
8 TAHUN KEMUDIAN
*****
Juna dan Nabila sudah hidup bahagia dengan keluarga kecil. Ketiga anaknya yang membuat hiruk pikuk di rumah kini sudah beranjak dewasa. Satu persatu mereka pergi meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu di Negara orang.
Sekarang mereka seperti honeymoon lagi. Di rumah hanya tinggal Juna dan Nabila. Genta yang sudah dewasa, kini ia dipercaya sang Papa untuk mengambil alih kursi jabatan dan menetap menjadi CEO di perusahaan property. Yang sekarang stay di Jerman.
Kecerdasannya yang melampaui batas kemampuan orang normal hampir membuatnya terlihat sempurna jika ia mau tersenyum sedikit. Terkenal arogan, oleh kalangan karyawan kantornya.
Bahkan terkadang membuat Nabila sang Mama menjadi pusing bukan kepalang dibuatnya karena sang perjaka yang masih gemar dengan pekerjaannya tapi belum memikirkan untuk menikah.
Beda Genta, beda lagi Gema. Gema anak kedua dari Juna dan Nabila. Kepribadiannya yang kalem membuatnya banyak di segani oleh karyawan kantor Papanya.
Gema sekarang masih meneruskan kuliah di New York, Amerika. Yang paling sering menelepon sang Mama. Ia juga sedang menangani perusahaan Papa Juna di New York yang bekerjasama dengan perusahaan Langit.
Selain itu, sang bontot Ginanita biasa di panggil Ginan sangat ekspresif seperti sang Mama Nabila. Ia masih kuliah di Jakarta yang akan meneruskan S2 di Jepang.
Meski anak perempuan yang paling bontot tak berarti ia anak yang manja. Justru Ginan anak yang sangat mandiri. Independent girl.
Juna dan Nabila sangat bahagia melihat anak-anaknya yang tumbuh menjadi orang dewasa yang nantinya bisa Mama Nabila dan Papa Juna andalkan.
Hari itu, Genta, Gema, dan Ginan sedang berkumpul di rumah. Mama Nabila dan Papa Juna menyusul ke ruang tengah.
"Ma, Pa, ada apa deh? Kok kita di kumpulin di sini? Udah kayak giring domba." Ujar Ginan yang mengundang tawa keluarganya.
"Kalian tau, kan? Papa sama Mama gak bisa basa-basi." Ucap sang Papa.
"Iya, Pa. Langsung saja." Jawab Gema.
"Papa sama Mama mau mengenalkan Genta kepada seorang perempuan." Ucap Papa yang justru malah membuat anak-anaknya bingung.
"Maksud Papa, Genta mau Papa jodohkan dengan anak teman Papa." Ujarnya yang akhirnya membuat Gema dan Ginan mengerti. Tapi, Genta??
"Pa, Ma, ini bukan lagi zamannya untuk di jodohkan. Kenapa harus ada perjodohan. Genta gak setuju." Ucap Genta dengan emosi menggebu.
"Ma, Pa, memang perempuan yang mau jadi kakak ipar Ginan siapa?" Tanya Ginan yang asyik nyemil kentang goreng. Padahal suasana lagi tegang gitu.
"Kamu kenal sama Om Tariq dan Tante Hafsah kan? Kakak Alea. Kakak kelas kamu, Ganin. Kenal kan?" Tanya Mama Nabila.
"Ohh... iya, iya. Itu sih cantik banget. Abi sama Uminya Arab punya itu." Jawab Ganin.
"Kamu kenal, Nin?" Tanya Genta.
"Kenal lah, Mas Genta... itu sering ngaji bareng Ganin. Suaranya kalau lagi baca ayat-ayat Al-Qur'an, Masya Allah... indah banget. Bikin merinding bulu Roma. Hahaha..." Ucapnya yang lagi-lagi mengundang tawa keluarganya.
