Langit Jingga

Langit Jingga
Luapan emosi


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Kenapa harus Biru? kenapa selalu Biru dan kenapa harus dia?" gumam Jingga terus meracau di pelukan Langit, "Aku benci sama dia mas, aku benci hiks hiks."


"Lepasin Jingga, lepas Mas! kamu jahat Jingga juga benci sama kamu!" pekik nya terus memukul mukul dada bidang suami nya.


"Sayang, dengerin aku dulu. Plis, dengerin penjelasan aku!" ucap Langit menahan dua tangan Jingga di udara hingga membuat wanita itu tidak bisa melawan lagi.


"Aku memang bertemu dengan dokter Zara. Tapi itu tidak sengaja, dia yang menemani ku untuk mencari kue nastar itu. Karena dia juga menyukai makanan itu."


"Dan kamu pergi sama dia selama itu Mas!" seru Jingga kembali menatap Langit dengan lelehan air mata, "Kamu sama dia sampai ber jam jam. Kamu masih mikirin kak Biru, Mas. Kamu masih belum bisa lupain kak Biru. Kamu bohong sama aku, kamu pembohong. Jingga benci sama kamu, Jingga benci!" teriak Jingga semakin membabi buta.


"Jingga, mas sudah berusaha melakukan yang mas bisa selama ini. Mas sudah berusaha melupakan masa lalu dan hanya mencintai kamu!" kata Langit dengan begitu tegas.

__ADS_1


"Buksyiett!" pekik Jingga semakin kuat menepis tangan Langit, "Kalau kamu benar berusaha, maka kamu akan membuang semua barang itu Mas!"


Deg!


Seketika tubuh Langit menegang ketika mendengar kata kata Jingga. Matanya terus menatap mata sang istri dengan tatapan bingung. Langit bisa melihat bagaimana mata Jingga menatap nya dengan tatapan marah, kecewa dan terluka. Dan Langit bisa merasakan itu.


"Kenapa diem? kaget?" tanya Jingga dengan senyum getir di wajah nya, bahkan kini Jingga menepis tangan Langit dengan cukup kasar.


"Iya, aku tahu Mas! aku tahu semuanya hiks hiks hiks. Aku udah tau isi kamar di lantai bawah itu. Kamar yang selalu kamu ingatkan pada setiap pembantu disini agar tidak membiarkan ku masuk ke sana. Karena kamar itu berisi kenangan kamu sama Biru!" teriak Jingga meluapkan emosi nya.


Beberapa hari yang lalu, ketika Jingga hendak berjalan menuju kolam renang. Ia melewati sebuah kamar yang baru saja di bersihkan oleh salah seorang pembantu. Karena penasaran, akhirnya Jingga melihat nya setelah perdebatan panjang dengan pembantu tersebut.


Langit sampai mengancam para pekerja nya, kalau sampai membiarkan Jingga masuk maka dirinya akan di pecat karena di nilai sudah ceroboh.

__ADS_1


"Sampai segitunya kamu gak bisa lupain dia mas?" gumam Jingga begitu lirih, menahan sesak luar biasa di hati nya.


"Jingga sudah mulai berdamai dengan keadaan. Jingga sudah berusaha ikhlas menerima bahwa dia masa lalu kamu. Bahkan ketika siluman babi itu menghasut ku aku masih mencoba untuk percaya sama kamu. Ketika kamu bersama dokter Zara aku masih berusaha percaya sama kamu. Tapi—" Jingga menarik napas nya panjang, ia juga menggigit bibir bawah nya seraya memejamkan mata.


"Tapi setelah aku melihat isi kamar itu, pertahanan Jingga hancur Mas. Jingga sakit, Jingga gak kuat hiks hiks." Teriak Jingga begitu histeris di depan Langit.


"Ayah ... Bunda, dan kamu. Dan sekarang kamu!" tunjuk Jingga di depan wajah Langit.


"Kamu, Aaauuwhhhss—"


Jingga langsung menghentikan tangis nya kala merasakan sakit luar biasa pada bagian perut bawah nya. Begitu pun dengan Langit yang melihat perubahan wajah pada Jingga seketika menjadi panik dan khawatir.


"Sa—sayang ... "

__ADS_1


__ADS_2