Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 16


__ADS_3

Chuuu


"Sebrengsek itu, gue. Lo masih mau sama gue, Chik?" Tanya Bimo dengan mata elangnya.


Chika tak menanggapinya. Air matanya semakin deras mengalir. Ia melepaskan genggaman tangan Bimo kepadanya dan pergi meninggalkan Bimo.


"Ya, Allah !!" Seru Jingga yang refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena keterkejutannya.


"Kenapa, dek?!!" Tanya Langit yang cemas karena Jingga berseru seperti itu.


Jingga tak bicara, ia hanya menunjuk Bimo yang sedang mencium Chika.


"Wah... brengseknya gak ilang tuh anak." Ucap Langit yang kesal dengan Bimo.


"Kenapa gak langsung bilang aja sih. Nikah kek, apa kek. Di gantungin gitu anak orang !! Gak bener nih anak !!" Ujar Langit yang masih bersungut karena bertindak seenaknya.


Chuuu


"Kalau aku yang begini. Brengsek juga, ya?" Tanya Jingga setelah mencium bibir suaminya, Langit. Langit diam terpaku karena terkejut dengan tindakan sang istri.


"Dek..." Langit tak tau harus berkata apa. Jingga hanya berlalu pergi. Namun, Langit menghentikannya dengan menarik lengan Jingga dan mencium lembut bibir Jingga.


"Kalau Mas yang begini, masih ngambek gak?" Tanya Langit yang tau betul bahwa istrinya sedang menahan kesal kepadanya.


"Maaf ya sayang... maaf berulang kali yang aku ucapkan, jangan pernah bosen. I love you Jingga. My sweetheart." Ucap Langit yang memeluk mesra Jingga dan mencium kening Jingga begitu dalam.


"Mas Langit..." Panggil Jingga lirih.


"Iya, sayang"


"Sini, nunduk dikit dong..." Ujar Jingga yang meminta Langit untuk menundukkan kepalanya dan membisikkan...


"Aku, udah selesai haid." Ucap Jingga yang lalu mencium pipi Langit dan pergi meninggalkan Langit yang masih berdiri terpaku.


"Aruna Jingga Maharani !!" Panggil Langit yang berlari menghampiri Jingga dan memeluknya dari belakang kemudian memutar tubuhnya dan tubuh Jingga.


"Maaasss Langgiittt...!! Hahahaha... udah, udah, aku pusing. Maass...!! Hahaha... udah, ampun, iya ampuunn... hahaha..." Ujar Jingga yang bahagia sekali ia bersama dengan Langit. Jingga, gak bisa ngambek kalau sama Langit.


"Terusin di kamar ya... hehehe..." Bisik Langit kepada sang istri.


"Kasih gak ya...???" Ucap Jingga meledek.


"Kalau gak di kasih, Mas gigit." Ujarnya yang segera saja menghimpit tubuh Jingga kepadanya.


"Mass Langiitt...!! Hahaha... iya, iya, ampun... gelii... hahaha..." Ucap Jingga yang pipinya di gigit oleh Langit.


Langit yang begitu gemas dengan sang istri tak hentinya mendekap erat, memeluknya dan menciumi pipinya bertubi-tubi. Membuat Jingga merasa geli tapi suka. Hahaha...


"Mas..." Panggil Jingga yang sedang duduk di pasit pantai Kuta tersebut.


"Apa sayang.."


Jingga mendekatkan tubuhnya di pelukan Langit dan mencium pipi Langit.


"Makasih sayangkuu... sudah buatku bahagia hari ini." Ujar Jingga kepada Langit dengan senyum manisnya.


Langit mendekatkan bibirnya di bibir Jingga dan mengecup lembut.


"Aku mencintaimu, Jingga. Sangat." Ucapnya yang sembari mencium kening Jingga.


"Aku mencintaimu, Langitku." Ujar Jingga yang mencium kembali pipi Langit.


"Makasih ya, sudah buat jantungku mau copot hari ini." Ucap Jingga dengan senyum lebarnya.


"Hahaha... maaf ya, dek. Aku sudah buatmu cemas. Terima kasih, telah menungguku."


"Sesekali hidup butuh rasa roller coaster, Mas. Biar apa?"


"Apa?"


"Biar gak monoton."


"Apanya?"


"Hidupnya."


"Hidup siapa?"


"Hidup Jingga yang tak berarti jika tanpa Langit yang selalu bersedia menunggunya."


