
"Sayang, baju aku yang warna biru di mana ya?" Tanya Langit kepada Jingga sang istri. Langit sibuk mencari kaos birunya yang akan ia pakai untuk terbang ke Bali.
"Mas, kan tadi Jingga udah siapin di atas kasur. Udah sama celananya." Ujar Jingga yang baru selesai mandi.
Selesai mandi berarti kan pakai handuk aja ya?
Hhmm...
Jingga hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian dada, perut dan atas lututnya. Sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya. Menarik untuk dilihat Langit.
Langit yang juga bertelanjang dada memperlihatkan rerumputan di bagian dadanya sangat menarik perhatian Jingga.
"Nah, itu ada kan?" Tanya Jingga kepada Langit yang saat ini sedang bersembunyi dari rona pipinya melihat istrinya yang sangat menggoda hasratnya.
"Hehehe... baru lihat." Ujarnya dengan cengiran kudanya.
"Dasar, Mas Langit. Hehe..." Ucap Jingga yang mengelus pipi Langit.
"Pesawat kita jam berapa deh, Mas?" Tanya Jingga yang sambil memakai pakaiannya di ruang ganti.
"Jam 4 kita take off, dek. Habis ini kita langsung berangkat ke bandara, ya." Ujar Langit yang sedang memakai jaket warna birunya.
"Okay, aku lagi pakai jilbab sebentar." Jawab Jingga.
Setelah mereka berganti pakaian dan bersolek, mereka bersiap menurunkan kopernya satu persatu untuk acara resepsi anak muda di Bali.
Jingga yang mengenakan long dress polos warna navynya dengan padu padan jilbab abu-abu polos serta kets shoes navynya terlihat sangat imut.
Sedangkan Langit yang memakai pakaian casual terlihat tampan saat itu. Ia memakai celana jeans panjang, sports shoes, t-shirt dan jaket biru.
Siap meluncur ke Bali
*****
BANDARA SOETTA
Juna, Nabila, Fahri, Chika dan Mala sudah berada di Bandara terlebih dahulu. Tak lama disusul oleh Daffa. Kemudian datang pasutri baru, Langit dan Jingga.
"Hallo..." Sapa Jingga dan Langit kepada teman-temannya.
"Huuaa... Jinggaaaaa kangeeenn..." Ucap Chika yang berhambur memeluk Jingga ketika bertemu dengannya.
"Chikaaa... kangeeenn..." Ujar Jingga yang langsung menyambut pelukannya Chika.
"Gue dong... mau... di peluk..." Ucap Mala yang langsung ikutan nimbrung untuk berpelukan dengan Jingga dan Chika.
"Nasib bumil ya... gak bisa gerak banyak. Hahaha..." Ujar Nabila yang masih duduk anteng di kursi tunggunya. Tak banyak berbicara, mereka langsung berpelukan.
Terlihat perbedaan antara perempuan yang heboh dah laki-laki yang biasa aja pas ketemu meski mereka kangen-kangenan juga. 😄
"Apa kabar bro?" Tanya Langit kepada Juna, Fahri dan Daffa, yang sumringah sekali dan saling menepuk pundak satu sama lain serta memberikan high five dengan teman-temannya.
"Baik, brur. Pengantin baru gimana nih? Lancar? Hahaha..." Tanya Juna dengan senyum jahilnya.
"Lo, Jun. Otak lo gak jauh dari ************ dah. Wkwkwk..." Sahut Fahri.
"Bodoamat, gue udah punya istri ini. Emang lo? Gak ada yang bisa disalurkan. Hahaha..." Ujar Juna yang sukses membuat Fahri diam seribu bahasa dan hanya mencibikkan bibirnya.
"Perasaan yang pengantin baru kan si Langit sama Jingga. Kenapa lo berdua yang heboh deh?" Tanya Daffa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Langit hanya tertawa lirih melihat tingkah laku teman-temannya. Saat itu ponsel Langit berdering. Tertera di layar hanya nomer tak ada nama jelasnya.
