
Flash Back On
2014, New York
Di sebuah rumah mewah dengan dekorasi bohemian. Rumah tersebut menjadi rumah yang eksotis dan indah di dekat pantai.
Papi Haris dan Mami Rini sedang bersantai di teras rumah. Mereka sedang berbincang-bincang dengan tertawa renyah.
"Pi, Mi" Panggil Langit kepada kedua orangtuanya.
"Iya, Nak. Sini, ada apa?" Panggil Mami Rini.
"Mi, Pi, Langit mau bicara. Penting dan serius."
"Bicaralah, Lang." Ujar Papi Haris.
"Pi, Papi inget dengan perjanjian kita? Bahwa untuk calon istri, Langit berhak menentukan sendiri pilihan Langit."
"Iya. Papi masih ingat. Kamu sudah ada calonnya?"
"Sudah Pi. Namanya Jingga. Aruna Jingga Maharani."
"Cantik sekali namanya Langit. Kok pas sama nama kamu? Haha..." Ujar Mami Rini.
"Orangtuanya bagaimana?" Tanya Papi Haris yang di senggol lengannya oleh Mami Rini.
"Maksud Papi, latar belakang keluarganya gimana?" Jelas Papi Haris.
"Ayahnya dan Ibunya siapa namanya? Kalau Papi boleh tau." Lanjutnya.
"Ayahnya bernama Bapak Budiono dan Ibu Ratih." Jawab Langit.
"Kok namanya gak asing ya Pi?" Tanya Mami Rini.
"Iya ya, Mi. Jadi teringat masa lalu." Ujar Papi sambil tertawa.
"Pi, Mi, serius dong. Langit mau ngelamar Jingga."
"Hah?! Serius?! Terus S2 kamu?!" Tanya Mami Rini.
"Makanya dengerin dulu. Ketawa-ketiwi mulu deh dari tadi." Ucap Langit sambil bersungut.
"Iya, iya. Kamu mau ngelamarnya kapan?" Tanya Papi Haris.
"Kalau mereka sudah di NY." Jawab Langit
"Lho, mereka mau ke NY?" Tanya Mami.
"Iya. Mau antar Jingga kuliah." Langit.
"Jingga kuliah di sini? Di mana?" Tanya Papi.
"Di Harvard. S2 nya di sana. Dia datang lebih awal dari jadwalnya karena harus mengurus beberapa berkas untuk beasiswanya." Jelas Langit kepada Mami dan Papi.
"Hebat sekali anak itu, Lang. Sampai mendapat beasiswa di Harvard? Cerdasnya luar biasa bukan?" Terang sang Papi.
"Iya, Pi. Langit suka dengan dia bukan karena kastanya. Tapi attitude dan smartnya dia. Jingga itu perempuan yang tangguh. Langit banyak belajar dari Jingga." Jelasnya.
"Kalau Mami, selagi perempuan itu membuat anak Mami bahagia, Mami sih oke oke aja. Hehehe..." Ujarnya dengan memperlihatkan rentetan gigi putihnya.
"Langit, menikah itu bukan perkara mudah. Kalau kamu benar-benar serius ingin menikahinya. Kamu sudah punya bekal apa? Selain materi, ya Lang." Tanya Papi kepada Langit.
"Bagaimana dengan sholat 5 waktumu? Lancar?" Tanya Papi lagi.
"Langit, menikah bukan hanya bekal materi saja. Tapi ilmu agama itu penting. Kamu harus tau sosok laki-laki sebagai imam itu seperti apa. Jangan hanya karena kamu mencintainya, lalu kamu buru-bur ingin menikahinya. Pernikahan itu jalan hidupmu yang baru di mulai."
"Kehidupan yang sesungguhnya baru kalian rasakan nanti setelah menikah dan setelah menikah, tujuanmu apa? Apa hanya sekedar penyalur nafsu saja? Atau kamu hanya sekedar ingin menikmati hidup bersama dengan istrimu? Jangan hanya sekedar ingin, Lang. Tapi lakukan."
"Iya, Pi. Makasih untuk wejangannya. Jingga juga udah bilang sama Langit. Kalau kita masih muda dan Jingga juga ingin menyelesaikan pendidikannya dulu." Jelas Langit kepada Mami dan Papi.
"Bagus dong. Perempuan itu punya prinsip. Itu bagus Langit. Papi sama Mami pasti dukung kalian. Kalau tujuan kalian baik." Ujar Papi.
