Langit Jingga

Langit Jingga
Salah paham


__ADS_3

“Jangan memilihkan ku pakaian macam macam!”


Jingga berdecak heran di depan jajaran lemari pakaian yang mengelilingi nya. Ia masih ingat betul bagaimana Langit memperingatkan nya agar tidak menyiapkan nya pakaian macam macam.


‘Gimana mau macem macem, semua bajunya sama! Astaga,” Jingga kembali menghela nafas nya kasar, melihat pakaian Langit yang terkesan sama semua. Celana, Kemeja dan Jas. Dan itu hanya ada tiga warna. Hitam, putih serta Biru. Tidak ada warna lain, bahkan dasi pun juga sama hanya ada tiga warna itu saja.


Cklek!


Jingga sedikit tersentak ketika mendengar suara pintu di buka, dan melihat penampilan Langit yang hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggang nya.


Glek!


Jingga menelan saliva nya dengan kasar ketika melihat tubuh Langit yang tidak memakai baju sama sekali. Hanya handuk itupun di bawah, sehingga Jingga bisa melihat deretan roti sobek yang seolah memanggil nya untuk sekedar bercicip.


Pikiran pikiran kotor nan berdebu hinggap di kepala Jingga. Entah syaiton dari mana, sehingga ia bisa memikirkan sesuatu yang berada di bawah deretan roti sobek suami nya.

__ADS_1


‘Gak boleh!’ rutuk Jingga langsung menggelengkan kepala nya. Ia kembali menarik nafas dalam, lalu memberanikan diri menatap Langit yang kini tengah menatap nya juga dengan dahi berkerut.


“Kamu kenapa?” tanya Langit sedikit bingung, ia pun segera berjalan mendekat, namun dengan cepat pula Jingga memundurkan langkah nya.


“Om pilih baju sendiri aja, Jingga pusing. Mau mandi!” seru Jingga, lalu ia segera berlari meninggalkan walk in closed.


Langit terdiam, ia mencerna tingkah Jingga yang tiba tiba berubah. Berusaha menebak nebak mengapa sikap Jingga berubah secepat itu, hingga tanpa sengaja matanya menatap pakaian nya sendiri dan menemukan warna biru.


‘Apakah dia marah karena warna ini?” gumam Langit mengerut bingung.


‘Shiittt!’ umpat nya kesal.


Sementara itu, Jingga yang sudah sampai di kamar mandi, ia langsung menutup nya dengan cukup keras dan mengunci nya. Berulang kali ia memainkan pernafasan nya agar pikiran pikiran kotor yang mampir di kepala nya segera kabur.


‘Jingga bodoh! Dasar cewek mesuum! Bagaimana bisa kamu fokus melihat itu. Huaaa mata Jingga ternoda, eh bukan hanya mata, tapi kepala Jingga juga kotor banget. Harus keramas, iya keramas. Biar debu debu itu ilang!’

__ADS_1


Jingga segera masuk ke dalam bilik shower dan menyalakan nya tanpa melepas pakaian nya. Cukup lama ia membersihkan diri agar kepala nya tidka memikirkan hal negatif lagi, hingga tanpa sadar hampir setengah jam lebih dirinya berada di dalam kamar mandi. Beruntung, hari ini ia bangun pagi sehingga tidak akan telat ke sekolah karena mandi terlalu lama.


“Kamu marah?” tanya Langit ketika Jingga membuka pintu.


“Hah, marah? Kenapa?” tanya Jingga bingung, is menggaruk kepala nya sekilas, lalu tiba tiba matanya menatap jam dinding di kamar nya.


“Mas bicaranya nanti aja. Udah jam segini, Jingga buru buru!” Setelah berkata seperti itu, Jingga segera berlari menuju walk in closed dan mengganti pakaian nya dengan seragam.


Langit hanya bisa menghela nafas nya dengan kasar karena mengira Jingga menghindari nya. Ia pun segera mencari ponsel nya untuk menghubungi Maxim.


‘Hal—“ jawab Maxim hendak menyaut namun tiba tiba Langit langsung memotong nya.


“Belikan aku pakaian dengan warna lain. Dan bawa ke rumah, gara gara kamu tidak memberikan warna lain di lemari ku. Jingga marah padaku!” ucap Langit datar lalu ia segera memutuskan sambungan telfon begitu saja tanpa membiarkan Maxim menjawab nya kembali.


‘Langit sialaaann!” umpat Maxim begitu kesal karena merasa di permainkan oleh sahabat nya. Langit tidka mengatakan apapun, dan sekarang dengan mudah nya menyalahkan dirinya, "Mentang mentang, nemu yang baru!"

__ADS_1


__ADS_2