Langit Jingga

Langit Jingga
CHAPTER 9


__ADS_3

Pekerjaan seorang penulis artikel lepas di sebuah majalah saat itu cukup mahal jika mereka mendapat bayaran perartikelnya di hargai 2.000.000.


Cukup untuk Jingga yang hidup di Negeri Gingseng untuk menerbitkan setiap artikel dan cerpen-cerpennya.


Kegiatan yang ia lakukan berkutat pada sebuah angan dan khayalan yang entah kapan ia akan wujudkan. Menceritakan sebuah kisah fiktif yang diselipkan sedikit drama dalam alur cerita.


Namun dari kisah fiktif itulah ia mampu bertahan hidup di Negeri Gingseng dengan segala tekanan dan gaya hidup. Keramah tamahan yang tidak ia rasakan seperti Negeri kelahirannya, Indonesia.


Ketika Jingga tinggal di Korea ia bisa mengetahui tentang kata


"Seburuk-buruknya Negaramu, itu adalah tanah kelahiranmu. Sebaik-baik Negara orang, lebih baik di Negaramu. Hidup dan mati di Negaramu lebih di hargai dibanding di Negara orang."


Benar banget. Setinggi-tingginya gaji di Korea tapi kalau jauh sama keluarga, buat apa? Ini yang sedang Jingga pikirkan.


Setelah ia melanglang buana mengejar status pendidikannya. Ia akan kembali ke Negeri yang ber-Bhineka Tunggal Ika tersebut.


Lamunannya terhenti ketika dering ponselnya mengejutkannya.


"Iya, Kak Mand. Jingga di Caffe gak jauh dari hotel kok. Kak Mand, dimana? Udah selesai sesi fotonya di sana?" Tanya Jingga sambil menyesap Ice Americano nya.


"Udah Ngga. Aku susul kamu kesana ya... tungguin. Jangan kemana-mana." Ujar Manda dari balik jauh teleponnya.


"Oo, Arrasseo (Okay. I got it)." Ucap Jingga dengan bahasa Korea yang sedikit di mengertinya.


Tak lama Manda pun datang dengan membawa beberap bungkusan kecil untuk Jingga.


"Assalamualaikuum... Bu..." Sapa Manda dengan menepuk pundak Jingga yang sibuk dengan cacing berbaris di benda elektroniknya. Tulisan cerpennya yang butuh editan kembali.


"Waalaikumsalam, Jeengg... Hahaha..." Jawab Jingga dengan senyum sumringahnya.


"Ngapain buukk??" Tanya Manda.


"Lagi ngedit cerpen. Katanya disuruh terbit barengan sama artikel dirimu Kak." Ucap Jingga.


"Hah??!! Seriusan??!!" Tanya Manda yang terkejut.


"Iya. Kaget kan anda...??? Saya apalagi. Muter otak. Mau nyeritain apaan... 😟" Jawab Jingga dengan tampang memelas.


"Waahh... parah. Di kata bikin cerpen kayak bikin gorengan kali. Siapa yang minta lo buat terbitin tuh artikel bareng sama cerpen?" Tanya Manda dengan nada emosional.


"Mr. Kim." Jawab Jingga singkat.


"Kim Joon Ho?" Tanya Manda dengan mengangkat kedua alisnya.


"Iyaaa..." Jawab Jingga dengan menundukkan kepalanya.


"Emang tuh ya, si Mr. Kim gak kira-kira dah. Emang kita robot apa. Idih nyebelin." Ujar Manda dengan kesal dan mencibikkan bibirnya.


"Doi tuh belum nikah ya, Kak?" Tanya Jingga sambil menyesap matcha lattenya.


"Mau nikah gimana. Kalau maniak kerja gitu." Ujar Manda dengan menopang dagunya pada kedua tangannya.


"Hehehe... belum tau rasanya di kangenin sama istri sih ya..." Ujar Jingga dengan senyum sumringahnya.


"Tauk tuh. Reseh deh. Ganteng sih ganteng. Tapi kalau udah ngasih tugas ampun, ampunan deh. Gak pandang bulu. Kalau kontrak kerja gue kelar. Gue mau cabut dari tuh perusahaan." Ujar Manda dengan meletup-letup emosinya.


"Iya Kak. Jingga juga kan udah gak tinggal di Korea. Udah nerus S2 di sini." Ucapnya sambil mengambil nomer antrian untuk mengambil kopi.