"Tapi, Ma. Bukannya Kak Alea lagi kuliah di luar Negeri ya?" Tanya Ganin.
"Iya. Sudah selesai kuliahnya, Ganin. Makanya kembali ke Indonesia. Sekalian menghadiri acara resepsi Kakaknya." Ujar Mama Nabila.
"Oh, iyaaa... bener... Ganin lupa. Kak Alea kemarin sempat chat kalau dia akan kembali ke Indonesia setelah wisuda." Terang Ganin.
"Kamu punya fotonya, Nin?" Tanya Genta.
"Ada kalau gak salah deh." Ujar Ganin yang sedang meng-scroll ponselnya untuk mencari foto Alea.
"Jangan di kasih tau, Ganin. Biar saja. Masmu kan katanya gak mau di jodohkan." Ucap Papa Juna.
"Okay, okay !! Genta nyerah. Kalau Papa dan Mama sudah bilang begitu. Genta ikut aja." Jawab Genta sambil mengangkat tangan mengibarkan bendera putih.
"Mas Gema, kok diam saja dari tadi. Kenapa? Jangan-jangan Kak Alea itu gebetannya Mas Gema ya?" Tanya Ganin menyelidik.
"Yee... ngaco. Kenal juga enggak. Tau bentuk orangnya aja gak paham. Gebetan dari mana cumi??" Ujarnya yang mengacak-acak kepala sang adik.
Mama Nabila, Papa Juna, serta Genta jadi ikut terperangah dan terkejut atas perkataan si bontot Ganin.
"Ya, Allah... Ma, Pa, percaya deh. Gema gak tau itu yang namanya Alea gimana orangnya. Mama sama Papa kan tau, Gema orangnya gimana." Terang Gema kepada Mama Nabila dan Papa Juna yang sudah menunjukkan wajah terkejutnya.
"Ganin nih... jadi pada salah paham semua kan sama gue." Ujar Gema.
"Hahaha... kena deh." Ucap Ganin yang mendapat cubitan dari Mama dan Papanya.
"Eh, tapi seriusan Nin. Coba gue liat, yang namanya Alea kayak apa sih." Ujar Gema yang sungguh penasaran.
"Oh... ini. Pernah lihat sekilas gue. Waktu jemput lo di kampus. Anaknya kelihatannya kalem." Ucap Gema.
"Lo udah kenal, Gem?" Tanya Genta.
"Enggak. Pernah lihat aja. Itupun cuma sekilas. Cocok tuh Alea kalau sama lo, Mas." Ujar Gema.
"Iya, Kak Alea yang lemah lembut, Mas Genta yang bringasan. Cocok. Hahaha..." Jawab Ganin yang mengundang Genta mengacak-acak rambut Ganin.
Percakapan di keluarga Juna dan Nabila hari itu cukup lama dengan topik pembahasan perjodohan antar Genta dan Alea.
*****
"Bundaaa... Azril berangkat ya..." Ujar Azril anak sulung dari Mala dan Daffa yang saat ini sedang menyelesaikan study lanjutannya sambil berkutat mengurus perusahaan sang Ayah.
"Iya, Nak... lho, adikmu gak di ajak? Kasihan dong... nanti kesiangan dia." Ucap Bunda Mala.
"Aku juga telat, Bund. Sama Ayah aja gak bisa?" Tanyanya kepada Bunda Mala.
"Ayah kan gak ngantor hari ini. Udah, tunggu sebentar dulu deh." Sahut Ayah Daffa.
"Araaa... buru dong..!!" Panggil Azril dari parkiran mobilnya.
__ADS_1
"Iya, iya, ini cepet kok." Jawab Araya yang berlari menghampiri sang Abang.
"Abang mah, bentar kek. Aku kan lagi mau pake sepatu." Ucap Ara yang sibuk mengunyah sepotong roti yang ia selipkan di bibirnya sambil mengikat tali sepatunya.
