
“Ayah hiks hikshiks.” Jingga langsung berlari dan memeluk ayah nya dengan sangat erat, “Ayah, bunda jahat. Kenapa bunda ninggalin Jingga, hiks hiks.”
Ketika Jingga tersadar, ia meminta mohon kepada Langit agar mengantarkan nya bertemu dengan sang ayah. Melihat kondisi Jingga sudah lebih baik, akhirnya Langit mengiyakan dan membantu Jingga berjalan menuju ruangan ayah Faris. Karena di sisi lain, Faris juga ingin bertemu Jingga, setelah tadi mengobrol cukup panjang dengan Langit.
Dan kini, di dalam ruangan itu hanya berisi tiga orang, yakni ayah Faris, Jingga dan Langit.
“Jingga marah sama Bunda hem?” tanya ayah Faris dengan begitu lirih, Jingga tahu bahwa saat ini ayah nya juga merasa sangat sedih dan sakit.
“Bunda jahat Ayah, Bunda ninggalin Jingga. Kenapa bunda hiks hiks hiks.” Hati Jingga begitu sesak di pelukan sang ayah, mengapa bunda nya tega meninggalkan nya.
“Bunda gak sayang sama Jingga,” kata Jingga tiba tiba, ia melepaskan pelukan nya kepada sang ayah, matanya begitu merah dan sembab dengan suara yang sudah sangat serak karena menangis, “Bunda lebih sayang sama Biru, bunda lebih memilih pergi sama Biru, bunda jahat!” pekik nya meluapkan rasa sesak di hati.
__ADS_1
Deg!
Langit langsung terkejut ketika mendengar suara Jingga yang berteriak seperti itu, ia hendak mendekat namun ayah Faris menatap nya dan menggelengkan kepala nya.
“Sayang ... Ayah sama bunda sayang banget sama Jingga. Kami sangat menyayangi Jingga.”
“Ayah bohong, cuma ayah yang sayang sama Jingga. Kalau bunda sayang sama Jingga, bunda gak akan ninggalin Jingga hiks hiks hiks. Jingga benci sama Biru, Jingga benci sma dia Ayah, dia udah ambil Bunda dari Jingga. Biru jahat hiks hiks.” Pekik Jingga semakin terisak dan kembali memeluk ayah nya.
"Dari dulu, Biru udah ambil perhatian dan pikiran Bunda. Dan sekarang, dia benar benar pisahin Bunda sama Jingga, hiks hiks."
"Tapi nyatanya, Bunda udah pergi, Ayah. Bunda lebih memilih menyusul Biru daripada disini bersama Jingga!" ucap Jingga lagi lagi membuat Faris tersenyum tipis.
__ADS_1
“Langit ... “ panggil Faris pelan menatap ke arah Langit yang juga tengah mengepalkan tangan nya kuat. Langit membenarkan perkataan Jingga, bahwa Biru memang jahat. Iya, Biru sangat jahat karena sudah meninggalkan begitu banyak kenangan dalam hidup nya. Langit pun juga benci dengan Biru, karena sudah tega meninggalkannya. Namun, rasa cinta nya jauh lebih besar di banding rasa benci itu, sehingga membuat nya sulit untuk move on hingga kini.
“Jingga, apakah Jingga menyayangi ayah?” tanya Faris menatap wajah Jingga dengan tatapan sayu.
“Perasaan Jingga gak enak, Jingga gak mau jawab pertanyaan Ayah. Jingga cuma mau ayah cepet sembuh. Ayah jangan banyak bicara hiks hiks hiks.” jawab Jingga menggelengkan kepala nya.
“Jingga ... mungkin waktu ayah tidak akan lama lagi. Ayah mohon, turuti permintaan ayah, untuk yang terakhir kalinya,” pinta Faris yang semakin membuat tangis Jingga pecah.
“Enggak! waktu ayah masih lama. Ayah gak boleh ninggalin Jingga, ayah gak boleh ikut bunda sama Biru. Jingga mohon Ayah, jangan tinggalin Jingga. Sudah cukup Bunda yang Biru ambil. Jingga gak mau sendiri, Jingga gak mau ayah ikut mereka. Hiks hiks hiks.” Seru Jingga menggelengkan kepala nya dengan kuat, di iringi isak tangis yang semakin memilukan.
“Ayah hanya ingin melihat kamu menikah sebelum ayah pergi. Impian ayah sejak dulu, hanya ingin mengantarkan putri ayah ke pelaminan bersama laki lai yang tepat. Ayah tiak di berikan kesempatan itu ketika kakak kamu, dan kini, Tuhan memberikan kesempatan untuk ayah, menikahkan kamu. Ayah mohon,”pinta Faris dengan suara terbata dan nafas terengah, tanpa perduli dengan perkataan Jingga sebelumnya.
__ADS_1
“Ayah gak boleh ngomong kaya gitu. Ayah masih bisa menikahkan Jingga nanti beberapa tahun ke depan. Setelah Jingga kuliah, kerja dan Ayah harus lihat Jingga sukses dulu, ayah gak boleh spergi sekarang hiks hiks.”
“Menikahlah dengan nak Langit.” Seketika Jingga langsung menghentikan tangis nya, ia berbalik dan melihat ke arah Langit yang sejak tadi berdiri di belakang nya dengan raut wajah datar.