"Dan Pi, Mi, tau gak apa yang buat Langit semakin yakin sama Jingga?"
"Apa, Lang?" Tanya Mami.
"Jingga bilang, gak apa untuk sementara berjarak sama Langit. Karena ia akan menuntut ilmu dan mendapat gelar pendidikannya yang bisa di banggakan untuk keluarga Brawijaya. Meski kasta harta berbeda, tapi setidaknya pendidikannya tidak membuat malu keluarga Brawijaya. Hebat ya, Pi, Mi. Langit aja gak kepikiran." Ujarnya.
"Waahh... itu sih mantu kesayangan Papi nih. Nikah ajalah kalau gitu. Kuliahnya jalanin pas udah nikah. Hahaha..." Canda Papi Haris.
"Jingga nya gak mau, Pi. Jingga tetep kekeuh, menikah setelah menyelesaikan pendidikannya. Sambil memantaskan diri masing-masing. Gitu dia bilangnya." Terang Langit.
"Keren deh Jingga. Masih muda sudah punya prinsip hidup. Bagus, Mami setuju sama Jingga. Selesaikan pendidikan baru menikah. Supaya gak ada beban untuk mengurusmu nantinya. Pasti gitu pikiran Jingga. Iya, gak?" Tanya Mami.
"Sama banget, Mi. Omongan Jingga gitu." Ujar Langit.
"Iya kan... karena Jingga itu wanita berprinsip. Beruntung kamu dapetin dia Lang. Terus kalian sekarang pacaran?" Tanya Mami kemudian.
"Enggak, Mi. Kita temenan aja." Jawab Langit cuek.
"Lho, gimana sih? Perempuan bukannya butuh kejelasan status? Kamu gantungin dia gitu? Kok kamu gitu sih, Lang? Menyakiti hati perempuan kalau begitu namanya." Tanya Mami bertubi-tubi.
"Jadi kalian itu gak pacaran?" Tanya Papi bingung.
"Enggak Mi, Pi. Kita gak pacaran. Kita hanya ingin terikat dalam sebuah ikatan pernikahan. Bahkan dari Langit ataupun Jingga, belum ada yang melontarkan kalimat "I love you", walaupun Langit ingin. Tapi kita tahan, Mi, Pi. Karena kita ingin ada ikatan halal dahulu." Jelas Langit.
"Ini anak berdua lucu banget sih. Mami jadi gak sabar mau ketemu sama Jingga. Dia tuh pasti lucu banget ya anaknya. Humoris gitu." Tanya Mami kepada Langit.
"Bukan main, Mi... Langit suka sakit perut kalau udah dibuat ketawa sama Jingga." Ujarnya sambil tertaw ringan.
"Punya fotonya gak?" Tanya Papi.
"Ada." Jawab Langit yang menunjukkan foto Jingga dari ponselnya kepada Mami dan Papi.
__ADS_1
"Berjilbab?" Tanya Mami dengan mata berbinarnya.
"Iya, Mi."
"Cantik, Lang. Sama seperti namanya." Ucap Papi dengan senyum sumringahnya.
"Makasih Mi, Pi. Sudah mau menerimanya. Papi sama Mami tidak akan mempermasalahkan tentang background Ayah dan Ibunya kan? Ayahnya seorang PNS dan Ibunya guru tari. Keluarga sederhana tapi hangat. Harmonis sekali keluarga mereka. Langit betah ngobrol lama-lama sama mereka." Jelas Langit kepada Mami dan Papi.
"Maaf, ya Langit. Dulu kamu sering terabaikan oleh kami dan kami jarang memberi waktu untuk bercengkrama denganmu." Ujar Papi yang merasa bersalah kepada Langit.
"Iya, Pi. Langit ngerti kok. Langit sudah dilahirkan ke dunia ini saja sudah berterima kasih. Langit sayang sama Mami dan Papi. Makasih ya, Mi, Pi." Ucapnya sambil mencium pipi Papi dan Maminya.
"Tadinya Langit pikir, Papi sama Mami akan menentang permintaan Langit yang mau melamar Jingga. Ternyata, kalian sangat mendukung. Alhamdulillah... Langit senanggg... sekai." Ujarnya.
"Langit kira, Mami dan Papi tidak mau menerima Jingga, jika ia bukan dari keluarga berada. Tapi ternyata kalian sangat open dengan Jingga. Makasih ya, Mi, Pi." Sambung Langit.
"Sama-sama, sayang..." Ujar Mami.