"Lagian, kebiasaan banget sih. Telat mulu, setiap hari. Gak bosen apa. On time dikit kenapa sih." Ujar Azril menggebu-gebu.
"Udah nih, udah. Berisik. Pagi-pagi udah gantiin Bunda. Bunda aja gak berisik kayak Abang." Ucap Ara.
"Terserah !! Jadi ikut gak nih. Kalau enggak, gue tinggal !!" Ujar Azril yang sudah masuk mobil dan siap di depan kemudinya.
"Bund, Yah, Ara berangkat dulu ya. Bareng sama si bawel." Ucapnya yang sambil salim mengecup pipi kanan dan kiri Bunda Mala dan Ayah Daffa.
"Heh !! Gue denger, ya !!" Jawab Azril dengan ketus.
"Buruan, gak !! Gue tinggal beneran, nih !!" Ucap Azril dengan menyalakan mesin mobil dan siap mengegas mobilnya.
"Iya, iya, iya, masuk mobil nih." Ujar Ara yang berjalan cepat ke mobil sang Abang.
"Idih, amit deh, punya Abang galaknya ngalah-ngalahin Mpok Nori." Ucap Ara yang untung saja Abangnya tidak dengar. Kalau dengar... bisa semakin murka itu sang Abang.
"Bunda, Ayah, kami berangkat, ya." Ujar Azril
"Assalamualaikum" Ucap Azril dan Araya.
"Waalaikumsalam" Jawab Mala dan Daffa.
"Ya, Allah... Kak... Mala pusiingg dengernya... punya anak suaranya merepet udah kayak terompet. Ampuun..." Ujar Mala yang menepuk-nepuk keningnya.
"Namanya anak-anak ya gitu Bund. Tadi ada mereka rame kan rumah kita. Sekarang mereka pergi, sepi deh rumahnya." Terang Daffa.
"Mereka tuh sudah bukan anak-anak, Kak Daffa. Mereka sudah dewasa. Apalagi Azril. Sudah waktunya untuk menikah. Sudah umur berapa dia." Ucap Mala dengan khawatirnya.
"Sayang... biar Azril yang menentukan. Kapan ia akan menikah. Tugas kita sebagai orangtua, tetap terus dukung dia dalam akademinya dan dalam pekerjaannya." Jelas Daffa kepada sang istri.
"Tapi umurnya sudah gak muda lagi, lho, Kak." Ucap Mala yang bersandar manja di dada kekarnya Daffa.
"Yang bilang Azril masih muda itu siapa? Dulu, Kak Daffa menikah juga sudah lanjut usia. Gak apa, biar Azril mematangkan sifatnya dulu. Sama adiknya, Ara saja ia bisa uring-uringan gitu. Biarlah, dek. Biar Azril yang memutuskan." Ujar Daffa yang memeluk mesra sang istri.
"Rumah sepi ya, dek." Ucap Daffa yang memainkan rambut Mala.
"Ya kan anak-anak lagi ada kegiatan semua, Kak..." Ujar Mala yang memeluk erat suaminya.
"Bikin dedek bayi buat Ara, yuk." Ucapnya yang membuat Mala terbelalak terkejut mendengar ucapan sang suami.
Mala yang ingin beranjak berdiri justru malah di tarik oleh Daffa yang kembali duduk di sampingnya dan segera saja Daffa mencium dan ******* bibir sang istri, Mala.
"Kak..." Panggil Mala setelah melepas pagutannya dengan Daffa.
"Sesekali, aku yang dimanja boleh kan?" Tanya Daffa yang langsung mendapat kecupan lembut dari Mala di bibirnya.
"Tak apa sayang... itu sudah jadi tugas kita sebagai orangtua mereka. Walaupun ya... tidak sebebas dulu." Ucapnya yang mengundang senyuman indah di wajah Mala.
"Aku mencintaimu, Kak." Ujar Mala yang memeluk dan mendekap erat Daffa.
