
...~Happy Reading~...
Pagi harinya, Langit mulai mengerjapkan mata ketika ia mendengar suara alarm dari jam di samping tempat tidur nya. Ia menghela napas sedikit berat ketika melihat jam sudah menunjuk angka enam pagi.
“Sayang ... “ panggil Langit karena tidak mendapati Jingga berada di sisi nya. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan mencari keberadaan Jingga.
“Jingga!” panggil nya lagi menyusuri seluruh kamar, bahkan balkon pun tidak ada. Langit segera turun ke bawah dan ia langsung menghela nafas lega ketika melihat Jingga tengah memasak di dapur.
“Mas, sudah bangun?” tanya Jingga tersenyum manis ke arah Langit, “Sarapan dulu yuk?” ajak nya segera menghampiri Langit dan merangkul nya untuk duduk di meja makan bersama.
Dengan penuh perhatian dan kelembutan, Jingga menyiapkan sarapan untuk Langit. Meskipun sarapan yang ia buat hanyalah roti bakar serta kopi, namun ia sudah membuatnya hampir satu jam lama nya untuk mendapatkan hasil terbaik.
__ADS_1
“Maaf yah, sedikit kematangan,” kata Jingga tersenyum lebar menatap suami nya.
Langit segera mengalihkan pandangan ke roti bakar di piring nya, dan benar saja memang warna nya sedikit gelap. Bukan gosong, hanya saja kematangan, (Kematangan versi Jingga lebih over)
“Gapapa kok, terimakasih,” ucap Langit menganggukkan kepala nya. Ia mencium kening Jingga cukup lama, lalu ia menggenggam tangan nya.
Sungguh, kini Langit benar benar merasa sangat bahagia, lantaran bisa melihat keceriaan Jingga lagi. Setelah hampir dua minggu lama nya, Jingga terpuruk dan murung. Hari ini, seolah Langit kembali menemukan Jingga yang ceria seperti awal pertama bertemu dulu.
“Kamu mau kuliah?” tanya Langit ketika melihat penampilan Jingga yang sudah rapi.
“Gapapa, Mas malah seneng kalau kamu mau ikut,” jawab Langit tersenyum, lalu ia segera menghabiskan sarapan nya, walau rasanya sedikit pahit, namun Langit tetap memakan nya sampai habis agar tak membuat hati Jingga sedih lagi.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Langit segera pamit kembali ke atas dan mandi untuk bersiap siap pergi ke kantor. Sementara itu, Jingga membereskan bekas sarapan nya dan menyapu sedikit agar tidak terlalu kotor. Meskipun ada pembantu yang nanti akan membereskan nya, namun entah mengapa Jingga ingin menjadi istri terbaik untuk Langit. Ia ingin mandiri dengan menyiapkan dan membersihkan segala sesuatu nya sendiri.
Sambil menunggu Langit yang sedang bersiap, Jingga memilih untuk menonton televisi di ruang keluarga. Dan ketika ia melihat sebuah film yang menayangkan seorang wanita yang tengah mengandung besar, seketika Jingga langsung mengusap perut nya dengan lembut.
‘Andai kamu masih disini,” gumam Jingga tanpa sadar meneteskan air mata, dada nya kembali terasa sesak dan hatinya sangat sakit ketika membayangkan bahwa kini bayinya sudah tiada.
Jingga menghela napas nya dengan cukup kasar dan segera menghapus air mata nya ketika mendengar suara derup langkah sepatu menuruni tangga. Dan Jingga tahu bahwa itu suara Langit, ia segera mengubah ekspresi wajah nya kembali ceria seperti semula dan segera menghampiri Langit, setelah ia mematikan televisi.
“Tas Jingga masih di atas,” kata Jingga hendak naik ke kamar, namun dengan cepat tangan nya di tahan oleh Langit.
“Aku sudah membawakan nya,” ucap Langit lalu membuka jas yang ada di tangan nya, dan benar saja bahwa tas yang sudah Jingga siapkan kini sudah berada di tangan sang suami.
__ADS_1
“Makasih,” ujar Jingga dan langsung memeluk Langit dengan begitu erat.
“Kita berangkat sekarang,” ajak Langit, dan Jingga segera menganggukkan kepala nya tanpa ragu.