Ketulusan Hati Ailee

Ketulusan Hati Ailee
Harus Mirip Denganku


__ADS_3

Seluruh keluarga besar Gilang telah berkumpul untuk menghadiri pesta resepsi pernikahan Erlan. Di saat semua hendak mempersiapkan diri untuk berangkat ke tempat resepsi, Gilang dan Ailee malah menghilang. Tidak ada satupun yang tahu kemana pasangan itu pergi karena mereka berdua tidak berpamitan.


"Sat, kamu enggak lihat Om Ge dan Ailee kemana?" tanya Erlan, panik.


Pemuda itu baru saja pulang setelah mengantarkan sang istri ke kediaman keluarga Antonio, tempat resepsi diselenggarakan malam ini. Maida ke sana terlebih dahulu karena dia harus dirias. Sementara Erlan pulang untuk menjemput keluarganya dan harus segera kembali ke sana.


"Enggak lihat, Om. Satria 'kan bukan bodyguard-nya Om Ge. Kalau bodyguard-nya Ailee, bolehlah," balas Satria sekenanya hingga Erlan menghadiahi sang keponakan dengan sentilan di kepalanya.


"Huuu, maunya Bang Sat, tuh! Jelita mau, Kak Lili juga masih mau meskipun sudah bersuami," cibir Kukuh sambil nyomot gemblong buatan budhenya.


"Memangnya, Bang Sat berani merebut Kak Ai dari Om Ge?" sahut Reno bertanya.


"Hush! Kalian itu bicara apa, tho, Nang?" Mama Irna menyudahi obrolan ketiga cucunya yang ngelantur. "Sudah, sana kalian cari om dan tante kalian di kebun belakang. Barangkali mereka berdua lagi ada di sana karena tadi tante kalian menginginkan makan buah yang langsung metik dari pohon," lanjutnya memberitahukan.


Mendengar penjelasan Mama Irna yang baru saja keluar dari kamar, Erlan segera berlari ke belakang. Disusul ketiga keponakannya yang berlari lebih cepat untuk mendahului. Satria berlomba dengan kedua adiknya untuk cepat sampai di kebun belakang yang luas.


"Yang duluan nyampai nanti dapat hadiah dari Om Er. Ya, kan, Om?" seru Satria bertanya, masih sambil berlari.


"Kamu pikir, ini perlombaan!" protes Erlan yang membuat Satria terkekeh kemudian.


Sementara di kebun belakang. Gilang dibuat pusing dengan permintaan sang istri. Pasalnya, Ailee menolak buah yang sudah berhasil dia petik. Istrinya itu menginginkan dia sendiri yang memetik buah jambu air merah delima yang ditanam sang oma.


"Sayang. Kalau kamu naik sendiri, itu berbahaya," bujuk Gilang, tetapi Ailee kekeuh dengan keinginannya.


"Ai penginnya metik sendiri, Mas," rajuk Ailee dengan air mata yang mulia mengalir di pipi.


Wanita yang tengah mengandung itu juga tidak mengerti, kenapa keinginannya untuk memetik sendiri buah yang ingin dimakan, begitu kuat. Padahal dia tahu itu sangat beresiko. Bisa saja dia terjatuh dan akan membahayakan diri dan calon buah hati mereka berdua.


Gilang segera memeluk istrinya, mencoba menenangkan Ailee. "Ya sudah, jangan nangis." Lembut, Gilang mencium puncak kepala sang istri.

__ADS_1


"Yah, dicariin, malah mesra-mesraan di sini!" protes Satria setibanya di sana.


Gilang yang kemudian melepaskan pelukan, menoleh sekilas ke arah sang keponakan. Pemuda itu tiba-tiba berlutut dan mencium perut Ailee yang mulai terlihat sedikit membuncit. Puas menciumi perut Ailee, dia lalu mengusap dengan lembut perut istrinya.


"Nak, Sayang. Jambunya daddy saja ya, yang metik. Kasihan Mommy, Nak, jika Mommy harus manjat pohon," bisik Gilang mencoba bernegosiasi dengan sang calon buah hati.


Ailee tersenyum. Wanita muda itu kemudian membantu sang suami untuk bangkit. Ailee lalu berjinjit dan melabuhkan ciuman di bibir sang suami. Ciuman yang tidak diduga oleh Gilang, yang membuat ketiga keponakannya langsung menutup mata.


"Kukuh enggak lihat. Sumpah, Kukuh enggak lihat Kak Lili nyium Om Ge," celoteh Kukuh sembari membuka sedikit telapak tangan yang menutupi kedua matanya.


"Halah, enggak lihat gimana kalau kamu nutupnya seperti itu!" cibir sang abang yang baru saja membuka mata mendengar celoteh sang adik.