"Assalamualaikum" Sapa Langit yang mengangkat telepon.
"Hai, Langit." Sapa suara perempuan dari kejauhan sana. Saat itu Jingga sedang berjalan menghampiri Langit dan duduk di sebelahnya.
"Maaf, siapa ya?" Tanya Langit dengan ketus. Jingga yang melihatnya langsung menengoknya karena jawaban suaminya begitu ketus.
"Perempuan yang pernah kamu khianati." Ujarnya.
Langit tak menanggapi telepon tersebut. Ia langsung mematikan ponselnya. Jingga yang memperhatikannya sejak tadi, akhirnya bertanya juga karena penasaran.
"Siapa Mas yang telepon?" Tanya Jingga dengan tatapan mata sendunya.
"Gak tau. Gak jelas." Jawab Langit dengan bersungut.
"Mas..." Ucap Jingga dengan mengelus lembut lengan Langit.
"Aku gak tau, dek. Gak ada nomernya dan saat Mas tanya, dari siapa. Dia malah bilang "dari wanita yang pernah kamu khianati", gitu dia bilangnya. Aku gak tanggepin lagi. Aku langsung tutup aja teleponnya." Jelas Langit dengan wajah yang sudah berkerut karena jengkel.
Jingga hanya mengelus lembut punggung Langit dan menggenggam tangannya. Memberitahu bahwa hal itu tidak perlu dipikirkan.
"Ayudia kah?" Tanya Jingga dalam hatinya. Tapi tak ia tanyakan kepada Langit karena akan memperkeruh suasana nantinya.
Mereka tinggal menunggu Chiro si Kribo. Kribo pun datang dengan berlari mengejar pesawat yang akan take off sebentar lagi.
"Waduuhh... Bo. Lama bener dah luh." Ujar Daffa.
"Iya, coy, sorry ya... nunggu abang gue lama bener." Ucap Kribo sambil mengatur nafasnya.
"Udah, naik aja langsung deh." Ujar Fahri.
*****
Di Dalam Pesawat
"Lang," Panggil Juna kepada Langit yang duduk di belakangnya.
"Apee?" Jawab Langit.
__ADS_1
"Kemarin gue ketemu Ayudia." Ujar Juna dengan suara bass nya.
"Oh," Jawaban singkat Langit.
"Ketemu di mana Jun?" Tanya Jingga yang menanggapi pembicaraan Juna karena melihat Langit tak tertarik.
"Di RS. Waktu gue nganterin Bila check up." Jawab Juna.
"Tapi Ayudia kelihatan lemes banget, Ngga." Ucap Nabila.
"Serius? Lagi sakit mungkin, Bil..." Ujar Jingga kepada Nabila.
"Gak tau ya, Ngga. Tapi yang aneh tuh, kenapa kalau emang cuma sakit kepala harus ke dokter kandungan?" Tanya Nabila.
"Terus yang bikin kita makin kepo nih, Ngga. Gak lama Ayudia keluar. Si suster bilang kalau "Ibu itu mau gugurin kandungan karena mau ngebersihin rahim. Kok ada sih, orang gila macem gitu". Kan... Ngga... gimana gak kepo coba. Gue sama Bila cuma saling pandang aja. Gak berani komen apa-apa." Terang Juna kepada Jingga.
"Dia hamil." Jawab Langit singkat.
"Mas Langit, kok gitu ngomongnya?" Tanya Jingga yang langsung menengok Langit.
"Kan emang gitu tadi cerita Juna. Kesimpulannya dia hamil." Ujar Langit dengan santainya.
"Lang, lo lupa, doi mantan lo? Ahahaha..." Ujar Juna dengan candanya.
"Mantan ya? Itu sendal jepit merek apaan sih?" Ucap Langit yang sukses mendapat pukulan dari Jingga di tangannya.