Namun, ketika Jingga berbalik dengan membawa kopi di nampannya seorang laki-laki tinggi, tegap, berada di belakangnya.


Tak sengaja Jingga menjatuhkan kopinya di kemeja laki-laki tersebut dan sesegera mungkin Jingga mengelapnya menggunakan tisu.


"I'm sorry, Sir. I'm sorry." Ucap Jingga sambil mengambil tisu dan mengelap kemeja laki-laki tersebut.


"Jingga?" Panggil laki-laki itu.


"Masya Allah... Langit?"


Langit dan Jingga keduanya sama-sama terkejut. Langit yang tak sengaja mampir untuk membeli titipan kopi sobat-sobatnya dan Jingga yang tak sengaja menumpahkan kopi di baju Langit.


"Sorry, are you guys still here long? Because I want to take my order." Ucap salah satu pengunjung yang membuyarkan keterkejutan mereka berdua.


"Oh, sorry. Sure, please." Jawab Langit dengan khas New York nya.


"Kita ke meja kamu dulu aja." Ajak Langit yang masih sibuk mengelap kemejanya dengan tisu.


Jingga hanya menurut dan mengikuti Langit dari belakang. Manda bingung, terkejut pula.


"Ngga, kenapa? Ada apa? Kok ada___" Belum sempat Manda meneruskan kalimatnya, Langit sudah memotongnya.


"Hallo, Kak Manda. Maaf buat terkejut ya? Izin duduk sebentar ya." Jawab Langit sambil mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Iya, Kak. Tadi waktu habis ambil kopi, Jingga mau jalan ke sini ternyata ada Langit di belakang Jingga yang mau pesan kopi juga. Tapi kopi Jingga malah numpahin kemejanya Langit. Kotor semua deh." Terang Jingga kepada Manda.


"Yaampun... terus kalian gak apa-apa? Maaf ya Langit..." Ujar Manda.


"Santai Kak Manda. Gak apa kok. Nanti tinggal ganti aja." Jawabnya santai.


"Ngga, mau kemana?" Tanya Manda yang melihat Jingga berdiri dari duduknya.


"Mau pesen kopi yang tadi tumpah." Ucap Jingga.


"Hati-hati, Ngga." Ujar Manda yang was-was kepada Jingga.


*****


"Apa kabar Langit?" Tanya Manda dengan senyum sumringahnya.


"Alhamdulillah baik, Kak. Kak Manda sendiri gimana?" Tanya Langit basa-basi.


"Alhamdulillah baik, Lang. Lo lagi sibuk apa sekarang? Katanya kuliah di sini? Harvard?" Tanya Manda dengan seperti mengintrogasinya.


"Sibuk ngurusin wisudaan aja Kak. Hehehe... iya. Kuliah di Harvard." Jawab Langit.


"Waahh... keren. Di Harvard. Udah lulus dong ya? Sama kayak Jingga." Ucapan Manda seketika menghentikan aktifitas Langit yang masih sibuk mengelap kemejanya dengan tisu karena basah tertumpah kopi.


"Iya. Kan samaan." Jawab Langit dengan seulas senyum.


"Apanya yang samaan?" Tanya Manda.


"Tahun masuk kuliahnya." Ujar Langit.


"Oh, iya bener. Jingga juga lagi ngurusin wisudaannya." Terang Manda kepada Langit.


"Kalian lagi liburan di sini apa gimana?" Tanya Langit.


"Urusan kerja sebenarnya. Kerja yang berasa liburan. Hahaha..." Ucap Manda dengan tawanya.


"Hahaha... sekali mendayung dua tiga pulau terlewati ya." Ujar Langit.


"Hahaha... iya, iya bener Lang." Ucap Manda yang masih tertawa riang hingga Jingga datang dengan nampan berisi beberapa cup kopi.

__ADS_1


"Lang, maaf ya. Kemejanya jadi kotor. Ini kopi yang tadi mau dirimu order. Maaf ya..." Ujar Jingga dengan wajah memelasnya.


"It's okay. Gak apa. Santai. Di mobil ada baju ganti kok." Ucapnya sambil mengulas senyum pada Jingga.


"Thanks." Jawabnya sambil melontarkan seulas senyum.


*****


Jingga bertemu dengan Juna dan Fahri. Mereka saling bertegur sapa dan sempat bercanda tawa riang karena sudah lama tak berjumpa.


