
Persidangan berlangsung dengan lancar. Semua saksi mengatakan sesuai kebenaran yang dilihat. Orang-orang yang membantu Aleena juga dimintai keterangan dan menjelaskan dengan sebenarnya.
Hakim mengetuk palu yang menandai bahwa persidangan hari ini dinyatakan selesai meski belum sepenuhnya berakhir karena mamanya Aleena bersikukuh akan mengajukan banding agar sang putri mendapatkan keringanan hukuman. Persidangan tersebut tidak berbelit karena pihak Aleena bisa diajak bekerja sama dan mengakui semua perbuatannya. Mantan kekasih Erlan itu juga nampak pasrah ketika dijatuhi hukuman berat atas apa yang telah dia perbuat.
Di kursi pesakitan, Aleena tertunduk lesu. Sementara sang mama yang kemudian mendekatinya, menangis tersedu. "Kita akan ajukan banding, Nak." Wanita paruh baya itu lalu memeluk sang putri dengan erat. Sepertinya wanita paruh baya tersebut tidak dapat menerima keputusan sang hakim.
Satu per satu pengunjung meninggalkan tempat persidangan, termasuk keluarga besar Maida yang juga hadir di sana. Mereka lebih memilih menunggu Erlan dan Gilang beserta pasangan, di halaman luar. Nenek Amira dan Mama Irna juga ikut keluar bersama keluarga mertua Erlan.
Ailee dan Gilang yang masih duduk di tempatnya semula, merasa prihatin melihat ibu dan anak yang berpelukan dengan berurai air mata. Namun, itu adalah konsekuensi yang harus diterima karena perbuatan buruk Aleena. Sepasang suami-istri yang baru saja kehilangan calon buah hati tersebut memang memaafkan mantan kekasih Erlan dan mencoba untuk ikhlas menerima apa yang telah terjadi, tetapi bukan berarti harus membebaskan Aleena dari jerat hukum yang mengharuskan wanita ambisius itu mendekam di penjara.
Maida dan sang suami juga dapat ikut merasakan kesedihan mamanya Aleena. Namun, mereka berdua tidak dapat membenarkan sikap wanita paruh baya tersebut ketika menuntut pada pihak korban yang justru harus mengerti posisi sang putri dan juga dirinya. Harusnya, dia yang mencoba untuk memposisikan diri, bagaimana jika berada di posisi Ailee dan Gilang.
"Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang bijak ya, Bang," bisik Maida dan Erlan kemudian menganggukkan kepala lalu mencium puncak kepala sang istri tercinta.
Mamanya Aleena kembali mendekati Ailee dan Gilang, setelah sang putri dibawa oleh petugas. Wanita paruh baya itu hanya berdiri dan menolak ketika ditawarkan untuk duduk bersama. "Tante berdiri saja," tolaknya, sedikit ketus.
"Tante tetap masih berharap, kalian bersedia membebaskan putri tante dari segala tuduhan kalian itu!" Sorot mata mamanya Aleena menyiratkan kebencian dan penuh dendam, pada pasangan yang masih berduka tersebut.
Mendengar perkataan wanita paruh baya di hadapan, Gilang langsung beranjak. Begitu pula dengan Erlan yang kemudian mendekat. Maida tidak mau ketinggalan, istri Erlan itu juga ikut mendekat.
"Apakah yang tadi saya sampaikan pada Tante, tidak dapat Tante mengerti? Sebenarnya, Tante ini bebal atau memang sudah tidak memiliki hati?" Suara Maida yang lembut, terdengar penuh amarah.
__ADS_1
Erlan segera merangkul pundak sang istri dan meremas lembut bahu Maida. "Sabar, Sayang. Menghadapi orang seperti ini, kita harus berbicara dengan kepala dingin." Pemuda dewasa itu mencoba meredam amarah istrinya.
Tentu saja Maida merasa geram karena target utama Aleena yang sebenarnya adalah suami dan dirinya. Darah muda Maida mendidih. Emosinya memuncak ketika orang dari pihak yang bersalah tetap ngeyel meminta untuk dibebaskan dan seolah malah menuduh jika mereka ada dipihak yang terdzolimi.
"Maaf, Tante. Kenapa Tante berkata seperti itu? Seolah-olah, kami yang menuduh Aleena?" cecar Gilang dengan suara bergetar. Pemuda tampan itu pun terlihat memendam amarahnya.
"Meskipun istri saya tadi tidak memberikan kesaksian, sedari pertama Aleena ditangkap bukti kesalahannya sudah jelas terekam dalam CCTV di hotel, Tante!" Gilang menatap tajam wanita paruh baya di hadapan.
