Langit Jingga

Langit Jingga
Berlayar


__ADS_3

Entah sejak kapan, Langit dan Jingga tidur berpelukan, karena ketika Jingga membuka mata, ia langsung terkejut ketika melihat sebuah dada bidang tepat berada di depan wajah nya. Tidak sampai di situ keterkejutan Jingga, ia semakin terkejut ketika merasakan pergerakan di bawah sana yang tak lain adalah kaki suaminya yang tengah melingkar di kaki nya dan jangan lupakan tangan mereka saling berpelukan.


Jingga merasa detak jantung nya semakin tak beraturan, hingga membuat tangan nya sedikit bergetar karena gugup.


“Om— eh Mas ... bangun,” bisik Jingga begitu lirih karena merasa tidak bisa bergerak sedikit pun.


Bukan bangun atau membuka mata, Langit malah semakin mengeratkan pelukan nya hingga membuat jantung Jingga semakin tak sehat.


‘Gapapa, cuma pelukan. cuma di peluk, gapapa. Tapi kalau kelamaan jantung ku bisa meledak,’ rengek Jingga di dalam hati dengan tangan yang selalu menyentuh dada nya.


Jingga terus menggerutu dan bergumam, berusaha menguatkan hati agar bisa terbiasa, hingga tanpa dia sadari bahwa sejak tadi Langit sudah bangun. Langit sengaja ingin melihat reaksi Jingga yang ternyata mampu membuatnya terhibur di pagi hari.


“Mandilah,” ucap Langit tiba tiba melepaskan pelukan nya, hingga membuat Jingga langsung terkejut dan menatap Langit dengan mulut menganga.


“Om udah, eh maksudku, Mas udah bangun?” seru Jingga menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


“Aku bangun setelah mendengar mantra yang kamu rapalkan sejak tadi,” jawab Langit tersenyum tipis lalu ia kembali membelakangi Jingga. Matanya masih sangat berat dan mengantuk karena semalaman ia tidak tidur. Langit baru bisa tertidur sejak pagi subuh itupun karena ia memeluk Jingga yang membuatnya nyaman dan tertidur.


“Ma—mantra?” pekik Jingga langsung memukul bahu Langit dengan kesal, namun ternyata Langit tidak merasa kesakitan yang ada laki laki itu malah tergelak.


"Memang nya Jingga dukun, pakai mantra segala!"


“Aduh aduh udah hahahaha!” Dengan cepat Langit berbalik dan langsung mencekal kedua tangan Jingga hingga membuat keduanya saling menatap dengan posisi Langit yang tidur telentang dan Jingga duduk di samping Langit.


Deg!


“Jingga .. “ panggil Langit dengan suara serak khas bangun tidur nya, ( Inget serak bangun tidur, bukan serak lain ya)


“Ji—Jingga mau mandi,” gadis itu berusaha melepaskan tangan nya dan beranjak dari tempat tidur, namun Langit tak membiarkan nya, Langit malah menarik tangan Jingga membuat gadis itu terjatuh dan menimpa dada bidang Langit.


"Kita harus bicara," ucap Langit membuat Jingga langsung terdiam, “Aku tahu, kita belum lama saling mengenal. Mungkin cinta itu belum ada tumbuh di hati masing masing, tapi—“

__ADS_1


“Tapi Jingga udah cinta sama Om, eh Mas.” Saut Jingga dengan cepat memotong ucapan Langit, namun baru sedetik ia tersadar dan langsung menutup bibir nya rapat rapat.


Langit tersenyum tipis, lalu tangan nya mengulur mengusap wajah Jingga dengan begitu lembut,


“Benarkah?”


Lagi dan lagi, Jingga spontan mengangguk, namun beberapa detik kemudian ia langsung menggelengkan kepala nya dengan cepat dan berulang.


Hingga membuat langit kembali terkekeh melihat tingkah Jingga yang menurutnya sangat menggemaskan. Langit tidak tahu sejak kapan, namun kini dirinya sudah bisa menerima kehadiran Jingga. Ia kembali teringat dengan kata kata Nathan beberapa hari yang lalu, yang mengatakan bahwa ‘Tidak ada yang tidak menyukai Jingga. Gadis itu begitu ceria dan mampu membuat orang di sekitarnya bahagia.’ Langit akui itu memnag benar, dan ia sudah memikirkan matang matang semalaman penuh.


“Buat aku jatuh cinta padamu,” ucap Langit sambil kini jemari tangan nya semakin turun hingga sampai pada bibir Jingga yang begitu mungil namun bila sudah berbicara bak sebuah petasan pernikahan.


“Meskipun umur kita terpaut begitu jauh, tapi aku tidak mau melepaskan mu. Prinsip ku sejak dulu, kita hidup sekali, menikah pun hanya satu kali. Aku akan berusaha untuk membuat kamu nyaman bersama ku, dan aku akan berusaha semampu ku untuk membahagiakan kamu. Seperti janji ku pada Ayah."


Untuk sejenak, Langit menarik nafas nya begitu panjang, "Kita mulai semuanya dari awal. Karena kita sudah menikah, jadi kita sama sama berlayar, berjuang menuju kebahagiaan, Jingga Will you spend your time with me? Dan menjadi ibu dari anak anakku?”

__ADS_1


__ADS_2