"Mami kayaknya harus banyak terima kasih sama Jingga deh. Sudah merubah anak Mami yang super jutek dan ketus bisa jadi lemah lembut seperti ini. Hahaha..." Ujar Mami Rini.
"Iya, ya Mi. Papi juga kalau gitu. Mau kasih apa ke Jingga ya?" Tanya Papi ke Mami yang masih berpikir.
"Jangan kasih apa-apa Pi." Ucap Langit.
"Lho? Kenapa?" Tanya Papi Haris bingung.
"Kan yang calon suaminya, Langit. Kenapa Papi yang kasih hadiah? Udah Langit saja nanti yang siapin hadiahnya." Ujar Langit dengan bersungut.
"Yaampun... Langit. Sama Papinya sendiri aja di cemburuin. Itu baru calon suami lho. Ntar kalau jadi suami gimana? Di umpetin terus kali istrinya. Kamu gak boleh gitu, Langit." Ujar Papi dengan candanya.
Suasana pagi itu begitu menyenangkan pembicaraan tentang masa depan yang Langit dan Jingga ingin sudah mulai terlihat titik terangnya.
******
Restoran
2014, New York
"Langit, apa orangtua mu sudah mengetahui tujuan baikmu untuk Jingga?" Tanya Pak Budiono.
"Sudah, Pak. Sebentar lagi mereka datang." Ujar Langit dengan senyum sumringahnya.
Tak lama berselang, Papi Haris dan Mami Rini datang ke restoran tersebut.
"Assalamualaikum..." Sapa Papi dan Mami kepada Bapak dan Ibu.
"Waalaikumsalam..." Jawab mereka semua serentak.
"Haris?" Tanya Pak Budi setelah melihat Papi Haris.
"Masya Allah... Budiiionoo..." Pekik Papi Haris.
"Kamu Rini? Rini yang pernah nyolong mangga di rumahku kan? Hahaha... Riniiii... aku sangat merindukanmu." Bu Ratih.
Langit, Jingga dan Biru dibuat bingun oleh kedua orangtuanya. Mereka bertiga hanya saling pandang tak mengerti dengan situasi ini.
"Maaf, ini acara temu kangen siapa ya?" Tanyanya dengan senyum sumringah.
"Ini sahabat terbaik Ibuk, Ngga... Rini dan suaminya Haris itu temen main sambil mandiin ternak dulu tuh..." Ujar Bu Ratih dengan semangat. Membuat anak-anaknya tertawa riang.
"Eehh... ada yang lebih seru lagi." Ucap Mami Rini yang sudah membuat Papi Haris, Bapak Budi, dan Bu Ratih tertawa cekikikan.
"Apa Mi?" Tanya Langit.
"Dulu, Papi mu itu mantan pacarnya Ratih dan Mami ini mantan pacarnya Budi." Ucap Mami Rini yang langsung mengundang gelak tawa mereka.
"Hahahaha... seriusan??" Tanya Langit yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
"Iyaaa... beneraan... lucu banget kan?" Jelas Mami Rini.
"Tapi kenapa kalian bisa terpisah?" Tanya Jingga.
"Karena saat itu, Papi Haris mengurus perusahaan orangtuanya di Jerman. Jadi semenjak disitu kami hilang kontak. Hingga sekarang, kami bisa bertemu kembali. Berkat kalian. Makasih ya... Bapak bisa bertemu sahabat karib masa perjuangan dulu." Ujar Pak Budiono kepada Jingga dan Langit.
"Tidak perlu terima kasih, Pak. Mungkin ini sudah jalannya. Melalui Jingga dan Langit." Ucap Langit dengan seulas senyum.
"Jadi, gimana, Bud? Nikahin aja mereka ya? Hahaha..." Ujar Papi Haris.
"Nikahin lah... biar gak nambah banyak dosa." Ucap Pak Budi dengan khas candaanya.
"Kita jadi besaann Ratiihh..." Sahut Mami Rini.
"Pak, Buk. Ini Jingga sama Langit belum mau menikah sekarang, lho..." Ujar Jingga.
"Lho, terus mau kapan?" Tanya Bu Ratih.
"Nanti kalau Langit dan Jingga sudah menyelesaikan pendidikan S3 kami." Jelas Langit.
"Apa gak kelamaan, Lang?" Tanya Mami Rini.
"Insya Allah enggak, Mi. Doakan ya..." Ucap Langit dengan senyum manis yang ia tampakkan.