"Terima kasih, Mal. Atas cintamu yang semakin bertambah untukku setiap harinya. I love you, Mala." Ucap Daffa yang mengecup pelipis Mala.
Daffa tak ingin meninggalkan momentnya bersama sang istri. Ia menarik Mala lebih dekat, memegang dagu, dan mendaratkan bibirnya di bibir lembut Mala.
*****
"Papa, Papa, Papa, ayooo banguuunnn... antar aku ke sekolaaah... Papaaa..." Panggil Assha yang mengguncang-guncangkan tubuh Papanya. Semangat sekali ia ke sekolah karena akan ada kegiatan karyawisata.
"Iya, iya, Papa bangun." Jawab Bimo yang berusaha untuk membuka matanya.
"Papaaa... ayo dong... kan nanti Assha ketinggalan bisnya. Kata Bu Guru aku harus datang sebelum jam 7:00. Pa, ini sudah jam 6. Ayo cepetaann..." Ujar Assha.
"Iya, Nak... Papa harus mandi dulu. Malu dong, Papa, antar kamu tapi belum mandi." Ucap Bimo yang bangun dari tempat tidurnya dan segera mengambil handuk untuk mandi.
Chika yang melihat anaknya, Assha begitu menyanyangi sang Papa senang sekali. Tapi ia juga kasihan dengan suaminya, Bimo. Masih lelah sepertinya. Semalam ia baru pulang dari perjalanan bisnisnya.
"Assha, Nak. Mama sudah siapkan bekal. Boleh tolong di cek lagi? Assha harus bawa apa saja, daftarnya bisa kamu cek sendiri ya." Ucap Chika sang Mama.
"Siap !! Komandan !!" Ujarnya dengan hormat kepada Chika dan segera turun ke bawah mengecek barang-barang bawaannya.
"Mandi dulu, Mas... daripada nanti di teriakin lagi sama Assha." Ucap Chika sambil terkekeh.
Setelah selesai mandi, Assha sarapan di meja makan. Chika ke kamar ingin memanggil Bimo.
"Mas, Mas Bimo..." Panggil Chika di kamarnya.
"Iya, sayang... aku di sini." Jawab Bimo yang sedang berganti pakaian di ruang ganti.
"Ayo, sudah siap belum? Sudah jam 6:15. Nanti Assha ngamuk tuh." Ujarnya sambil tertawa.
Bimo bukan langsung turun, justru malah menarik pinggang sang istri masuk ke ruang ganti dan mengecup bibir Chika.
"Butuh isi ulang energi." Ucap Bimo setelah mencium sang istri.
Chika yang juga sangat merindukan Bimo membalas ciuman Bimo. Ia mengecup bibir Bimo cukup dalam dan...
"Mamaa... Papaaa... Assha sudah selesai sarapan nih. Ayo, kita berangkat. Nanti aku telat." Ucapnya dari ruang makan.
"Hahaha..." Tawa Bimo dan Chika geli sekali. Karena saat ini mereka sangat tau betul. Jika ingin bermesraan, tak lagi sama seperti sebelumnya.
"Iya, Nak... Mama sama Papa turun nih." Ujar Chika yang menggandeng Bimo untuk ikut turun juga.
__ADS_1
Bimo dan Chika pagi itu di sibukkan untuk mengantar anak perempuannya yang akan pergi berkaryawisata.
"Assha." Panggil Bimo.
"Iya, Pa." Jawabnya.
"Ingat pesan Papa. Apa?" Tanya Bimo.
"Harus hebat. Ikuti yang dibilang sama Bu Guru. Kalau merasa kesulitan jangan segan bilang tolong dan tidak lupa ucapkan terima kasih." Terang Assha.
"Satu lagi." Kata Chika.
"Don't forget to smile, honey." Ujarnya yang sambil menarik kedua sisi bibir Assha untuk tersenyum.
"Ada yang lupa gak, Sha?" Tanya Bimo.