"Astagfirullah... Maass... kalo ngomong tuh yang bener apa... ampun deh." Ujar Jingga yang membuat Langit meringis karena pukulan Jingga.
"Langit, itu istri lo aja masih menghargai Ayudia. Ya kali elo mantannya judes banget kayak gitu. Amit-amit jabang bayi. Hahaha..." Ucap Nabila dengan tawanya.
"Lucu aja dah luh, Lang. Masih sakit hati banget apa lo sama Ayudia? Hahaha..." Ucap Juna dengan tawanya.
Langit tak menanggapi omongan Juna. Ia menyandarkan tubuhnya di jok pesawat, melipat tangannya di dada, lalu memejamkan matanya.
Kalau sudah seperti ini, Jingga tau sekali, bahwa Langit sedang emosi tingkat tinggi. Jadilah Jingga hanya melihat dan diam tanpa kata.
*****
Di Hotel
Juna dan Nabila, Langit dan Jingga, mereka satu kamar yang sudah menikah. Yang belum menikah, satu kamar antara laki-laki dan perempuan juga satu kamar dengan perempuan.
"Cuy, kita punya waktu bebas sampai nanti malem ya. Sekalian keliling ngecek sampai mana persiapan resepsinya Langit dan Jingga." Ujar Daffa yang saat itu menjadi PIC resepsi Langit yang menyatukan 2 angkatan SMA Merah Putih. Rame deh pokoknya.
"Ocree..." Ucap teman-temannya.
*****
"Mas Jun, kamu mau bersih-bersih duluan?" Tanya Nabila yang berjalan dengan lemas menghampiri Juna.
"Terserah kamu aja. Bila capek ya?" Tanya Juna yang mengelus lembut kepala Nabila dan mengecup pelipisnya.
"Mas," Panggil Nabila.
"Hm?"
"Aku sampe sekarang gak nyangka kalau Mas Juna itu suami aku. Hehehe..."
"Kok gitu, kenapa?" Tanya Juna dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Gak nyangka aja. Karena dulu, hatimu begitu kokoh tak bisa di goyahkan. Heuheu.." Ucap Nabila yang bangun dari pelukan Juna.
"Udah tergoda sebenarnya. Cuma gak aku tanggepin aja. Hehehe..."
"Tergoda sama siapa?" Tanya Nabila bingung.
"Kamu."
"Aku? Kan aku gak godain kamu, Mas."
"Gak goda gimana. Kalau sikap kamu yang baik banget sama aku. Perhatian dan pengertiannya kamu ke aku. Aku, beruntung. Paling beruntung. Bertemu dengan perempuan super baik, seperti kamu." Jelas Juna yang mengelus lembut pipi Nabila.
"Berarti waktu kita pacaran, Mas Jun belum suka ya sama Bila?" Tanyanya yang menundukkan wajahnya.
"Sedang dalam proses mencintai seutuhnya." Jawab Juna.
"Sekarang?" Tanya Bila yang sudah dengan mats berkaca-kacanya.
"Sekarang? Aku bangun tidur, gak ada di samping aku aja, aku udah gila sayang... panik. Nyari kamu kemana-mana." Ujarnya yang memeluk kembali tubuh Nabila.
"Apa sudah secinta itu, Mas Juna sama aku?" Tanya Nabila yang sembari mengusap air matanya.
"Sayang... aku tau, aku dekat denganmu terkesan bahwa kamu adalah pelarianku dari Sindy. Maaf, kalau itu membuatmu tak nyaman hingga sekarang. Tapi ku mohon. Percayalah. Aku tak ada maksud sama sekali seperti itu. Kamu sejak awal, sudah menarik perhatianku, Nabilaa..." Ucap Arjuna yang memeluk erat tubuh mungil istrinya dan mencium keningnya.
Nabila tak berkata apa-apa ia hanya menangis terisak. Jika mengingat kembali kejadian lalu.
