Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 6


__ADS_3

Hari itu Jingga masih terbaring lemas. Mungkin karena gak banyak makanan yang masuk ke tubuhnya. Jadi gak ada energi.


Saat bersama Langit di RS Jingga merasa nyaman sekali. Sejak SMP Langit itu teman laki-laki Jingga yang paling pengertian dan perhatian dengannya.


"Udah... pulang. Kasian Ayudia nungguin." Ujar Jingga yang membangunkan Langit dari baringannya di paha Jingga.


"Nanti, kalo Mas Rifat lo udah kesini." Ucap Langit.


"Lama kalii bruur... udah pulang aja. Bentar lagi juga Mba Retno kesini." Ujar Jingga.


"Istrinya Om Rifat?" Tanya Langit.


"Iya."


"Langit... ayo dong... pulang ya..." Ucap Jingga, yang sekuat mungkin ia tahan tidak menangis di depan Langit.


"Gue balik." Ujar Langit yang berdiri dari duduknya dan...


Chhuuup


Bibir langit mendarat di kening Jingga. Membuat air matanya semakin tumpah. Jingga memalingkan wajahnya saat Langit keluar kamar.


Tak lama Langit keluar dari kamar, tumpah ruah bulir air mata Jingga. Isak tangis yang masih bisa Langit dengar dari balik pintu membuatnya semakin pilu.


Sakit teriris rasanya mendengar wanita yang begitu menyanyanginya. Ia merasa menjadi laki-laki paling pengecut yang tak bisa memilih diantaranya.


Langit tak langsung beranjak dari balik pintu, ia menunggu hingga Jingga mereda tangisnya, lalu ia kembali pulang bertemu dengan Ayudia.


Intermezzo Ayudia


Ayudia adalah pacar Langit. Sejak SMP. Namun saat ini ia terbaring lemas di RS. Koma. Karena kecelakaan pesawat yang menimpanya.


Saat itu Ayudia, Jingga dan Kresna adalah siswa dan siswi terbaik di masanya. Hingga saat ada pertukaran pelajar keluar negeri, salah satu dari mereka wajib menjadi wakilnya.


"Ngga... please... gue aja ya yang ikut keluar negeri." Mohon Ayudia.


"Tapi itu kan harus ada testnya gitu kan, Yu?" Tanya Jingga.


"Iya... lo bantuin gue ya... please..." Ucapnya dengan memohon.


Saat itu harusnya Jingga yang menjadi perwakilan keluar negeri. Tapi karena Ayudia terus memintanya, akhirnya Jingga memberikan kesempatan kepada Ayudia.


Tak mudah memang untuk berlapang dada melepaskan kesempatan itu. Namun, saat itu Jingga juga harus pergi menemui Eyangnya yang sudah merindukannya di Yogyakarta. Akhirnya Jingga memilih ke Yogya dibanding ke London.


Ayudia meminta tolong kepada Jingga untuk membantunya mengisi beberapa form testnya, Jingga membantunya.


Akhirnya Ayudia lulus test dan ikut serta dalam pertukaran pelajar itu. Ayudia berangkat ke London bersama dengan rombongan yang lainnya.


Setelah beberapa hari di London, Ayudia kembali ke Indonesia. Namun, saat perjalanan menuju Indonesia, cuaca buruk dan pesawat tak mampu menampungnya. Akhirnya terjadilah kecelakaan pesawat tersebut.


Betapa terkejutnya Langit saat tau bahwa Ayudia sang kekasih berada di pesawat tersebut. Sebelumnya Langit sudah memberi tau kepada Ayudia bahwa ia tak perlu ke London. Tapi, Ayudia tetap bersikukuh untuk pergi ke London. Akhirnya, Langit mengalah.


Langit mendapat berita duka bertubi-tubi dalam sehari. Ia mendapat kabar jika sahabat kecilnya Intan meninggal yang disusul kemudian kekasih hatinya kecelakaan pesawat dan koma.


Bagai petir yang menyambar Langit. Dua perempuan yang ia sayangi meninggalkannya selamanya dan meninggalkannya sementara.


Langit selalu ke RS untuk menemui Ayudia. Ia menceritakan semua kejadian yang terjadi selama Ayudia tak bersamanya. Termasuk Jingga.


Close intermezzo


*****


2 Minggu Kemudian


"Jingggaaaa... gue kangeeenn..." Ucap Chika dengan riangnya.


"Seneng banget sohib gue udah sembuh. Ada yang di bully lagi deh. Hahaha..." Ujar Nabila.


"Hahaha... bangga banget luh bisa ngebully gue." Ucap Jingga dengan tawanya.


