
Penjaga rumah masih setia berdiri, menanti jawaban dari tuan mudanya. "Maaf, Tuan Muda. Apa yang harus saya sampaikan pada tamu Anda?"
Gilang masih terdiam. Kelihatannya pemuda itu sama sekali tidak tertarik untuk melihat siapa tamunya. Mengetahui sang cucu tidak juga merespon pertanyaan penjaga rumah, sang oma angkat bicara.
"Baiklah, kami akan segera keluar," putus sang oma dan penjaga rumah itu segera berlalu dari sana setelah membungkuk hormat kepada semuanya.
"Ge, ayo keluar!" ajak sang oma yang sudah beranjak. Keluarga yang lain pun sudah berdiri, ingin ikut memastikan siapa yang mencari Gilang, termasuk Ailee.
"Ge malas Oma. Udah, biarkan sajalah dia. Kalian tidak usah keluar!" larang Gilang.
Ailee kemudian kembali duduk. Menepuk pelan paha sang suami seraya menatap netra suaminya. "Mas, keluar dulu, yuk dan kita pastikan siapa yang mencari Mas," ajak Ailee dengan lembut.
Gilang menghela napas panjang. Sejujurnya, dia sangat malas untuk menemui tamu yang dia duga adalah wanita yang telah meninggalkan keluarga demi laki-laki lain. Hanya saja, pemuda tampan tersebut tidak pernah dapat menolak permintaan istrinya.
"Baik, Sayang, kita keluar. Tetapi jika orang yang mencariku adalah benar wanita itu, tolong jangan paksa aku untuk menerimanya," mohon Gilang dan Ailee mengangguk, setuju.
Sang oma dan keluarga lain yang melihat cara Ailee membujuk Gilang, tersenyum. Mereka merasa turut berbahagia karena Gilang menemukan seorang pendamping hidup yang dapat mengerti pemuda itu sepenuhnya. Mereka semua kemudian segera keluar, dengan Gilang berjalan paling belakang didampingi oleh Ailee.
Sepanjang berjalan menuju halaman, Ailee terus menggenggam tangan sang suami yang berkeringat. Sepertinya, Gilang merasa tidak nyaman dengan kehadiran wanita yang belum diketahui secara pasti, siapa dia? Hanya saja, dugaan Gilang begitu kuat bahwa wanita itu pastilah mamanya.
Setibanya di halaman, mereka semua mematung setelah melihat seorang wanita berpakaian sederhana dan tubuhnya sangat kurus. Wanita paruh baya tersebut terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya. Netranya berkaca-kaca menatap keluarga besarnya satu-persatu.
Bibir wanita yang tidak lain adalah mama kandung Gilang tersebut bergetar, hendak menyebut sebuah nama ketika netranya menangkap wajah sang putra. Namun, segera dia urungkan kala melihat kilat amarah di netra Gilang. Wanita yang wajahnya mulia berkeriput itu kemudian menundukkan kepala.
"Irna, kamukah itu?" Budhe Ris mendekati wanita yang diyakini sebagai sang adik kandung. Mamanya Erlan tersebut tidak kuasa menahan air mata yang kemudian meluncur bebas, melihat adik kandungnya yang terlihat lebih tua dari dirinya.
__ADS_1
Budhe Ris kemudian memeluk wanita ringkih tersebut. Yang dibalas oleh mamanya Gilang dengan isakan. "Maafkan aku, Mbak," ucapnya disela isak tangis.
Semua ikut terharu melihat pertemuan kakak beradik yang sudah berpisah belasan tahun tersebut, termasuk Ailee yang belum mengenal sang mama mertua. Namun, tidak demikian dengan Gilang yang masih menyimpan kemarahan pada sang mama. Sementara Erlan dan Nenek Amira yang selama ini membersamai Gilang bersikap biasa saja.
Budhe Ris melepaskan pelukannya. "Kamu kenapa bisa seperti ini, Dik?" tanyanya seraya memindai wajah tua sang adik.
"Aku sakit, Mbak, sejak Frans meninggal setahun yang lalu. Viona tidak peduli padaku dan malah mengusirku dari rumah. Aku jadi gelandangan selama di sana. Ingin pulang tapi tidak bisa." Pelan Mama Irna berkata dan kemudian kembali menangis mengingat perjalanan hidupnya.
"Beruntung, kemarin ada orang baik yang menolongku dan kemudian membelikan aku tiket pesawat. Dia juga memberiku uang untuk perjalanan pulang," lanjutnya, sambil menyeka air mata.
Mendengar cerita pilu sang adik yang dulu begitu angkuh meninggalkan keluarga demi laki-laki bule yang dia cintai, tetapi ternyata putri dari pria itu yang telah dirawat oleh Mama Irna malah menyia-nyiakannya, membuat Budhe Ris kembali memeluk sang adik.
"Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, Irna, dan kini kamu tahu 'kan, kalau darah lebih kental dari air?" tutur Budhe Ris, dengan lembut. "Dulu, kamu tinggalkan anakmu yang sedang butuh perhatian demi mengasuh anak orang lain dan sekarang, anak yang kamu asuh malah membuangmu," lanjutnya yang begitu mengena di hati Mama Irna.