Namun, mereka tau, Jingga dan Langit membutuhkan waktu untuk berdua, berbicara dari hati ke hati.


Manda pun memberikan kesempatan mereka untuk saling bertemu dan menuntaskan rindu mereka. Selain itu, Manda juga berpamitan kepada Jingga bahwa malam ini ia tak bisa menemani Jingga di hotel karena ingin bertemu dengan suaminya. Jingga pun meng-iyakan.


*****


"Udah jalan-jalan kemana aja selama di New York?" Tanya Langit kepada Jingga yang berjalan berdampingan dengannya.


"Emm... baru Central Park sama daerah Statue of Liberty. Kenapa? Mau ajak jalan-jalan ya?" Tanya Jingga dengan binar matanya.


"Enggak. Nanya aja. Kan katanya mau sebentar aja disini." Ucap Langit yang senang sekali meledek Jingga.


"Bodo." Ucap Jingga dengan mencibikkan bibirnya.


"Hahaha... lucunya gak pernah ilang ya." Ujar Langit yang mengelus lembut puncak kepala Jingga.


"Laangg..." Ucap Jingga yang memundurkan jaraknya dan Langit.


"Maaf... hehehe..." Ujar Langit dengan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Brooklyn Bridge. Mau kesana?" Tanya Langit kepada Jingga.


"Mau, mau, mauuu..." Ujarnya dengan penuh semangat.


"Let's go." Ucap Langit yang melajukan mobilnya menuju Brooklyn Bridge.


Dalam perjalanan menuju Brooklyn Bridge Langit dan Jingga banyak mengobrol. Tentang kisah 3 tahun mereka. Yang tak bertemu dan tak beri kabar satu sama lain.


"Langit apa kabar?" Tanya Jingga yang membuka percakapan. Ia memberanikan dirinya untuk bertanya lebih dulu.


"Alhamdulillah baik. Kamu gimana kabarnya?" Tanya Langit yang masih menyetir dengan sesekali melirik Jingga yang duduk disebelahnya.


"Alhamdulillah baik juga. Kuliahnya gimana? Lancar?" Tanya Jingga.


"Lancar. Next week wisuda. Kamu juga ya?" Tanya kembali Langit kepada Jingga.


"Hm'emh." Jawabnya sambil menatap Langit lekat.


"Kita berhenti di depan bentar ya." Ucap Langit yang langsung memberhentikan mobilnya disebuah toko bunga.


Tanpa persetujuan Jingga, Langit turun dari mobil dan membeli bunga disana. Ia keluar dari toko bunga tersebut dengan membawa bunga mawar biru dalam satu buket kecil.


"Masih suka bunga mawar biru kan?" Tanya Langit yang memberikan satu buket bunga mawar biru kepada Jingga. 💐


"Kok diem?" Tanya Langit kembali.


"Buat aku?" Tanya Jingga yang terkejut dan bingung.


"Iya, Jingga..." Jawab Langit dengan nada lembutnya.


"Seatbelt nya dipakai, Ngga." Ujarnya yang melihat Jingga masih sibuk terkesima dengan bunga yang diberikan oleh Langit.


"Eh, ee..eh... Iya." Jawabnya yang buru-buru memakai seatbelt.


Brooklyn Bridge


"Masya Allah... ini___" Belum sempat Jingga meneruskan kalimatnya. Langit sudah berdiri di belakang Jingga.


"Ini Brooklyn Bridge. Tempat buat foto prewedding yang paling terkenal. Mau cobain?" Tanya Langit dengan melihat Jingga yang sedang berbalik melihatnya dan mendongakkan kepalanya ke Langit.


"Cobain apanya? Prewednya?" Tanya Jingga dengan wajah polosnya.


"Cobain fotonya di jembatan ini." Ujar Langit yang memalingkan wajahnya. Ia takut Jingga melihat wajah bersemu merahnya.


"Boleh, boleh. Fotoin aku di sini." Ucap Jingga dengan memberikan ponselnya kepada Langit.


Jingga berdiri di tengah jembatan, kemudian berpose, lalu duduk dan berpose kembali. Membuat sang juru foto hanya tersenyum penuh semangat. Untuk membidiknya terus menerus.