"Tau luh, Bil. Bangga bener. Gue juga sih... Hahaha..." Ucap Mala dengan tawanya.


Namun tawa mereka surut ketika ada seseorang dengan kursi roda menghampiri mereka. Bukan mereka sih... lebih tepatnya Jingga. Karena Mala, Nabila dan Chika sudah tau tentang kesadaran Ayudia.


"Jingga..." Panggil Ayudia yang baru bangun dari koma dan sudah 2 minggu ini kembali bersekolah.


"Ayudia??? Ini beneran lo??" Tanya Jingga yang sungguh terkejut.


"Iyaa, Ngga... ini gue... seneng banget gue bisa ketemu lo..." Ujar Ayudia dengan senyum sumringahnya dan tangis harunya.


"Gue senang banget lo udah sadar Yu. Waahh... bisa hunting book lagi kita... Yeiiyy..." Ujar Jingga yang senang sekali melihat Ayudia sudah sadar.


Akhirnya berbincang-bincanglah mereka di taman. Jingga membantu Ayudia mendorong kursi rodanya. Tak lama mereka berbincang Langit datang menghampiri keduanya.


"Haii... sayang..." Sapa Ayudia kepada Langit.

__ADS_1


Entah mengapa hati Jingga sakit mendengarnya. Tapi ia juga bahagia melihat Langit yang cerah.


"Hai." Ujarnya singkat.


"Langit tuh gak berubah ya, Ngga. Tetep ketus sama perempuan." Ucap Ayudia kepada Jingga.


"Beuuhh... bukan maen ketusnya... bikin spaneng, Yu." Ujar Jingga.


"Yaampun... Yang, kamu masih begitu? Benar-benar deh. Kasian kan orang-orang kalau kamu jutek gitu." Ujar Ayudia sambil mengelus lembut pipi Langit.


Sontak membuat langit terkejut. Terkejut karena takut Jingga akan sakit hati melihatnya.


"Eh, gue balik dulu ya. Mading amburadul. Gue tinggal beberapa hari doang. Duluan ya... Byee.." Ucap Jingga yang tau bahwa Ayudia akan mencegahnya lebih lama ngobrol dengannya. Yang justru akan membuat sakit hati Jingga.


*****


Waktu terus bergulir, mereka yang dari kelas 1 SMA naik kelas 2 SMA, dari kelas 2 SMA naik ke kelas 3 SMA.


Kalau ada yang bilang masa-masa SMA itu adalah masa yang paling mengasyikan dan akan dirindukan, mereka benar. Sangat benar.


Masa di mana para remaja sedang mencari jati dirinya. Masa di mana mereka sedang bertingkah konyol. Masa di mana mereka sedang asyik-asyiknya berteman dan bershabat.


Seperti Langit dan Jingga yang selama setahun ini Jingga tak pernah lagi berkomunikasi dekat dengan Langit walau sesekali Langit mengajaknya untuk berbincang.


"Kayaknya ini jadi tempat favorit lo juga ya?" Tanya Langit kepada Jingga yang sedang duduk di atap gedung.


"Hahaha... pinjem lapak bentar gak papa kali... medit amat." Ujar Jingga sambil tertawa.


"Apa kabar?" Tanya Langit.


"Alhamdulillah, baik." Jawab Jingga.


"Lo mau kemana?" Tanya Langit yang menarik tangan Jingga yang hendak berdiri dari duduknya.


"Ke kelas cuy... udah jam berapa ini..." Ujar Jingga.


"Bolos satu mata pelajaran gak papa kali." Ucap Langit.


"Gak boleh. Ayok !!" Ajak Jingga.


"Lo kenapa ngindrain gue gitu?" Tanya Langit.


"Lang... udah dong... jangan gini. Gue sudah cukup sulit untuk move on. Please, jangan deket gini lagi. Sakit Langit..." Ujar Jingga yang sudah tak bisa menahan lagi air matanya.


"Udah ya... hiks... hiks..." Jingga mundur ketika Langit berjalan maju untuk menghapus air mata Jingga. Namun Jingga menepisnya. Ia tak mau ada orang yang mengetahui kedekatannya.


"Udah. Udah ya. Gue balik ke kelas duluan." Ucap Jingga yang masih dengan suara sesenggukannya.


Jingga turun dari atap melalui tangga darurat. Ia masuk ke toile perempuan dan membasuh wajahnya. Tak ingin ada satupun yang mengetahui bahwa Jingga habis menangis.


Langit mengamuk. Ia meninju dinding dengan kepalan tangannya. Hingga menyisakan bercak darah di buku-buku jarinya. Ia merutuki dirinya sendiri.