******
**Flashback On
20****10**
"Bil, gimana? Udah keluar siapa aja yang lulus?" Tanya Juna yang menepuk pundak Nabila.
Nabila terkejut bukan main. Karena saat itu ia sedang menulis surat ungkapan cintanya untuk Juna. Tapi yang disuka malah datang di depannya.
"Eh, em, oh... itu... udah Jun. Coba lo cek di papan mading aja. Lulus semua, kok." Ujar Nabila dengan senyum yang dipaksakan.
"Duh, mampus gue. Ini suratnya kebaca gak ya? Argh !! Bodoamat." Ucap Nabila dalam hati.
__ADS_1
"Okay. Gue mau langsung lihat dan ketemu Sindy kalau gitu." Ujar Arjuna dengan penuh semangat. Tapi justru membuat Nabila sedih karena Juna sudah pasti memilih Sindy dibanding dirinya.
"Gue duluan ya, Bil." Ucapnya yang sambil berlalu meninggalkan Nabila.
_________________________________________________
"Sindy, Sin..." Panggil Juna kepada Sindy di rumahnya yang tingkat 3 tersebut.
Karena tak ada jawaban, Juna naik ke atas. Ke lantai 3. Sesampainya di sana, Juna justru disuguhkan dengan pemandangan yang menyakitkan.
Ia melihat Sindy dengan betaut bibir dengan mesra bersama seorang laki-laki. Juna tak tau pasti lelaki tersebut siapa. Dengan murka, Juna menghampiri keduanya.
"Sindy !!!" Panggil Juna.
Sindy yang sangat terkejut melihat kedatangan Juna langsung menghentikan aktivitas tarung bibirnya tersebut.
"Juna... aku bisa jelasin semua, Jun." Ucap Sindy yang memegang lengan Juna.
Juna yang saat itu sedang emosi, menjadi semakin emosi karena tak ada kata maaf yang terlontar dari bibir Sindy.
Juna sama sekali tak ingin mendengar penjelasan apapun dari Sindy. Ia pergi dengan pikiran yang kalut.
Amarah yang membuncah dan sampai ia berhenti di pinggir trotoar karena melihat orang yang ramai sekali sedang berkerumun.
"Bilaaa...???" Pekik Juna yang melihat Nabila tergeletak di pinggir jalan.
"Juna..." Panggil Nabila dengan lemas sekali.
"Iya, Bil. Ini gue. Lo kenapa sih?" Tanya Juna dengan raut wajah paniknya.
"Pak, Buk, ada apa ini?" Tanya Juna dengan panik karena melihat Bila yang sudah bersimbah darah keningnya.
"Tadi si eneng ini lagi lewat di pinggir jalan. Terus datang beramai-ramai anak-anak dari sekolah lain yang sedang tawuran. Belum sempat si eneng menyelamatkan diri, ia sudah tertimpuk batu dan kena pukul balok." Ujar sang Bapak.
Arjuna yang mendengarnya terang saja membuatnya geram. Ia tak pernah suka dengan tawuran-tawuran yang mengatas namakan kesetiakawanan. B******t.
Juna langsung membawa Nabila ke RS dan mendapatkan perawatan di sana.
"Jun, udah... lo pulang aja. Bentar lagi nyokap bokap gue dateng kok." Ujar Nabila.
Nabila ini termasuk anak yang broken home. Ayah dan Ibunya bercerai ketika usianya masih 7 tahun. Ia tinggal bersama dengan Nenek dan Kakeknya. Untungnya Nabila cucu satu-satunya untuk Nenek dan Kakeknya.
Juna paham betul, bahws orangtua Nabila tidak mungkin datang. Karena Juna sudah mengecek telepon ke rumah Nenek dan Kakek Nabila bahwa orangtuanya sang Ayah sedang tugas keluar kota sedangkan sang Ibu sedang pergi bersama suami barunya ke Singapore.
