
...~Happy Reading~...
Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, dimana ternyata ada siluman babi yang selalu mendatangi kantor suaminya, membuat Jingga selalu siap siaga. Setiap hari, dirinya akan mengikuti Langit untuk ke kantor, bahkan untuk meeting di luar pun, Jingga akan ikut. Jingga adalah istri yang penurut, selama Langit bekerja, ia selalu memilih untuk sedikit menjauh, asal masih dalam pantauan Langit, ia selalu membaca buku novel agar tidak merasa bosan.
Seperti siang ini, Langit sedang menemui klien nya di sebuah restauran, dan Jingga memilih tempat duduk yang tidak berada jauh dari tempat duduk Langit dan klien nya. Jingga tidak keberatan melihat Langit berbincang dengan seorang wanita, asalkan itu bukan siluman babi yang pernah mendatangi kantor suaminya.
Jingga sedikit mengerutkan dahi nya ketika melihat orang yang cukup ia kenal sedang berjalan memasuki restauran, “Om!” pekik Jingga melambaikan tangan nya ke atas memanggil seorang laki laki yang sering ia panggil Om.
“Jingga, kamu ngapain disini?” tanya nya sambil menatap ke sekeliling, hingga matanya menangkap sosok Langit yang tengah berbicara serius dengan seorang wanita dan asisten nya.
“Nemenin om Langit,” jawab Jingga tersenyum lebar, “Silahkan duduk Om,” imbuh nya, namun lelaki itu menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah di tunggu klien di dalam,” jawab nya membuat Jingga sedikit memanyunkan bibir nya, “Kapan kapan kita ngobrol lagi ya. Om masih bekerja.”
“Baiklah, sukses Om!” kata Jingga memberikan semangat pada laki laki yang tak lain dan tak bukan adalah Nathan.
Semua perbuatan Jingga, tak luput dari penglihatan Langit, hingga tanpa sadar membuat rahang laki laki itu mengeras dengan tangan yang mengepal kuat di bawah meja. Sekuat tenaga, Langit berusaha menahan emosi nya, ia berdehem sesaat dan melanjutkan perbincangan nya dengan klien. Hingga beberapa menit kemudian, merasa pekerjaan nya sudah beres, dengan cepat Langit segera menghampiri Jingga dan mengajak nya pulang.
“Ihh tapi Mas, makanan Jingga belom habis!” seru Jingga kesal karena tiba tiba tangan nya di tarik begitu saja oleh Langit.
“Max, bungkus makanan Jingga, dan kita kembali ke kantor!” titah Langit tanpa menatap ke arah Maxim, karena kini fokus nya pada jalanan di depan nya menuju mobil.
Sementara itu, Maxim yang mendapatkan perintah langsung ternganga, bagaimana tidak bila makanan yang di maksud Jingga adalah kentang goreng dan jus alpukat. Yang dimana kentang itu hanya tersisa beberapa potong saja, bisa di hitung jari. Sementara jus nya hanya tersisa es batu. Apa yang mau di bungkus? Batin Maxim ingin mengumpat kasar.
Akhirnya Maxim memilih untuk memesankan makanan yang baru dengan menu sama agar tidak terjadi masalah baru nanti nya. Tidak lucu bila dirinya terkena amukan hanya karena sisa kentang goreng dan jus alpukat.
__ADS_1
“Mas, kamu itu kenapa sih!” pekik Jingga menghempaskan tangan Langit ketika sudah sampai di dalam mobil.
“Sudah berapa kali ku katakan, jangan temui Nathan!” kata Langit dengan suara yang tak kalah seru.
“Jingga gak nemuin, orang om Nathan sendiri yang datang dan menemui Jingga kok!” elak Jingga membela diri.
“Kamu yang memanggil nya!” ralat Langit seraya menghela nafas kasar.
“Jingga Cuma manggil. Om Nathan yang nyamperin Jingga. Lagian, dia punya mata sama kaki kok, wajar aja kalau dia ngeliat Jingga dan nemuin Jingga. Kamu ini aneh banget deh!” cetus Jingga tak habis pikir.
Menurutnya sikap Langit semakin hari semakin menjadi, semakin posesif dan semakin tak terkendali. Tanpa dia sadari bahwa dirinya jauh lebih parah dari Langit.