"Yasudah, kalau itu mau kalian. Setidaknya kalian tunangan dulu ya." Ujar Papi Haris.
"Kami juga tidak ingin bertunangan dulu, Pi." Jawab Jingga dengan sopan dan lembut.
"Lho, terus maunya gimana? Kedua keluarga sudah setuju." Ujar Papi.
"Kita hanya ingin memberitahu maksud baik kepada kalian. Kami ingin segera menikah. Sesegera mungkin. Tapi tidak sekarang. Karena prioritas kami saat ini adalah pendidikan. Terutama Langit. Pendidikan Langit dan pekerjaan Langit di kantor harus seimbang. Biarkan kami memantaskan diri dulu ya, Mi, Pi, Pak, Bu." Jelas Langit.
Akhirnya kedua keluarga menyepakatinya bersama. Langit dan Jingga menyelesaikan pendidikan mereka dahulu kemudian baru menikah.
Flash Back Off
__ADS_1
******
2019, Jakarta, Indonesia.
Setelah sibuk menolong Nabila yang hampir terjatuh di lantai yang licin. Langit dan Jingga kembali ke pelaminan.
Saat Jingga menaiki tangga pelaminan kakinya menginjak gaun panjangnya. Hampir saja Jingga terjungkal kebelakang jika Langit tang menopang tubuhnya.
"Hati-hati sayang..." Ucap Langit yang seketika membuat wajah Jingga merona. Untung nyaru sama make up.
Lalu, Langit menggandeng Jingga untuk duduk di pelaminan. Mereka lelah karena harus duduk dan berdiri untuk menyambut tamu-tamu yang datang.
5.000 undangan yang tersebar dari keluarga Langit dan Jingga. Itu baru yang orangtua, belum ditambah dengan teman-teman Langit dan Jingga yang acaranya mereka selenggarakan secara terpisah.
Jingga sejak tadi meremas tangan Langit karena menahan sakit yang bergejolak di perutnya. Saat dirasa tamu sudah mulai berkurang, Jingga duduk sebentar dan menyandarkan sedikit kepalanya di lengan Langit.
"Sayang, istirahat aja dulu ya. Mm?" Tanya Langit kepada Jingga sembari mengelus lembut pipi Jingga.
Langit tau betul, jika Jingga sedang datang bulan, perutnya akan melilit dan menyiksanya. Pinggang pegal dan panas. Itu yang Jingga ceritakan.
"Perut aku sakit banget." Ucap Jingga berbisik lirih kepada Langit.
Belum sempat Langit menanggapi perkataan Jingga. Sudah ada tamu datang bersama dengan rombongannya yang entah berapa orang.
Langit tau, Jingga sedang menahan sakit yang sungguh luar biasa, tapi ia tetap tersenyum. Bahkan ia sama sekali tak menunjukkan guratan wajah sedih atau kesakitannya.
Setelah rombongan itu turun, Jingga terduduk kembali dan berucap.
"Mas... aku gak sanggup. Sakit banget." Ujarnya yang menutupi air matanya menahan sakit.
Langit tak berkata apa-apa. Ia berpamitan dengan Bapak dan Ibu serta Mami dan Papi untuk membawa Jingga turun dari pelaminan untuk berganti baju yang lebih nyaman.
Saat berjalan menuju ruang rias, Jingga berhenti sebentar karena ia merasakan darah haid yang keluar dari vaginanya begitu deras sekali. Ia meremas kuat lengan langit sambil meringis kesakitan.
Langit yang melihat istrinya kesakitan seperti itu tidak ingin membiarkannya lebih lama. Langit menggendong Jingga sampai ke ruang rias.
Jingga tak memberontak. Tubuhnya sudah lemas karena menahan sakit di perutnya. Ia melingkarkan tangannya di tengkuk langit dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Langit mendudukkan Jingga di sebuah sofa besar.
"Dek, Mas tinggal ya. Mas ganti baju di ruang sebelah. Kalau adek butuh sesuatu panggil Mas aja. Ya." Ujarnya yang dijawab dengan anggukan Jingga.
Langit mencium kening Jingga dengan lembut dan dalam. Kemudian ia menitipkan Jingga kepada Chika dan Mala yang ada di ruang rias tersebut.
"Ngga, lo lagi datang bulan ya?" Tanya Mala yang tau betul sejak dulu, Jingga itu kalau datang bulan akan merasakan sakit yang teramat sangat.
"Ini, Ngga. Coba di kompres pakai ini. Masih hangat kok." Chika memberikan handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air hangat.
