
“Saya terima nikah dan kawin nya, Jingga Alesha Syarif binti Faris al syarif dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!” ucap Langit dengan begitu tegas dan lantang.
“Bagaimana saksi?”
Sah
Sah
Sah
“Alhamdulilah,” ucap semuanya serentak ketika Langit berhasil mengucapkan ijab qobul nya dengan Jingga.
Tidak ada pesta meriah, Langit dan Jingga hanya melakukan ijab qobul di dalam ruang perawatan ayah Faris. Kebaya putih dan sanggul simple yang membalut dan menghias tubuh Jingga terlihat begitu cantik dan anggun, namun semua itu tidak ada artinya untuk Jingga. Selama proses ijab qobul ia selalu berusaha menahan air mata nya dengan mata yang terus menatap ke arah sang ayah. Dan kini, setelah acara itu selesai, Jingga segera beranjak dan berlari kembali ke brankar menatap wajah ayah nya yang sudah sangat pucat.
“Langit, ayah titip putri ayah. Tugas ayah sudah selesai,” ucap ayah Faris lirih dan terbata, “Berjanjilah bahwa kamu akan mencintai nya dan menjaga nya untuk ayah.”
“L—Langit berjanji,” jawab Langit setelah menghela nafas nya berat.
__ADS_1
“Jingga,,.. putri ayah, uhukk hukk uhukk! Berjanjilah pada Ayah, bahwa kamu kaan bahagia ... “ pinta nya mengusap wajah Jingga, air mata Jingga semakin deras membasahi pipi nya.
“Jingga akan bahagia kalau sama Ayah, hiks hiks hiks. Jingga mohon jangan tinggalin Jingga, Ayah. Jangan pergi hiks hiks. Jingga gak punya siapa siapa lagi. Jingga mohon hikshiks hiks.”
“Hey, anak ayah gak boleh cengeng. Sekarang Jingga sudah dewasa, sudah menikah, Jingga harus bisa menjadi istri yang baik untuk Langit, berjanjilah Nak.”
“Jingga hiks hiks hiks.” Jingga sudah tidak sanggup meneruskan kata kata nya, dada nya terasa begitu sesak dan hatinya sakit, mendengar dan melihat sang ayah yang berbicara seperti itu.
Apakah dirinya sanggup hidup seorang diri tanpa orang tua? Mengapa takdir begitu jahat mempermainkan nya. Mengapa dirinya harus lahir ke dunia bila memang ia harus di tinggalkan, batin Jingga menangis.
“Ayah hiks hiks hiks, Ayah jangan tinggalin Jingga, Jingga mohon.” Jingga terus menggenggam tangan ayah nya yang berada di wajah nya, dengan tangan satu lagi yang ikut terulur menghapus air mata ayah Faris.
“Bahagialah Nak ... “
Tittttt ....
“Ayahhhhhhhhh!” jerit Jingga berteriak sekencang mungkin ketika mata ayah nya mulai tertutup dengan tangan yang berangsur lemas dari wajah nya.
__ADS_1
“Ayah bangun ayah. Ayah bangun, Jingga mohon hiks hiks bangun Ayah hiks hiks.”
"Gak mau! Ayah bangun Jingga gak mau Ayah! ayah banguuuun!!!"
Jingga terus mengguncang tubuh ayah nya agar bangun. Dengan cepat, para dokter dan suster pun mengambil tindakan untuk mengecek kondisi ayah Faris.
“Dokter, tolong ayah saya dok, tolongin ayah hiks hiks.” Pinta Jingga begitu histeris dan enggan untuk mundur sekejab.
Langit yang merasa tak tega dan ikut merasa sesak, ia memeluk Jingga dan membawa anya keluar agar dokter bisa memeriksa keadaan ayah Faris lebih lanjut lagi.
“Om, ayah Om, hiks hiks. Ayah mau pergi, gak boleh Om, ayah gak boleh pergi, hiks hiks.” Langit semakin mengeratkan pelukan nya pada Jingga, bahkan Maxim, Gerry dan seorang penghulu yang masih berada di sana tadi, ikut meneteskan air matanya tak tega.
“Ayah— “
Brukkk!
“Jingga!” pekik Langit ketika lagi lagi Jingga terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
__ADS_1