
Setelah keluar dari lift, Jingga langsung menghentikan langkah nya. Ia berbalik dan menatap satu persatu wanita yang tengah membawa beberapa berkas di tangan nya.
“Kalian di bayar pacarku cuma buat ghibah ya?” tanya Jingga dengan senyum sinis nya, “Kasihan ya, karena uang nya di hamburin buat bayar karyawan gak tau diri kaya kalian!”
“Heh, jaga ya mulut kamu!” seru salah seorang karyawan yang bernama Farah. Jingga bisa melihat nya dari tanda pengenal yang mereka pakai. Farah, Wina dan Hani.
“Ajarin dong Tante, gimana cara buat jaga mulut? Oops aku lupa, tante aja gak bisa jaga mulut sendiri ya, ckckck. Seperti nya tante harus ngaca dulu deh,” kata Jingga dengan wajah polos nya dan tersenyum sinis.
“A—apa kamu bilang? T—tante? Hah?” Farah mengepalkan tangan nya dengan kuat ketika mendengar Jingga memanggil nya dengan sebutan tante. Umurnya baru dua puluh empat tahun, dan sudah di panggil tante, apakah wajah nya terlihat tua, batin nya marah.
“Terus apa kalau bukan tante? Bunda? Mama? Ibu? Oh jangan harap, karena tante gak akan bisa menikah dengan ayah ku, jadi jangan berharap naik pangkat,” kata Jingga menggelengkan kepala nya seolah takut Farah menjadi ibu nya.
Tentu saja, hal itu membuat ketiga wanita itu tersulut emosi. Mereka tidak menyangka bila Jingga berani bersikap seperti tiu pada mereka.
“Bocah sialan!” pekik Farah yang tak terima dan langsung mendekati Jingga.
__ADS_1
“Tante mau apa? Mau pukul Jingga? Mau tampar? Harusnya Jingga dong yang marah, karena tante berharap mau geser posisi bunda nya Jingga.” Kata Jingga lagi yang semakin menyulut emosi.
Plakkkk!
“Auwhhhss!” keluh Jingga langsung mengusap wajah nya ketika mendapatkan tamparan keras dari Farah.
“Far, lo jangan gila!” seru Hani dan Winda tak kalah terkejut dengan apa yang di lakukan oleh teman nya.
“Sakit gak Tan?” tanya Jingga malah balik bertanya kepada Farah, padahal dirinya yang habis kena tamparan namun ia malah menanyakan keadaan pelaku.
Farah hanya diam dengan wajah bingung nya, begitu pun dengan Wina dan Hani, namun kebingungan itu terjawab ketika tiba tiba Jingga membalas tamparan Farah dengan berkali kali lipat.
Farah yang tidak siap mendapatkan serangan dari Jingga, seketika tubuh nya langsung terjatuh ke lantai, dengan sudut bibir yang sampai mengeluarkan darah segar walau sedikit. Mantap bukan, batin Jingga.
“Auh, tangan Jingga sakit ih. Tante kulit nya kaya kulit badak ya, keras banget. Nih lihat tangan Jingga sampai merah masa,” ucap Jingga seolah terkejut melihat telapak tangan nya yang memerah.
__ADS_1
“Aaarrrkkhhhh!” pekik Farah sangat marah, ia pun langsung berdiri dan mendorong tubuh Jingga sampai terjatuh ke lantai.
“Gue udah gak bisa sabar sama bocah kaya lo!” tantang nya dengan nafas memburu.
“Far, inget ini masih di kantor. Jagan begini,” ujar Wina mencoba memperingati, bahkan kini pertengkaran Jingga dan Farah mengundang perhatian karyawan karyawan lain.
“Diem lo Win, lo gak lihat bibir gue sampai kaya gini hah! Harga diri gue di injek injek sama pelacurr satu ini!”
“Jaga mulut tante ya!” seru Jingga tak terima.
“Mau apa lo hah! Bocah kemarin sore mau ari gara gara sama gue. Heh, kalau lo gak di pake sama pak Langit, gak mungkin lo bisa berlagak kaya gini. Cewek murahan dan rendahan kaya lo itu gak pantes ada di muka bumi ini.” umpat Farah menatap tajam pada Jingga.
“Tante jangan menguji kesabaran Jingga,” gumam Jingga pelan namun terdengar penuh penekanan. Tangan nya sudah mengepal dengan sangat kuat, rendahan, murahan. Hatinya begitu sakit mendengar dua kata itu, bila Langit yang mengatakan ia tidak akan marah. Namun siapa wanita itu berani mengumpat nya seperti itu.
“Apa? Lo pikir gue takut sama lo? Jangan mentang mentang lo sugar baby bos gue, gue bakal tunduk juga sama lo, cuih. Gak akan pernah!” kata Farah mendengus marah.
__ADS_1
“Lo pikir gue juga takut!” seru Jingga ikut murka, dan terjadilah adu kekuatan fisik antara Jingga dan Farah. Keduanya bak orang kesurupan yang tidak perduli atau takut menjadi tontonan para karyawan, hingga tiba tiba ...
“Ada apa ini!”