Langit merasa pengecut dengan dirinya. Ia tak bisa menyakiti Ayudia. Tapi juga tak bisa melepas Jingga. Egois bukan? Menyakiti dua perempuan sekaligus dalam satu waktu.


*****


Selama masuk kelas 3 SMA ini, Jingga menekuni les tambahan di luar jam pelajaran. Ia ingin mendaftar kuliah di Seoul.


"Jingga, kenapa kamu tidak mengambil yang New York saja? Bu Arini yakin bahwa kamu mampu untuk menembus Harvard University."


Ujar Bu Arini sang Wali Kelas 3 IPA 1 Jingga. Yang dulu pernah menjadi wali kelas Jingga juga. Di kelas 2 IPA 2.


"Bu Arini, bisa saja. Saya bisa nembus Harvard. Emang saya tuyul Bu. Bisa masuk kemana aja. Hahaha..." Ucap Jingga dengan gurauannya.


"Kamu tuh, Ngga... gak pernah ada seriusnya." Ujar Bu Arini.


"Jangan serius-serius, Bu. Santai Bu... Hehehe..." Ucap Jingga masih dengan candanya.


"Dasar kamu tuh, Ngga. Jadi gimana nih? Ibu harus daftarin kamu kemana?" Tanya Bu Arini.


"Ke 3 Universitas itu tadi Bu. Korea, Jepang atau London." Ucap Jingga.


"Ok deh. Ibu segera catat dan daftarin ya." Ujar Bu Arini.


"Okay. Makasih ya Bu. Semangat Ibu..." Ucap Jingga yang kemudian langsung pergi ke kelasnya kembali.


Jingga tak bercerita kepada siapapun bahwa ia sedang mendaftar kuliah diluar negeri. Bahkan sahabat-sahabatnya tidak ada yang ia beritau. Karena Jingga tak ingin membuat mereka melow dan gundah gulana nantinya. Kalau sudah pasti, ia akan beritau.


Jingga tidak ingin memilih kampus di New York. Karena ia tau bahwa Langit akan kuliah di sana. Maka dari itu, Jingga memilih benua yang lain dan negara yang lain untuknya tak bertemu dengan Langit.


Terdengar pengecut karena tak sanggup menghadapi kenyataan. Tapi Jingga percaya, bahwa dengan pengalamannya mencintai seorang lelaki di hidupnya, cinta pertamanya, akan menjadi sebuah kisah klasik untuk anak-anaknya nantinya.


*****


Waktu itu cepat banget berlalu. Mereka sudah mencapai pada klimaks hidup remaja mereka. Tanda kelulusan di baju, corat-coret dan tanda tangan di baju, menandakan bahwa mereka telah melalui masa remaja mereka dengan canda, tawa dan harunya.

__ADS_1


*****


SOETTA AIRPORT


"Huuaaa... Jingga... gue pasti kangen banget sama lo..." Ujar Chika yang teteeuupp manjaa..


"Chik, nanti kalau kuliah gak bareng-bareng sama gue, Mala dan Bila. Jangan manja ya. Jangan bergantung sama siapapun. You have to stand by yourself." Ucap Jingga berpesan kepada Chika.


"Chik, gue tau kok, gue ini ngangenin, tapi lo jauh lebih ngangenin dari gue. Gue bakalan kangen sama suara cempreng lo... sumpah." Ujar Mala yang sudah mulai berderai air mata.


"Chik, sohib gue yang udah kayak informan dan detektif buat gue. Makasih ya... karena udah jadi sahabat yang colorful buat kita." Ujar Nabila dengan penuh haru.


"Jinggaaa... huaaa... gue pasti kangen sama lo..." Ucap Chika yang langsung memeluk Jingga dan mendapat pelukan hangat kembali dari Jingga.


"Ngga, buka lembaran baru. Jangan menutup pintu hati lo. Be yourself ya, Ngga..." Ucap Mala.


"Sip 👍😉" Ujar Jingga.


"Ngga, sering-sering teleponan ya... Lo yakin gak mau hubungin Langit dulu?" Tanya Nabila.


"Enggak. Gue udah kirim surat kok. Udah SMS juga. Mungkin Langit masih sibuk buat kesembuhan Ayudia. Salam aja buat Langit ya." Jelas Jingga dengan seulas senyum.


Panggilan penumpang ke Negeri Gingseng itupun dikumandangkan. Jingga masuk ke pesawat dan berpamitan kepada Bapak Budiono (Ayah Jingga) dan Ibu Ratih (Ibu Jingga) serta Biru (Adik bungsunya).


Tak lupa sahabat-sahabatnya. Mala, Nabila dan Chika.


*****


"Wuuiidihh... bos, baru dateng. Gimana kekasih sejati lo? Sehat?" Tanya Fahri dengan tawa candanya.