Jingga bersih-bersih dan berganti pakaian yang lebih santai. Ia mengenakan gaun berwarna biru dengan jilbab yang menjuntai sampai dada.
Yang sekarang, bagian kolega-koleganya Langit. Teman bisnis Papi, teman hebringnya Mami, dan teman-teman Langit selain Juna dan Fahri yang begitu mewah pakaiannya.
"Sayang..." Panggil Langit kepada Jingga yang sedang menata jilbabnya.
"Iya, Mas..." Jawab Jingga.
"Dek, kamu___" Langit belum sempat meneruskan kata-katanya, ia terpesona melihat ke anggunan istrinya.
"Mas ! Kok melamun sih." Ucap Jingga yang belum tau bahwa Langit sangat terpesona dengannya.
"Kamu cantik banget, sayang..." Ujar Langit dengan binar matanya.
"Makasih..." Jawab Jingga malu-malu.
Langit yang gemas sekali melihat rona merah pipi Jingga segera menciumnya, memeluk erat tubuh Jingga, lalu mendaratkan ciuman lembut di keningnya.
"Eheem... batuk, hoek." Ujar Mala yang kala itu masih ada di ruangan bersama Chika dan para penata rias.
"Ngga... tega banget sama jomblo..." Ucap Chika yang hanya bisa melihat dengan wajah sendunya.
"Hahaha... sorry. Lupa kalau ada jomblo di sini." Ujar Langit dengan candaannya.
"Iihh. Langgiiittt !!! Jingga !! Laki luh tuh." Ujar Chika sambil bersungut-sungut.
"Mas... udah, ah. Seneng banget deh ngeledekin Chika." Ucap Jingga yang memukul manja dada Langit yang bidang.
Mala yang melihat tingkah kekanak-kanakannya Chika hanya menggeleng-geleng kan kepalanya dan mengajak Chika keluar ruang rias tersebut.
Langit tau, Jingga cukup nerveous untuk keluar saat ini karena koleganya yang sudah pasti akan membandingkannya dengan kasta harta dan kedudukannya.
"Sayang... dengar aku. Apapun yang mereka katakan, kamu itu tetap pilihanku. Aku mencintaimu tanpa syarat. Jadi, percaya sama Mas ya." Ujar Langit sambil mencium kening Jingga membuat Jingga lebih tenang sejenak.
Mala dan Chika duduk di luar dekat taman. Mereka sedang berbincang dengan Fahri dan Daffa.
Juna sedang sibuk mengurus Nabila yang hamil dan saat ini sedang menahan sakit luar biasa karena kram di perutnya akibat shock karena hampir terpleset lantai yang licin.
Pernikahan Langit - Jingga pun terasa meriah walaupun banyak lambe yang mencibir ria tentang Jingga yang tak berasal dari kasta yang sama dengan Langit.
Namun, Jingga tak menghiraukannya. Ia anggap angin lalu. Yang justru terfokus dengan Ayudia. Yang datang ke pernikahannya bersama dengan seorang lelaki.
"Selamat ya, Jingga... udah berhasil merebut Langit dari aku." Ujarnya sambil bersalaman dengan Jingga dan menampilkan senyum manisnya.
Mala dan Chika yang mendengar begitu geram dengan aksi Ayudia yang dengan seenaknya bicara pada Jingga seperti itu.
Jangankan Mala sama Chika. Suaminya aja, Langit itu udah hampir mau maju menghadapi mulut nyinyirnya Ayudia. Tapi di halau oleh Jingga.
"Makasih ya Ayudia. Kalau bukan karena kebesaran hati kamu yang merelakan Langit buat aku, mungkin kita belum sampai sini." Jawab Jingga dengan senyum sumringahnya.
Langit, Mala, Chika dan Fahri yang baru datang saling pandang dan terkekeh bersama. Karena wajah Ayudia merah padam menahan amarah.
Langit langsung saja mencium pipi Jingga karena gemas dengan tingkah istrinya itu. Tindakan Langit yang mencium pipi Jingga semakin membuat Ayudia geram dan akhirnya ia berpamitan pulang. Laki-laki yang datang bersamanya tengah disibukkan untuk mengejar Ayudia.
"Sosorrr teroosss..." Ujar Fahri yang meledek Langit.
"Biarin. Udah halal ini." Jawab Langit yang membuat Fahri mati kutu.
__ADS_1
*Ya, gak salah juga sih... suami - istri mau ngapain juga udah halal. 😆
********