Sementara Erlan yang datang belakangan, geleng-geleng kepala. "Kalian berdua itu keterlaluan! Dicariin malah asyik pacaran di sini!" protesnya.


"Enggak pacaran, Bang!" Gilang kemudian menceritakan keinginan sang istri yang cukup ekstrem, membuat Erlan bergidik ngeri dan kemudian berdoa dalam hati agar jika istrinya hamil nanti tidak merepotkan seperti Ailee.


"Suami kamu benar, Ai. Itu sangat berbahaya," timpal Erlan yang kemudian ikut membujuk setelah mendengar cerita Gilang.


"Ya udah, ayo, segera bersiap. Sebentar lagi kita berangkat," ajak Erlan kemudian.


"Bentar, Bang Er. Ai belum makan jambunya." Ailee kemudian menatap sang suami. "Ai enggak mau makan jambu yang itu, Mas."


"Terus kamu maunya yang mana, Sayang? Aku petik lagi yang lain?" tanya Gilang.


Ailee menggeleng. Wanita cantik itu lalu menatap Satria. "Kalau Bang Sat yang manjat pohonnya, boleh?"


"Ha? Satria?" Satria menunjuk dirinya sendiri, membuat Kukuh dan Reno tertawa terbahak karena mereka tahu abangnya itu paling anti kalau disuruh panjat memanjat pohon. Begitu pula dengan Erlan dan Gilang.


Gilang awalnya sempat cemburu, kenapa Ailee mesti meminta Satria. Namun, setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya juga jika Satria yang memetik buah jambunya. Toh, dulu di antara mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa. Mungkin anaknya ingin membalas kejahilan Satria selama ini pada sang daddy.

__ADS_1


"Iya, kenapa? Bang Sat enggak mau?" Wajah cantik Ailee mulai merajuk, membuat Satria menjadi tidak tega melihat wajah yang dulu dia puja bergelayut mendung seperti itu.


"Tanya dulu sama Om Ge, Li. Kalau Om Ge kasih ijin, okelah, Satria akan ambilkan buah jambu itu." Satria menatap omnya dan Gilang langsung mengangguk, setuju.


Satria menghela napas berat kemudian. "Kalian yang enak-enakan makan nangkanya, malah Satria yang kena getahnya," gerutunya sambil berjalan menuju tangga yang tadi dipakai Gilang untuk memetik buah jambu.


"Bang Sat, hati-hati! Biasanya, banyak ulat bulu di pohon jambu!" seru Reno sambil berlalu untuk kembali ke dalam karena dia belum mandi.


Satria sempat ragu, tapi demi melihat ibu dari sang keponakan yang menatapnya dengan penuh harap, mau tidak mau Satria memberanikan diri menaiki anak tangga dan kemudian berpindah ke pohon jambu. 'Ayo, Sat! Kamu pasti bisa! Jadilah ksatria seperti namamu!' seru Satria dalam hati, menyemangati diri sendiri.


"Kamu hebat, Ai. Bisa menghilangkan phobia Satria pada ketinggian pohon," ucap Erlan sambil mendongak melihat ke arah Satria yang sudah sibuk memetik buah jambu dan menyimpan di dalam kantong kresek.


"Phobia?" Ailee mengerutkan dahi.


"Ya. Dulu sewaktu kecil Satria yang bandel pernah terjatuh dari pohon mangga yang tinggi hingga mengalami koma beberapa hari. Setelah itu dia jadi takut dan tidak berani lagi manjat pohon," terang Gilang dan Ailee mengangguk-angguk.


"Kok sekarang Bang Sat berani?" tanyanya kemudian.


"Karena terpaksa, Ai. Daripada uang jajannya dipotong sama suami kamu, kalau tidak mau menuruti keinginan istrinya," sahut Erlan menjawab kebingungan Ailee.


"Nih, jambunya." Setelah bersusah payah, Satria berhasil membawa sekantong jambu merah delima yang kemudian dia berikan pada Ailee.


"Mulai besok, uang saku Satria ditambah ya, Om. Kalau enggak aku sumpahin anak Om Ge wajahnya akan mirip denganku." Satria terkekeh sambil berlalu untuk segera mandi. Sementara Erlan yang masih berada di sana tersenyum seraya geleng-geleng kepala.


"Enak aja, mirip sama kamu! Aku yang udah capek-capek bikin, Sat! Dia harus mirip denganku!" seru Gilang tidak terima.


"Yakin, capek, Ge?" ledek Erlan.


Gilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Capek memang, Bang, tapi banyak enaknya. Bikin nagih malah," balas Gilang kemudian seraya tersenyum penuh arti menatap sang istri.

__ADS_1


☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕


__ADS_2