Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 10


__ADS_3

BANDARA INTERNASIONAL JFK (JOHN F. KENNEDY)


Jingga dan Manda berada di Bandara untuk pulanh menuju ke Korea Selatan karena tugas mereka sudah selesai di New York.


Saat itu Jingga dan Manda sedang duduk bersama dengan Rizki suami Manda. Rizki mengantar Manda hingga Bandara saja. Nanti ia akan menyusul Manda ke Korea jika urusannya sudah selesai di New York.


Jingga sedang menunggu Langit yang katanya akan mengantarnya ke Bandara. Tapi hingga kini ia tak muncul.


"PHP. Dasar !!" Ucap Jingga.


"Siapa? Aku?" Ujar Langit yang datang dari arah belakang Jingga duduk.


"Nyebelin !!" Ucap Jingga dengan memalingkan wajahnya dsri Langit.


"Aku kesini ninggalin meetingku di kantor. Di hujat habis-habisan sama sobat-sobatku yang aku tinggal saat tengah-tengah meeting. Sekarang sudah sampai sini, kamunya memalingkan wajah." Terang Langit kepada Jingga.


Manda dan Rizki yang sedang pergi mencari camilan membiarkan saja mereka berdua.


"Kamu tuh ngabarin dong. Biar akunya gak khawatir." Ujar Jingga.


"Maaf... gak maksud buat marah kok." Ucapnya.


"Cuma kesel." Sahut Langit dengan tawanya.


Membuat Jingga yang kala itu menekuk wajahnya menjadi sumringah kembali.


"Pesawat kamu jam berapa take off nya?" Tanya Langit.


"10.30, kenapa?"


"10 menit lagi ya?"


"Untuk?"


"Untuk puas-puasin lihat wajah kamu"


Langit sukses membuat Jingga tersipu malu. Yang justru membuat Langit semakin gemas dengan Jingga.


"Ngga... aku mau bicara serius. Dengar aku baik-baik ya. Karena aku gak akan mengulanginya kembali." Ujar Langit serius.


"Ingat satu hal ini. Kita tidak berpacaran itu keputusan kita berdua. Biar kita enjoy dengan status kita sekarang." Ujar Langit.


"Tapi bukan berarti kita tidak saling sayang. Justru karena kita saling sayang, makanya kita jaga status ini. Untuk menuju arah yang lebih serius nantinya." Terang Langit.


"Kalau ada yang tanya kamu sudah punya pasangan atau belum, bilang. Aku calon suamimu. Bilang kepada siapapun yang tanya padamu. I'm yours and you're min**e."


"Jingga, aku baru bisa kasih kamu ini." Langit memberikan kalung berlambang L&J yang menyatu di tengah kerlipnya kalung. Aku tidak ingin ada ikatan tunangan. Karena aku ingin kita langsung menikah."


"Aku menghargai keputusanmu untuk mencapai tujuan hidupmu. Lulus dengan status pendidikan S2 & S3 mu di usia mudamu. Terima kasih Jingga, karena kamu sudah memikirkan bagaiman aku dan keluargaku. Kali ini, biar aku yang berjuang untuk kita. Kamu fokus dengan belajarmu."


"Biar aku yang urus tentang keluargamu dan keluargaku. Biar aku yang urus dan menata masa depan kita. Agar ketika kamu datang, aku siap sebagai lelaki yang mampu menjadi panutanmu."


"Kita pantaskan diri kita ya, Ngga... aku juga sedang berusaha untuk memantaskan diriku di depan kedua orangtuamu agar menjadi lelaki yang bisa dipercaya untuk menjaga anaknya di dunia maupun di akhirat nanti."


"Kalau kamu lelah, istirahatlah. Rehatlah sejenak. Tapi bangkit lagi. Ingat kembali, bahwa aku sedang menunggumu. Aku tunggu kamu disini kembali next month." Jelas Langit kepada Jingga yang saat ini sedang berderai air mata mendengar perkataan Langit.


Panggilan untuk pesawat Jingga dan Manda sudah berkumandang. Mereka menuju gate untuk memasuki pesawat. Namun, Jingga kembali berbalik dan memeluk Langit. Sekaliii... saja.


Langit yang terkejut dengan sikap Jingga, langsung memeluknya erat. Pecah sudah tangis Jingga. Semakin erat Langit memeluk Jingga dan mengelus lembut kepala Jingga.


Pelukan mereka sudah mengungkapkan kasih dan sayang mereka berdua.


"Sudah, ya... Mm?" Ucap Langit yang mengusap air mata Jingga hingga sesenggukan.


"Janji sama aku." Ujar Jingga yang berusaha mengatur tangisnya.


