
Malam semakin larut, namun kedua pasang mata yang sejak tadi sedang perang dingin itu masih saja terjaga. Keduanya masih saling diam, tidak ada yang membuka suara sama sekali. Namun, meski begitu, keduanya tidur dalam satu tempat tidur, dengan Jingga yang ber bantal lengan suami nya.
Ajaib memang, meskipun marah dan merajuk, tetap saja Jingga tidak bisa jauh dari tubuh suaminya. Begitupun dengan Langit yang sejak tadi memeluk tubuh istrinya namun tidak ada yang membuka suara satu pun. Hingga tanpa sadar, keduanya memejamkan mata dan terlelap.
Pagi harinya, Jingga kembali menangis karena Langit mendiamkan nya semalaman, padahal Langit hanya takut bila berkata sedikit saja akan salah di mata Jingga.
“Kenapa?” tanya Langit berusaha selembut mungkin, kini posisi Jingga masih tidur miring dan ber bantal lengan nya, namun ia sudah mengganti posisi membelakangi Langit.
“Mas Langit jahat sama Jingga. Gak sayang sama Jingga, gak cinta sama Jingga, Jingga mau pulang. Mau ikut ayah sama bunda hiks hiks hiks.”
__ADS_1
“Hey, siapa yang bilang begitu!” Langit pun segera membalik tubuh Jingga hingga kini menatap ke arah nya, ia menghapus air mata Jingga dan merapikan rambut rambut yang menutupi wajah nya.
“Barusan yang bilang kan Jingga!” saut Jingga dengan ketus, “Memang kenyataan, mas gak sayang dan cinta sama Jingga. Mas gak pernah bilang, dan dari semalam mas diemin Jingga!” seru Jingga dengan menahan isak tangis nya.
“Bukan mas yang mendiamkan mu. Mas hanya tidak ingin kamu semakin marah—“
“Kalau mas gak bohong, Jingga juga gak akan marah!” saut nya dengan cepat, lagi lagi membuat Langit hanya bisa menghela napas nya berat.
“Mas yakin cinta sama Jingga? Bukan terpaksa?” tanya Jingga menatap wajah Langit dengan intens, seolah mencari celah kebohongan di sana.
__ADS_1
Langit menganggukkan kepala nya, dan langsung mengecup kening Jingga dengan lembut. Dan Jingga pun segera memeluk Langit dengan begitu erat, ia bisa melihat ketulusan di mata suaminya. Meskipun ia tahu bahwa Langit adalah bekas dari mantan pacar kakak nya, namun kembali lagi Jingga mengingat kata kata Raihan. Biru hanya masa lalu, dan dirinya adalah masa depan Langit.
“Mas, bisakah mas melupakan masa lalu dan fokus dengan Jingga di masa depan?” tanya Jingga begitu lirih, sambil tangan nya yang terus mencengkram kerah baju tidur Langit.
Untuk sesaat, Langit hanya terdiam. Seolah berfikir tentang maksud dari ucapan Jingga. Melupakan masa lalu, artinya melupakan Biru, dan fokus dengan masa depan dengan pernikahan nya dan Jingga.
“Iya, kita buka lembaran baru. Mulai saat ini, kita akan bersama melewati hari hari yang indah. Bila ada masalah, atau hal yang membuat mu marah, mas mohon cepat katakan, agar tidak akan ada kesalahpahaman di antara kita. Jingga sudah dewasa, jadi mas hanya minta tolong sama Jingga untuk tidak mencerna sesuatu dengan mentah,” ucap Langit panjang lebar. Ia hanya ingin mengantisipasi dengan suatu hal yang tidak ia inginkan di kemudian hari.
“Jingga mau jadi mama!” kata Jingga langsung mendongakkan kepala nya menatap Langit, tentu saja hal itu membuat Langit langsung terkejut dan membulatkan matanya dengan sempurna.
__ADS_1
“Ma—maksud nya?” Langit sedikit sulit untuk mencerna ucapan Jingga yang menurut nya sangat ambigu.
Sementara Jingga yang melihat suaminya hanya terdiam dan seperti terkejut, langsung mengambil star lebih dulu. Ia langsung mencium bibir suaminya dengan begitu semangat untuk menghilangkan semua kegundahan di dalam hatinya. Semua itu Jingga lakukan karena, lagi lagi dirinya mengingat perkataan di dunia novel nya. Bahwa apapun masalah dalam rumah tangga, pasti akan selesai bila di selesaikan dengan pertandingan di atas ranjang. Dan kini, Jingga akan membuktikan nya sendiri, apakah novel itu benar atau hanya ujaran sesat.