"Makasih Langitku." Ucap Jingga dengan tatapan sendu sayangnya kepada suaminya


"Karena telah menjadi Langit untuk Jingga." Ujar Jingga yang menumpukan dagunya pada lengan Langit yang dilipatnya di atas lutut.


"Terima kasih Jingga. Karena tak pernah ingkar janji. Selalu datang tepat waktu dan memberikan keceriaan." Ucap Langit yang mengelus lembut kepala Jingga.


*****


"Sayang, kita kembali ke hotel ya..." Ajak Juna ke Nabila.


"Tapi aku mau lihat pertunjukannya, Mas..." Rengek Nabila dengan wajah memelasnya.


"Kamu sudah seharian ini di luar lho, dek. Besok lagi saja ya." Ucap Juna sembari mengelus lembut puncak kepala Nabila.


"Bila mau lihat sebentar... saja. Boleh ya, Mas..." Ujarnya dengan menampakkan wajah memelasnya.


"Sayang... kamu nanti kecapean. Lusa kita sudah kembali ke Jakarta. Istirahat saja, ya. Pertunjukkannya kan kita bisa lihat lain waktu." Terang Juna dengan suara yang sangaattt... lembut.


Nabila tak berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan kepalanya. Sedih. Kalau sudah begini, Juna kalah deh.


"Yasudah, kita lihat pertunjukkannya. Tapi kita kembali ke hotel dulu ya. Ganti baju. Masih nanti malam kan pertunjukkannya. Ya?" Ucap Juna memberi pengertian kepada Nabila.


"Iya." Singkat, padat, jelas. Sejelas-jelasnya Nabila memberi tau kepada Juna bahwa ia sungguh kesal.


Ketika Juna dan Nabila sampai di hotel. Nabila bersih-bersih terlebih dahulu. Setelah selesai bersih-bersih, Nabila menyiapkan pakaian untuk sang suami. Juna selesai bersih-bersih.


"Sayang..." Panggil Juna ke Nabila.


"Yang..." Panggil kembali Juna yang sambil mencari seisi hotel.


"Nabila" Juna sudah mulai panik mencarinya.


"Nabilaaa..." Teriaknya yang sudah cemas dengan istrinya.


Juna yang saat itu sangat panik karena Nabila tak ada di kamar hotel, mendapat pesan singkat. Yang tertera di layar ponselnya "Lovely Wife".


"Mas Jun, Bila keluar sebentar, ya... sebentar saja." Juna yang mendapatkan pesan singkat itu langsung berhambur keluar hotel.

__ADS_1


Dengan hati cemas, pikiran kalut. Ia merutuki dirinya sendiri. Nabila hanya ingin melihat pertunjukkan. Hanya duduk dan melihat. Tak lebih.


Sedangkan Juna, sudah membuat Nabila berada dalam kecemasan ketika melihatnya tergulung ombak yang entah berapa dalamnya.


Tapi Nabila tak berkomentar apapun. Ia tak melarangnya, justru Nabila bicara "Aku mencintaimu, sayang" dengan senyum indahnya.


Juna berkali-kali menelepon Nabila. Namun, ponselnya tidak aktif. Semakin menjadi cemas dan paniknya. Sampai ia menghubungi Langit dan Bimo. Jika bertemu dengan Nabila, tolong hubungi Juna.


Di toko bunga, Nabila sedang membeli satu buket kecil bunga mawar dan membeli satu kotak kecil cheese cake. Tak lupa ia menghias kadonya dengan pita lucu.


Saat perjalanan mencari Nabila, Juna melihat sekerumunan orang di pinggir jalan.


"Pak, ada apa ya? Kok rame banget?" Tanya Juna.


"Ada wanita hamil ditabrak mobil, Mas." Ucap sang bapak yang membuat Juna berhambur berlari melihat wanita tersebut.


Kalut sudah Juna saat itu. Ia menerobos hiruk pikuk orang-orang disana. Namun, bukan Nabila. Nabila berhijab. Perempuan itu bukan Nabila.


Juna keluar dari hamburan orang-orang tersebut. Ia terus menyusuri jalanan di Bali malam itu. Juna masih mencoba menghubungi Nabila. Juna terlihat kalut sekali. Ia duduk di pinggir jalanan kota Bali. Tak peduli lagi dengan orang-orang yang melihatnya.


"Mas Jun?" Panggil Nabila yang langkahnya terhenti ketika melihat suaminya duduk meringkuk dan menundukkan wajahnya.


"Bila?? Ini kamu??" Ucap Juna yang langsung berdiri memeluk Nabila.