Meski Nabila dari keluarga yang broken home. Tapi ia tumbuh menjadi perempuan yang dewasa. Perempuan yang tangguh, mandiri dan mampu bertahan dalam terpaan badai apapun.
"Biill... terlalu bodoh gue selama ini. Menyia-nyiakan yang menyayangi gue. Tapi gue, terlalu kekeuh, terlalu batu hati gue yang tetap bertahan dengan pilihan bodoh gue." Ucap Juna dalam hatinya.
"Jun... kok melamun sih?" Tanya Nabila yang menepuk lengan Juna.
"Eh, iya. Kenapa sayang?" Jawab Juna yang refleks membuat Nabila pipinya bersemu merah.
"Sehat?" Tanya Nabila yang mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan rona merah pipinya dan beringsut bangun dari tempat tidur.
"Sorry, sorry. Keceplosan. Hehehe..." Ujar Juna dengan cengiran kudanya.
"Hahaha... bodoamat Jun." Ucap Nabila yang sudah siap berdiri untuk berjalan. Namun, rasanya kepalanya berputar.
"Bilaaa !! Bil, udah dong, jangan batu. Tiduran dulu kenapa sih?!!" Ujar Juna yang geram dengan keras kepalanya Nabila.
Sebenarnya Juna tau, Nabila seperti itu hanya tidak ingin membuat Juna cemas dan repot. Makanya ia menunjukkan bahwa ia kuat yang nyatanya berjalan pun tak sanggup.
"Jun, tapi gue harus pulang... kasian Nenek sama Kakek, pasti cemas nunggu gue. Udah malem, Jun..." Ucap Nabila yang menarik secuil ujung kemeja putih abu-abu Juna.
"Iyaa, tapi kita harus tunggu dokter dulu. Gue mau tau kalo lo baik-baik aja." Ujar Juna yang mengelus lembut rambut Nabila (Waktu SMA belum berhijab ya..).
Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa Nabila. Dokter bilang Nabila boleh pulang malam itu. Tapi 2 minggu lagi ia harus ke RS karena harus membuka jahitan pada luka di pelipisnya.
Hasil rontgen juga menunjukkan bahwa tulang belulang Nabila baik-baik saja. Hanya memar yang terkena pukulan benda tumpul.
Namun, lebamnya akan lama hilang. Harus sering-sering di kompres. Dan untuk kakinya, bagian dekat mata kaki Nabila kesleo. Bisa berjalan tapi tak boleh terlalu lama. Karena akan bengkak kakinya.
Setelah mendapat keterangan dan penjelasan lengkap dari dokter, Juna mengantar Nabila pulang ke rumah Nenek dan Kakeknya.
"Pake helm dulu." Ujar Juna yang memberikan helm kepada Nabila.
Nabila sangat berusaha untuk memakai helmnya. Ia meringis menahan ngilu di sekujur tubuhnya. Juna yang melihatnya, langsung mengambil helm Nabila dan memakaikannya di kepala Nabila.
"Pegangan." Ujar Juna kepada Nabila.
"Udah." Jawab Nabila yang memegang kemeja putih Juna dengan jari-jarinya.
"Gini ! Pegangan." Ucap Juna yang menggenggam tangan Nabila dan menariknya hingga ia mampu memeluk tubuh tegap Juna dari belakang.
"Ini sih bukan pegangan. Menang banyak di elu, kupret." Ujar Nabila dengan bersungut.
"Hahahaha..." Tawa Juna yang begitu lepas dan riang. Hingga ia sampai lupa tentang Sindy.
Perjalanan dari RS ke rumah Nabila mereka saling berbincang tentang pengkhiatsn Sindy.
"Jun, jangan gini lagi ya."
"Gini gimana?"
"Pelukan gini. Gak boleh ya, Jun." Ujar Nabila.
Juna tak berkomentar apa-apa ia hanyanya diam.
Flash Back Off
__ADS_1