“Tapi tunggu dulu!” Jingga kembali menatap wajah suaminya yang terlihat masih begitu kesal padanya, “Mas cemburu ya?” tanya nya dengan senyum lebar.
Bukan hanya senyuman, namun kini Jingga sudah berpindah duduk di pangkuan Langit, hingga membuat Langit semakin terkejut.
“Jangan macem macem kamu, Jingga!” kata Langit memberikan peringatan tanda bahaya, pasalnya ia sudah lelah karena selalu terkena PHP.
Dengan gerakan cepat, Jingga langsung mencuri star dari Langit, ia langsung mengecup bibir suaminya dengan begitu mesra. Berkat novel yang sering ia baca dan pelajari selama satu minggu terakhir ini, kini dirinya sudah bisa langsung praktek kepada sang suami, mengingat tamu nya sudah pergi entah kemana, jadi Jingga tidak akan mengecewakan suaminya lagi.
Sementara Langit yang mendapatkan serangan mendadak seperti itu di buat semakin bingung, lantaran otak nya masih bekerja, namun sebagian lagi sudah berkelana. Ia sudah berusaha untuk menghindari dan melepaskan pagutan nya, namun Jingga malah semakin agresif hingga membuatnya semakin tidak bisa menahan lagi.
Brug!
“Ini!” ucap Maxim yang tiba tiba masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi, seketika membuat Jingga langsung menghentikan aksi nya.
__ADS_1
“Jangan lihat ke belakang!” seru Langit sedikit panik ketika Maxim hendak membenarkan kaca spion di atas nya.
Langit menghela nafas nya dengan cukup kasar, sementara Jingga hanya terkekeh dan menutup wajah nya malu malu. Langit segera mengancingkan kembali pakaian Jingga yang sempat ia buka. Padahal ia baru membukanya belum mencicipi apalagi menikmati, namun Maxim sudah datang dan menggagalkan acara minum nya.
“Astaga Lang,” Maxim hanya mampu menggelengkan kepala nya lalu menunduk dan menyandarkan kepala nya pada setir mobil.
Sungguh hari ini nasib nya sangat sial, pertama dirinya harus membungkus makanan sisa yang tinggal seujung jari. Kedua, dirinya harus di suguhkan penampilan Langit dan Jingga, meskipun ia tidak melihat dengan jelas, namun Maxim adalah pria dewasa. Bahkan dia sudah punya anak, jadi dia tahu apa yang di lakukan oleh Langit dengan Jingga di belakang sana.
Setelah tenang, Langit segera menyuruh Maxim untuk menjalankan mobil nya. Sementara Jingga, dia enggan untuk turun sehingga masih bertahan duduk di atas pangkuan Langit.
“Mas, lihat deh, kaki Jingga tadi kepentuk kursi," ucap nya sambil sedikit mengangkat kaki sebelah kanan nya, guna memperlihatkan bahwa memang benar ada sebuah goresan luka kecil di kaki jenjang Jingga yang begitu mulus.
"Kenapa bisa begitu? Astaga Jingga, kau itu selalu ceroboh!" pekik Langit menahan geram, ia segera menurunkan tubuh Jingga di samping nya, lalu meminta kotak obat kepada Maxim.
"Kan tadi, mas Langit yang narik- narik Jingga kaya kambing." saut Jingga tak kalah kesal nya kepada Langit.
Langit langsung terdiam mendengar ocehan Jingga, seolah berfikir bahwa memang benar tadi dirinya sudah bersikap sedikit kasar padanya.
"Maaf," ujar Langit begitu menyesal, lalu dengan perlahan ia mulai membersihkan luka itu dan mengobati nya.
"Jingga gak mau kembali ke kantor, Jingga mau pulang ke rumah!" kata Jingga langsung membalik tubuh nya menghadap ke jendela dan membelakangi Langit. Bahkan ia mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan menekuknya.
Langit yang melihat istrinya merajuk, akhirnya meminta Maxim untuk putar arah dan pulang ke rumah. Walaupun berat, karena masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai, namun Maxim tak bisa menolak. Ia hanya bisa pasrah dan bersiap mengabari istrinya, bahwa ia akan lembur malam ini.
'Nasib!' keluh Maxim dalam hati mendengus.
__ADS_1