Nabila hanya berdiri diam terpaku. Juna begitu erat memeluknya. Nabila sadar saat itu, ia telah membuat suaminya cemas. Terlihat Juna sangat berusaha mencarinya. Nabila merutuki dirinya yang begitu bodoh meninggalkan suaminya seperti ini. Ia mengelus lembut punggung Juna.


"Selamat hari jadi pernikahan kita, sayang..." Ucap Nabila lembut dalam pelukan Juna dan sukses membuat Juna terbelalak tak ingat sama sekali hari ini adalah hari jadi pernikahannya.


"Sayang, Mas___" Bila langsung memotong perkataan Juna.


"Tak apa Mas. Biar kali ini, Bila yang kasih surprise ya. Walaupun gak semewah surprisenya Mas Juna." Ujarnya yang sukses membuat Juna menitikkan air matanya.


"Kita kembali ke hotel ya." Ucap Nabila yang mengelus lembut pipi Juna dan menghapus air mata suaminya.


"Kita kan mau nonton pertunjukkan." Ujar Juna.


"Gak apa. Kita ke hotel. Pertunjukkannya bisa lain kali kok. Yuk." Jelas Nabila yang menggandeng lengan Juna bersamaan dengan senyum tegarnya.


Juna tidak langsung membawa Nabila ke hotel. Ia membawa Nabila ke pertunjukkan seni di Bali.


"Mas, kok kesini??" Tanya Nabila bingung.


"Aku mau kesini sama kamu." Ucap Juna yang menggandeng tangan Nabila.


Di pertunjukkan tersebut sudah ada Langit, Jingga, Chika, Bimo dan yang lainnya sudah berkumpul.


"Woy !! Kenapa?" Tanya Bimo dengan menepuk pundak Juna.


"Gak apa. Gue lagi lihat bidadari gue. Yang hampir gue patahin sayapnya. Bego ya gue. Hehehe..." Ujar Juna dengan cengiran kudanya.


"Indahnya bercinta." Ucap Kribo yang mendapat pukulan kecil dari teman-temannya.


"Otak lo gak jauh dari dada perempuan." Ujar Akbar.


Saat mereka sedang berbincang. Sang MC pertunjukkan mengumumkan bahwa ada seseorang yang ingin menyanyikan sebuah lagu untuk sang terkasih.


"Kita panggilkan saja, Nabila..." Ujar sang MC.


Sebelumnya Nabila meminta izin kepada Juna bahwa ia ingin ke toilet dan tak perlu di antar. Ternyata sekarang Nabila berdiri di atas panggung. Sungguh, terkejut sekali Juna.


"Hi, My Husband. Selamat hari jadi pernikahan kita ya... terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang berlimpah untukku." Ujar Nabila dengan senyum manisnya, yang sukses membuat Juna terharu.


Nabila menyanyikan sebuah lagu dari Charlie Puth - One Call Away. Ia memainkan alat musik piano sendiri. Setelah bernyanyi untuk sang suami, Nabila disambut oleh Juna yang sudah berdiri di pinggir panggung. Juna berlari menghampiri Nabila dan memeluk erat tubuhnya.


"Mas, Mas Jun, kasian dedek bayinya..." Ucap Nabila dengan tawa riangnya sembari menepuk punggung Juna. Seketika Juna mendaratkan ciumannya di kening Nabila.


Tak ada kata yang terucap dari bibir Juna untuk Nabila. Yang ada ia memeluk erat dan menghujani Nabila dengan kecupan mesra dan lembut.


"Makasih ya Mas... untuk semuanya. Aku mencintaimu, Arjuna." Ucap Nabila yang berhadapan dengan Juna dan sukses membuat Juna kembali menitikkan air matanya.


Juna mengecup lembut kening Nabila. Kecupan di pipi dan bibir yang singkat. Mengundang siapapun yang melihatnya akan terharu. Siapa yang tak bahagia mempunyai suami dan istri seperti itu? Siapapun orangnya pasti akan bahagia.


*****


"Hiks, hiks, hiks..." Terdengar isak tangis Chika oleh Bimo yang duduk disebelahnya.


"Kenapa?" Tanya Bimo.


"Seneng lihat Nabila. Sudah menemukan kebahagiaan yang hakiki." Ujar Chika dengan seulas senyum.


"Kamu juga bisa mendapatkan kebahagian itu." Ucap Bimo sambil mengulurkan saputangan untuk Chika.


"Menyayangimu tanpa memilikimu saja sudah membuatku bahagia." Ucap Chika yang membuat Bimo terdiam dan menatap lekat wajah Chika.