Mama Irna mengangguk, setuju dengan ucapan sang kakak. "Iya, Mbak. Aku sangat menyesal, tetapi penyesalanku sudah benar-benar terlambat karena sepertinya Ge masih sangat marah padaku, Mbak," ucapnya pelan, seraya melirik Gilang.
Mamanya Erlan menepuk-nepuk lengan sang adik dan menyudahi obrolannya. Budhe Ris kemudian memberikan kesempatan pada yang lain untuk menyalami Mama Irna. Erlan juga menyalami tantenya, tetapi hanya sekadarnya saja. Pemuda itu juga ikut merasakan bagaimana kekecewaan dan kesedihan Gilang saat Mama Irna tinggalkan.
Begitu pula dengan sang oma. Wanita tua itu juga menyalami mantan menantunya, tetapi tanpa ekspresi. Nenek Amira mencoba untuk tidak menyimpan dendam meskipun tetap belum bisa mengikhlaskan karena Mama Irna telah membuat sang putra meregang nyawa dan cucu kesayangannya terluka batinnya.
"Ma, maafkan Irna," ucapnya seraya bersimpuh di kaki sang mantan ibu mertua, setelah mereka bersalaman. Mamanya Gilang itu kembali menangis tersedu sambil memeluk lutut Nenek Amira.
"Bangunlah Irna, jangan seperti ini." Nenek Amira membantu mamanya Gilang untuk bangkit.
Melihat itu semua, Gilang membuang muka. Baginya, ini semua tidak lebih dari sekadar drama yang dilakukan oleh wanita yang dulu dia panggil mama. Gilang sama sekali tidak merasa terharu mendengar cerita Mama Irna, apalagi bersimpati pada penderitaan yang dialami mamanya.
__ADS_1
Ailee yang menyadari sikap sang suami, kemudian memeluk lengan suaminya. Ailee mendongak, menatap wajah sang suami seraya tersenyum. Wanita cantik itu kemudian berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Gilang.
"Ai boleh enggak salim sama ibu itu? Bukan apa-apa, Mas, beliau 'kan tamu di rumah ini, ya? Jika Mas memposisikan Ai sebagai ratu di hati Mas dan juga ratu di rumah kita, itu artinya Ai adalah tuan rumah, bukan? Dan Ai ingin menjadi tuan rumah yang baik, yaitu menyambut setiap tamu yang datang dengan kedua tangan terbuka."
Gilang menghela napas panjang. Istrinya itu selalu saja punya cara untuk meluluhkan hatinya. Gilang kemudian menatap Ailee. "Boleh, tapi please ... jangan paksa aku," balas dan pinta Gilang seraya menatap dalam netra sang istri.
Ailee yang dapat menangkap masih ada luka di sana, mengangguk. Dia berjanji pada diri sendiri tidak akan memaksa Gilang untuk menerima kehadiran mamanya. Hanya saja, Ailee akan berusaha pelan-pelan untuk menyatukan kedua daging yang berserak karena sebuah kesalahan di masa silam.
Ailee yakin, di lubuk hati sang suami yang terdalam, masih tersisa rasa sayang untuk sang mama. Dia saja yang tidak pernah dianggap sejak lahir, masih memiliki sedikit rasa empati pada papa dan kedua kakaknya. Apalagi, Gilang pernah merasakan kasih sayang dari mamanya dalam kurun waktu yang cukup lama, pasti masih tersimpan momen indah itu di sana.
"Terima kasih, Mas. Ai makin sayang, deh, sama Mas," bisik Ailee dan dengan mengabaikan rasa malu, istri belia Gilang itu kemudian mencium pipi suaminya.
Gilang tersenyum dikulum. Semua keluarga yang melihat kejadian itu pun ikut tersenyum. Sementara Erlan, berdecak. "Pamer, terus!" serunya, pura-pura kesal.
Mamanya Gilang yang memberanikan diri menatap ke arah sang putra, tersenyum samar. Meskipun Mama Irna belum mengenal siapa wanita muda itu, tetapi dia dapat menebak bahwa wanita berhijab tersebut pastilah wanita yang spesial bagi sang putra. 'Apa dia istrimu, Ge? Cantik dan kelihatannya sangat menyayangimu.'
"Mas, Ai boleh melakukan apapun kan, di rumah Ai sendiri? Kecuali memaksa Mas untuk menerima ibu itu?" bisik Ailee bertanya sekali lagi, sebelum mendekati mamanya Gilang dan dibalas anggukan kepala oleh suaminya.
Ailee kemudian mendekati Mama Irna. "Assalamu'alaikum, Mama. Kenalkan, Ma. Saya Ailee, istri Mas Gilang," ucapnya memperkenalkan diri dan kemudian menyalami Mama Irna dan mencium punggung tangan wanita kurus tersebut dengan takdzim.
Melihat betapa sopannya istri Gilang terhadap dirinya, Mama Irna kembali menangis dan kemudian memeluk Ailee. "Terima kasih banyak ya, Nak, kamu mau menerima mama," tutur Mama Irna di sela tangisnya.
Setelah cukup lama memeluk Ailee, mamanya Gilang itu kemudian memegang kedua tangan menantunya. "Nak, tolong jaga dan sayangi putra mama, ya," pesannya yang seolah hendak kembali pergi jauh.
"Memangnya, Mama mau kemana? Apa Mama tidak mau ikut menjaga Mas Gilang?"
__ADS_1
☕☕☕ bersambung ... ☕☕☕