"Sekarang gantian. Sini, aku fotoin." Ujar Jingga yang mengambil ponselnya dan membidikkan kamera ponselnya kepada Langit yang berpose biasa aja tapi ganteng maksimal.


"Kirim ke aku." Ucap Langit kepada Jingga.


"Okay. Foto kamu yang mana?" Tanya Jingga yang menunjukkan foto Langit kepadanya.


"Sini, pinjem dulu bentar." Langit mengambil ponsel Jingga tapi bukan mengirim fotonya, justru malah mengirim foto Jingga ke ponselnya.


Setelah acara foto-foto dan mencicipi beberapa camilan sambil duduk bersanda gurau di jembatan itu.


"Ngga, kapan balik ke Korea?" Tanya Langit.


"Lusa, Lang. Kenapa?" Tanya Jingga yang menyesap banana milknya yang hangat.


"Besok kemana?" Tanya Langit.


"Besok free. Gak kemana-mana. Why?" Ucap Jingga.


"Do you wanna go out with me tomorrow ?" Tanyanya dalam khas NY nya.


"Where do you want to take me ?" Tanya Jingga kembali.


"Just take around with me." Ucap Langit yang menatap lekat Jingga.


"Gak mau." Jawab Jingga yang memalingkan wajahnya dari Langit. Ia hanya tak tahan ditatap sendu oleh Langit seperti itu.


"Why ?"


"Ntar aku diculik lagi." Ujarnya yang seketika membuat Langit tertawa geli sekali.


"Mau ngapain nyulik kamu. Makannya banyak gitu. Hahahahaha..." Puas sekali Langit mentertawakan Jingga.


"Biar. Biarin bangkrut." Ucapnya yang mencibikkan bibirnya. Membuat Langit ingin sekali mencubit pipi gembulnya Jingga.


"Besok aku jemput." Ujar Langit dengan mantap.


"Kan aku belum bilang "mau ikut atau enggak"." Ucap Jingga.


"Udah, ikut pokoknya !!" Ujar Langit yang memaksa Jingga.


"You always like that."


"Apa?"

__ADS_1


"Pulang yuk." Ajak Jingga kepada Langit.


"Nanti dulu. Tadi mau bilang apa?" Ucap Langit yang menarik tangan Jingga untuk duduk kembali disampingnya.


"Kamu itu selalu memaksakan kehendakmu, Langit. Gak pernah mendengarkan pendapat orang lain. Tapi aku tau..."


"Tau bahwa aku dan kamu senang dalam keadaan ini? Hm?" Tanya Langit yang menatap penuh sayang kepada Jingga.


Jingga tak menjawab. Ia hanya diam dan menunduk.


"Yuk, pulang." Ajak Langit yang mengulurkan tangannya kepada Jingga dan Jingga menyambutnya.


Langit mengantar Jingga ke hotel dan memastikan bahwa Jingga baik-baik saja di tinggal sendiri.


Malam itu mereka berdua saling berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Sekian purnama, mereka baru bertemu kembali.


*****


"Are you ready to go?" Tanya Langit kepada Jingga yang duduk disampingnya.


"I'm ready." Jawab Jingga dengan penuh semangat.


Mereka berbincang, bernyanyi dan tertawa riang sekali hari itu. Mereka menuju pantai.


"Kamu masak tadi?" Tanya Langit yang melihat Jingga membawa satu set tempat bekal. Yang berisi roti sandwich, buah-buahan, dan banana milk kesukaannya.


"Berasa dibawain bekel sama istri. Hahaha..." Ujarnya yang membuat keduanya tertawa geli.


"Amin..." Jawab Jingga dengan seulas senyum disambut Langit yang menatapnya lekat.


"Pantainya kok indah banget ya..." Ucap Jingga yang memecah kecanggungan buat mereka berdua.


"Kayak kamu ya?" Ujar Langit.


"Gombalan dari mana tuh?" Ucap Jingga dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Hahaha... dari masa lalu. Sering di gombalin soalnya." Ujar Langit dengan tawa riangnya.


"Siapa tuh ya? Masnya kenal? Pasti cantik tuh cewek ya... Hahaha..." Ucap Jingga dengan tawa candanya.


"Cantik. Sangat." Ujar Langit yang membuat tawa mereka berdua berhenti dan berganti tatapan yang lekat satu sama lain.


*Makanya jangan berduaan. Banyak setannya.😄


*Lo thor setannya. 😏


"Udah cobain sandwichnya?" Tanya Jingga yang memecah kesunyian.