Chika yang sadar akan kata-katanya langsung memalingkan wajahnya dari Bimo dan berdiri untuk ikut bergabung bersama teman-temannya yang mengucapkan selamat kepada Nabila. Bimo mengikuti Chika dari belakang. Langit dan Jingga hanya memantau saja.


*Udah kayak mandor, mantau terus. 😆


Acara pertunjukkam seni di Bali sudah selesai malam itu bersamaan dengan perayaan hari jadi pernikahan Juna dan Nabila yang tak disangka-sangka.


Langit dan Jingga sudah kembali ke hotel untuk beristirahat. Juna dan Nabila pun kembali ke hotel karena Nabila bilang pinggangnya sakit. Kecapean sepertinya. Sedangkan teman-teman yang lainnya ada yang kembali ke hotel, ada yang masih berjalan-jalan.


"Chika !!" Panggil Bimo yang memegang tangan Chika.


"Kamu mau kemana?" Tanya Bimo dengan suara bassnya.


"Mau jalan-jalan aja." Jawab Chika singkat sembari melepaskan genggaman tangan Bimo.


"Bareng aja kalau gitu."


Chika tak banyak berkata. Ia hanya mengiyakan. Mereka singgah di salah satu cafe dekat pantai.


"Kamu, mau pesan apa?" Tanya Bimo kepada Chika.


"Halal kan?" Tanya Chika kembali yang mengundang tawa Bimo.


"Haha... iya. Halal. Mau apa?" Tanya Bimo kembali.


"Minum aja." Saat itu Chika melihat menu makanan dan minuman bersamaan dengan Bimo dan cukup dekat yang membuat wajah keduanya bersemu merah karena terlalu dekat.


Sambil menunggu minuman, mereka berbincang banyak. Tak lama sang pelayan pun datang. Ia memberikan hot chocolate dan latte kepada Chika dan Bimo.


Saat Chika dan Bimo sedang duduk-duduk ada sepasang kekasih. Sang laki-laki bernyanyi lalu setelahnya berjongkok untuk memberikan sekotak cincin yang dikumandangkan oleh sang laki-laki untuk melamar sang wanita. Adegan itu tak luput dari Chika dan Bimo.


"Romantis banget tuh cowoknya." Ucap Chika dengan seulas senyum.


"Emang romantis tuh kayak gimana buat cewek?" Tanya Bimo kepada Chika.

__ADS_1


"Setiap perempuan punya pendapat mereka masing-masing tentang romantis." Jelas Chika.


"Kalau menurutmu, romantis gimana?" Tanya Bimo kembali.


"Berdua gini juga udah romantis. Apalagi kalau halal, lebih romantis. Hehehe..." Ucap Chika sukses membuat Bimo terdiam membisu.


"Chik" Panggil Bimo.


"Hm?"


"Nikah yuk." Ujar Bimo yang membuat Chika terbelalak.


"Bim, kalau ngomong yang bener. Jangan ngaco." Ucap Chika dengan raut wajah terkejutnya.


"Kalau aku serius gimana?" Ujar Bimo dengan tatapan mata elangnya.


"Bim, gak semudah itu menikah."


"Iya, tau."


"Udah, gak usah di bahas. Kita pulang aja, yuk."


"Harus dibahas." Tukas Bimo.


"Apa yang mau di bahas?"


"Apa ucapanmu selama ini cuma bercandaan saja?"


"Sekarang aku tanya sama kamu. Saat kamu cium aku. Apa kamu sekedarnya saja? Atau memang ada rasa sama aku?" Tanya Chika. Bimo hanya diam.


"Sekedarnya kan? Kamu tau rasanya di angkat lalu dijatuhkan?" Tanya Chika kembali.


"Iya, betul. Aku memang menyukaimu. Bahkan sudah sayang. Tapi kamu tau rasanya ada tapi dianggap tidak ada? Iya, itu aku, yang kamu tau aku ads tapi tak dianggap. Itu sakit lho." Jelas Chika kepada Bimo.


"Lalu sekarang, kamu mengajakku untuk menikah? Bim, kamu pernah berpikir sedikit saja tentang perasaanku? Apa rasanya diberi harapan palsu?" Tanya Chika yang sudah mulai berkaca-kaca matanya.


Chuuuu


Lagi-lagi Bimo mendaratkam ciumannya di bibir Chika.


"Bimo !!! Kamu benar-benar keterlaluan !!" Ujar Chika yang sudah dengan isak tangisnya.


"Chika !!" Panggil Bimo yang langsung menarik tangan jIngga dalam pelukannya.