"Saksi mata yang disuruh oleh Aleena pun sudah memberikan kesaksian dan bukti minuman yang disuguhkan untuk kami juga sudah diuji laborat. Hasilnya, seperti yang telah Tante ketahui, bukan? Di dalamnya ada zat yang sengaja dicampurkan oleh Aleena untuk menjebak Bang Erlan dan istrinya!"
Mendengar nada bicara sang suami yang penuh amarah, Ailee segera berdiri. Dia genggam erat tangan sang suami lalu berbisik, "pulang aja, yuk, Mas. Kayaknya percuma, deh, bicara sama orang seperti itu. Tipe orang yang tidak pernah mau disalahkan."
"Maaf, Nyonya." Nampak seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun mendekati mamanya Aleena.
Gilang dan yang lain mengurungkan niat untuk meninggalkan tempat tersebut. Mereka ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh laki-laki yang merupakan pengacara Aleena. Sepertinya, ada hal penting yang hendak disampaikan oleh pengacara itu.
"Ada apa?" Mamanya Aleena menoleh ke arah sumber suara.
"Saya tidak dapat melanjutkan menangani kasus Nona Aleena. Saya sudah memikirkan dengan matang dan saya juga sudah berdiskusi dengan teman-teman. Naik banding pun percuma karena hukuman untuk Nona Aleena sudah sesuai dengan perbuatan yang dia lakukan," tegas pengacara tersebut, membuat tubuh wanita paruh baya yang sedari tadi terlihat angkuh langsung luruh.
Sigap, Gilang dan Erlan menangkap tubuh mamanya Aleena. Rupanya, wanita paruh baya tersebut jatuh pingsan. Kedua pemuda tampan beserta sang istri lalu membawanya menuju mobil, hendak dibawa ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Melihat Gilang dan Erlan membopong seseorang dan dibelakang mereka mengekor Ailee dan Maida, sang oma mendekat. Setelah mengenali siapa wanita yang dibopong sang cucu, Nenek Amira mengerutkan dahi. "Kenapa dia?" tanyanya.
Maida menjelaskan pada sang oma. Wanita tua bersahaja itu nampak mengangguk-anggukkan kepala. Maida kemudian ikut naik ke dalam mobil, sementara Ailee tetap tinggal untuk pulang bersama keluarga yang lain karena Gilang melarang ketika istrinya hendak ikut serta. Sebab, Ailee masih harus banyak beristirahat.
Setelah mobil yang dikendarai oleh Erlan melaju meninggalkan pelataran pengadilan negeri, keluarga besar Maida dan keluarga Gilang pun segera meninggalkan tempat tersebut. Rombongan itu pulang menuju kediaman keluarga Gilang karena sang oma yang meminta. Nenek Amira mengajak mereka semua untuk makan bersama, sebagai ucapan terima kasih karena keluarga besar Maida telah ikut mendampingi dan memberikan dukungan pada Ailee dan suaminya.
Sementara di dalam mobil yang dikendarai Erlan, mamanya Aleena nampak mulai sadar. "Di mana aku?" tanyanya, seraya memijat kening.
Maida yang duduk di sampingnya, tersenyum hangat. Wanita muda itu kemudian membetulkan kursi yang ditempati mamanya Aleena. Penuh kelembutan, Maida mengusap punggung tangan wanita paruh baya tersebut.
"Tante ada di mobil kami. Tadi, Tante tiba-tiba pingsan dan kami bermaksud membawa Tante ke rumah sakit," ucap istri Erlan dengan suara yang lembut dan bersahaja.
"Kenapa kalian baik pada tante? Kenapa kalian peduli sama tante?" tanya wanita itu dengan suara tercekat di tenggorokan.
Sedetik kemudian, setelah mengingat semuanya netra wanita paruh baya tersebut nampak berkaca-kaca. Antara rasa haru dan rasa malu, bercampur menjadi satu. Dia yang sudah berpikir buruk pada anak-anak muda itu, tapi justru mereka yang membantu dan peduli terhadap dirinya.
Lantas, dimanakah pengacara yang sudah dia bayar mahal itu? Mengapa bukan pengacara Aleena yang menolongnya? Kenapa justru orang-orang yang telah disakiti oleh sang putri, yang peduli?
'Maafkan tante, Nak. Maaf karena tante tadi terbawa emosi dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa putri tante yang bersalah. Tante ingin meminta maaf pada kalian, tapi tante tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan. Tante benar-benar menyesal. Apakah penyesalan tante sudah terlambat?'
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕
__ADS_1