Langit Jingga

Langit Jingga
Salah lagi


__ADS_3

Setelah seharian Jingga berada di tempat tidur. Kini, menjelang sore ia pun segera beranjak bangun dan membersihkan diri. Agar saat nanti Langit pulang, maka wajah nya sudah segar dan harum tentu nya.


'Apakah aku terlalu mesuum?' gumam Jingga dalam hati ketika melihat dirinya pada pantulan cermin.


Saat ini, dirinya tengah memakai sebuah lingerie berwarna merah terang menyala bak cabe cabe an. Dengan rambut yang ter kuncir kuda seperti biasa, namun kini ia sedikit merias wajah nya dengan menggunakan lipstik senada dengan lingerie nya.


Tak lupa, Jingga juga memakai sepatu hells berwarna senada. Lalu ia duduk di sebuah kursi yang berada di balkon kamar nya sambil menunggu kepulangan Langit.


'Ckckck, aku memang sangat sexy!' gumam nya lagi, sambil meneguk sebuah minuman berwarna merah di gelas nya.


Jam sudah menunjuk angka delapan, dan mobil yang di tumpangi Langit pun sudah mulai memasuki gerbang rumah. Dengan senyum mengembang penuh kebahagiaan, Jingga sedikit berjingkrak menyambut kedatangan suami nya. Ia segera berlari masuk ke dalam kamar dan bersiap membuka pintu.


Namun, karena dirinya terlalu bahagia dan tidak sabar memperlihatkan penampilan nya kepada Langit. Tanpa sengaja kaki nya menyandung ujung karpet hingga membuatnya terjatuh dan kesleo.


Brug!

__ADS_1


"Aaaaaahhh!" pekik Jingga yang langsung tergeletak di lantai. Air mata nya sudah jatuh luruh membasahi wajah nya.


Sementara Langit yang baru saja hendak menaiki tangga, mendengar suara teriakan Jingga langsung berlari dengan cepat dan membuka pintu kamar.


Brakk!


"Huaaaaaa!" Pekik Jingga semakin kencang nada suara tangis nya.


Glek!


Untuk sesaat, Langit mengalami perang batin. Dan akhirnya ia berusaha menekan ego nya dan segera menghampiri z Jingga yang sedang menangis terisak.


"Kenapa?" tanya Langit begitu lembut.


"Udah tau jatuh, masih aja nanya!" seru Jingga dengan ketus segera menepis tangan Langit yang hendak mengusap kepala nya.

__ADS_1


"Maaf!" ujar Langit menghela napas nya sedikit kasar. Dengan perlahan dan penuh perhatian, serta kesabaran karena harus menekan hasrat nya. Langit pun mengangkat tubuh Jingga dan membawa nya ke tempat tidur.


"Kaki nya sakit hiks hiks," ujar Jingga terisak, sambil sedikit mengangkat sebelah kaki nya.


"Astaga, kenapa kamu pakai sepatu beginian?" tanya Langit yang baru sadar bahwa sepatu yang di gunakan Jingga cukuplah tinggi. Kurang lebih tuju belas centi. Pantas saja bila wanita itu sampai tersleo, pikir Langit.


"Jingga pakai ginian buat mas Langit loh! kok mas kaya gak suka gitu! gak ngehargai niat istri sama sekali! ngeselin banget sih!" pekik Jingga langsung menatap Langit dengan marah.


Ia merasa bahwa dirinya sudah berusaha keras membuat suami nya terpesona dengan penampilan nya. Namun, bukan pujian yang ia dapatkan, malah dirinya di salahkan bahkan, kini kaki nya sudah menjadi korban.


"Bukan gak ngehargai, Sayang. Tapi kamu gak biasa pakai beginian, kenapa harus—"


"Ohh, jadi yang boleh dan terbiasa pakai beginian, siluman babi itu? begitu maksud Mas Langit? jadi cuma dia yang pantes, iyaaa!" sindir Jingga dengan nada memburu, membuat Langit jadi semakin serba salah di buat nya.


"Jingga benci sama mas Langit! pokoknya Jingga benci! keluar sana, Jingga gak mau lihat mas Langit, pergii!" teriak Jingga terus memukul muluk dada bidang suami nya, hingga membuat Langit mau tak mau harus pergi dari kamar nya.

__ADS_1


'Perasaan ini bukan tanggal nya datang bulan, kenapa dia semakin sensitif, ya Allah!' keluh langit dalam hati begitu frustasi, menghadapi tingkah istri nya yang semakin ajaib, menurut nya.


__ADS_2