
...~Happy Reading~...
"Sayang, kamu kenapa? Katakan. Jangan mendiamkan ku seperti ini," keluh Langit setelah beberapa hari memberikan istri nya waktu untuk menenangkan diri.
Kini, Langit sudah merasa lelah dan tidak bisa menahan diri lagi untuk terus mendesak agar Jingga mau bercerita padanya. Karena sejak kepulangan keduanya dari rumah sakit, sikap Jingga sangat berbeda kepada Langit.
Jingga tidak menjawab pertanyaan Langit, ia hanya menggelengkan kepala dan enggan untuk bersuara. Kepala nya masih terasa begitu pening, terutama dada nya yang kian terasa sesak setiap kali mengingat kisah percintaan antara suami dan kakak nya.
Dirinya hanya seorang pengganti. Turun ranjang, wanita tak di harapkan. Anak buangan. Selalu kata kata itu yang muncul di benak Jingga, hingga membuat nya semakin tertekan.
"Sayang ... " Langit kembali mendekati Jingga dan hendak memeluk nya. Namun, Jingga malah beranjak dari tempat duduk nya dan segera berpindah ke tempat tidur. Membuat Langit lagi lagi hanya bisa menghela napas dengan berat.
Sungguh, ini bukan Jingga yang ia kenal selama ini. Perubahan sikap Jingga sangat drastis hingga membuat Langit merasa sangat kehilangan sosok cerewet itu lagi.
__ADS_1
"Kamu marah padaku? kamu katakan, jangan di pendam. Kamu gak kasihan sama anak kita hem?" tanya Langit sekali lagi terus mengejar istri nya hingga tempat tidur.
Deg!
Seketika itu juga Jingga langsung meraba perut nya. Ia, dirinya terlalu sibuk memikirkan kisah Langit dan Biru, sampai melupakan bahwa dirinya kini sedang mengandung.
Jingga akui bahwa dirinya jahat, bisa melupakan bayi dalam kandungan nya. Dan kini, tiba tiba air matanya kembali mengalir membasahi wajah, hingga membuat Langit semakin panik.
"Sayang, Hey ... " Langit langsung memeluk tubuh Jingga dengan begitu erat. Begitupun Jingga yang langsung membalas pelukan Langit dan menumpahkan tangis nya hingga pecah.
Setelah beberapa saat, tangis Jingga sudah mulai reda. Hanya saja, dirinya masih sesekali sesegukan hingga membuat hati Langit semakin terasa nyeri. Entah apa yang membuat istri nya diam dan menangis sampai seperti itu, yang jelas Langit sangat menyesali nya.
"Jangan hik jangan tinggalin Jingga hiks hiks," gumam Jingga masih sesegukan.
__ADS_1
"Tidak akan pernah." jawab Langit dengan cepat, tangan nya dengan penuh perhatian mengusap air mata Jingga. Bahkan, tanpa rasa jijik Langit membersihkan cairan yang keluar dari hidung istri nya.
"Sekarang, bilang sama Mas. Kamu kenapa? Kalau kamu gak cerita. mas gak akan pernah tahu. Dan kamu, akan terus menyimpan perasaan tidak enak disini," ucap Langit lagi sambil menunjuk dada Jingga.
Jingga terdiam sesaat, ia menundukkan kepala nya seraya menggigit bibir bawah. Tangan nya sibuk saling menaut dan meremas dengan dada yang bergemuruh tak menentu.
"Apa ... hiks hiks apa mas," gumam Jingga lalu menarik napas panjang, "Apakah benar, kemarin mas bertemu dengan kak Biru?"
Langit langsung menatap Jingga dengan cukup intens.
"Dokter Zara," ralat Jingga yang lagi lagi menahan isak tangis nya, "Mas bohongin Jingga. Mas tidak benar benar sudah melupakan masa lalu, Mas."
"Sayang ... "
__ADS_1
"Jingga mau jadi kaya dia. Kenapa bukan wajah Jingga saja yang mirip dengan kak Biru. Kenapa harus ada wanita lain. Kenapa bukan Jingga aja yang lebih dulu kenal sama mas Langit. Kenapa bukan JIngga aja yang—"
Jingga sudah tidak meneruskan ucapan nya karena dengan cepat Langit langsung merengkuh tubuh istrinya kembali. Langit berusaha menenangkan Jingga yang kini sudah semakin terisak kembali. Langit tidak ingin bila kesehatan Jingga akan kembali menurun.