang rajin dan sungguh-sungguh, setelah itu segeralah bergabung bersama om di perusahaan sebelum kamu memegang kendali atas perusahaan kamu sendiri," lanjut Gilang dengan bijak.
Ya, jika berhubungan dengan masa depan keponakan-keponakannya, pemuda tampan itu memang sangat care dan sangat serius memikirkannya. Sebagai anak laki-laki satu-satunya yang dipercaya memegang kendali GCC, Gilang tentu ingin yang terbaik untuk seluruh keturunan Chandra. Termasuk menyiapkan bekal untuk masa depan mereka nanti.
Satria kembali mengangguk dan dia kemudian beranjak. "Baiklah, Om. Satria akan belajar dengan serius agar tidak mengecewakan Om," pungkas Satria yang sekaligus sebagai kalimat pamitan karena setelah itu, Satria segera berlalu dari sana untuk kembali ke dalam kamarnya.
Erlan menghela napas panjang, setelah punggung Satria menghilang di balik dinding. "Aku sebenarnya juga agak bingung, Ge," ucap Erlan, kemudian.
__ADS_1
"Bingung kenapa, Bang?" tanya Gilang.
"Apa Mai mau, ya, aku ajak pindah ke Surabaya?" Entah ditujukan kepada siapa, pertanyaan Erlan barusan. Wajahnya menoleh ke arah Gilang, tetapi tatapannya tidak tertuju pada saudara sepupunya itu.
"Kalian belum pernah membicarakannya?" tanya Gilang.
"Hanya sepintas lalu. Saat itu, sih, dia bilang aku ajak kemanapun, dia mau. Tapi kok, jadi aku yang enggak tega, ya, kalau mengajak dia pindah ke sana," balas Erlan.
Gilang mengerutkan dahi.
"Keluarga besarnya begitu hangat, Ge, dan hampir semuanya ada di sini. Saudara kandung Mai, hanya satu yang tinggal di luar kota, yaitu di Bandung dan kota Bandung 'kan sangat dekat, Ge. Aku kayak enggak tega kalau menjauhkan Mai dari keluarganya. Apalagi, dia dan Mela 'kan adik kesayangan abang-abangnya, Ge," lanjut Erlan, menjelaskan.
Gilang mengangguk, mengerti keresahan sang abang sepupu. "Kalau seperti itu, Abang harus bicarakan hal ini sama Mai. Sama pakdhe dan budhe juga, gimana baiknya nanti agar tidak ada masalah ke depannya," saran Gilang dan Erlan menganggukkan kepala, setuju.
"Kalau aku, sih, setuju Abang tetap tinggal di sini, ya," lanjutnya, membuat Erlan meninju lengan Gilang.
"Itu, sih, maunya kamu!"
Gilang tergelak dan Erlan pun kemudian ikut tertawa. Sepuluh tahun lebih mereka berdua bersama-sama, menghabiskan masa remaja dan tumbuh dewasa bersama. Bersama-sama pula belajar mengelola perusahaan yang ditinggalkan papanya Gilang. Merangkak, tertatih, berjalan perlahan hingga kemudian tumbuh besar seperti sekarang. Membuat keduanya, seperti saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan.
Puas tertawa, keduanya kemudian saling pandang.
"Apapun keputusan Bang Er, Ge akan dukung. Mau balik ke Surabaya atau tetap di sini dengan melebarkan sayap perusahaan Abang yang di sana, di kota ini, dan Ge pasti akan bantu Abang."
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1