"Sehat kayaknya." Ucap Langit sambil menghela nafas. Capek banget sepertinya.


"Kok Jingga gak bisa di hubungin ya dari kemaren?" Tanya Langit.


"Laahh... lo kemana aja dah, Lang. Jingga udsh pergi entah kemana baru nyari." Jawab Ncek yang sedang berkumpul di basecamp mereka.


"Maksud lo Ncek?" Tanya Langit yang segera mendudukkan dirinya dengan tegap. Menyimak setiap pembicaraan temannya.


"Jingga kuliah di luar negeri, Lang." Jawab Juna.


"Gak mungkin. Dia gak ngomong apa-apa sama gue." Ucap Langit yang tak ingin menerima bahwa berita itu benar.


"Lho, Jingga bilang kalau dia udah ngirim surat ke lo. Udah SMS ke lo juga. Gue pikir lo udah tau, ya gue diem aja." Ujar Fahri yang mendapat info dari Chika.


"Surar apa? SMS apa?? Gue gak pernah nerima itu. Sama sekali gak ada !!" Ucapnya sudah dengan kekalutan.


"Sabar, sabar bro... tenang... kalem aje kalem... mungkin suratnya ke selip atau SMS nya ke skip kali. Coba di cek dulu." Ujar Doni yang menenangkan Langit.


Langit mencoba mengingat-ingat kembali dimana dia pernah melihat surat-surat? Tak ada SMS pula di ponselnya.


"Lang, sorry kalo terkesan menuduh. Mungkin gak kalo Ayudia yang ngambil suratnya atau ngapus chat SMS nya Jingga ke lo?" Ujar Juna.


"Kok lo bisa sih Jun, kepikiran kayak gitu?" Tanya Langit dengan nada teekejutnya.


"Karena beberapa hari lalu, gue semper mergokin Ayudia lagi baca surat dan dia nangis. Gue cuma bilang "Hi" tapi gak dihiraukan sama dia. Ya... cuma sekedar nebak sih. Mungkin gue salah." Terang Juna kepada sohibnya.


Langit begitu shock mendengar cerita dari teman-temannya. Yang paling menyakitkan, Jingga di hari ia pergi, ia terus menghubungi Langit, tapi tak ada jawaban.


Mendengarnya, Langit runtuh. Ia pergi dari tempat tongkrongannya dan menemui Ayudia.


*****


Ayudia menceritakan semuanya.


"Iya. Aku yang ambil surat dari Jingga buat kamu dan aku juga yang hapus semua riwayat chat kamu sama Jingga. Kamu udsh nyakitin aku Langit. Aku ini pacarmu. Tapi kamu lebih peduli sama Jingga yang bukan siapa-siapa kamu dan lebih memilih nyakitin aku. Kamu benar-benar keterlaluan Langit. Sangat keterlaluan !!!" Ucap Ayudia dengan penuh amarah.


"Aku udah kasih kesempatan buat kamu untuk berubah lebih bersikap positif. Aku tau tentang kamu yang memaksa Jingga untuk bertukat posisi dengan kamu untuk tugas pertukaran pelajar dan hasil test itu. Hasil test itu bukan kamu yang mengerjakan kan? Tapi Jingga. Iya, betul kan?" Jelas Langit.


"Lalu, saat Jingga lomba puisi. Harusnya Jingga yang menang dan itu karyanya Jingga. Tapi kamu mengakui bahwa puisi itu karya kamu. Padahal kamu dibantu sama Jingga. Kamu gak malu? Aku aja malu yang dengarnya. Betapa baiknya Jingga sama kamu, Ayudia dan sekarang ini balasanmu kepadanya?" Terang Langit.


"Iya. Karena dia udah ngerebut kamu dari aku. Aku benci sama dia. Gadis bermuka dua. P*****r !!!" Ucap Ayudia dengan emosi.


"Ayudia !!! Jaga bicaramu. Harusnya perkataan itu kamu tujukan pada dirimu sendiri. Mulai hari ini. Kita putus !!!" Ucap Langit dengan sangat emosi.


"Langgiittt !!! Langiittt !!!" Teriak Ayudia dari dalam ruangannya.


Langit tak bergeming. Ia terus melangkah menjauhi Ayudia. Ia sudah tak peduli lagi dengan pendapat orang yang menganggapnya selingkuh, pacar yang tak berperasaan, laki-laki pengecut. Terserah mereka mau bilang apa. Yang jelas, saat ini Langit hanya ingin Jingga.


*****


aku suka jingga


ia tak pernah ingkar janji


walau datang sesaat

__ADS_1


tapi tak lupa ia kembali


******


__ADS_2