
Perhatian dan kasih sayang dari suami dan orang-orang terdekat, membuat kondisi Ailee cepat membaik. Keluarga Maida setiap hari juga pasti ada yang berkunjung ke kediaman Gilang untuk memberikan semangat dan menghibur Ailee. Bagi mereka istri Gilang itu benar-benar sudah seperti keluarga inti.
Tepat seminggu setelah kejadian itu, Ailee harus mendatangi persidangan perdana kasus yang menyebabkan dia kehilangan calon buah hatinya. Dia datang dengan didampingi oleh keluarga. Keluarga besar Maida juga nampak hadir di sana.
Sebelum persidangan yang benar-benar dipercepat oleh pihak keluarga itu dimulai, mamanya Aleena nampak mendekati Ailee yang saat ini tengah duduk bersama Gilang, Erlan dan sang istri. "Mas Gilang, Mas Erlan. Apa kita bisa bicara sebentar?" tanyanya, penuh harap.
"Maaf, Tante. Mengenai apa, ya? Jika itu mengenai persidangan yang sebentar lagi akan digelar, maaf kami sudah menyerahkan semua pada pihak pengacara kami," sahut Erlan, dengan memendam amarah.
Wanita itu nampak menghela napas panjang lalu menatap Gilang. "Mas Gilang. Tidak adakah kesempatan buat Aleena untuk dimaafkan? Dia sudah menyesali perbuatannya, Mas. Dia bahkan bersedia bersujud di kaki istri Mas Gilang sekarang." Netra mamanya Aleena mulai berkaca-kaca.
Wanita paruh baya itu sengaja meminta pada Gilang dan Ailee agar memaafkan sang putri karena merasa langkah yang telah ditempuh oleh sang suami, menemui jalan buntu. Papanya Aleena sudah melakukan berbagai lobi, tapi tidak ada satupun yang nembus dan mau membebaskan Aleena setelah mengetahui siapa lawan dari putri duta besar tersebut. Bahkan, uang dalam jumlah besar yang dia janjikan jika sang putri dapat terbebas dari jerat hukum tidak membuat para aparat penegak hukum lantas mengikuti apa maunya, seperti yang sudah-sudah.
Mamanya Aleena lalu menatap Ailee dengan penuh harap dan raut wajah yang sendu. Ailee menepuk paha sang suami, dia seperti hendak mengatakan sesuatu. Sepertinya, Ailee merasa trenyuh dengan kesedihan wanita paruh baya di hadapannya itu. Namun, dengan cepat Gilang menyahuti perkataan mamanya Aleena karena Gilang tidak mau jika sampai istrinya yang berhati lembut tersebut, terperdaya oleh sikap wanita di hadapan yang palsu.
"Tante, bukan berarti jika persidangan ini tetap dilanjutkan kami tidak dapat memaafkan Aleena karena saya yakin istri saya yang baik dan tulus sudah memaafkan kesalahan Aleena bahkan sebelum putri Tante maupun keluarga meminta maaf pada kami. Namun, hukum harus tetap berjalan dan ditegakkan, Tante," ucap Gilang.
__ADS_1
Pemuda tampan itu berbicara sambil menggenggam tangan istrinya. Dia ingin meyakinkan sang istri bahwa tidak bersalah jika menjebloskan orang yang memang telah berbuat salah ke penjara. Justru dengan begitu, orang yang bersalah tersebut bisa mendapatkan bimbingan dan tidak dibiarkan berkeliaran yang justru akan membuat orang tersebut semakin salah jalan.
"Ge benar, Tante. Jika semua penjahat bisa terbebas dari jerat hukum hanya dengan kata maaf, lantas apa fungsinya ada pengadilan dan penjara?" timpal Erlan.
Tangis mamanya Aleena pecah di sana. Tidak ingin sang istri terpengaruh, Gilang segera mengajak istrinya untuk maju ke bangku depan. Sementara wanita paruh baya yang masih menangis sesenggukan, ditenangkan oleh Erlan.
"Sudah, Tante. Orang-orang sudah mulai berdatangan dan persidangan sebentar lagi pasti dimulai. Tenangkan diri Tante agar Tante bisa mendampingi Aleena." Erlan menepuk pelan punggung tangan mamanya Aleena yang kemudian duduk di sebelahnya, di tempat duduk Gilang tadi.
