
...~Happy Reading~...
"Sayang, aku pulang!" kata Langit sedikit berteriak, lantaran ketika dirinya sampai di rumah tidak ada sangat istri yang biasanya menyambut.
Jingga yang biasanya selalu berteriak bahagia dan berlari menuju arah nya ketika turun dari mobil, kini terlihat sepi.
"Bi, dimana istri ku?" tanya Langit sambil memberikan tas kerja nya kepada Bibi.
"Bukankah non Jingga ikut Tuan ke kantor?" kata bibi balik bertanya, seketika membuat langkah kaki Langit terhenti.
Awalnya Langit ingin menaiki tangga, karena mungkin istri nya sedang di kamar. Atau kurang enak badan, mungkin. Namun mendengar pertanyaan dari bibi seketika membuat nya mengerutkan dahi.
Langit tidak menjawab pertanyaan Bibi, ia segera berlari menuju kamar dan mencari keberadaan Jingga.
Kosong.
"Sayang... Jingga kamu dimana?" panggil Langit mengecek setiap ruangan yang ada di rumah nya.
"Sayang, jangan bercanda. Kamu dimana? Jingga!" teriak Langit begitu frustasi lantaran dirinya belum juga menemukan Jingga.
__ADS_1
Ia masih teringat pesan chat nya dengan Jingga beberapa jam yang lalu. Jingga meminta Langit agar membelikan nya es krim saat pulang kerja.
'Apa mungkin dia pergi mencari es krim?' pikir Langit mendudukkan diri di tempat tidur.
Ia pun segera membuka ponsel nya dan berusaha menghubungi nomor Jingga. Namun nomor itu tidak aktif.
"Sayang, kamu dimana?" cuman Langit yang entah mengapa mulai merasakan resah, gelisah dan begitu khawatir.
Langit pun kembali menuruni tangga, untuk menemui bibi dan bertanya, kapan Jingga pergi. Dan berapa terkejut nya Langit ketika bibi mengatakan bahwa Jingga pergi tak lama setelah dirinya berangkat kerja.
Langit kembali meraih kunci mobil nya dan hendak mencari istri nya. Namun, ketika ia hendak menyalakan mesin mobil, ponsel nya bergetar dan mendapatkan notif pesan dari Jingga.
Dan lagi lagi senyum Langit menghilang. Nomor Jingga kembali tidak aktif, hingga membuat nya semakin frustasi.
'Astaghfirullah, kamu kemana sih Sayang,' gumam nya memijit pelipis. Ia menyandarkan kepala pada kursi mobil, sembari berfikir kemana kira kira Jingga pergi. Mengapa tidak mengaktifkan nomor nya, batin Langit.
Ting!
Lagi lagi ia mendapatkan notif pesan dari nomor Jingga. Ia pun segera membuka nya dan membaca nya dengan mata yang membola tajam.
__ADS_1
"Gak mungkin!" desis Langit, ia segera turun dari mobil dan kembali masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di kamar, Langit segera memeriksa semua pakaian dan barang barang Jingga. Dan seketika itu juga, tubuh nya langsung luruh ke lantai.
Air mata kembali menetes membasahi wajah nya, dada Langit terasa begitu sesak lantaran kini ternyata Jingga benar benar pergi dari nya.
Sebagian pakaian Jingga sudah tidak ada di dalam lemari. Begitupun dengan beberapa dokumen penting milik Jingga. Hanya buku nikah yang Jingga tinggalkan di sana.
Langit masih tidak mengerti, mengapa Jingga pergi dari nya. Mengapa Jingga meninggalkan nya. Bukankah hubungan mereka sudah membaik? pikir Langit.
Aaarrrrrrrkkkhhhhh!
Langit berteriak sekencang mungkin untuk melampiaskan kemarahan nya. Ia juga melemparkan seluruh benda benda yang ada di dalam kamar nya. Air mata sejak tadi tak henti mengalir deras.
Untuk kedua kalinya, dirinya di tinggalkan. Dan untuk kedua kali nya dirinya merasa kehilangan. Langit tak menyangka bahwa pada akhirnya, dirinya akan menjadi orang yang di tinggalkan.
...TANAATTTT!!...
... 🥳🥳🥳🥳🥳...
__ADS_1