"Assalamualaikum, Ma, Pa." Ujar Assha, sambil mencium punggung tangan Mama dan Papanya.
Setelah sampai rumah dan beristirahat di kamarnya. Bimo merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Dek, Assha pulangnya jam berapa?" Tanya Bimo.
"Jam 2 udah harus stay jemput, Mas. Kenapa? Baru berangkat Asshanya. Udah di tanyain. Kangen ya?" Tanya Chika yang berganti pakaian menjadi short dress yang memikat.
"Iya... berasa sepi ya, rumahnya.Udah kangen aja sama Assha." Ucapnya sambil melihat ke langit-langit.
"Kalau sama Mamanya Assha, kangen gak?" Tanya Chika yang duduk di pinggir kasur tempat Bimo berbaring.
Bimo yang sejak pagi sudah menahan hasratnya, ia langsung menarik Chika ke dalam dekapannya.
"Mas, pintunya belum di kunci. Hehe..." Ujar Chika kepada Bimo.
"Oh, iya. Aku juga mau bilang sama Bibi kalau kita mau istirahat dulu." Jawab Bimo.
"Okay."
Tak lama, Bimo kembali ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Dek..."
"Sayang..." Panggil Bimo.
"Iya, Mas..." Jawab Chika yang baru keluar dari kamar mandi.
Bimo yang melihat Chika dengan short dress se-pahanya yang mulus dan transparan tersebut, tanpa kata langsung mengangkatnya ke tempat tidur.
"I want you." Ucap Bimo yang sudah dengan deru nafas beratnya.
Chika yang sudah mengetahui hasrat sang suami sejak pagi tadi, langsung membalas ciuman Bimo. Membuat Bimo semakin gencar melucuti tubuh Chika dengan ciuman bertubi-tubi.
*****
2 MINGGU KEMUDIAN
*****
GREENLAND
*****
"Dek, lihat deh." Panggil Langit kepada Jingga.
"Ini tempat yang mau kasih tau ke kamu. Saat kita tua nanti. Aku ingin tinggal di tempat seperti ini." Terang Langit kepada Jingga.
"Dimanapun tempatnya, asalkan sama kamu, aku bahagia, Mas. Sangat." Ujar Jingga yang memeluk Langit.
"Anak-anak lagi apa ya, Mas?" Tanya Jingga.
"Udah kepikiran ya, dek? Padahal baru kemarin kita tinggal." Jawab Langit.
"Iya. Sudah makan belum ya mereka?" Tanya Jingga kembali.
"Lebih dari yang kamu tau, dek." Ucap Langit yang mengundang tawa renyah Jingga.
"Kita dapet pesan dari Elok sama Damar, lho Mas. Mereka gak mau punya dedek lagi, katanya." Ujar Jingga yang mengundang tawa Langit.
"Mereka peka juga, ya dek." Ucap Langit.
"Emang bapaknya. Di peluk gini gak peka, mau istrinya apa." Ujar Jingga yang sedikit merenggangkan pelukannya kepada Langit.
Namun, tak dilepas oleh Langit, tapi justru di tarik tubuh Jingga mendekat kepadanya, di ***** dan di kulum dalam bibir Jingga.
Deru nafas berat mereka yang dapat saling menghangatkan satu sama lain antara Jingga dan Langit.
Suasana romantis dengan perapian yang semakin menambah keeksotisan malam itu. Gairah membuncah antar Langit dan Jingga. Lenguhan dan desahan yang tak akan ada yang mendengar membuat mereka hanyut dalam puncak kenikmatan.
"Mas Langit... hhh... hh..." Panggil Jingga.
"Iya, sayang... hm... hh..." Jawabnya.
"Aku bahagia." Ucap Jingga yang mendapar kecupat lembut di bibirnya oleh Langit.
"Aku mencintaimu, Jingga. Sangat mencintaimu." Ujar Langit yang mencium dan mengulum kembali bibir Jingga.
*****
__ADS_1