"Istri Gilang itu juga wanita, Er. Tidakkah dia dapat merasakan perasaan tante? Tidakkah dia mengerti bagaimana perasaan Aleena yang khilaf dan gelap mata karena cintanya yang begitu besar padamu, Er?"
"Tante juga seorang istri! Tidakkah Tante merasa bahwa apa yang telah diperbuat oleh putri Tante, adalah perbuatan yang tidak terpuji? Berusaha mengambil suami wanita lain dengan berbagai cara, bahkan sampai menghilangkan sebuah nyawa!" lanjutnya, berapi-api.
Maida yang kalem itu merasa ketenangannya terganggu. Dia merasa, harga dirinya terinjak sebagai istri Erlan yang hendak direbut oleh Aleena dengan cara kotor. Dia pun mulai menunjukkan taring hingga membuat Erlan tersenyum dan kemudian merangkul pundaknya.
"Saya jadi yakin sekarang, Anda pasti sudah mendidiknya dengan kemanjaan yang salah kaprah! Kemanjaan yang tidak disertai dengan tanggung jawab moral di dalamnya! Memanjakan bukan berarti membebaskan anak dari tanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat, Tante!" Maida kembali menatap tajam mamanya Aleena. Sementara wanita paruh baya tersebut terdiam dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
Dalam hati, mamanya Aleena membenarkan apa yang dikatakan oleh istri Erlan. Dia dan suami memang membesarkan Aleena dengan kemanjaan. Dia selalu berusaha untuk membuat sang putri bungsu bahagia dan tidak rela melihat Aleena kesusahan sehingga mereka senantiasa mengupayakan apa saja untuk membuat putri satu-satunya itu agar mendapatkan apa yang diinginkan.
"Kami juga dibesarkan dalam kemanjaan, tetapi kami juga dididik untuk bertanggungjawab penuh atas apa saja yang kami lakukan. Daddy dan mommy selalu mengajarkan bahwa di setiap perbuatan pasti akan ada ganjarannya. Perbuatan baik, InsyaAllah ada kebaikan yang akan kembali pada diri kita. Perbuatan buruk, maka akan ada keburukan yang kembali untuk diri kita," lanjut Maida yang mulai melembutkan suara, membuat Erlan semakin terkesan dan jatuh cinta pada istri belianya.
Sejenak, keheningan tercipta di sana. Sedari istrinya berbicara, Erlan hanya menjadi pendengar setia. Begitu pun dengan mamanya Aleena yang selalu menundukkan kepala. Sepertinya, wanita paruh baya tersebut mulai terpengaruh dengan perkataan Maida.
"Tante bisa merenungkan apa yang baru saja saya katakan. Maaf, bukan bermaksud menggurui karena saya juga bukan seorang yang bijak. Saya hanya mengingatkan sebagai sesama makhluk Tuhan dan sebagai sesama wanita yang bersuami yang InsyaAllah jika Tuhan berkehendak, saya juga akan menjadi seorang ibu suatu saat nanti." Maida tersenyum tipis, seraya menoleh ke arah sang suami. Terbersit doa dalam hati Maida, kiranya Tuhan segera menghadirkan buah hati di antara mereka berdua.
"Saya yakin, sebagai seorang ibu Tante juga pasti mengutuk perbuatan putri Tante, bukan? Dan sebagai seorang istri, saya yakin seratus persen Tante pasti juga akan merutuki perbuatan Aleena yang berusaha merebut suami saya," pungkas Maida yang kemudian beranjak karena persidangan akan segera digelar.
"Ayo, Bang! Kita maju ke sana," ajak Maida seraya menunjuk arah depan di mana keluarganya sudah duduk di deretan bangku terdepan.
Wanita paruh baya itu nampak menghela napas panjang, mencoba mengurai rasa sesak yang menghimpit di dada. Di persidangan ini, dia hadir sendiri karena sang suami beralasan sedang ada rapat penting di negara tempat bertugas sana. Padahal yang sesungguhnya, duta besar itu merasa malu jika harus berada di tempat itu dan melihat sang putri di kursi pesakitan sebagai tersangka utama kasus berat yang dilakukan oleh Aleena.
Air mata wanita dengan dandanan berkelas itu mengucur deras ketika melihat sang putri digelandang oleh petugas berseragam dan kemudian didudukkan di kursi pesakitan. 'Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk menolongmu, Aleen?'
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