"Iya. Kamu mau aku janji apa?" Ucap Langit dengan lembut.


"Kamu harus jujur sama aku. Apapun itu. Ngerti?" Ujar Jingga kepada Langit.


Langit yang paham maksud Jingga, langsung mengangguk dan memeluk Jingga kembali. Akhirnya walau dengan berat hati, Jingga masuk ke pesawat.


*****


Setelah acara wisuda S1 nya di Korea, Pak Budiono, Bu Ratih, serta Biru adik bungsu Jingga kembali ke apartment Manda dan Jingga. Saat itu Manda tak lagi tinggal disana. Karena suaminya menjemputnya. Ia kembali ke Indonesia sekarang.


Saat ini Jingga dan keluarganya sedang bersiap untuk mengepak barang-barangnya untuk segera berangkat ke Harvard University.


Bu Ratih membantu Jingga mengepak barang-barangnya yang tak banyak ia bawa ketika tinggal di Korea.


"Pak, Bu. Jingga mau ngobrol boleh?" Tanya Jingga yang mematikan TV dan duduk di tengah-tengah bersama dengan kedua orangtuanya.


"Mau ngobrol opo to ndok?" Tanya Bu Ratih dengan gaya khas Yogyakartanya.

__ADS_1


"Bu, Ibu inget sama Langit?" Tanya Jingga kepada Ibunya yang memang cukup sering menanyakan Langit kepada Jingga.


"Inget dong... kalau yang ganteng-ganteng, Ibuk mah inget." Ujarnya yang mengundang tawa Pak Budiono dan Biru serta Jingga.


"Ibuk mah... serius ini Jingga." Ucap Jingga dengan mencibikkan bibirnya.


"Hahaha... iya, iya ndok. Bicaralah" Ujar Pak Budiono.


"Waktu Jingga ada kerjaan yang terbang ke Amerika kemarin, Jingga ketemu sama Langit, Buk." Ucapnya dengan mata berbinar.


Bu Ratih sudah tau sejak awal bahwa Jingga dan Langit itu saling menyanyangi. Hanya saja mereka sedang mempertahankan hati mereka untuk mencapai tujuan hidupnya masing-masing.


"Langit mau serius sama Jingga, Buk, Pak." Ucapnya yang masih menundukkan wajahnya.


"Tapi, sebelum Langit ketemu sama Bapak dan Ibu, ia ingin memantaskan dirinya untuk menjadi pilihan Bapak sama Ibuk. Jingga juga gitu kok Buk. Walau kasta harta kita jauh dengan Langit. Tapi setidaknya pendidikan Jingga setara dengan mereka. Jingga sama Langit sedang berjuang, Buk, Pak. Berjuang untuk saling memantaskan untuk kedua keluarga."


Jelas Jingga yang membuatnya entah mengapa meneteskan air mata. Bu Ratih memeluknya erat dan Pak Budiona menepuk pundak Jingga dengan pelan.


"Ndok, mulia sekali tujuan kalian. Semoga Allah merestui kalian ya... Apapun itu jalan yang kamu tempuh, semoga diberikan kelancaran dan kemudahan untuk kalian." Ujar Bu Ratih.


Tangis Ibu dan anak itupun menyeruak hingga Bapak dan Biru menyingkir dari situ dan pergi ke atap rumah.


"Gak nyangka ya, Pak. Mba Jingga udah gede. Udah mau di lamar aja. Orang kaya Pak." Ucap Biru dengan candanya.


"Kamu tuh, Ru. Ada juga kamu tuh yang makin gede. Ngomongnya udah kayak orangtua. Dewasa sebelum waktunya kamu. Hahaha..." Ujar Pak Budiono.


"Hahaha... bapak mah tau aja. Biru kayak gini juga kan Bapak yang ngajarin." Pecah sudah tawa mereka.


*****


2014, New York


Hari itu Jingga dan keluarganya mengantar Jingga hingga New York. Memastikan bahwa anak perempuannya akan baik-baik saja.


Saat mereka tiba di Bandara JFK, New York. Langit sudah menyambutnya.


"Assalamualaikum, Bu, Pak..." Sapa Langit dengan sopan dan mencium tangan Pak Budiono dan Bu Ratih.


"Kamu apa kabar, Le?" Tanya Bu Ratih kepada Langit.


"Alahmadulillah, baik Bu. Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" Tanya Langit dengan ramah.


"Bapak mah oke, oke aja. Ibunya Jingga tuh yang uwak-uwek di pesawat. Hahaha..."Ujar Pak Budiono.


