Langit Jingga

Langit Jingga
Gara-gara Pecel


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Mas ... “ Jingga keluar dari kamar nya dengan pakaian yang sudah rapi, lengkap dengan tas selempang mungil di lengan nya. Meski jalan nya masih sedikit pincang, namun ia begitu semangat untuk mengajak Langit pergi malam ini.


“Iya,” jawab Langit dari dalam ruang kerja nya yang memang sengaja tak ia tutup agar bisa mendengar bila Jingga mencari nya.


“Ayo berangkat!” katanya dengan penuh semangat dari ambang pintu.


“Berangkat? Kemana?” tanya Langit mengerutkan dahi nya.


Mata Langit menatap Jingga dan jam di dinding nya secara bergantian. Benarkah istrinya mengajak pergi? Di saat jam sudah menunjuk angka setengah dua belas? Batin nya.

__ADS_1


Sejak kejadian beberapa saat lalu dimana kaki Jingga kesleo dan dirinya yang di salahkan, Langit memilih untuk pergi ke ruang kerja nya. Dan kini, tiba tiba datang dan langsung mengajak nya pergi keluar. Seketika itu juga Langit langsung berdoa, semoga istri nya memang masih normal dan bukan karena kesurupan, batin nya.


“Ihhh ayo Mas, Jingga mau makan pecel! Buruan ayoo!” ajak Jingga langsung menarik narik tangan Langit agar beranjak dari kursi kerja nya.


“Tunggu, Sayang. Kamu mau pecel? Kamu lihat ini jam berapa? Dimana kita ari pecel? Astaga, yang bener aja dong,” kata Langit menghela nafas dengan berat.


Jingga langsung melepaskan tangan Langit, kepala nya menunduk dan langsung menatap ke arah lantai. Seolah dirinya membenarkan perkataan Langit, bila di pikir, kemana dirinya akan mencari pecel sayuran yang berjualan di tengah malam begini.


Baru beberapa menit Langit duduk dan berfikir, tentang makanan yang di inginkan oleh istri nya. Detik berikut nya, matanya sukses di buat membola, ketika mendengar suara deru mesin mobil dari luar rumah. Langit segera beranjak dan berlari keluar, dan benar saja ternyata Jingga pergi sendiri dengan membawa mobil nya.


‘Shiittt!’ umpat nya, lalu ia segera berlari mengambil kunci mobil nya dan mengejar mobil Jingga.

__ADS_1


Sementara itu, Jingga yang melihat bahwa mobil Langit, mengikuti nya dari belakang, hanya mampu mengulum senyum. Namun ia tetap tidak menghentikan laju mobil nya, justru kini dia malah semakin menambah kecepatan mobil nya dengan cukup tinggi.


Jingga menyalakan musik kesukaan nya, tak lupa ia juga menghubungi Raihan agar mencarikan restauran atau penjual yang menjual pecel sayuran lengkap dengan peyek nya. Karena tadi, tanpa sengaja Jingga melihat sebuah video kuliner di aplikasi tok tok , yang begitu menggugah selera, sehingga membuat Jingga nekat mencari makanan tersebut.


‘Yang bener aja Jingga. Ini udah jam segini, mana ada yang jual woy!” pekik Raihan begitu kesal, lantaran di telfon tengah malam, hanya untuk menanyakan soal makanan, “Kalau pecel ayam, banyak tuh yang jual di depan komplek gue. Tapi kalau pecel sayur, mana ada Jingga!” imbuh nya menahan geram, pasal nya kini Raihan baru saja tertidur belum lama, dan Jingga dengan santai nya mengganggu.


“Gak mau gue, maunya pecel sayuran. Di siram pakai sambal kacang, terus kasih peyek yang lebar lebar. Ahhhh Raihan, aku pengen ituuu!” teriak Jingga sampai susah menelan saliva nya sendiri kala semakin membayangkan makanan tersebut.


Tak berbeda dengan Raihan yang kesal lantaran di telfon oleh Jingga. Langit pun tak kalah kesal lantaran sejak tadi mencoba menghubungi Jingga, namun tidak bisa karena nomor nya sibuk. Namun, ia terus mencoba nya hingga tiba tiba ia harus menginjak rem nya dengan sekuat tenaga


Brakkk!!!!

__ADS_1


__ADS_2