"Belum. Coba ya. Gak bikin sakit perut kan?" Tanya balik Langit dengan candanya.


"Nyebelin tau gak." Ujar Jingga dengan mencibikkan bibirnya.


"Biarin. Yang penting ngangenin." Ucap Langit dengan senyuman tamvaannya.


"Idih, pede bener. Siapa juga yang kangen." Ujar Jingga dengan membuang wajahnya dari tatapan mata elangnya Langit.


"Kan aku gak bilang kamu yang kangen." Ucap Langit yang sukses membuat Jingga bersemu merah pipinya karena malu bukan main.


"Hahahaha... gemesss." Ujar Langit yang mencubit pipi gembulnya Jingga.


"Langitt !! Gak boleh !!" Ucap Jingga dengan tegas.


"Iya, maaf. Makanya jangan bikin gemes dong." Ujarnya.


"Iihh... tau ah." Ucap Jingga dengan mencibikkan bibirnya.


"Ngga..." Panggil Langit setelah meminum banana milknya.


"Apa." Jawab Jingga singkat.


"S2 di Harvard butuh waktu berapa lama?" Tanya Langit.


"Tergantung."


"Tergantung apa?"


"Tergantung kamu."


"Tergantung aku mau ngelamar kamunya kapan ya?" Tanya Langit kepada Jingga yang sukses membuat Jingga terkejut bukan main mendengar perkataan itu terlontar dari mulut sang Langit.


"Langit..."


"Jingga... aku tanya sama kamu." Ujar Langit.


"Kamu, mau mencapai cita-citamu bersama aku atau ingin mencapainya dengan tanpaku?" Tanya Langit.


"Langit, sendiri itu memang baik. Enjoy. Tak ada yang melarang. Tapi, bukankah berdua lebih sempurna? Dari hal apapun jika bersama-sama bukankah lebih baik?" Ujar Jingga.


"Kalau ada pilihan aku jalan sendiri dan berjalan bersamamu, tentu aku pilih jalan bersamamu." Terang Jingga yang membuat senyum sumringah muncul di bibir Langit.


"Tapi bukan sekarang, Lang... apa itu gak apa buat kamu?" Tanya Jingga meyakinkan kembali.


"Yes. I'm okay. Fine."


"Kalau aku nerusin S3 gimana?" Tanya Jingga.


"Tujuan kamu untuk itu supaya apa?" Tanya Langit kembali.


"Supaya saat aku berada dalam ruang lingkup keluarga Brawijaya tak membuat mereka malu dengan status menantunya nantinya. Setidaknya meski aku tidak sejajar dalam kasta harta, aku bisa sejajar dalam kasta pendidikan. Salahkah jika itu tujuanku, Langit?"


Penjelasan Jingga sukses membuat Langit diam membisu tak berkutik. Ia sama sekali tak memikirkan sejauh itu. Tapi Jingga? Ia sudah memikirkannya.


"Jingga, kamu selalu berhasil buatku kagum tentangmu." Ujar Langit.


"Alhamdulillah kalau begitu." Ucap Jingga dengan merapatkan kedua kakinya dan melipat tangannya yang bertumpu pada lututnya yang kemudian menopang kepalanya di tangannya.


"Buruan lulus S2 dan S3 nya. Hehe..." Ujar Langit dengan mengusap kepala Jingga.


"Doain ya, biar semua diberikan kemudahan dan kelancaran. Amin..." Ucap Jingga yang bangun dari sandaran di tangannya.


"Kamu mau kita pacaran atau gini aja?" Tanya Langit.


"Gini itu gimana?" Tanya Jingga kembali dengan senyum yang meledek.


"Temen rasa suami." Ujar Langit yang sukses membuat Jingga tertawa terpingkal-pingkal.


"Heh !! Udah, ah. Ketawanya. Seneng banget. Haha..." Ucap Langit.


"Tapi kamu pastiin dulu ya, Lang... ke orangtua kamu kalau kamu benar-benar mau sama aku dan mereka setuju dengan pilihanmu." Ujar Jingga.


"Siap 'Ndan!!" Ucapnya sambil memberi hormat kepada Jingga.

__ADS_1


"Restu orangtua itu yang paling penting." Jawab Jingga dengan seulas senyum.


*****


__ADS_2