Mereka berbincang satu sama lain. Bercerita tentang keluarga masing-masing. Langit membawa mereka makan bersama disebuah restoran yang tidak terlalu mewah tapi nyaman untuk mereka singgahi.


"Pak, Buk. Langit mohon izin untuk berbicara sebentar. Boleh?" Tanya Langit dengan suara yang lembut.


"Boleh Langit. Bicaralah." Ucap Pak Budiono.


"Langit bermaksud untuk menjalin hubungan yang serius dengan putri bapak, Jingga. Hubungan serius yang saya maksud adalah mempersunting putri bapak, Aruna Jingga Maharani." Ujar Langit.


"Nak, Langit. Bapak sangat berterima kasih dan senang sekali dengan maksud baik dari Nak Langit. Tapi apakah kedua orangtuamu sudah mengetahui tentang rencanamu ini?" Tanya Pak Budiono.


"Sudah, Pak. Saya sudah berbicara dengan kedua orangtua saya." Ujar Langit dengan sopan.


"Bapak senang jika bisa kalian berdua, bersatu. Tapi bagaimana dengan pendidikan kalian? Apa kalian akan berhenti begitu saja?" Tanya Pak Budiono.


"Tidak, Pak. Langit dan Jingga akan selesaikan pendidikan S2 & S3 kami, setelah itu kami akan langsungkan pernikahan kami."


"Tuntutlah dulu ilmu kalian. Pernikahan, jika kalian berjodoh pasti di takdirkan bersama. Yang jelas, Bapak dan Ibu sudah merestui kalian." Ujar Pak Budiono.


"Langit, pesan bapak hanya satu. Pahamilah lebih dalam tentang sosok laki-laki dalam agama Islam itu seperti apa. Karena kamu seorang imam dan Jingga yang nantinya akan menjadi makmum kamu. Jangan hanya bekal ilmu dunia. Tapi bekali juga rumah tanggamu nantinya dengan ilmu dunia dan akhirat." Terang Pak Budiono kepada Langit.


"Baik, Pak. Akan Langit lakukan. Pasti." Ujarnya dengan mata berbinar karena sudah mendapat restu dari kedua orangtua Jingga.


Perbincangan hari itu cukup menegangkan tapi lancar dan mudah. Lampu hijau dari Pak Budiono, Bu Ratih dan Biru udah nyala tinggal di sahkan saja.


******


5 Tahun kemudian


*****


2019, Jakarta, Indonesia


Detik berganti menjadi jam. Jarum jam berputar menjadi hari. Hari berubah menjadi bulan. Bulan berpindah menjadi tahun.


5 tahun sudah Langit dan Jingga menuntut ilmunya di Universitas bergengsi dunia. Jingga dan Langit yang mampu menyelesaikan pendidikan S2 & S3 nya.


Mereka mencapai puncak tersebut tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan Jingga yang harus tinggal di Negeri Paman Sam selama kurang lebih 1 tahun 8 bulan untuk meluluskan gelar S2 nya.


Saat itu Langit dan Jingga masih bersama. Mereka masih biss bertemu walau hanya sebulan dua kali. Tapi setidaknya mereka tetap dalam atap yang sama yaitu Negeri Paman Sam.

__ADS_1


Namun, ketika Jingga menyelesaikan S2 nya di Harvard University. Ia mendapat panggilan untuk menerima beasiswa dari Oxford University. Jadilah Jingga dan Langit berpisah kembali.


Meski masih dalam satu Benua yang sama yaitu Benua Eropa. Namun, Negars mereka berbeda. Jingga di London. Sedangkan Langit di Jerman.


Apaka Langit dan Jingga tidak mempunyai krisis kepercayaan satu sama lain?


Jawabannya, punya. Mereka sempat tidak saling mempercayai ketika keduanya disibukkan dengan kegiatan masing-masing.


Namun, mereka ingat tujuan awal mereka berjuang dan berkorban seperti ini karena mereka ingin bersatu dan membanggakan bagi semuanya. Bagi kedua keluarga mereka.


Berarti mereka tidak bertemu selama 3 tahun terakhir sewaktu mereka S3?


Jawabannya, iya. Sama sekali tidak bertemu. Tapi tetao berkomunikasi dengan lancar. Entah melalui telpon atau video call. Mereka jarang mengirim pesan melalui chat. Lebih sering voice note atau video call.


Apa Jingga dan Langit pacaran?


Tidak. Mereka tidak pacaran. Makanya mereka memilih untuk menuntut ilmu dahulu sembari membenahi diri mereka masing-masing. Lebih jauh jarak mereka, lebih bagus. Karena itu mampu membuat mereka tak saling bertemu dan fokus dengan tujuannya.


