Langit Jingga

Langit Jingga
Belajar


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu dan bulan pun silih berganti. Waktu ujian pun telah tiba, selama masa ujian, Jingga selalu mengurung diri di dalam kamar tamu. Ia tidak mau di ganggu oleh siapapun, termasuk Langit.


Bukan marah, hanya saja, dirinya ingin fokus belajar agar bisa mendapatkan nilai sempurna. Setidaknya, hasil ujian kali ini, Jingga ingin jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan kalau bisa, nilai nya lebih baik dari nilai nilai Biru.


Jingga masih ingat bagaimana bunda nya selalu membandingkan antara nilai nya dengan Biru. Dan kali ini, Jingga sedang berusaha agar bunda nya tak bisa membandingkan nya lagi. Ya, walaupun sang bunda sudah tiada. Namun Jingga percaya, bahwa bunda nya bisa melihat usaha dia dari atas sana.


Tok... tok... tok...


"Jingga, buka pintu nya!" panggil Langit mengetuk pintu kamar.


Satu menit


Dua menit


Bahkan sampai lima menit, Langit tidak juga mendapatkan jawaban dari panggilan nya. Akhirnya ia memaksa membuka pintu.


"Jingga buka pintu nya, atau aku dobrak!" panggil Langit lagi mengancam.

__ADS_1


Bukan marah, Langit hanya khawatir. Dua minggu terakhir ini, Jingga terlalu serius dalam belajar. Sehingga membuat nya jarang makan, karena di kepala nya hanya berisi belajar, belajar dan belajar. Langit hanya khawatir dan takut bila nanti Jingga sakit.


Brakk!


Dan dengan sekali gebrakan, Langit berhasil membuka pintu kamar tamu yang di huni oleh Jingga.


"Mas, ngapain?" tanya Jingga polos ia segera membuka earphone nya dan menatap Langit dengan bingung.


Langit langsung menghela nafas nya dengan kasar, pantas saja dirinya teriak teriak memanggil Jingga dan tidak ada sahutan sama sekali. Itu karena telinga Jingga sedang tersumbat earphone.


"Ini jam berapa?" tanya Langit dengan raut wajah datar nya menahan geram.


Lagi lagi dan lagi, Langit mengusap wajah nua frustasi.


"Kamu sudah makan?" tanya Langit masih berusaha menahan kesabaran.


"Belum," jawab nya santai, "Ini nanggung sebentar lagi selesai."

__ADS_1


"Jingga, kamu makan sekarang atau—"


"Atau apa? mas mau suapin Jingga?" tanya Jingga begitu antusias, "Mauuuu!" imbuh nya dengan nada manja.


Seketika Langit langsung menepuk kening nya dan menghela nafas panjang. Ia ingin. mengancam Jingga agar mau makan, malah berujung dirinya di suruh menyuapi.


Tidak ingin memperpanjang masalah, akhirnya Langit pun pasrah. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil makanan untuk menyuapi Jingga.


Dengan telaten, seperti seorang ayah yang sedang membimbing anak nya belajar sambil menyuapi. Kini pikiran Jingga menjadi ambyar, ia kembali teringat dengan sosok ayah nya yang kini sudah tiada.


"Hiks!" satu isakan lolos dari bibir Jingga namun dengan cepat ia berusaha untuk menghapus nya dan menahan nya.


"Kenapa?" tanya Langit langsung panik ketika mendengar isak tangis Jingga, walau sedikit namun telinga nya begitu peka.


"Jingga udah gak. bisa belajar, Jingga kangen sama ayah," gumam nya lirih, kini kepala nya menunduk dan satu tetes air matanya jatuh menimpa buku pelajaran nya.


"Besok, sebelum ke sekolah kita ke tempat ayah sama bunda ya." Langit pun meletakkan piring nya dan menarik Jingga ke dalam pelukan.

__ADS_1


Jingga pun langsung mengangguk dan semakin mengeratkan pelukan nya pada Langit.


"Jingga nyaman banget di peluk begini, Jingga suka." gumam Jingga lagi dan semakin mengendus dada bidang suami nya.


__ADS_2