"Bimo !! Lepasin !!" Chika terus memberontak dari pelukan Bimo. Namun, tak berhasil. Bimo terlalu kekar untuk Chika. Chika menangis sejadi-jadinya di dekapan Bimo. Yang kemudian, Bimo mendaratkan kembali ciumannya di bibir Chika.


"Bimo... cukup... hiks hiks..." Ujar Chika yang sudah tidak bisa lagi memberikan perlawanan karena sudah lelah.


"Aku yang akan tanggung jawab, Chik."


"Tanggung jawab untuk apa? Ciuman ini? Udah, lupain. Gak perlu. Kamu udah dapatkan apa yang kamu mau kan? Aku pergi sekarang." Ucap Chika dengan melangkah pergi siap meninggalkan Bimo.


"Gak boleh pergi !!" Ujar Bimo yang memeluk Chika dari belakang.


"Kenapa?"


"Karena aku___" Belum sempat Bimo melanjutkan kata-katanya, Chika sudah melepas pelukannya.


"Gak usah ya... jangan dipaksan kalau hatimu memang bukan untukku." Ujar Chika.


"Chika..."


"Bimo... tak apa. Biar aku saja yang tau tentang rasa ini, ya. Udah malem, pulang yuk. Gak enak sama teman-teman." Ucap Chika yang sungguh, rasanya ia ingin sekali berteriak sesaknya dada. Tapi ia tutupi dengan ketangguhannya.


"Chika..." Panggil Bimo dengan suara lirihnya.


"Bim, gak apa. Aku akan mundur. Kamu___" Belum sempat Chika melanjutkan kata-katanya. Bimo kembali melayangkan ciumannya.


"Bimo..." Kali ini, Chika sudah pasrah. Tak bisa berkata apa-apa lagi dan disertai dengan air matanya.


"Maafin aku Chika..." Ujar Bimo yang memeluk erat tubuh Chika.


"Iya. Gak apa, Bim." Ucapnya sambil mengelus punggung Bimo.


"Sudah. Pulang ya. Kita kembali ke hotel. Yuk" Ujar Chika.


Sampai di hotel.


"Makasih ya sudah di temenin jalan-jalan. Good night, Bimo. Da da..." Ujar Chika yang lagi-lagi kembali di peluk Bimo.


*****


"Wuiidihh... baru bangun, Pak?? Hahaha..." Tanya Fahri yang berada di pinggir kolam renang.


"Gimana perpisahannya semalem? Penuh haru ya? Hahaha..." Tanya Kribo.


"Perpisahan?" Tanya Bimo bingung.


"Lha? Bukannya semalem lo pergi berdua sama Chika karena acara perpisahan? Kan Chika mau lanjut study ke London." Seketika ucapan Daffa membuat Bimo lemas.


"Chika gak cerita apa-apa sama gue !" Ujar Bimo yang sudah mulai dengan wajah yang merah padam.


"Bim," Panggil Jingga.


"Tadi pagi-pagi banget, Chika ke kamar lo tapi lo belum bangun. Terus ketemu sama gue. Chika titip ini buat lo." Terang Jingga yang memberikan secarik kertas untuk Bimo.


"Hi, Bimo. Maaf, gak cerita sebelumnya. Aku sudah pernah bilang sebelumnya bukan? Aku akan mundur perlahan. Sekarang, sedang aku lakukan. Terima kasih karena sudah mengizinkanku untuk mencintaimu. Merasakan indahnya mencintai ciptaan Tuhan. Jaga kesehatan, ya Bim. _Chika_"


Secarik kertas itu mampu membuat Bimo hilang kendali. Mengamuk sejadi-jadinya, meraung menangis, berteriak sesuka hatinya. Merutuki dirinya sendiri.


"Lang," Panggil Juna kepada Langit yang berdiri di luar kamar hotel Bimo.


"Biar dia belajar, Jun." Ujar Langit.


"Bukan. Baca ini." Juna menunjukkan foto luka lebam di tangan dan wajah Chika.


"Ini foto apaan Jun?" Tanya Langit bingung.


"Chika, juga punya trauma sama laki-laki dan dia pergi jauh dari Indonesia, karena kakak tirinya terus mengusiknya." Terang Juna.


"Lalu London?"


"Dia hanya sekedar kunjungan ke sana. Bukan menetap lama." Ujar Juna.


******


"Bim, pulang yuk. Balik ke hotel." Ujar Chika yang sudah mulai tidak nyaman dengan suasana cafe yang semakin malam, semakin ramai.

__ADS_1


__ADS_2