Langit Jingga

Langit Jingga
Sakittt


__ADS_3

Merasa sangat geram atas apa yang di lakukan oleh Jingga. Langit pun semakin tak kuasa dan segera menarik tengkuk Jingga. Ia segera melumaat bibir yang sejak tadi menggoda iman nya.


Jingga yang mendapatkan serangan mendadak seperti itu, seketika membuat pikirannya kosong. Seolah tidak bisa berfikir sama sekali karena terkejut. Namun, Langit seolah buta dan tuli, tidak memperdulikan bagaimana ekspresi Jingga.


"Aku akan mengabulkan permintaan mu!" bisik Langit di telinga Jingga, sehingga membuat arwah Jingga yang tadi sempat hilang, langsung berkumpul menjadi satu.


Jingga langsung membulatkan matanya dengan sempurna, ia tak menyangka bahwa ternyata pancingan nya berhasil mendapatkan hasil besar. Dengan perlahan, Jingga memejamkan matanya, menikmati apa yang di lakukan Langit pada bibir nya.


Langit segera beranjak dari tempat duduk nya, tanpa melepaskan pagutan bibir nya, kini Langit mulai berjalan menaiki tangga dan menuju kamar.


Brakkk!


Karena kedua tangan nya memegang bongkahan bemper milik istrinya, Langit pun membuka pintu kamar nya dengan menggunakan kaki. Sehingga membuat suara yang begitu merdu.


"Mas... " Jingga hendak protes, namun lagi lagi dengan cepat Langit membungkam bibir Jingga kembali.

__ADS_1


"Hemmmtt!" Jingga mendongakkan kepala nya sambil tangan nya meremas rambut Langit ketika kepala Langit kini mulai berjelajah pada leher jenjang nya.


"Sekali maju, aku tidak akan bisa mundur!" ucap Langit mengusap rambut Jingga.


Kini, ia sudah merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Entah sejak kapan, kini keduanya sudah sama sama toples hingga membuat Jingga merasa sangat canggung dan sedikit takut.


"Tapi tunggu dulu. I—itu nanti, "


Glek!


Jingga menggelengkan kepala nya. Seolah tak percaya dengan apa yang matanya lihat. Biasanya, ia hanya melihat bentuk seperti itu ada di gambar atau foto. Dan kini, ia melihat nya begitu nyata dan di depan mata nya sendiri.


"Ingat, kamu yang sudah membangunkan nya, jadi kamu juga yang harus menidurkan nya!" ucap Langit lalu ia segera menindih tubuh istrinya.


Bersiap akan memulai permainan bola seperti yang di inginkan sang istri.

__ADS_1


"Tapi itu... Tungguuu!" pekik Jingga ketika merasakan ada yang menyentuh pintu selatan nya Bukan hanya menyentuh bahkan seperti terasa ada yang mengetuk ngetuk pintu nya.


"Bagaimana kalau tidak muat?" tanya Jingga seketika menjadi bodoh, membuat Langit langsung mengurungkan niat dan mengerutkan dahi nya Jingga.


"Tidak mungkin, tidak muat!"


"Mungkin saja, mas lihat deh, itu Jingga kecil begitu. Sementara itu, gede banget!" kaya Jingga polos sambil menelan saliva nya.


Langit yang sudah tidak sabar akan mencetak gol, merasa sangat frustasi mendengar pertanyaan konyol Jingga. Ia memilih untuk mengabaikan dan hendak melanjutkan permainan kembali.


"Mas, sakit bangettt!" pekik Jingga langsung menggigit bibir bawah nya.


lagi lagi, dan lagi Langit harus di buat frustasi karena Jingga tiba tiba mengeluh kesakitan sambil memegang perutnya. Padahal dirinya baru hendak menyentuh pintu.


"Ada apa lagi!" seru Langit langsung mengusap wajah nya frustasi. Istrinya yang sudah memancing nya, dan kini selalu ada saja yang di lakukan oleh Jingga untuk menggagalkan pertandingan malam ini.

__ADS_1


"Sakit Mas!" rintih Jingga dengan mimik wajah memelas. Dan detik berikutnya, Langit langsung membulatkan matanya ketika melihat bercak darah sudah membasahi sprei putih nya.


"Astaghfirullah!"


__ADS_2