
“Kenapa semua harus Biru, Biru dan Biru. Kapan ada Jingga hiks hiks hiks.”
Sejak tadi, Jingga terus meringkuk di atas tempat tidur nya tanpa membersihkan diri lebih dulu. Kepalanya terasa semakin berat, ia tidak menyangka mengapa dirinya di lahir kan di dunia ini, bila hanya untuk di jadikan sebuah pajangan. Sebuah replika, benarkah? Dirinya hanya seorang pengganti, putri pengganti tepat nya. Ada namun tak di anggap.
‘Kenapa dunia ini gak adil sama Jingga. Kenapa hiks hiks hiks, aku benci Biru, aku benci.”
...🌼🌼🌼...
Jam istirahat telah tiba, semua siswa dan siswi SMA GAHARU, tengah menikmati waktu istirahat nya. Sementara itu, Jingga memilih untuk pergi ke roof top untuk menenangkan kembali pikiran nya. Sejak pertengkaran nya dengan bunda kemarin, Jingga memilih menghindar untuk sementara, dan kebetulan saat dirinya berangkat ke sekolah, bunda juga belum bangun tidur. Hanya bertemu dengan ayah yang baru keluar dari kamar, Jingga tidak sarapan, ia langsung pergi begitu saja dengan mobil nya.
“Woy ngelamun aja! Ketahuan banget gak punya temen,” celetuk Raihan mengejutkan Jingga. Tadi ketika ia hendak ke kantin bersama teman teman nya, ia melihat Jingga menaiki tangga, dan sesuai dugaan nya, pasti ke roof top.
__ADS_1
“Apaan sih,” balas Jingga malas, wajah nya begitu lesu.
“Lesu amat,kamu sakit? Nih aku bawain minuman sama roti.” Jingga langsung menerima makanan dari Raihan, karena sangat lapar, namun ketika baru satu suap ia makan, tiba tiba perut nya terasa sangat mual hingga membuat nya harus memuntahkan seluruh isi perut nya.
“Jingga, kamu gapapa?” pekik Raihan khawatir, ia sampai ikut berjongkok di samping Jingga dan membantu memijit tengkuk nya.
“Perut aku sakit banget Rai,” gumam Jingga lirih sambil menggigit bibir bawah nya.
“Kita ke UKS ya,” Jingga hanya mengangguk ketika Raihan menawarkan untuk membantunya ke UKS, “Bisa jalan gak?” imbuh Raihan.
“Ya udah ayo, soalnya aku gak kuat kalau gendong hihihi,” kata Raihan sedikit terkekeh agar Jingga tidak murung lagi.
__ADS_1
“Laki apaan gak kuat gendong cewek!” kata Jingga mendengus sambil berjalan di rangkul oleh Raihan.
“Iks laki laki sejati, Cuma otot ku belum terbentuk sepenuh nya,” kata Raihan mendengus, ia sebenarnya kuat saja menggendong Jingga. Hanya saja, ia tau Jingga tidak akan mau menerima tawaran nya. Jadilah daripada gengsi di tolak, dirinya yang lebih dulu menolak Jingga, biar gak malu, batin Raihan.
“Bentar Rai, bentar!” Jingga menyandarkan tubuh nya pada dinding tangga, ia menarik nafas nya dalam dan istirahat, “Kayaknya aku mau muntah lagi deh.”
“Ih jangan dulu Jingga, tuh satu lantai lagi ada toilet, tahan sebentar. Ayo kita jalan lagi,” kata Raihan kembali membopong Jingga, “Sumpah kalau kaya gini, kamu kaya ibu ibu yang mau melahirkan,” imbuh nya terkekeh.
“Sialan!” umpat Jingga kesal, namun juga tersenyum. Ia sedikit bersyukur karena kini masih ada Raihan yang membantu nya setelah Nadin pergi meninggalkan nya.
“Rai, aku gak kuat!” kata Jingga langsung membungkam mulut nya dengan tangan, sehingga tangan nya sudah tidak bisa berpegangan pada bahu Raihan. Raihan yang reflek dan tidak terlalu kuat menggenggam tangan Jingga pun akhirnya membuat tubuh Jingga tersungkur ke bawah, (Posisi turun tangga)
__ADS_1
Namun beruntung karena tiba tiba ada yang menahan tubuh nya dari bawah, sehingga Jingga tidak tersungkur ke lantai. Namun naas, orang yang sudah membantu Jingga harus mendapatkan hadiah terimakasih yang tak terduga dari Jingga.
(Gak usah di jelaskan, tahu kan apa hadiah nya)