Lalu mereka bertemu kembali di mana?


Di sini. Di pelaminan.


"Saya terima nikahnya Aruna Jingga Maharani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Langit dengan lantang.


"Bagaimana saksi? Sah? Sah?" Tanya penghulu.


"Sah, Sah..." Ujar para keluarga di sana.


"Alhamdulillah..." Ucap Langit lirih dengan sumringah senyumnya.


Saat itu Jingga keluar dengan balutan kebaya brukat putih dengan anggunnya ia berjalan menghampiri Langit dan mencium punggung tangan Langit dengan haru. Langit mencium kening Jingga cukup dalam dan lama. Indah sekali pemandangan kala itu. Sakral.


*****


"Kalau ada yang bilang cinta pertama itu gak bisa bersatu, mungkin itu kamu. Yang belum berjuang penuh untuknya." Ujar Jingga


"Buatku dan istriku, cinta pertama itu yang saling berjuang dan berkorban. Bukan hanya sekedarnya tapi yang dengan keseriusannya." Ucap Langit.


"Kisah cinta pertama kami sejak SMA adalah saling berjalan beriringan tapi saling berjarak. Jarak yang membuat kami tau pentingnya seorang partner hidup. Membuat kami sadar arti saling merindukan." Ujar Langit dan Jingga.


Apa mungkin jatuh cinta dengan orang yang sama setiap hari dan berkali-kali?


"Sangat mungkin. Jika kalian benar menikahinya dengan mencintai kekurangannya yang kalian jadikan itu sebuah kelebihan. Saling mengerti karakter satu sama lain itu penting." Ucap Jingga.


"Mencintai kelebihan seseorang itu sudah biasa. Coba rasakan mencintai kekurangannya. Itu akan membuatmu lebih mencintainya." Ujar Langit yang mencium punggung tangan Jingga dan disambut sentuhan hangat dan lembut di pipi Langit oleh Jingga.


"Lang, mau berapa ronde ntar malem?" Tanya Juna yang sedang memegang kamera video. Sambil tertawa meledek Langit.


"Mas, masih lama?" Tanya Nabila yang berjalan menghampiri Juna dengan perut buncitnya.


Namun, ia hampir terperleset lantai yang licin. Hingga membuat semua berteriak melihatnya. Untungnya ada Juna disampingnya yang segera menopang tubuh Nabila.


"Astagfirullah... Yang... kamu hati-hati." Ujar Juna yang langsung memeluk Nabila dengan rasa cemasnya. Nabila juga sangat takut saat kejadian barusan.


"Sayang, kamu gak apa? Ada yang luka? Yang sakit di sebelah mana?" Tanya Juna sangat mencemaskannya. Juna mendudukkan Nabila di kursi dan memberinya air putih karena terlihat Nabila pucat.


"Jun, Nabila gimana?" Tanya Jingga yang sampai turun dari pelaminan untuk melihat Nabila sahabatnya.


"Perlu panggilin dokter? Atau bawa ke RS aja deh. Pucat banget tuh si Bila." Ujar Langit.


"Mas Jun..." Ucap Nabila yang meremas tangan Juna.


"Iya, sayang kenapa? Ada yang sakit? Mm?" Tanya Juna.


"Perut aku kram. Sakit banget." Ucap Nabila yang meringis menahan sakitnya kram di perutnya.


"Yang mana, sayang? Bilang sama Mas Juna." Ujar Juna yang bingung ia sendiri harus bagaimana.


"Jun, bentar, bentar. Coba mundur dulu deh. Kasih ruang buat Bila." Ucap Jingga yang mendekati Nabila dan duduk di sampingnya.


"Bil, lo denger gue? Ikutin gue ya, Bil." Ujar Jingga.


Jingga mengarahkan Nabila untuk mengatur nafas dan tenang. Karena kram perutnya akibat dari shock yang tadi saat ia jatuh.


"Jun, ajak dulu deh Nabila ke kamar hotel. Istirahat dulu disana." Ujar Langit.


"Iya. Bila... istirahat dulu ya... nanti kalau udah enakan lo boleh kesini lagi. Ya..." Ucap Jingga dengan lembut. Juna mengajak Nabila untuk istirahat di kamar.


Acara pernikahan tetap berjalan meski pengantin tak di pelaminan. Karena sibuk menolong orang. Hahaha...


Saat menaiki tangga pelaminan, kebaya Jingga terinjak oleh kakinya. Hampir saja Jingga jatuh kalau Langit tak segera menop0pangnya.


"Hati-hati, sayang..." Ujar Langit kepada Jingga yang membuat pipi Jingga merona.

__ADS_1


*****


__ADS_2